untukmu
Dariku yang menikmati kesakitan
Yang selalu mendoakanmu dalam diam
Untuk menenangkan hati yang berguncang
Saat harapan membuatku mati perlahan

shark vs the universe
AnasAbdin
trying on a metaphor
will byers stan first human second

❣ Chile in a Photography ❣
Misplaced Lens Cap
art blog(derogatory)
tumblr dot com
Not today Justin
YOU ARE THE REASON
Sade Olutola

JBB: An Artblog!

Kaledo Art
Claire Keane
Keni

izzy's playlists!
todays bird

tannertan36
$LAYYYTER
hello vonnie
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Canada

seen from United States

seen from Brazil

seen from Australia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Spain

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States

seen from Russia
seen from Argentina
seen from Chile
@amidrajad
untukmu
Dariku yang menikmati kesakitan
Yang selalu mendoakanmu dalam diam
Untuk menenangkan hati yang berguncang
Saat harapan membuatku mati perlahan
Saat kau yang selalu tersenyum ketika tenggelam dalam kenangan
Yang kutau, kau akan bernafas lelah setelah bertemu realita
Lirik To My Youth - Bolbbalgan4
나는 한때 내가 이 세상에 사라지길 바랬어 온 세상이 너무나 캄캄해 매일 밤을 울던 날 차라리 내가 사라지면 마음이 편할까 모두가 날 바라보는 시선이 너무나 두려워
아름답게 아름답던 그 시절을 난 아파서 사랑받을 수 없었던 내가 너무나 싫어서 엄마는 아빠는 다 나만 바라보는데 내 마음은 그런 게 아닌데 자꾸만 멀어만 가
어떡해 어떡해 어떡해 어떡해
시간이 약이라는 말이 내게 정말 맞더라고 하루가 지나면 지날수록 더 나아지더라고 근데 가끔은 너무 행복하면 또 아파올까 봐 내가 가진 이 행복들을 누군가가 가져갈까 봐
아름다운 아름답던 그 기억이 난 아파서 아픈 만큼 아파해도 사라지지를 않아서 친구들은 사람들은 다 나만 바라보는데 내 모습은 그런 게 아닌데 자꾸만 멀어만 가
그래도 난 어쩌면 내가 이 세상에 밝은 빛이라도 될까 봐 어쩌면 그 모든 아픔을 내딛고서라도 짧게 빛을 내볼까 봐 포기할 수가 없어 하루도 맘 편히 잠들 수가 없던 내가 이렇게라도 일어서 보려고 하면 내가 날 찾아줄까 봐
아아아아아아아 아아아아아아아 아아아아아아아 아아아아아아아
얼마나 얼마나 아팠을까 얼마나 얼마나 아팠을까 얼마나 얼마나 얼마나 바랬을까
sc : LyricFind
English Translation
At some point, I used to wish I would disappear from this world The whole world seemed so dark and I cried every night Will I feel better if I just disappeared? I was so afraid of everyone's eyes on me
During those beautifully beautiful days, I was in pain I hated myself for not being able to receive love My mom and my dad, they're only looking at me It's not how I really feel but I keep getting farther away
What do I do? What do I do? What do I do? What do I do?
The saying time is medicine was really true for me As the days went by, I really got better But sometimes, when I'm too happy, I'm afraid I'll be in pain again I'm afraid that someone will take away this happiness
Those beautifully beautiful memories were so painful I was hurting and hurting but the pain wouldn't go away My friends, all these people, they're only looking at me This isn't how I really am but I keep getting farther away
But still, maybe I can be A bright light in this world Maybe after all of that pain I can shortly shine a light So I couldn't give up I couldn't fall asleep peacefully for a single night Because maybe if I keep trying to get up like this I will find myself
How painful must it have been? How painful must it have been? How high must my hopes have been?
sc : azlyrics.com
P A R A D O K S
Terlihat sinar yang membeku berdampingan
dengan gelap yang menghangat
Ku teringat tentang hal ini
Dia yang memiliki sejuta mimpi
bersamamu yang berperang melawan diri sendiri
Dia yang telah berhasil
dan kamu yang tenggelam dalam sunyi
Dia yang telah berpaling
untuk kamu yang selalu menunggu
Dialog T I G A
"Kau bahagia"
"Sangat bahagia. Tapi aku takut."
"Takut?"
"Setahuku, sesuatu yang terlalu berlebihan itu tidak baik. Bahagia yang luar biasa ini, mungkin bisa saja diambil begitu saja dariku."
"Apakah kau takut kisah kita seperti buku yang kau baca itu?"
"Iya.. pada akhirnya mereka tetap harus berpisah dunia. Perjuangan mereka lenyap begitu saja karena salah satu dari mereka meninggalkan yang lain."
"Paling tidak, mereka dan kita telah berjuang."
"Tapi akhir ceritanya tidak sesuai dengan perjuangannya."
"Mungkin ada rencana lain yang telah Tuhan siapkan. Dan mungkin saja rencana itu lebih indah dari apa yang kita harapkan."
