Keesokan paginya, aku merasa lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Badanku terasa lebih ringan. Ibu kembali masuk ke kemarku dan menuangkan segelas air putih hangat.
“Nduk, wis sehat ?”, tanya ibuku cemas
“Alhamdulillah buk”, jawabku singkat, tak ingin terlalu banyak bicara.
“Laila mau siap-siap dulu buk. Laila akan kembali berangkat ngajar hari ini. Sudah dua pekan lebih nggak ke sekolah. Semoga Laila masih bisa masuk ya buk, alias nggak dipecat”, ucapku penuh cemas namun mencoba tersenyum.
“Yo, ibuk doakan kamu selalu. Sudah tak titipkan pesan ke Pak Nana kok. Ibuk sampein kalau kamu bener-bener sakit dan harus istirahat total dirumah. Ibu juga tunjukin resep obatmu yang dikasih dokter kemarin”, tukas ibuku.
“Hmmm baiklah bu. Matur nuwun. Kita lihat saja nanti apakah aku masih diterima untuk berjuang disana setelah berhar-hari tak masuk ujarku kembali.
Dengan langkah tergopoh-gopoh, aku bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
Persiapan yang seadanya. Kekhawatiranku ternyata tak menjadi kenyataan. Tak sepenuhnya benar.Sebagian guru yang ku kenal ternyata mendoakanku dan meminta maaf tak sempat menengokku karena bertepatan dengan acara perlombaan bulan bahasa sekolah. Namun tak dipungkiri masih saja ada selentingan suara sumbang yang mampir ke telingaku. Suara sumbang dari beberapa guru muda yang satu-dua tahun lebih tua dariku. Aku mencoba mengabaikannya.
Notifikasi telepon genggamkusudah tak terhitung jumlahnya dan terpaksa ku abaikan. Aku tak sanggup membacanya semua. Hingga satu bulan setelah aku kembali sehat, sosok itu datang. Rose pulang ke rumah. Mendengar berita kepulangannya, aku bahagia tapi rasa kecewaku masih terpendam begitu dalam.
“Rose pulang nduk, kamu nggak mau nyamperin dia ke rumahnya?”, ucap ibuku mengabarkan kedatang Rose
“Hah, Rose? Rose pasti sibuk bu, Aku tak mau mengganggunya”, jawabku singkat namun bernada kesal.
Rasa kecewaku pada Rose amat dalam. Sudah lama aku menghubunginya, mengemis perhatiannya tapi aku salah. Dia sama sekali hening, tak meresponku. Aku masih menganggapnya teman, tapi bukan sahabat dekat lagi sebagai tempat berbagi cerita. Keesokan harinya, saat aku pulang mengajar sekolah, Rose datang ke rumah. Di rumah kebetulan hanya ada aku seorang, ibu sedang pergi. Wajah Rose nampak sedih. Aku berusaha untuk bersikap wajar dan biasa saja.
“Laila…., lama tak jumpa. Bagaimana kabarmu?”, suara Rose bergema di ruang tamu.
“Aku baik-baik saja Rose”, ucapku dengan penuh rasa campur aduk
“Maaf banget aku tak pernah meresponmu dan jujur pesanmu sudah kubaca hanya saja aku tak sempat membalasnya”, cerita Rose.
“Hah, ya gapapa Rose. Aku tahu kamu sibuk”, balasku kembali
“Kamu marah dan kesal padaku ya? kelihatan sekali dari ekspresi dan raut wajahmu”, tanya Rose hati-hati
“Nggak kok, percuma juga aku marah padamu.. Tapi aku sungguh menyayangkan sikapmu padaku belakangan ini. Rasanya seperti aku bukan lagi temanmu. Kamu mulai melupakanku Rose”, ujarku dengan terang-terangan
“Maafkan aku Laila, kamu tetaplah teman bagiku. Aku bukannya melupakanmu, tapi hidupku pun benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Pekerjaanku sangat berat dan menyita waktuku. Aku benar-benar harus fokus menyelesaikannya. Belum lagi suamiku yang tiba-tiba sakit paru-paru. Aku juga sedih sepertimu. Ujian juga melanda hidupku. Aku ingin menceritakannya padamu juga tapi rasanya tak sanggup. Aku tahu kamu juga sedang banyak pikiran. Hanya orangtuaku yang tahu mengenai masalahku ini”, balas Rose dengan nada terisak
Mataku menatap Rose dengan iba. Aku mengemis perhatian pada dirinya, di saat ia pun tak dalam kondisi baik-baik saja.
