Arini, wanita yang setengah tahun lalu aku temui dalam situasi yang tak terduga. Mungkin bukan bertemu, tepatnya aku melihat ia di stasiun Purwosari. Semenjak itu banyak pertemuan tak terdugaku dengan Arini. Yang paling tidak ku duga adalah ketika tahu bahwa ia sepupu Gilang. Sungguh, jodoh memang tak pernah ada yang tahu jalan ceritanya.
Berhari-hari aku bimbang, resah memikirkan perasaanku sendiri padanya. Aku tidak ingin terlalu bergegas tapi aku takut jika harus memendam rasa ini lagi. Sore itu, aku telfon Arini hanya untuk mendengar suaranya, melepas rindu yang tak kuat ku tahan sendirian.
"Halo. Assalamu'alaikum mas. Ada apa ?"
"Hehe. Wa'alaikumsalam dek. Nggak kok dek. Mas cuman pengen denger suaramu aja."
"Heleh. Mas modus mulu sih. Aku aduin mas Gilang nih."
"Jangan dek. Aduin ayahmu aja biar disuruh langsung nglamar. Hahaha."
"Hehehe. Iya sorry deh. Mas mau cerita sesuatu boleh nggak dek ?"
"Yaelah mas tinggal ngomong aja. Kenapa ?"
"Besok sore ada waktu gak ? Ngobrolnya langsung aja."
"Yah mas, besok jadwal kuliahku penuh. Ada quiz juga ba'da ashar."
"Lusa mau ke Jogja ambil data survei penelitian mas. Ngobrol ditelfon sekarang aja emang kenapa sih mas?"
"Hmmm. Sibuk amat dah si bawel ini."
"Ih dikatain bawel. Yaudah Arini gak mau dengerin."
"Hmmm. Tuh kan anak kecil ngambekan."
"Jadi gak ceritanya nih ? Ngatain Arini mulu."
"Iya-iya bawel. Sabar lah."
"Tuh kan ngatain lagi. hmmm"
"Hehehe. Gini dek, semenjak minggu kemarin perasaanku bimbang gak karuan. Aku udah minta petunjuk sama Allah buat ngejelasin kebimbanganku saat ini. Aku yakin udah mantep sama pilihanku sat ini. Aku pengen ngebawa hubungan kita ke arah yang serius. Tapi ibu pengennya aku nikah baru 2 tahun lagi."
"Wah, cakep mas. Terus si cewek gimana mas ? Mau nungguin?"
Sudah ku duga pasti Arini tak pernah menanggapi dan merasakan keseriusanku. Dia tak pernah menyadari bahwa ada pria yang sedang menunggunya. Mungkin aku memang harus berani mengatakannya, mengungkapkan kepadanya bahwa aku ingin mengajaknya menikah.
"Hmmm. Kok diam sih mas ? Masih on gak sih ?"
"Iya-iya. Intinya aku pengen ngajak kamu serius ke arah pernikahan tapi aku tak berani sekarang. Mungkin 2 tahun lagi setelah memperoleh restu dari ibu. Bagaimana menurutmu?"
Lima menit hanya saling diam dalam sambungan telfon. Aku tahu betul ia butuh waktu untuk menjawab pertanyaanku yang sangat mendadak ini. Mungkin pula ia menyiapkan jawaban halus tak menyakitkan hati untuk menolak tawaranku. Hanya hembusan deru nafasnya yang aku dengar bersiap untuk angkat bicara.
"Ehm mas. Arini nggak tahu mesti menanggapi perasaan ini bagaimana. Aku tahu mas mencoba menarik perhatian Arini tiap hari. Tapi jikalau memang belum siap, mantapkan hati mas dulu saja mas."
"Aku bukannya belum siap dek. Aku hanya menanti restu ibuku, menunggu waktu ibuku memperbolehkan aku meminangmu. Jikalau sepakat, aku ingin mengenalkanmu pada ibu."
"Mas jodoh itu bukan perkara waktu yang diburu-buru. Banyak yang harus mas pertimbangkan sebelum akhirnya memutuskan."
"Ya, Arini. Mas paham yang kamu maksud. Mas udah minta petunjuk sama Allah dan mas sudah yakin dengan pilihan mas ini. Ataukah maksud kamu ini sebuah tolakan ?"
"Bukan mas. Aku hanya ingin mas memikirkannya baik-baik sebelum masing-masing dari kita bermain hati. Jangan sampai nanti ada luka jika memang kita tak serius lagi."
"Jikalau memang bukan sebuah tolakan, samakah perasaanku saat ini denganmu, Rin ?"
"Aku akui Arini nyaman saat mas mendengar cerita Arini. Arini suka saat mas membuat guyonan garing saat Arini lagi bete. Tapi Arini masih belum bisa menafsirkan perasaan ini mas. Arini belum tahu ataukah ini perasaan yang Allah titipkan pada Arini untuk mas. Arini belum bisa menjawab."
Menggantung. Tak ada kejelasan dari jawaban Arini. Perasaanku kalut. Aku akhiri telfonku sore itu. Arini membiarkan dirinya kembali bertahan di pikiranku. Entah hingga kapan, aku tak memaksanya untuk pergi, tapi bukan di perasaan ini.