Tak ada yang disisakan ujung bulan Juni selain sekat-sekat dahaga yang mengemis pada hujan. Hari-hari berlalu ditemani terik yang saling beradu dengan rasa lelah.
Aku ini kertas kosong yang berusaha memenuhi halaman dengan cerita, tapi ada saja alur yang bersikeras untuk menempuh jalannya sendiri; persimpangan kami tak jarang saling bersinggungan, tak sejalan.
"Jalani saja. Kalau mengeluh, bukan berkah yang kau dapatkan, melainkan hanya lelah." Tutur beliau.
Di persimpangan takdir yang selalu kita cibir, seringkali tanpa sengaja kita menutup pintu hikmah dan mempersempit ruang sabar yang menjadikan hidup melulu tentang peluh, keluh, dan aduh.
Padahal, bukan takdir yang salah, bukan pula keadaan yang tak mau mengalah. Barangkali hati kita yang terlalu egois, mengedepankan kufur dari pada syukur,
atau diri kita yang tak mau realistis, mengharapkan hasil tapi proses nihil.
Mungkin juga anggapan kita yang merasa paling bisa, sampai lupa ada Dia Yang Maha Segalanya.
Berkali-kali diri ini disadarkan, bahwa hidup adalah perjalanan, bukan tujuan, tapi keniscayaan sifat manusia —berkeluh lagi angkuh— selalu saja meronta ingin menang. Di lembar terakhir bulan Juni, aku menulis harap;
Duhai masa yang selalu melaju, aku titipkan ketabahan, kekuatan, kesyukuran, serta keridhoan dalam diri ini untuk segala persimpangan-persimpangan takdir selanjutnya.
Selamat menyambut warna-warna yang Tuhan lukiskan untuk menghiasi garis suratan, diriku.