Kami hanya makhluk Allah yang penuh dosa, yang Allah tutupi aib-aib nya.
Zaskia Adya Mecca
trying on a metaphor
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Jules of Nature

❣ Chile in a Photography ❣

Kaledo Art

No title available
noise dept.
Sade Olutola
Peter Solarz
No title available
will byers stan first human second
tumblr dot com

pixel skylines

izzy's playlists!
Cosimo Galluzzi
macklin celebrini has autism
One Nice Bug Per Day
DEAR READER
occasionally subtle
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Brazil
seen from Bangladesh
seen from Türkiye
seen from Bangladesh

seen from Colombia
seen from Poland
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@allahalwaysnumber1
Kami hanya makhluk Allah yang penuh dosa, yang Allah tutupi aib-aib nya.
Zaskia Adya Mecca
Ramadhan #4 : Kemudahan Kita
Saya pernah mengulas tentang hal ini ditulisan lama, saya lupa judulnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat dinanti bagi orang islam yang beriman dan bertakwa. Ada banyak keberkahan yang turun di bulan suci tersebut. Setiap orang yang saya kenal berlomba untuk menggapai setiap mili-keberkahan. Hari ini pun, jamaah subuh yang biasa saya kunjungi menjadi penuh. Kemarin malam padahal tetap seperti biasa, dua shaf.
Ramadhan ini seolah-olah setiap orang islam terlihat soleh/solehah. “Terlihat” karena memang itu yang nampak, perkara niat itu hak Allah.
Tadi malam, sepulang tarawih di Masjid Nurul Asri - Deresan, saya mampir dulu ke tempat makan untuk mencari makan malam sekaligus cadangan sahur. Saya berusaha berkaca seluas-luasnya di ramadhan ini. Saya dan mungkin begitu banyak orang memasang target besar dalam ibadah individu; baca Quran-nya lebih banyak, shalat sunahnya lebih rajin, tahajudnya lebih panjang, dan apapun yang terkait dengan ibadah individu.
Tentu ini bukan bicara tentang baik dan buruk atau salah dan benar. Saya merenung dalam perjalanan kembali ke rumah. Kalau keberkahan (dalam hal ini dalam bentuk pahala) hanya turun kepada orang-orang yang melakukan ibadah tersebut secara penuh, bagaimana dengan orang-orang yang mungkin tidak mampu bahkan tidak berkesempatan untuk itu?
Bukan karena mereka tidak ingin, tapi keadaan, kondisi, dan berbagai tuntutan hidup membuat mereka harus seperti itu. Saat kita sedang khusu’ tarawih, di luar sana ada bapak tukang parkir yang sedang menjaga kendaraan kita, di luar sana yang kita sering sekali abai dan tidak peduli, ada puluhan remaja seusia kita yang harus berjuang untuk hidup, mereka menjadi penjaga toko, pelayan restoran, dan untuk bekerja itu mereka merelakan waktu shalat tarawih berjamaah. Bahkan, pemilik tempat makan pun sengaja membuka tempat makannya di jam-jam itu (biasanya 17.00-22.00). Dan kita, sering tertawa usai tarawih ketika makan di sana atau saat berbuka puasa di tempat makan itu. Apalagi saat nanti ramai acara buka puasa bersama. Jahat gak sih?
Di saat kita begitu bersemangat menghadiri kajian-kajian dengan penceramah yang keren-keren, ada yang harus berjuang untuk hidup dan melakukan tugasnya. Para penjaga pintu kereta api, para sopir bus malam, para nakhoda di lautan, para kelasi, juga buruh-buruh bangunan dan pelabuhan, petugas pom bensin, penjaga mini market, tukang parkir, masinis, pilot, dokter dan perawat yang harus berjaga di rumah sakit, dll. Mereka berjuang untuk hidupnya juga hidup orang lain, mungkin juga untuk keluarganya di rumah. Kalau mereka semua meninggalkan tugas pekerjaannya, mungkin kita semua yang kemudian marah-marah. Jahat gak sih?
