MashaAllah
seen from United States
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Canada

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from South Africa
seen from United States
seen from Türkiye

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from Canada
seen from China

seen from United States
seen from United States
MashaAllah
Kita ini aneh, ya.
Ketika runtuh baru ingat kepada-Nya. Pas udah sembuh eh malah berterimakasih kepada diri sendiri. Bukannya penyembuh sebagai rasa luluh, justru menjadi angkuh.
-Syuumhda
AKHTIVIS DAN UKHTIVIS GALAU: FENOMENA AKTIVIS ‘DAKWAH’ KEKINIAN
Oleh: Muhammad Akmal Ashari, Komisi A FSLDK Semarang Raya
Pagi itu, saya sedang asyik berseluncur dialam maya melalui berbagai macam fitur linimasa yang ditawarkan. Tak terkecuali aplikasi ‘berjuta-juta umat’ seperti Instagram, Line, Facebook, Twitter dan lain sebagainya. Dari situlah media menampilkan banyak hal termasuk wajah para orang-orang bertampang saleh-salehah yang sering disebut sebagai seorang aktivis dakwah. Mantap! Itulah yang saya pikirkan ketika melihat sosok-sosok inspiratif yang sebagian besar dari mereka adalah orang-orang baik dan berkarya dimana-mana, baik kampus ataupun masyarakat umum. Berbagai postingan dan unggahan foto keren yang disertai caption yang menyejukkan, menjadi tipikal dari aktivis dakwah yang turut berkecimpung di alam maya. Postingan-postingan yang positif, membangun, hingga membangkitkan ghirah umat menjadi lawan tanding seimbang dari konten-konten negatif yang kini telah menginfiltrasi alam maya. Dan seringkali saya menyebut mereka sebagai ‘akhtivis’ untuk laki-laki, dan ‘ukhtivis’ untuk perempuan hehe.
Tak ayal, hadirnya sosok ADM (Aktivis Dakwah Medsos) menjadi inspirator bagi muda-mudi muslim lainnya yang sedang berupaya berubah menjadi baik. Ato istilah kerennya saat ini adalah hijrah, dengan munculnya ustadz-ustadz yang bergaya anak muda dan aktif pula disosial media, berupaya mengajak muda-mudi muslim kekinian untuk semangat belajar islam dan mengajak untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar dengan jalan kekinian. Dan tentu ini menjadi energi positif bagi dunia maya dikalangan generasi muda muslim, khususnya di Indonesia.
Saya coba ambil topik hijrah yang saat ini sangat mencuri hati para muda-mudi muslim untuk belajar agama. Sejauh yang saya lihat dan saya amati, kebanyakan topik-topik tentang hijrah diawali dari perkara hubungan antara laki-laki dan perempuan, atau kurang lebih semua diawali dari topik tentang pacaran. Dari sinilah ADM dan ustadz-ustadz gaul mengajak mudamudi muslim yang masih terjebak pacaran untuk segera ‘putusin aja’ kekasih mereka dan segera beranjak ke jenjang yang lebih serius lagi (red: nikah). Salah? Tidak, malah menurut saya memang itu yang seharusnya dilakukan oleh muda-mudi muslim, menjauhi hubungan yang belum halal dan mempersiapkannya dengan baik. Dari sinilah muncullah akun-akun sosial media dikalangan ADM yang ‘berdakwah’ untuk meninggalkan pacaran menuju pernikahan. Dan disinilah muncul kembali masalah, dan akan coba saya uraikan.
Teman-teman tahu komunitas Indonesia Tanpa Pacaran atau ITP? Wah awal mula kemunculannya sudah mengguncang jagad alam maya se-Nusantara, apalagi sang pendiri komunitas berani mengajak generasi muda muslim untuk menjauhi aksi pacaran dengan alasan bahwa pacaran adalah gerbang menuju perzinaan. Keren, dan saya salut dengan keberanian sang pendiri komunitas untuk menyuarakan melawan kebathilan dan mengajak kepada yang haq (udah kaya aktivis belum? Hehe). Komunitas inipun mencuri perhatian khalayak ramai dan mendapat berbagai sambutan, positif bahkan negatif, dan saya adalah salah satu orang yang menyambut komunitas ini secara positif dan jauh dari prasangka-prasangka negatif.
