Menelpon Ibu
H-3 menjelang lebaran, kamu masih saja sibuk lembur di kantor. Bukan karena ingin terburu-buru menyelesaikan kerjaan untuk libur panjang, melainkan karena memang di kantormu tidak ada yang peduli dengan tanggal merah nasional, kecuali hari sabtu dan minggu saja.
Jalanan tampak begitu lengang, tidak seperti biasanya. Semua berjalan sangatlah lambat, lampu-lampu jalan berkedip semakin pelan, deru kendaraan nyaris tak terdengar olehmu. Suasana seketika berubah melankolis.
Kau menyuruh tukang ojek yang kau tumpangi untuk memacu kendaraannya lebih cepat lagi. Kau ingin cepat-cepat sampai ke rumah.
Pikiran-pikiran itu berpacu saling mendahului, kau sudah tak bisa membedakan lagi perihal kenyataan dengan ilusi.
Suara perutmu bergemuruh memecah lamunanmu yang semakin tak terarah, “mau makan apa malam ini?”
Kau lalu teringat beberapa potong ikan mentah yang sudah tiga hari mengendap di lemari pendinginmu.
“Kali ini aku tak ingin makan di luar, aku akan makan ikan goreng dan mie goreng instant saja!”
Sial! Kau baru saja teringat akan sesuatu, persediaan minyak goreng di dapurmu kini telah habis.
Kau mengubah rute tujuanmu menuju minimarket yang letaknya tak jauh dari rumahmu.
Kau kemudian menbayar tukang ojek itu lalu bergegas masuk ke dalam minimart sambil menyambar keranjang belanja dan mengisinya dengan beberapa bungkus mie instant, daun bawang, minyak goreng dan beberapa barang yang tidak begitu kau butuhkan.
Lalu kau pulang menenteng belanjaanmu seorang diri, berjalan kaki melewati beberapa blok, memandang bintang dan menghitung pesawat yang lewat. Lalu engkau tiba-tiba ingin menelpon ibumu. Sudah lama kalian tidak berbicara. Setidaknya beberapa menit saja hanya untuk menyampaikan kabar jika kau tidak bisa mengunjunginya pada liburan kali ini.
Kau merogoh kantong parkamu lalu mencoba mencari-cari nomer telepon ibumu. Tak kau temui satupun kotak bertuliskan kata “mama” di sana, tidak pula dengan nama “Ibu” bunda ataupun “ummi”
Pipimu mulai memanas, dan kau mencoba menahan agar air matamu tidak lagi tumpah untuk kesedihan yang sama. Bayangan tentang kematian ibumu kembali berputar di benakmu. Kali ini dengan kualitas yang lebih nyata dan bau kematian yang begitu dekat. Kamu masih bisa merasakan dinginnya wajah ibumu di ujung kecupan terakhirmu dan betapa gigil telah mengepung sekujur tubuhnya.
Tak ada yang bisa menghangatkannya, meski api kekecewaanmu menyala-nyala di hari itu.
“Ah mama.. aku masih berharap suatu hari kelak sebuah nomer tidak diketahui menghubungiku dan kembali mendengar suaramu di seberang sana menanyakan kabarku sekali saja, dalam hidupku!”
Denpasar, May 30th 2019