Di saat pagi kita bisa bersantap sahur, duduk manis di ruangan keluarga yang hangat, makanan yang enak. Ada di luar sana yang harus ke pasar dini hari, ada yang memasak untuk warungnya demi teman-teman yang nge-kos bisa beli makanan untuk sahurnya, dan lain-lain. Kapan terakhir kali kita berempati?
Betapa begitu banyak kemudahan yang kita miliki. Kita tidak perlu susah payah untuk memenuhi kebutuhan keuangan. Tidak perlu bekerja menjadi penjaga toko, pelayan restoran, apapun itu. Kita bisa menghadiri kajian rutin tanpa harus memikirkan hal lain. Kita diberikan banyak kemudahan untuk meraih keberkahan di bulan ramadhan ini dengan segala target ibadah individu yang sudah dibuat.
Pertanyaannya, adakah target ibadah sosial di sana? Adakah niat kita untuk ikut serta dan turun tangan membantu memudahkan orang lain beribadah juga sama seperti yang kita dapatkan? Akankah kita begitu egois, mengharapkan semua keberkahan itu menjadi milik kita semata tanpa peduli apakah itu juga didapatkan oleh orang lain?
Semoga keberkahan ramadhan itu turun kepada orang-orang yang memudahkan kita semua dalam menjalankan ibadah. Bahkan saya merasa, mereka jauh lebih pantas mendapatkan kebaikan itu. Yang jelas, Allah Maha Pengasih dan Penyayang.
© Kurniawan Gunadi
Tulisan ini adalah tulisan ramadhan tahun lalu, masih relevan hingga saat ini. Semoga tahun ini kita bisa meningkatkan kapasitas diri dan juga membantu kemudahan orang lain disekitar kita. Tulisan asli bisa di klik di sini.
“Pernah tidak, saat engkau membaca kalam-Nya tiba-tiba saja ada perasaan haru yang bergemuruh di dadamu sampai-sampai engkau ingin menangis saat itu juga?”
—
Sebuah perasaan bersalah antara tidak bisa membacanya dengan baik, tidak mengerti arti setiap kalam yang di baca, atau tidak bisa membersamainya setiap waktu.
Perhatikan kondisi hati saat ini. Al-Qur'an itu adalah obat, bagi hati yang sakit. Maka jika saat membacanya engkau menangis dan terseduh, barangkali Al-Qur'an sedang rindu diri mu untuk tetap bisa membersamainya.
Oleh karnanya Ia melembutkan hati mu, agar senantiasa berlama-lama bersama Al-Qur'an. Agar engkau terbiasa membersamai Al-Qur'an, agar tangan engkau terlatih membuka setiap lembar halaman Al-Qur'an, agar mata engkau basah setiap melihat huruf Al-Qur'an, agar lisan engkau ringan setiap membaca Al-Qur'an.
Maka jika saat itu terjadi, pegang eratlah Al-Qur'an. Berjanjilah pada diri bahwa sampai kapanpun engkau tidak akan melepaskannya, engkau tidak akan meninggalkannya.
Jika suatu saat sebuah pilihan membuatmu lupa pada janji yang telah engkau ikrarkan. Mintalah pada-Nya agar Ia mengingatkan engkau pada janji yang pernah engkau ikrarkan untuk selalu membersamai Al-Qur'an sampai kapanpun. Mengingatkan engkau pada kenangan, sebuah kebahagiaan ketika bersamanya (Al-Qur'an).
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (Qs. Al-Qamar: 17)
Ini Ramadhan, bulannya Al-Qur'an. Jika selama sebelas bulan ini engkau lelah, maka pulanglah. Dekap, dan bacalah kembali Al-Qur'an. Tidak ada kata terlambat untuk pulang membersamai Al-Qur'an..
07 Ramadhan 1438 H || 02.06.17 || ©andromeda nisa'
Ramadhan #5 : Ukuran
Setiap kali waktu beranjak, ukuran-ukuran kita terhadap sesuatu ikut bertumbuh. Seperti saat kita kecil, ukuran puasa kita mungkin hanya sampai adzan dzuhur, hari ini ukurannya harus penuh sampai adzan maghrib.