Tapi itu ketika awal berdirinya komunitas tersebut. Sekarang saya merasakan hal yang berbeda dari kampanye yang dilakukan ITP dan sejenisnya (red: akun-akun ‘dakwah’ nikah), lantaran ketika apa-apa semua dihubungkan nikah. Ya, kampanye hijrah dari pacaran menjadi putus sekarang malah menjadi sebuah gerakan ‘dakwah’ nikah muda. Bahkan dilinimasa instagram saja, akun-akun yang berkaitan tentang ‘nikah muda’ sudah menjamur bak musim hujan. Dan yang saya perhatikan hampir seluruhnya minim unsur edukasi tentang marriage, yang ada hanya ngompor-ngomporin anak muda muslim untuk nikah muda. Sekali lagi, minim edukasi. Dan yang terpengaruh dari akun-akun tersebut justru anak-anak muda muslim yang baru semangat-semangatnya belajar islam dan masih perlu bimbingan untuk menjalankan syariat dalam kehidupannya. Ditambah lagi, mulai banyak bermunculan film-film pendek romantis yang dikemas dalam kemasan ‘islami’ dengan target anak-anak muda muslim yang baru berhijrah dan mempelajari syariat agama ini. Seruan ‘dakwah’ untuk nikah muda semakin kencang dan bisa dikatakan sebagai ‘kampanye menjauhi perzinaan’.
‘Pernikahan sebagai solusi untuk menjauhi perzinaan’, begitu yang dikampanyekan oleh para ‘pendakwah’ nikah muda. Salah? Tidak, tapi tidak sepenuhnya dibenarkan. Karena untuk menjauhi perzinaan banyak medium yang bisa dilakukan sebagai generasi muda. Tapi sayangnya akun-akun tersebut tetap berdalih, ‘kalo nafsu sudah menggebu, apa solusi lain selain nikah muda?’, se-fruit pemikiran yang berbahaya menurut saya, apalagi mencatut kisah anak dari ulama-ulama terdahulu. Pantas saja gerakan ini sering diserang oleh kelompok yang berpaham feminis, seakan-akan statementyang mereka keluarkan adalah objektivikasi perempuan. Kalau kata teman saya yang sudah menikah (saya masih jomlo ya wkwkwk), ‘menikah itu bukan urusan hubungan biologis saja, tapi mempersiapkan dan membangun peradaban baru dikemudian hari’. Pertanyaannya, ‘pendakwah’ nikah muda sudah punya pemikiran sampe sana apa belum? Hehe.
Balik lagi masalah konten akun-akun tadi. Ternyata konten tadi juga ‘menyerang’ aktivis dakwah lho, dan ini tentu saja menurut saya menjadi tidak sehat. Kok bisa? Jelas saja, dari kampanye-kampanye nikah muda gini orang-orang yang saya sebut akhtivis dan ukhtivis ini bisa jadi aktivis yang baperan, galauan dan hal-hal yang melemahkan lainnya. Dan bahayanya apabila dibawa dalam kegiatan sehari-hari aktivis tersebut. Entah itu liqo, syuro, bahkan sampe kajian pun pasti biasanya nyerempet-nyerempet bahas pernikahan, alasannya sih mempersiapkan, tapi caranya gak gitu juga euyy wkwkwk.
Lagi-lagi saya mengutip pernyataan dari sahabat saya yang sudah menikah, ‘nikah mah gausah diomongin terus, lebih baik ente persiapkan, trus action’. Dan kebanyakan dari aktivis ini lebih suka membicarakan, dan yang parah akh dan ukhtivis ini sampai nge-tag lawan jenis. Misal si laki-laki A, ngetag perempuan B, ato perempuan C ngetag laki-laki D, sebuah fenomena yang bisa membuat kita mengelus dada, ternyata ini yang menjangkiti aktivis-aktivis dakwah saat ini. Sibuk membahas tapi lupa mempersiapkan dengan baik, bukannya jadi aktivis yang berperan, tapi malah jadi aktivis yang baperan.
