Aku berhenti berjalan saat mendengar suara barang yang terbanting, disusul suara teriakan seorang wanita, “Ayolah dek! Makan! Mama capek lo udah masakin kamu, tapi nggak dimakan!” “Sini buka mulutmu! Ayo makan dulu! Jangan lari-lari, duduk!” “Astagaaaa! Sini mama cubit kamu ya!”
Huwaaaa, tangisan sang anak pun pecah.
Braaak! Terdengar suara pintu terbanting. “Mamaaa, makan maa. Aku mau makan ma. Jangan tutup pintunya.”
Braak brak brak! Suara keras terdengar kembali terdengar bersautan dengan tangisan mengiringi langkahku menjauh.
Terdengar suara tawa anak kecil disusul derap lengkap kaki yang saling berkejaran. Aku berhenti sejenak mendengarkan sedang apa mereka di dalam.
“Siniii, Ibu kejar ya kamu, Ibu Pahlawan Bertopeng siap menangkap anak kecil usil kesayangan. Ha ha ha”
Suara tawa anak pun terdengar kembali.
“Berhentii, jangan tangkap aku Ibu. Hahaha geli Ibu, geliiii.”
“Hayo, adek sayang ibu ngga?”
“Sayang doong, aku sayang Ibu.” Teriak sang anak.
“Waaah Ibu juga sayang adek. Mari kita....” “ber..peluk..an”
Aku tebak, Ibu dan anak itu sedang berpelukan saat ini. Tanpa sadar aku pun ikut tersenyum.
Sayup sayup dari kejauhan aku kembalo mendengar suara tangis Ibu dan anaknya yang bersautan. Aku percepat langkahku agar semakin jelas apa yang ku dengar.
“Abang, maafkan bunda ya. Bunda nggak mau marah sama kamu. Bunda tau abang sebal dengan adek, tapi Bunda juga tau sebenarnya abang sayang dengan adek. Kalau abang sebal, pukul saja bantal bang, jangan adek yang dipukul, rasanya sakit hati Bunda bang.”
“Maafkan ya bang, bunda belum bisa adil membagi sayang bunda ke kamu dan adek. Bunda yang salah ya bang. Tapi jangan dilampiaskan ke adek ya bang.”
“Bundaaa maaf.. bundaa jangan menangis. Maaf..Abang pukul adek tadi. Maaf bunda. Abang yang salah bunda. Jangan sedih bunda. Maaf bunda.”
Di dalam sana, suara tangisan saling beradu, penanda emosi yang sedang diregulasi.
Aku mengamati sekeliling, terdengar sepi. Tidak ada interaksi kecuali suara televisi, dan sepertinya suara salah satu channel youtube.
Hampir 5 menit aku berdiri, tak ada interaksi apapun dirumah ini sampai tiba-tiba terdengar jeritan seorang anak.
“MAMAAAAAA! JANGAN DIAMBIL HAPEKU! MAMAAA! NGGAK MAU, AKU MASIH NONTON.”
“ARGGGHHH! HAPE! HAPE! SINI HAPEKU MAAAAA!!”
“Astaga kakak! Jangan dibanting vas bunganya kak!”
“BIARIN, MANA HAPEKU MAAAH! BALIKIN SINI! ARGGGHHHH”
Aku merinding, kuingat kembali siapa penghuni rumah ini.
Ahh aku ingat, aku sering melihat seorang Ibu dan anaknya yang sibuk dengan gawainya keluar dari rumah ini.
Bacaan surat suci terdengar saat aku mendekat. Lirih aku mendengar suara anak kecil yang belajar mengaji dan ibunya yang memdampingi. Tak kalah, suara anak lainnya sedang mengikuti bacaan surah alquran yang sedang terputar.
“Umi, doain aku ya, semoga kelak aku bisa menjadi penghafal Al-Quran! Aku mau kasih Umi dan Abi mahkota kelak di syurga.”
“Aku juga Umi!” “Aku jugaa.”
“Iya, iya. Umi selalu mendoakan agar anak-anak Umi.”
MasyaAllah adem sekali rumah ini! Batinku
Aku telah tiba dirumahku sendiri.
Kututup pagar, dan bersandar di dinding, berhenti sejenak untuk mengambil napas sebab perutku yang semakin membesar membuatku engap.
Kuelus-elus perutku, mengajak berkomunikasi janin yang sedang berlindung disana. Dug! Ia membalas elusanku.
“Nak…ketika kamu lahir nanti, aku akan menjadi Ibu yang seperti apa ya?”
Tak terasa, air mataku jatuh menetes. Ibu takut nak! Takut sekali!