"Kurasa Tuhan terlalu kejam.
"Tuhan sudah sangat baik untuk mempertemukan kita. Jika memang kita tak ditakdirkan bersama di kehidupan ini, mungkin saja di kehidupan lain kita bisa menua bersama. Di kehidupan dan cerita serta perjuangan yang jauh lebih mudah daripada saat ini."
D U N I A
Dunia yang tercipta, diubah penyewanya
Dia yang menciptakan, diabaikan ada
Tak tersentuh berarti tak nyata
Tak tampak berarti dusta
Dusta yang terlontarkan, ditelan dalam
Nyata yang disembunyikan, dihindari jauh
Riuhan cerita adalah pengetahuan
Diamnya realita adalah tak berdaya
Batu yang diam, ia tak berusaha
Ombak yang pecah, ia bukti kerja keras
Kamu yang menyerah adalah TIADA
Dialog D U A
"Bisakah kau berhenti melakukan itu?"
"Melakukan apa? Mengelus kepalamu?"
"Kau bisa melakukannya pada dia saja, tidak perlu melakukan hal yang sama padaku."
"Aku telah mengelus kepalamu bahkan sebelum mengenal dia."
"Aku tahu. Maka dari itu berhentilah. Tanganmu bukan lagi milik kepalaku."
"Ini tanganku dan tanganku ini nyaman menghampiri kepalamu."
"Nyamannya tanganmu itu berdampak buruk bagi jantungku."
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa menghentikan debar jantung yang tak terkendali saat kau melakukan itu."
Dialog S A T U
"Mengapa terkadang menangis karna masalah yang sangat kecil. Keterikatan yang membuat sesak. Penjara yang jerujinya tak tampak tapi mengurung dengan ketat. Perhatian yang berlebihan bahkan melebihi anak kepada orangtua."
"Kau masih normal kan? Masih suka lawan jenis kan?"
"Hei. Sepesimis apapun aku, aku masih bisa membedakan mana yang seharusnya aku suka dan mana yang tidak. Aku hanya heran mengapa bisa seperti itu. Bagaimana penjelasannya?"
"Kan sudah kubilang di awal tadi. Rasakanlah.. Kau akan tahu.. Kau hidup memiliki tujuan yaitu melindunginya, menjaganya."
"Bukankah bisa sendiri? Mengapa lewat orang lain? Keluarganya? Orangtuanya?"
"Apakah orangtuamu slalu menjagamu hingga kau mati nanti? Apakah keluargamu slalu melindungimu sampai kau mati?"
"Mereka punya perlindungan dan penjagaan masing-masing."
"Kau tidak ingin seperti mereka?"
"Aku tentu saja ingin seperti mereka, Ada yang menjaga kita, melindungi, menyayangi. Tapi entahlah."
"Semua hal yang ingin kau dapatkan harus kauperjuangkan terlebih dahulu. Tidak mudah seperti kau membalikkan telapak tangan. Bahkan saat hujanpun membutuhkan cuaca panas terlebih dahulu sebelum hujan deras kemudian ada pelangi."
"Kau seharusnya juga tahu bahwa tidak setiap kali pelangi itu muncul setelah hujan. Bahkan saat musim penghujan, tidak membutuhkan panas untuk turun."
"Begitulah kau. Kau hanya menyukai hujan tapi tidak pelangi. Kau menyukai hujan saat musim hujan. Bukankah lebih menyenangkan saat hujan itu turun waktu cuaca sangat panas?"
"Hujan saat musim panas memang lebih menyegarkan dibandingkan musim penghujan. Aku suka musim penghujan karena.. "
"Sendu,, suram.. Iya kan?"
Peterpan Sindrom
Cerita anak-anak tentang seorang anak laki-laki yang tinggal di negeri "Neverland". Dia tidak tinggal sendiri, ada kesepuluh anak yang dia sebut pasukannya dan seorang peri kecil yang selalu setia menemaninya.
Awalnya Peterpan, -itu sebutannya, aku tidak tahu nama aslinya- hidup sebagai anak biasa. Hidup bersama kedua orangtuanya dengan kehidupan yang cukup. Namun suatu saat dia mendengar cerita orangtuanya tentang kedewasaan. Bagaimana hidup akan mulai berubah ketika dewasa itu datang kepadamu. Bagaimana kau harus bersikap ketika dewasa itu mulai merayapi tubuhmu. Bagaimana kau harus mencintai ketika dewasa itu mulai menyergapmu.
Peterpan tidak siap untuk itu. Dia tidak siap untuk dewasa yang dirasa begitu mengerikan dan menakutkan. Dewasa yang dilihatnya tidak ada lagi permainan dan senyuman. Tidak ada lagi hidup tanpa menikmati kehidupan. Peterpan pergi. Dia melarikan diri sebelum dewasa itu memeluk dan menyergapnya. Peterpan tidak ingin dewasa.