Ada yang bertanya sama saya, ‘ah emang kamu enggak?’, dan jawaban saya sederhana, ya saya dulu seperti itu. Tapi ketika melihat realitas yang ada dilapangan, bahwa sikap berbaper-baperan terhadap urusan seperti tadi hanya membuat saya lemah secara hati dan secara pergerakan, justru saya harus baper terhadap kondisi sosial dan masyarakat yang semakin jauh dari kata ideal. Jadi saya menulis ini pun didasari atas penyesalan saya yang pernah menjadi akhtivis galauan. Karena aktivis yang baik itu galau terhadap problematika umat, bukan galau terhadap problematika rasa (hiya hiya hiya). Perihal urusan terkait pernikahan, lebih baik mempersiapkan dan beraksi jika sudah waktunya. Kalau ibadah sholat yang hanya 5 sampai 10 menit saja ada ilmunya, apalagi soal pernikahan yang merupakan ibadah seumur hidup? Karena yang dipertaruhkan adalah generasi setelah kita, dan anak-anak kita berhak diasuh oleh orang tua yang baik agamanya, dan cerdas dalam berfikirnya.
Akhirul kalam, ayo kawan-kawanku sesama aktivis dakwah. Sejenak kita lupakan baper dan galau terhadap perasaan dan lawan jenis. Paling penting adalah galau dan baperlah terhadap problematika umat dan rakyat, karena umat dan rakyat bangsa ini membutuhkan akhtivis dan ukhtivis yang siap berperan untuk agama dan bangsanya. Amat sangat membanggakan jikalau para aktivis dakwah bisa turut membangun bangsanya dengan kesalehan individual dan sosialnya, tentu akan membanggakan Indonesia, orang tua dan calon mertua (ehhhhhhhhh keceplosan).
*Oh iya, saya menulis ini sembari mendengarkan lagu-lagu metal biar tidak terbawa suasana dan perasaan wkwkwk….
*tulisan dicopas dari blog saya sendiri (katajadisenjata.blogspot.com)
Fenomena hijrah VS nikah muda.
Oke, kali ini sy akan menuangkan isi pikiran yang membuncah, dan sepertinya akan menjadi tulisan yang panjang. Saya memberitahukan bahwa saya menulis ini bukan untuk orang yang awam. Tapi terkhusus kepada mereka yang sudah berkomitmen dengan hijrah mereka.
Apa dibenak kalian jika mendengar kata hijrah?
Jilbab syar'i? Bercadar? Celana cingkrang? berjenggot? Atau nikah muda??hmmmm
Hijrah. Arti sebenarnya hijrah adalah pindah. Namun di abad ke 21, kata ini menggambarkan seseorang yang perilakunya berubah dari yang belum baik menjadi baik, atau yang baik menjadi lebih baik.
Yang dulunya belum berjilbab sekarang menggunakan jilbab.
Atau yang sudah berjilbab sekarang lebih disesuaikan berdasarkan syariat.
Yang dulunya celananya dibawah mata kaki sekarang diatas mata kaki.
Atau dulunya jarang sholat di mesjid sekarang sholat wajibnya sudah di mesjid.
Tapi, bukan ini yang ingin saya bahas.
Sebelum saya membahas lebih detail, menurut kalian nikah itu apa? Nikah itu gimana? Jodoh itu apa? Apakah setelah nikah selalu bahagia ?atau malah sebaliknya?
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah subhanallah wa ta'ala yang memiliki rasa kecenderungan terhadap lawan jenis. Hal ini berdasarkan QS. Ar-Rum(30): 21 yang artinya:
"dan diantara tanda-tanda kebesaranNya ialah Dia yang menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia menjadikan diantara kamu kasih dan sayang. Sungguh demikian itu benar-benar kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir"
Nah,dari ayat ini kita memang sudah fitrahnya menyukai lawan jenis. Dalam Islam, kita punya cara tersendiri, namun tetap menjaga Izzah dan iffah apalagi sebagai seorang wanita. Karena Islam memuliakan wanita.
