Perempuan, Privasi dan orang-orang yang terlalu merasa BERHAK.
Ada hal-hal yang sering kali sulit dijelaskan oleh perempuan, bukan karena kami tidak mampu berbicara, tetapi karena terlalu sering rasa tidak nyaman dianggap sepele.
Kadang semuanya dimulai dari percakapan biasa. Sebuah balasan terhadap status, sapaan yang tampak sopan, atau obrolan ringan yang terasa wajar untuk dihormati. Terlebih ketika itu datang dari seseorang yang dikenal baik, terpandang, dihormati banyak orang, bahkan dianggap memiliki nilai dan pemikiran yang tinggi. Maka sebagai perempuan, kita memilih menjaga etika. Menjawab seperlunya. Menghargai sewajarnya.
Namun perlahan, arah percakapan berubah.
Topik yang awalnya terasa umum mulai bergerak ke wilayah yang terlalu personal. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak lagi memiliki kepentingan apa pun selain memuaskan rasa ingin tahu yang melampaui batas. Candaan yang dibungkus keakraban. Intensitas yang terasa ganjil. Dan di titik tertentu, perempuan sering dipaksa berdamai dengan kalimat: “Mungkin aku saja yang terlalu sensitif.”
Padahal tidak.
Rasa tidak nyaman tidak pernah lahir tanpa alasan. Dan intuisi perempuan terlalu sering benar.
Aku menulis ini bukan untuk mempermalukan siapa pun. Tidak juga untuk menggiring kebencian kepada individu tertentu. Sebab yang ingin aku suarakan jauh lebih besar daripada sekadar satu nama atau satu percakapan. Ini tentang bagaimana perempuan sering berada dalam posisi serba salah ketika berhadapan dengan sosok yang memiliki pengaruh, usia, pengetahuan, atau kehormatan sosial.
Kami diajarkan menghormati.
Tetapi jarang diajarkan bahwa menjaga jarak juga bentuk penghormatan terhadap diri sendiri. Ada banyak perempuan yang tetap membalas pesan karena takut dianggap tidak sopan. Ada yang tetap tersenyum agar tidak dicap sombong. Ada yang memilih diam karena khawatir dianggap berlebihan. Dan ironisnya, dunia sering kali lebih mudah mempertanyakan respons perempuan daripada mempertanyakan mengapa batas itu dilanggar sejak awal.
Aku percaya, kehormatan seseorang tidak hanya terlihat dari bagaimana ia berbicara di depan banyak orang, tetapi juga dari bagaimana ia menjaga sikap dalam ruang paling privat sekalipun.
Sebab menghargai perempuan bukan hanya tentang dukungan di mimbar, tulisan di media sosial, atau kalimat-kalimat indah tentang moralitas. Menghargai perempuan juga tentang memahami batas. Tentang mengetahui kapan harus berhenti. Tentang menyadari bahwa akses terhadap percakapan pribadi bukan berarti akses terhadap kenyamanan seseorang.
Dan untuk para perempuan di luar sana yang pernah merasa risih namun memilih diam karena bingung harus bersikap bagaimana—perasaan kalian valid. Kalian tidak sedang terlalu sensitif. Kalian hanya sedang berusaha menjaga diri di dunia yang terlalu sering meminta perempuan untuk memaklumi banyak hal.
Semoga kita semua belajar bahwa adab tidak berhenti di ruang publik. Ia juga diuji dalam pesan-pesan pribadi yang mungkin tidak pernah dilihat oleh siapapun.
~AldaAlthafunnisa ( 26 Mei 2026 )