“Kamu bisa cerita juga kepadaku Rose. Aku mungkin hanya bisa mendengar ceritamu. Bukankah dengan saling meluapkan rasa, kita bisa saling menguatkan?. Ya aku tahu tidak semua masalah harus diungkapkan dan diceritakan secara detail apalagi menyangkut masalah internal keluarga”, ungkapku.
“Iya Laila, maafkan aku. Sungguh aku minta maaf. Yang perlu kamu tahu, pertemanan kala menginjak usia dewasa, apalagi sudah berkeluarga sunggulah sangat berbeda dengan pertemanan saat kita masih kecil. Aku memang sibuk dengan urusanku, tapi namamu tetaplah tersimpan dalam sujud-sujud panjangku. Aku mendoakanmu dari bilik kamar rumahku. Aku membayangkan juga wajahmu dan teman-temanku lainnya. Aku berharap Allah memberi kalian jalan terbaik menurut-Nya. Dan aku bersyukur dipertemukan denganmu. Kau adalah salah satu sahabatku yang tabah dan gigih dalam menjalani hidup. Orang mengasihanimu, dan kamu tak mau dikasihani. Tapi aku pernah mendengar dari salah satu ustadz jika rasa cinta juga bisa turun dari rasa kasihan. Menurutku, kamu tak perlu ragu untuk terus melangkah walau sendiri. Tanpa adanya aku pun kamu bisa berdikari, carilah lingkaran kebaikan lainnya. Banyak teman-teman diluar sana yang siap menerimamu apa adanya. Percayalah…,” ucap Rose sembari mengusap air matanya.
Setelah percakapan panjang dan melegakan, kami pun saling memegang tangan satu sama lain dan menangis haru. Aku sudah memafkan Rose. Pertemuan bersama Rose yang sangat singkat dan begitu cepat namun bermakna bagiku. Ia sekaligus berpamitan saat itu juga untuk kembali ke Jakarta. Ia hanya sendiri, suaminya masih dirawat di rumah sakit. Ia meminta bantuan mertuanya untuk menjaga suaminya sebentar saat ia pulang ke rumah untuk mengurus suatu hal.
“Aku berdoa agar suamimu bisa segera pulih kembali. Hati-hati di jalan Rose. Kamu masih masuk daftar temanku kok, nggak jadi aku hapus”, ungkapku sambal tertawa kecil.
“Hahaha, terimakasih doanya dan terimakasih karena masih mengganggpku sebagai teman. Tega sekali jika kamu mendepakku dari hidupmu. Kamu juga jaga kesehatan yah. Salam untuk ibumu, aku tadi sempat menyapanya sebelum beliau pergi ke pasar. Aku pamit pulang dulu, Assalamu’alaikum….”, ucap Rose mengakhiri percakapan sore itu.
“Wa’alaikumussalam…” , jawabku
Rose melangkah keluar menuju gerbang rumah. Aku mengantarkannya dan menatapnya sampai ia tak terlihat lagi. Saat ia melangkah menjauhi rumah, aku mendoakannya dalam hati. “Semoga setiap Langkah Rose dicatat sebagai sebuah kebaikan. Hati-hati di jalan teman, selamat melanjutkan perjuangan hidupmu. Semoga kita bisa berjumpa kembali …”