Dengan cara apa? Yaitu menikah. Dengan cara ini lebih mulia daripada pacaran yang ujung-ujungnya MBA( merried by accident).
Dengan cara ini mengurangi dosa zina mata, tangan, kaki dst. Malah menjadi pahala jika diniatkan untuk ibadah.
Tapi.....
jika kita telaah kisah-kisah para sahabat atau orang-orang terdahulu mereka nikah bukan hanya sekedar menikah yang ingin mempunyai keturunan.
Mereka menikah bukan hanya pernikahan yang dibumbui syariat Islam.
Namun jauh dari ituuu.....
Mereka menikah untuk meneruskan tombak peradaban Islam.
Mereka menikah untuk memperluas kawasan kejayaan Islam.
Mereka menikah dengan tujuan mengenalkan tauhid kepada seluruh manusia.
Lalu, bagaimana dengan kita sekarang?
Cek. Apakah benar kita hanya menikah untuk sekedar menjauhi zina? Lalu kenapa kita tidak puasa untuk menahan syahwat?
Apakah benar kita hanya menikah dengan tujuan menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah? Lalu apa bedanya kita dengan orang awam? Bukankah kita yang sudah komitmen dengan hijrah kita?yang 'katanya' sudah paham ilmu agama.
Atau jangan-jangan kita menikah hanya karena baper nonton video-video di YouTube atau Instagram yang isinya tentang suami istri yang mengumbar kemesraan secara islami?
Saudariku..
Jagan mengkambinghitamkan hijrah untuk nikah mudah. Saya secara pribadi tak melarang nikah muda, justru mendukung nikah muda.
Namun, yang jadi permasalahannya adalah bagaimana kalian ingin menikah tapi tauhid kalian belum benar?Ibadah kalian belum benar?Yang sesuai Al-Qur'an dan As-sunah. Membedakan Sunnah dan Bid'ah belum tahu? Baca Alquran masih seperti anak SD yang baru belajar membaca, belum bisa membedakan antara sin dan syin mana ha mana Kho?
Lalu, rumah tangga seperti apa yang ingin kalian bangun?
Bagaimana nanti mengajarkan kepada anak-anak tauhid yang benar? Qiroah benar? Ibadah yang benar?
Alangkah baiknya, sebelum menikah harus siap ilmu agamanya. Agar kelak bisa membangun sebuah lingkungan yang islami.
Isi buku-buku kajian kita dengan materi-materi tentang tauhid, akhlak, adab-adab, kisah-kisah dll yang masih banyak perlu dibahas sebelum membahas lebih jauh tentang pernikahan.
Untuk perkara Jodoh. Yakinlah sebelum kita dilahirkan, 50 ribu tahun takdir kita sudah tertulis di Lauh Mahfuz untuk hal jodoh, rezeki, ataupun kematian.
Mari berpikir sederhana.
Jika Allah menakdirkan kita bertemu jodoh diumur 26 tahun dan sekarang kita baru berusia 20 tahun,
lantas 6 tahun kita gunakan waktu hanya untuk baper memikirkan perkara jodoh?
Harusnya waktu 6 tahun bisa digunakan untuk menghafal Al-Qur'an atau hadist atau memperbanyak ilmu agama atau apa saja yang bisa menambah keimanan kita. Agar ketika bertemu jodoh diwaktu yang tepat, kita sudah bisa menyiapkan keluarga yang islami. Keluarga yang betul-betul paham agama tak sekedar ikut-ikut tren.
The last but not least.
Nah. Jika kalian sudah merasa mantap untuk kejenjang pernikahan, jangan lupa berdoa kepada sang pemilik Hati. Agar niat pernikahan jauh lebih bermakna dari keluarga yang biasa-biasa saja.
Keluarga yang mampu meneruskan kejayaan Islam.
