Seperti Apa Manusia Merdeka Itu?
Kehidupan sosial hari ini terasa aneh. Orang-orang mengibarkan kata “kemerdekaan diri” seperti bendera, tapi yang mereka maksud sering kali hanyalah kebolehan untuk melukai. Mereka bilang, “Aku manusia merdeka, aku bebas berpendapat!” lalu menyemburkan kata-kata yang merendahkan orang lain, seolah kemerdekaan itu adalah hak untuk menghancurkan.
Sepuluh tahun lalu, seseorang pernah bilang padaku, merdeka adalah memiliki batas.
Saat itu aku hanya mengangguk, tapi kata-kata itu terus bergema di pikiranku. Lama-kelamaan, aku mulai menyadari bahwa batas bukanlah penghalang, tapi titik tumpu—sesuatu yang memberi arah dan bentuk pada kemerdekaan.
Sebagaimana salah satu syarat sebuah negara diakui merdekanya adalah adanya klaim atas wilayahnya, maka manusia merdeka pun sejatinya adalah mereka yang berdiri dengan garis-garis yang disebut prinsip, nilai, atau bahkan harga diri—sebagai batas-batas yang menandai dirinya.
Tanpa batas, kita bukan merdeka—kita hanya hanyut. Seperti air yang terus mengalir tanpa wadah, akhirnya hilang, meresap, menguap, dan tak lagi dikenali.
Barangkali, kemerdekaan kita memang ditandai oleh apa yang tidak kita lakukan. Oleh pintu-pintu yang kita pilih untuk tidak membukanya, meski kuncinya ada di tangan kita. Bukan yang melakukan segalanya, tapi yang tahu kapan harus menahan dirinya. Yang bisa melukai, tapi memilih tidak. Yang bisa mengambil, tapi memilih memberi. Atau apapun itu, kita melakukannya karena sadar.
Jika negara tanpa batas disebut teritorial liar, manusia tanpa batas hanyalah naluri liar tanpa nurani.
Merdeka itu bukan berarti bebas sebebas-bebasnya—tak ada aturan, tak ada rambu, liar, atau bisa dilakukan sesuka hati.
Merdeka itu justru otentik saat ada batasnya. Saat kita tahu ada garis, tapi memilih menari di pinggirannya, bukan menabraknya.