one by one they walked away from me. while i'm standing here, playing in my world of fantasy.Â
The Stonewall Inn

bliss lane
Cookie Run:Kingdom Official!

No title available
Mike Driver

PR's Tumblrdome
🩵 avery cochrane 🩵
YOU ARE THE REASON

izzy's playlists!

❣ Chile in a Photography ❣

titsay
sheepfilms

blake kathryn
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
No title available

tannertan36
No title available
occasionally subtle

@theartofmadeline
No title available

seen from Germany
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from TĂĽrkiye
seen from TĂĽrkiye

seen from United States

seen from United States
seen from Norway
seen from Venezuela
seen from United States

seen from TĂĽrkiye

seen from Italy
seen from Brazil
seen from Saudi Arabia

seen from United States

seen from United States
seen from United States
@amnerisletter-blog
one by one they walked away from me. while i'm standing here, playing in my world of fantasy.Â
akhir-akhir ini saya merasa sangat sendirian.
lukisan yang nggak juga selesai itu akhirnya kututup rapat dengan kain. hanya tinggal selangkah lagi padahal. berlebihan tidak ya jika aku bilang aku seperti sedang mengubur impianku sendiri dengan kain itu. lukisan itu juga kubuat karena mimpi-mimpiku yang tak bisa kuraih dan kupendam jauh-jauh di kepalaku. di duniaku.Â
lalu di atasnya kuberi lampion berbentuk balon udara. dengan giring-giring ikan paus tolol di atasnya. seperti sedang menabur garam pada luka. balon udara seperti mimpiku yang ingin terbang sementara aku adalah ikan paus besar diatasnya. tidak dapat menolong diriku sendiri agar balon udara itu terbang jauh ke angkasa.
betapa bodohnya bermimpi mau S2 ke Jepang jurusan manga. yang kuliah di jurusan seni aja belum tentu bisa. kamu apa? hahaha.
Humbert, kamu tak ada bedanya dengan S2 ke Jepang itu. cara agar aku meraih kalian adalah dengan menutup mata. kamu tak ada bedanya, hanya cerita pengantar tidur.Â
hey, bukannya kamu sudah menemukan solusi jangka panjangnya? bukannya kamu sudah berdamai dengan beasiswa2an ini? jangan iri karena kamu sendirilah pusat dari masalah itu!!!
kata Ayah, hujannya deras sekali. aku bisa melihatnya yah, hujan turun dengan rapat-rapat dan cepat. tapi menurutku justru wiper yang sedang sibuk bergerak ke kanan dan kekiri menyapu butiran-butiran hujan di kaca depan itulah yang lebih cepat. tapi tidak ada yang menandakan bahwa jika aku dan sahabatku menangis maka ada yang lebih cepat menyapu air mata kami dengan sibuk seperti wiper tolol yang berisik itu. kita akan saling menangkap air mata masing-masing dengan lambat...ya, pada akhirnya kita kembali mendekap kekalutan masing-masing. sudah barang tentu menempuh jalan, tikungan dan cuaca yang berbeda.
lalu menemukan naungan baru yang mungkin lebih nyaman.
ingatkan aku untuk selalu mengingatnya, sahabat-sahabat hebat yang akan segera menempuh jalan berbeda yang pernah ada disisiku dan membantuku selagi jatuh, menertawaiku selagi bersikap tolol, menyanyikan lagu sedih supaya aku tak lagi berpura-pura sedih, menambah gabungan-gabungan kata paling aneh, menyelami imajinasi porno, dan segala hal gila lainnya.Â
kata Ayah, hujan sudah reda. kini aku tak bisa melihatnya Yah...hujan terus bercucuran di dadaku.
"Ayah, I Love You.."
Dengan mata nanar ia mengunyah roti bakar buatannya sendiri. Asap masih mengepul dari setiap gigitannya. Tidak ada kopi, susu atau teh hangat yang menemani. “Bosan..roti bakar terus” bibirnya melengkung kebawah. Air matanya menetes menjadi bulir2 diatas roti bakar yang ia genggam. Tangannya gemetar mengingat semuanya.
Senin 24 february 2010, 07.00 am
