Tujuh Puluh Tahun
Aku selalu mengira sekaligus berharap jika orang tuaku bisa berumur lebih dari 70 tahun. Seperti orang tua lainnya yang bahkan bisa menyaksikan cucu mereka sekolah, bekerja, bahkan menikah. Ada momen saat mereka bertemu dengan generasi ketiganya, cicitnya.
Aku membayangkan momen itu akan terjadi dalam kehidupanku nanti. Tapi kemudian aku tersadar jika kematian itu tak perlu menunggu tua, tak perlu harus sakit. Tahun ini, salah satu dari mereka sudah akan memasuki usia enam puluh. Usia yang membuatku sadar bahwa sebagai anak, aku harus selalu siap dengan apapun yang akan terjadi nanti. Meski mungkin aku tak pernah siap.
Paling tidak, aku harus mulai mengatur pekerjaanku, aktivitasku, dan semua hal lainnya agar membuatku menjadi lebih fleksible untuk pulang, dan nanti bisa pulang ke rumah menemani orang tua dan membuatnya selalu merasa terisi hidupnya. Agar mereka bisa merasakan telah berhasil mendidik dan membesarkan anaknya dengan baik.
Waktu yang berlalu tak seperti berlari, melihat keriput wajahnya yang semakin banyak, mudah lelah, dan semua hal yang tak kusadari karena aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri, karir, anak-anak, dan semua ambisiku saat ini. Aku mulai mempersiapkan perubahan skala prioritasku, mulai belajar dari teman-temanku yang lain yang telah kehilangan lebih dulu.
Dan pesanku untuk teman-temanku semua. Mumpung masih ada waktu. Mumpung kesempatan itu masih membentang begitu luas. Pikirkan lebih dalam lagi, sebenarnya apa yang ingin kita lakukan untuk mereka. Lakukan itu, sebelum kita tidak bisa melakukannya lagi. ©kurniawangunadi