-thecrysanthemum
Yang namanya hubungan laki-laki dan wanita itu ga bisa dinilai secara kasat mata. Mungkin kita ngeliatnya mereka ga pernah get in touch, atau ga pernah ngobrol atau ngomong seperlunya. Tetapi zaman sekarang ketika ada dunia yang namanya maya, semua itu bisa berbanding terbalik dari kenyataannya. Makanya, yang namanya menjaga diri dari lawan jenis itu perkara ibadah jahr, ibadah sirriyah dan ibadah hati.
Ibadah jahr : gimana kita menjaga agar tidak bersentuhan atau menjaga jarak ketika bicara.
Ibadah sirriyah : bagaimana kita berinteraksi saat ga ada teman-teman yang dikenal disekeliling (siapa tau kan, sembunyi-sembunyi janjian jalan berdua doang) atau interaksi kita di chat.
Ibadah hati : nah ini yang terpenting ! Ditutupin hijab tapi hatinya selalu terbayang dia dibalik hijab, ya sama aja boong !!
Kita ga bisa nilai si A terlalu deket sama lawan jenis. Padahal itu karena dia yang emang ramah dan supel ke semua orang. Kalau diliat hatinya, dia begitu tuh bukan karena ingin modhus.
Kebalikannya, si B yang sangat menjaga ternyata isi chattingannya layaknya asrama ikhwan/akhwat. Tempat menyebar jala. Modhus !
Entahlah, bagi gue ibadah sirriyah ini sakral banget juga, disamping soal ibadah hatinya. Misal, lo menjaga jarak, jarang ngobrol sama dia, kaku dan lempeng gitu deh kalau ngobrol di dunia nyata. Tapi ternyata di chat, deket sekali kalian.. Luwes sangat interaksinya.. Jujur, ini serem. Seakan-akan kita tuh malu berinteraksi di depan orang-orang, tapi di saat hanya Allah yang tau, kita selow bae.
Ingetlah, ibadah sembunyi-sembunyi lebih Allah cintai kan ? Nah bisa jadi dosa sembunyi-sembunyi lebih Allah murkai...
Gini loh, kalau pun alasan kita menjaga interaksi di dunia nyata untuk menghindari fitnah, yasudah, jaga jarak pula di dunia maya.
Hedeh, emang ya kalau ngomongin soal beginian tuh terlalu banyak variasi. Macem-macem kombinasi interaksinya. Intinya, hati kita tau batasan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Tetap ikuti rambu-rambu batasan tersebut seberapa pun banyak kombinasi interaksi yang kita buat.
Jujur saja. Laki-laki yang keseringan selfie dan narsis di sosial media. Wibawanya berkurang di mata kami.
Southern Asia 90 years ago today: Ikhwan Revolt (29 Mar 1929) https://buff.ly/2JOUZuf The Saudi conquests in Arabia had been achieved with the support of the Ikhwan tribal armies, who wanted to go on to attack the British protectorates of Iraq, Kuwait, and Transjordan. Not wishing to antagonize the British, Ibn Saud attempted to reign in the Ikhwan but soon faced open revolt. Eventually the Ikhwan were defeated by Saud’s more modern army, helping to bring about a centralized Saudi state. #southernasia #history #welovemaps #map #1920s #1929 #ikhwan #britishraj #britishempire #sykespicot #arabia #ibnsaud #march #march29 #saudiarabia #saudi #saudihistory #asianhistory #southwestasia #middleeast #maps #todayinhistory #historytoday #historyteacher #historybuff #historygeek #historynerd #transjordan #arabianhistory #worldhistory (at Taif, Saudi Arabia) https://www.instagram.com/p/BvlSO8QAi9E/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1iif644thj7cm
Saya menyukai berbincang dengan siapa saja sekalipun ia adalah teman ikhwan. Karena saya tahu, inspirasi bisa didapat dari siapa saja. Tapi, jika perbincangan itu telah lewat batas, mungkin saya tidak akan pernah berbicara lagi dengannya.
-Sugarmelteds