Senin ini rasanya berat sekali.
Harus signed SP1 dari kantor, prepare untuk submit resign letter, dan handover campaign dan melepaskan sosok yang sangat baik, menyenangkan, juga penting dalam hidup. Ini, yang terasa sangat berat dan menyedihkan, namun harus dilakukan.
Semalam, aku dan mas Nandra ngobrol banyak, berjam-jam.
Setelah sekian lama (hmm, ok baru beberapa hari tapi rasanya sangat lama) kami nggak ngobrol apapun, akhirnya ngobrol panjang lagi. Rasanya apa? Bahagia banget, pasti. Mas Nandra cerita, kondisi kehidupannya lagi diramaikan oleh deadline kantor. Mas Nandra jadi sibuk, dan mengabaikan beberapa pesan dari aku. It’s totally okay, mas Nandra. I just miss you too damn much, and I can’t tell you directly.
Menghubungi mas Nandra by chat juga kadang segan, apalagi langsung whatsapp call. Aku inget, mas Nandra nggak suka. I quoted from LANY’s song, DNA.. Sorry I call again when you don’t pick up. Just wanna hear his voices to make myself better. Nggak, aku ngga bersandar ke siapapun termasuk mas Nandra untuk nolong diri sendiri saat lagi jatuh. I just knew, everything about mas Nandra helps me calm and makes me better, eventhough just a little thing seperti sengaja ngecek Instagram stories mas Nandra.
Bang El baik, ngenalin mas Nandra yang baik juga, ke aku. Aku yang udah lama nggak bisa ngerasain jatuh hati, jadi bisa jatuh hati karena denger suara mas Nandra. Mungkin banyak perempuan juga ngerasain ini saat mereka terlibat dalam konversasi panjang bareng mas Nandra.
Obrolan panjang yang bisa dibilang deep conversation semalam sama mas Nandra, bikin aku ngerasa.. This is me step out from this. Maaf ya mas Nandra, aku udah segitunya jatuh hati yang terlalu dalam dan punya rasa yang nggak seharusnya ada ke mas Nandra. Aku tahu, dengan aku mengakui ini, aku yang harus pergi duluan. High risk, ya? Iya, sangat beresiko tinggi. Tapi aku nggak mau menyusahkan mas Nandra terlalu jauh. Aku nggak mau ganggu kenyamanan mas Nandra. Kenyamanan mas Nandra, buatku yang terpenting, sekalipun itu harus bikin aku ngelepas mas Nandra.
I fall for you, I really do. Tapi aku paham, we’re better this way, kan mas Nandra? Semakin lama mas Nandra ada di hidup aku, semakin sering aku liat mas Nandra di layar ponselku, semakin aku ngerasain sakit yang luar biasa. Maybe this is the perks of missing and loving someone I can’t have.
Tapi, terlepas dari semua sedih dan sakitnya, aku bersyukur banget bisa kenal mas Nandra, seneng banget bang El ngenalin aku ke sosok mas Nandra yang hatinya baik dan menyenangkan. Mas Nandra, baik-baik, ya.. Jangan capek jadi orang baik kayak mas Nandra yang aku kenal selama ini. Aku sayang sama mas Nandra? Jawabannya, iya. Tapi sayang nggak melulu harus memiliki, kan..? Hehe.
Setiap solat, aku kirim doa-doa baik untuk mas Nandra aja, bisaku. Semoga hidup mas Nandra kedepannya bisa lebih baik dan selalu menyenangkan seperti sekarang, ya!
This is me, saying goodbye to you, mas Nandra.. Be good!