“Selamat pagi..” dengan sedikit malas-malasan aku membetulkan dasiku dan duduk di meja makan. “Selamat pagi, Ayah!” Istriku segera keluar dari dapur dengan semangat sembari menghidangkan pancake madu serta kopi susu panas. Pancake…ya ampun,makanan manis-manis begini..sudah kubilang kalau pagi roti bakar saja sudah cukup..ujarku dalam hati, berusaha menyembunyikan hela nafasku dan makan seadanya. Biasanya istriku hanya menemani sarapan dengan minum teh mint sambil tersenyum menyemangatiku sebelum bekerja. Dulu kegiatan pagi spt ini sangat menyenangkan,sekarang entah kenapa aku makin bosan.
Selasa, 3 maret 2010, 09.15Â pm
Badanku penuh peluh setelah menghajar wanita cantik itu diranjang. Dia anak baru di kantorku. Wangi tubuhnya menggoda, belum lagi pinggulnya yang kecil. Kami mulai saling menyeret ke ranjang sejak 2 bulan yang lalu,saat kami berdua kebetulan lembur. Dia menggodaku duluan dengan lipstick dan parfumnya yang menyengat… Ah..sepertinya putaran kedua akan dimulai malam ini.. Mengganggu sebenarnya,belum pula sampai orgasme, pikiranku disibukkan dengan karina, istriku dirumah. Betapa menyenangkan saat itu aku bisa menikah dengannya. Wanita yang memang tidak begitu cantik namun kepribadiannya yang menuntunku untuk melamarnya. Semangatnya, senyumnya, kelembutannya…ah,kenapa aku lupa dulu kita saling jatuh cinta?? Kadang-kadang aku berpikir dia terlalu baik sampai keadaan rumah nampak membosankan. Ah, tapi kenapa aku lupa dia pernah begitu marah hanya karena aku masuk angin dan tidak berterus terang. Karina..karina..maafkan ayah… Aku buru-buru menyudahi permainanku dengannya hingga ia marah. Aku tak peduli, aku merasa kotor. Besok, ya besok, aku akan memberi karina kejutan manis. Aku akan kembali menjadi suaminya yang baik. Karina….
Senin, 24 February 2010Â 06.45 am
Pagi ini pancake mungkin akan menyenangkan untuk Ayah. Kemarin katanya dia kecapaian, madu pasti bisa memulihkannya. “Selamat pagi…” “Selamat pagi, Ayah!” Ah, dasinya sudah dibetulkan,padahal dulu selalu dia biarkan berantakkan agar aku yang maju dan merapikannya. Kalau sudah begitu dia akan menciumku, hihi. Lalu aku tak sengaja menghela nafas sambil menyeruput teh mintku. Ayah, wanita mana yang mengambil hatimu…setelah dua tahun menikah aku masih saja jatuh cinta padamu setiap hari…tak apalah, badan ini ternyata juga sudah tak kuat sejak 3 bulan yang lalu divonis dokter. Biar Ayah temukan wanita lain sebelum aku pergi, agar kau tak perlu menangis dan sakit hati.
Selasa, 3 Maret 2010Â 11.00Â pm
“Ayah, baru pulang?” Kataku sedikit lemas padanya yang agak gugup naik ke ranjang untuk bersiap tidur. “Ya, capek sekali…” Capek ya, yah…Kenapa tak kau sempatkan mandi dulu…aku bisa mencium parfum wanita itu yang bercampur keringatmu. Ada rambut berwarna merah di kaos dalammu. Ada penyesalan di gurat wajahmu…Ayah. Malam itu aku begitu gelisah. Napasku sesak..
Rabu, 4 Maret 2010Â 04.25Â pm
Hari ini akan sempurna. Buket bunga dan cheese cake kesukaan bunda sudah ditangan. Ah..jadi tak sabar ingin pulang rasanya…
Rabu, 4 Maret 2010Â 04.22Â pm
Hari ini aku tak bisa menangis seperti yang biasa terjadi ketika aku menemukan Ayah dengan bau parfum yang berbeda. Biasanya aku menangis tersedu-sedu sambil menyapu. Sampai puas…lalu kembali semangat menanti suamiku pulang. Pekerjaan kantornya yang berat tidak mungkin kubebani lagi dgn kecengenganku. Aku takut bertengkar dengannya. Bagaimana kalau ia menceraikanku? Bukannya dulu begitu indah? Apa aku tak menarik lagi baginya? Apa aku membosankan? Apa selama dua tahun ini dia memang hanya lebih pintar menyembunyikannya? Apa aku tidak sepintar wanita itu diranjang? Ayah, wanita mana yang merebut hatimu? Susah payah kita perjuangkan ternyata dua tahun berlalu titik pertemuan kita kembali terhapus. Ayah, 3 bulan aku berjuang tanpa kau tahu penyakitku agar bebanmu tak semakin berat. Lalu kau berkhianat. Aku hanya bisa menangis saat kau tak dirumah… Ah, sudahlah…aku capek rasanya ingin tidur panjang. Kutitipkan kekasihku padamu, Tuhan..beri dia kebahagiaan abadi saat aku tak ada… Ayah..I Love you…