Ternyata dia tidak sendiri. Ada anak lain yang merasakan hal yang sama. Mereka berkumpul dan menunjuk Peterpan sebagai ketuanya. Peri kecil penghuni Neverland menyukai Peterpan. Anak laki-laki pintar bermain, senyumannya membuat bahagia, selalu cerdas dan penuh ide cemerlang. Peri itu merasakan hidupnya lebih berwarna dan mengasyikan ketika bersama Peterpan.
Mereka hidup tanpa memikirkan apa yang harus dituju selanjutnya. Tidak memikirkan apa yang harus kukenakan selanjutnya. Makanan apa yang akan dicoba selanjutnya. Permainan apa yang harus dikuasai selanjutnya. Mereka hidup murni hanya untuk menikmati kehidupan.
Suatu ketika muncul seorang anak perempuan di sana. Perempuan satu-satunya yang ada setelah peri kecil itu. Perempuan itu banyak membawa cerita baru dari tempatnya berasal. Perempuan itu memberi ilmu tentang dewasa yang dia rasa tak semenakutkan itu. Dia mengajarkan bahwa dengan kedewasaan mereka bisa mencapai mimpi yang lain. Mereka akan berada di level berbeda dalam kehidupan dengan kedewasaan.
Perempuan itu berhasil membuat kehidupan yang sangat berbeda. Pasukan Peterpan perlahan menanyakan tujuan hidup, bertanya mimpi apa lagi yang akan mereka capai, bertanya apa saja yang bisa mereka dapatkan dengan kedewasaan.
Mimpi Peterpan mulai goyah. Kehidupan sederhana ternyata tidak cukup. Mimpinya yang sederhana tidak berdaya. Dia-pun sempat membuat peri kecil yang selalu menemani Peterpan, pergi. Peri kecil kehilangan teman bermain karena mereka terlalu berminat pada cerita perempuan itu. Peri kecil juga kehilangan Peterpan yang mulai bimbang tentang mimpinya.
Pasukan Peterpan setuju, mereka akan mengikuti perempuan itu untuk menjemput kedewasaan. Peterpan marah. Tapi dia tahu dia tidak bisa menahan mereka pergi. Peterpan sadar mereka punya keinginan masing-masing. Peterpan sadar jika mimpinya tidak akan membuat yang lain bahagia. Peterpan merelakan pasukannya pergi.
Perempuan itu mengajak Peterpan untuk pergi bersamanya. Peterpan ragu, dia menyayangi perempuan itu, dia ingin bersamanya, menemaninya. Namun, Peterpan teringat mimpi sederhananya. Mimpinya tidak akan membuat perempuan itu bahagia. Dengan senyuman Peterpan memalingkan wajah membiarkan mereka semua pergi. Peterpan akan menetap di Neverland, mewujudkan mimpinya. Dengungan kepakan sayap mendekat, Peterpan tersenyum. Ada yang bahagia dengan mimpi sederhananya. Ada yang siap menemaninya untuk hidup di mimpi sederhananya. Peri kecil itu.
----------
Mimpiku sederhana... Terlalu sederhana untuk kalian...
Bagi kalian mimpiku tidak berdaya.. Mimpiku tak bercita-cita.. Mimpiku hanya untuk orang yang takut...
Kubiarkan kalian mencaci sesuka hati... Kutata hati supaya mimpiku berarti.. Karna kutahu, mimpi ini milikku sendiri..
Intro
Berharap semoga ini berkelanjutan..
Beberapa kali aku mulai "menulis" di tempat yang lain dan beberapa kali pula aku menginginkan hal ini berkelanjutan, namun keinginan hanya tinggal keinginan jika tidak dilakukan.
Aku membutuhkan tempat untuk mengurangi isi pikirku yang kurasa terlalu penuh atau malah terlalu kosong.
Tempat yang netral. Tidak menghakimiku dengan aturan dunia. Aturan sosial yang seharusnya mengarahkan menjadi lebih baik namun terkadang bagiku itu menjerat tenggorokanku. Membuatku hanya bisa diam karena jika ada sedikit suara yang keluar, jeratan itu makin menyakitiku.
Aku juga mengetahui jika ini hanya pemikiranku. Mungkin saja pemikiranku ini tidak terlalu hebat seperti orang lain. Pasti tidak lebih baik dari yang lain. Namun pemikiran ini membuatku terlena. Membuatku menemukan kehangatan di balik dingin yang menusuk. Membuatku rela tenggelam di dalam hening.
Melihatku, mungkin orang menganggapku malas, tidak kuat menghadapi dunia, terlalu santai, terlalu manja, tidak ingin berbuat apa-apa. Itu benar, untuk "cap" yang terakhir itu benar. Aku benar-benar tidak ingin berbuat apa-apa.
Aku hanya ingin diam. Menikmati keheningan. Memeluk kegelapan.