Ukuran kita dalam pemaknaan pun bertumbuh. Ukuran kita tentang ikhlas, ukuran kita tentang kasih sayang, ukuran kita tentang kebaikan, semuanya ikut bertumbuh.
Kini, coba selidiki. Apa yang berbeda dari ukuran tahun ini dan tahun lalu, dalam hal apapun. Apakah ukuran kita dalam memandang kaselahan itu berubah, hari ini dan dulu? Apakah ukuran kita dalam menjalani ibadah bertambah, hari ini dan dulu?
Kita tidak pernah bisa memaksaan ukuran kita kepada orang lain, pun sebaliknya. Sebagaimana rasanya tidak nyaman saat kita diminta untuk masuk dalam ukuran-ukuran yang dibuat oleh orang lain. Untuk itu, sadarilah bahwa tidak sepantasnya kita mengukur diri dan orang lain, karena memang berbeda patokannya.
Di ramadhan ini, mungkin ada yang baru mulai untuk shalat jamaah di masjid ketika kamu sudah rajin lima waktu. Di ramadhan ini, mungkin ada yang baru mulai memakai kerudung disaat kerudungmu sudah begitu panjang dan tertutup. Di ramadhan ini, mungkin ada yang baru mulai mengenal hijaiyah saat kamu sudah bisa mengkhatamkannya dua kali dalam sebulan ramadhan ini. Di ramadhan ini, barangkali juga ada yang baru belajar berpuasa, sekalipun usianya sepantara kita.
Mari bantu. Semoga dengan begitu, kita membantu memudahkan orang lain menjalani prosesnya, setidaknya mereka tahu bahwa kita adalah barisan orang-orang yang mendukung prosesnya, bukan menghakiminya.
31 Mei 2017 / 5 ramadhan 1438H | ©kurniawangunadi
“Kunci dari latihan Ramadan adalah menahan dan bertahan. Seperti seorang anak yang belajar berpuasa lalu dibiarkan orangtuanya menangis sejak satu jam sebelum bedug berbuka menahan lapar. Bukan soal tega atau tidak, tapi soal mengajarkan menjadi tangguh, tahan uji, dan berkeinginan kuat. Sehingga kemudian anak menjadi tahu ada kemanisan di balik perjuangan. Dan mungkin itulah inti dari kehidupan dunia ini, yaitu menahan untuk kemenangan yang lebih besar.”
—
Jika perempuan adalah tempatnya salah, maka lelaki adalah tempat sabarnya. Sebaliknya juga sama.
— Taufik Aulia
Kita pandai berkata-kata, tapi tidak pernah mahir dalam berbuat. Kita bisa menuliskan semua kata bijak, tapi belum tentu kita mampu bijak dalam bertindak.
Kata-kata terbaik yang bisa kita ciptakan adalah perbuatan baik.
©kurniawagunadi
I feel a smile come unbidden not unwanted, just unexpectedly because the idea that you would fall for me the same daring why I’m in love with you that seemed like something out of fairytale and considering how bruised the universe has made us those endings don’t seem real to me but you touch me, like I’m something worth worshipping and you look at me like I hold all the answers and you say my name like it’s your version of absolution somehow, even amidst the chaos you make believing easy
because my heart beats loud enough to scare the screams by Abby S (via fireandsteelofangels)
Orang lain tidak tahu apa kesedihanmu, bagaimana kamu berjuang, apa yang membuatmu terpuruk, bagaimana kamu berkorban, apa yang membuatmu bahagia, dan hal-hal yang menjadikan dirimu seperti saat ini. Mereka hanya tahu sebatas yang mereka lihat, dengar, dan apa yang kamu beritahukan. Selebihnya tetap menjadi milikmu. Untuk itu, bersikaplah sewajarnya. Tidak tinggi hati ketika mereka memuji, tidak terpuruk ketika mereka mencaci. Mereka tidak tahu sama sekali tentang dirimu :)
Pada banyak kesempatan saya mulai kembali percaya bahwa keyakinan dapat menumbuhkan kemampuan-kemampuan yang terpendam.
