Merapikan 2025
Mari kita tuntaskan apa yang belum selesai. Januari sudah setengah jalan.
2025 saya sebut apa yaa? Sepertinya saya melahirkan diri pecundang.
Cara saya berbeda, sangat berbeda. Biasanya saya bisa begini, akan begini, kalau kondisinya seperti ini. Tapi di 2025 sama sekali tidak berjalan. Jadi, sepanjang perjalanannya seperti hanya habis dengan gumam.
Bisa saya katakan kalau tahun ini warnanya banyak, tapi spektrumnya di sekitar hitam-abu. Dari awal tahun sudah saya mantapkan untuk berjalan pelan karena sisa luka di tahun sebelumnya jelas menganga. Ada 22 dendam yang saya titipkan di catatan untuk dimaafkan perlahan. Satu kuartal berjalan, daftarnya bukan berkurang tapi semakin beranak-pinak. Bukan lagi lamban, saya mengusruk, tidak bisa jalan.
Hampir setengah tahun saya biarkan waktu berlalu. Mempersilakan yang lewat biar lewat, yang hilang biar hilang. Tidak ada lagi yang ingin saya perjuangkan selain dendam.
Sampai saya menyadari, waktu tidak bisa berhenti. Sampai saya melihat riuh yang lainnya saling berlari. Sampai suatu segara datang, seorang yang kukenal remang, mengirimkan undangan pernikahan. Yasudah kalau dia dan lainnya bisa, kenapa saya terus mengurung papa?
Saya mulai lagi membersihkan kaki, menggoyangkannya sedikit demi sedikit.
Tapi tetap tidak ada yang selesai, tidak ada satupun dendam tadi yang tercoret. Tapi semesta melenyapkannya satu per satu dengan cara lainnya. Dengan cara saya lupa. Dengan membiarkan saya diam saja. Tidak bisa apa-apa selain harus terus bertahan bersama arus.
Demikian kenapa saya merasa menjadi pecundang.
Padahal kalau disusun lagi, saya melihat kalau saya tetap menang. Terbang pertama lagi untuk perdana menginjak tanah Sumatera. Pemandian Guci, Tegal. Jakarta Fair. Laboratorium Mikrobiologi UMS, Solo. Wisuda adik setelah 7 tahun. Cerita baru untuk Bandung lewat fasilitas menang oLHimpiade.
Di tahun 2025 : 19 pengalaman berharga. 10 reaksi berbeda dalam menghadapi tantangan. 3 keadaan yang berubah. 3 hal yang dulu penting & sekarang tidak. 2 kekuatan baru. 10 kebanggaan. Itu daftar yang saya tuliskan dalam perenungan akhir tahun kemarin. Melenyapkan 22 dendam di atas.
Sampai detik ini saya masih merasa seperti pecundang. Karena semua itu tadi baru. Bukan caraku. Bukan aku. Tapi sekarang memang bukan lagi yang dulu.
Saya masih pecundang. Saya belum tahu apa maksud-maksud itu. Tapi sekarang saya cuma mau membuat yang baru untuk terus maju. Saya mau menutup yang di belakang tadi itu. Dan menjadikan yang baru agar benar baru.
2026 adalah buku saya yang baru.
-alcaristia- 160126 Semarang
















