Entah kenapa rasanya aku lagi kelebihan dopamin untuk menulis tentang buku. Kayaknya aku bisa menulis topik ini dalam beberapa episode, deh. Yah, kita lihat aja nanti. Yang jelas, ini akan jadi episode pertamanya.
Sebetulnya aku bukan kutu buku seperti yang mungkin kamu bayangin. Riwayatku menyukai buku gak dimulai dari jalur formal seperti yang mungkin jadi harapan ideal banyak orang.
Gini maksudku, aku bukan termasuk orang yang rajin membaca buku pelajaran semasa sekolah hingga kuliah S1 dulu. Itulah kenapa (mungkin) dulu aku kurang berprestasi di bidang akademis.
Prestasi akademisku pada masa itu bisa dihitung jari. Pertama adalah ketika aku berhasil masuk urutan sepuluh besar, tepatnya urutan ke-6, siswa terbaik di kelas 3 SD. Kedua, aku meraih urutan terbaik ke-8 saat kelas 4 SD. Segitu aja, udah, gak kurang dan gak lebih.
Ada sih yang bisa aku sebutin lagi. Aku menjadi segelintir siswa di SMP-ku yang berhasil masuk SMA negeri favorit di kotaku, meskipun hasil seleksi menunjukkan NEM-ku di urutan empat dari bawah (hampir gak lolos dan terancam gak dapet sekolah pengganti).
Lalu, aku, dengan ketidakniatanku saat itu, berhasil memenuhi nilai minimum untuk penjurusan ke kelas IPA saat kelas 2 (sekarang kelas XI) SMA. Padahal otakku saat itu cenderung menolak ketika membahas kimia, biologi, dan fisika.
Eh, tapi, apakah semua itu bisa disebut prestasi, ya? (Mudah-mudahan siapapun kamu yang membaca ini gak mem-bully aku ya! Haha!)
Ya sudahlah. Kita kembali ke topik buku.
Hingga akhirnya era baru diriku (dalam kaitannya dengan buku) dimulai. Versi remaja diriku mulai haus untuk menggali banyak hal. Internet mulai masuk ke rumah-rumah, membuat aku dan teman-temanku ketika SMA terekspos oleh berbagai hal baru.
Tapi, "aku si penyuka buku" itu belum serta-merta muncul di situ. Kehadiran internet di rumahku saat itu lebih banyak aku manfaatkan untuk mengulik kord gitar.
Ya, aku dulu seorang gitaris! Hehe.
Ayahku yang mengajarkanku bermain gitar. Adikku juga suka gitar. Dia malah lebih hebat lagi karena menguasai hampir semua jenis alat musik. Sementara, aku lebih memilih fokus di gitar.
Hmm.. terus apa ya hubungan antara gitar dan buku? Sabar dulu! Hehehe..
Selain gitar, aku juga suka banget main catur lho. Ini juga hobi yang aku dapatin dari ayahku. Aku tinggal di lingkungan yang banyak sekali pehobi catur di situ. Jadi, mudah bagiku untuk "tertular."
Uniknya, hobiku itu justru jadi jembatan bagiku untuk menyambangi dunia buku.
Jadi, ceritanya, dulu aku pingin banget beli aksesoris untuk gitarku, yang mana itu masih belum tersedia di kotaku. Lebih uniknya lagi, setelah aku cari tahu, ternyata aksesoris yang aku mau itu cuma tersedia di sebuah toko buku yang morfem (bagian kecil kata) pertamanya adalah "Gra", yang mana juga belum ada di kotaku saat itu. (Toko itu punya tiga morfem. Kamu pasti bisa menebak apa morfem kedua dan ketiganya.)
Kemudian, aku minta ayahku untuk pergi sama-sama ke kota sebelah untuk melihat-lihat barang yang aku mau itu. Karena ayahku mendukung aku untuk mengembangkan keterampilan main gitar, ia dengan mudah mengiyakan aku (meskipun sebetulnya saat itu memang lagi ada keperluan pergi ke luar kota juga sih, jadi bisa sekalian lewat).
Singkat cerita, tibalah aku di toko itu. Aku pun antusias dan langsung mendatangi area alat-alat musiknya. Setelah selesai membeli barang itu, entah bagaimana aku mencium aroma yang cukup menyengat dari area lain di toko itu yang memaksa aku menghampirinya. Area yang aku maksud itu adalah area buku-buku.
Kamu harus tahu, ketika aku bilang "aroma," itu bukanlah sebuah konotasi, tapi betul-betul denotasi atau makna yang sebenarnya.
Buku-buku di situ benar-benar punya aroma khas menurutku. Dari dulu sampai sekarang, aroma itu masih sama. Dan, kondisi ini punya istilahnya sendiri lho, yaitu "bibliosmia."
Sekedar info, kata "bibliosmia" berasal dari kata Yunani "biblio" yang berarti "buku" dan "osmia" yang berarti "bau". Jadi, secara harfiah, "bibliosmia" itu artinya "bau buku".
Ketika aku masuk area buku-buku itu, aku mendapatkan perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Bukan maksudku pingin bertingkah lebay lho ya, tapi kalau kamu juga penggemar buku, kamu pasti bisa ngerti.
Di dadaku, darah seperti mengalir lebih kencang, membuat endorfinku meningkat. Di benakku, lebih liar. Aku seolah gak mau cepat-cepat keluar dari situ, meskipun aku gak tahu lagi dan mau apa sebetulnya aku di situ.
Aku menyusuri setiap sudut area buku-buku itu, dari rak satu ke rak yang lain, sampai gak ada yang terlewat sama sekali. Menyenangkan deh pokoknya!
Akhirnya, itu menjadi kali pertama aku membeli buku secara khusus (bukan karena terpaksa). Lebih dari itu, aku bukan hanya membeli satu, tapi beberapa buku sekaligus. Benar-benar seperti rasa penasaran yang sudah memuncak dan harus diobati.
Sejak saat itu jugalah aku mulai ketagihan untuk rutin mampir ke toko buku, terutama toko buku Gra***** itu, hingga kini.
Btw, kamu mau tau gak buku apa aja yang pertama aku beli itu?
Aku pingin banget cerita soal itu sebetulnya. Cuma kayaknya artikel ini udah terlalu panjang dan rentan menjenuhkan, ya? Jadi, kayaknya aku lanjutin nanti lagi aja deh, di episode berikutnya.
Yang jelas, itu semua memang bukan buku pelajaran, sih, dan beberapa di antaranya adalah satu set buku catur.
Ah, rasanya ini juga yang bikin aku mau kembali melanjutkan cerita "Aku dan Buku" di kesempatan selanjutnya. Karena, meskipun bukan buku pelajaran, buku-buku yang aku beli itu gak bisa dibilang gak bermanfaat terhadap aktivitasku ketika SMA dan kuliah S1 dulu.
Intinya, hobi "baruku" itu banyak mempengaruhi caraku berpikir dan bertindak, yang cukup membantu aku dalam keseharianku dulu. Bahkan hobiku itu terasa juga manfaatnya saat aku melanjutkan studi PPA dan S2 yang belum lama ini aku selesaikan.
Malah, aku bisa suka menulis pun ya utamanya karena hobi baruku itu. Jadi, memang masih banyak banget yang bisa aku ceritain di sini, sih.
Tapi, enaknya bersambung dulu aja deh.
Nanti temenin aku cerita lagi ya!