(via jalansaja)
Allah tak pernah meninggalkanmu, kamu saja yang seringkali lupa melibatkan-Nya.
— Taufik Aulia
Kalau kerasa udah mau nyerah, udah pengen berhenti, pengen ngeluh terus-terusan…ingat; Allah lebih cinta mukmin yang kuat.
Dosa adalah penghalang kebaikan. Maka ketika kamu menemukan dirimu sudah jarang baca Al-Qur'an, jarang bangun malam, jarang puasa sunnah, dan terlambat shalat subuh, jangan-jangan ada dosa yang menghalangimu.
— Taufik Aulia
[REMAKE] Karena Ukuran Kita Tak Sama
Oleh: Salim A. Fillah
“Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi”
Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.
Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman Ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya, “Masya Allah,” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!” Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.
”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya, “Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!” Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.
”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.
“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.
”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”
“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“
“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”
Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar di baliknya dan bergumam, ”Demi Allah, benarlah Dia dan Rasul-Nya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”
‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki. ‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah Bani Makhzum nan keras dan Bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawabdan ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.“ ‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki”
‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga Bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman senantiasa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman.
Rasa malulah yang menjadi akhlak cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah dan dibekalinya bertimbun dinar.
Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.
Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai khalifah misalnya.
“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas. “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”
Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.
Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasihat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat, tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasihat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan, tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu, teapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.
Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.
“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar,” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai, dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaannya begini kacau dan rusak?”
“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku. Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”
Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Namun caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali. Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, pahamilah dalam-dalam tiap pribadi.
Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.
Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.
Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.
Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi, tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.
Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.
Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya. Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah.
“Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, tetapi bisa jadi mengandung kebenaran.”
Setiap pelajaran baru yang kita dapat adalah untuk menilai diri sendiri, bukan untuk menilai orang lain. Kalau kita baru dapat pelajaran lalu menggunakannya untuk menilai orang, tandanya kita tak sedang benar-benar belajar. Kita hanya mencari pembenaran bagi diri sendiri dengan menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain. Jangan-jangan hati kita keruh, sehingga mata menjadi buta dan pikiran menjadi tumpul pada keburukan diri sendiri.
— Taufik Aulia
“Kuliah, pusing. Mau nikah aja.”
“Kerja, pusing. Mau nikah aja.”
“Nanti nikah pusing juga, mau apa lagi?”
Bukan. Bukan begitu. Menikahlah bukan karena lelah dari kehidupan. Tapi menikahlah karena butuh diringankan dan meringankan beban pada saat yang sama.
Bukan. Bukan begitu. Menikahlah bukan karena ingin lari dari kenyataan. Tapi menikahlah karena ingin saling menguatkan hadapi kenyataan.
Bukan. Bukan begitu. Menikah bukanlah tentang kamu saja yang harus dijaga perasaan dan dibahagiakan hidupnya. Menikah adalah tentang sama-sama menjaga perasaan dan sama-sama membahagiakan.
Menikah bukanlah pelarian yang akan melepas beban-beban hidupmu. Menikah adalah tentang penyatuan dua kekuatan untuk membawa beban yang sudah ada sebelumnya. Menikah adalah tentang berkawan, saling berbagi dan menerima. Menikah adalah tentang membangun masa depan dan mencapai impian sama-sama.
Maka bayangkan, apa jadinya bila dua orang yang saling lari dari kenyataan hidup kemudian bertemu dalam satu bingkai pernikahan? Ya, mereka akan saling melarikan diri pada akhirnya.
— Taufik Aulia
Mungkin sekarang kita tidak sedang tersiksa dengan belenggu gengsi yang kita ciptakan sendiri. Kita tetap berjalan beriringan. meskipun kesibukan mencuri begitu banyak waktu kita untuk bertemu.
sebuah kemungkinan, di antara kemungkinan lain, yang mungkin tidak sesuai dengan yang kita mau. (via noroum)