Rabu, 4 Maret 2010Â 06.15Â pm
“Bundaaa…” aku masuk ke rumah dengan ceria mencari-cari bunda kesayanganku. Aneh, biasanya dia akan menyambutku dengan semangat…”eh, Ayah! Oleh-oleh apa!?” atau “Ayah, jelek sekali sehabis ngantor? Mandi sana!” Lalu ia tertawa renyah. Tapi kali ini tak ada…rumah sepi dan dingin. “Bunda…” aku menemukannya meringkuk damai di sofa kesayangannya. Mungkin dia kecapaian. Aku lalu membelai rambutnya dan pipinya yang dingin..”bunda…kenapa?” Aku seperti tahu apa yang terjadi, badannya terlalu dingin untuk orang yg hidup. “Bunda kenapaaaa?” Aku menangis sambil memeluknya. Seketika ponsel yg digenggamnya jatuh. Sejenak kuperiksa dan tulisan yang muncul di layar compose text membuatku menyesal seperti hampir gila. Mungkin dia tak sempat mengirimkannya. Ayah tahu, Bunda…I love you too…i love you…
“Ayah, I love you…”
Palsu.
Kepalanya tenggelam ke dalam buku-bukunya. Matanya menyeruak berkobar-kobar diantara ribuan kata. Namun pikirannya melambung entah kemana. Ada sesuatu disana. Ada sesuatu yang terbaca di gurat-guratan wajahnya. Di kerutan alisnya. Di bulir keringatnya. Sesuatu yg kusebut dengan ketertarikkan palsu. Kriiit kriiit, bunyi otakmu. Berputar berkarat. Seakan hampir sekarat. Mencari-cari dengan liar gilang gemilang emas untuk ditelanjangi dan dipertontonkan. Ternyata kau tak disana. Palsu. Ketertarikkanmu palsu. Kau bahkan tak tau tumpukkan makna rantai-rantai kata yang bru saja kau lempar dan melukai kepala temanmu. Bajingan.
Kalut
akhirnya tiba, aku lulus juga. terima kasih Tuhan, setelah tiga tahun kuliah serampangan, dua tahun skripsian, akhirnya aku lulus.Â
kini aku menghadapi pertanyaan di kepalaku sendiri setiap hari: "setelah ini mau apa kamu?"
Oh Tuhan, demi apapun aku nggak tahu jawabannya. mimpi-mimpiku seakan tenggelam perlahan. mimpi ingin kuliah S2 di jurusan Manga universitas Kyoto-Seika (sebenarnya universitas apa saja nggak masalah, tapi kyoto-seika target utama) seperti berada di ujung jalan yang teramat jauh. Aku nggak punya bekal apa-apa untuk kesana, Aku nggak pernah menerbitkan apa-apa, aku nggak bisa bahasa Jepang, dan...aku bukan lulusan jurusan seni. Monbugakusho juga mungkin tidak bisa karena jurusan yang diambil harus berhubungan.
teman-temanku sudah mulai bergerak dengan les TOEFL/IELTS yang biayanya bisa sampai enam juta (heeelllp) sedangkan aku sendiri nggak tahu harus gimana, biaya les yang sebegitu besar nggak bisa serta merta aku minta sama orang tua. aku merasa sudah terlalu banyak meminta.Â
setiap hari aku berdoa, mencari lowongan kerja, mengerjakan ilustrasi, dan membuat komik yang nggak juga selesai. aku juga merencanakan beberapa bisnis online, tapi lagi-lagi kepentok modal yang memang nggak ada. aku kalut setengah mati. aku nggak tahu harus kemana sebenarnya. karena semua seperti kandas begitu aja. seperti tidak ada sesiapapun yang bisa kuajak bicara mengenai hal ini :'(( aku benar-benar tak tahu arah dan merasa sendirian.Â
I know that you always have a road for me to take, God, but now i'm lost somewhere...
begini saja, kataku pada diriku sendiri, jadilah orang yang kuat. segera bekerja, menabung supaya bisa les ilustrasi dan bikin komik di sela-sela hari kerja, persiapkan semua untuk berangkat di kemudian hari!Â
ya, biarlah aku nggak berangkat tahun ini, biarlah aku tinggal sendiri disini. tegarlah, tidak ada kata terlambat untuk passionmu, mungkin tahun-tahun berikutnya aku bisa kuliah jurusan manga di Jepang dengan lebih siap.Â
jangan lupa sama mimpimu, meok. bekerja dibidang lain bukan berarti melupakan mimpi-mimpimu!!
Pikiranku melayang kemana-mana. Membumbung ke lubang-lubang pemadam kebakaran darurat yang pipa-pipa merahnya melingkar-lingkar di atas kepalaku. Menyusupi celah-celah retakan atap yang belum selesai dibangun. Masuk ke lubang ventilasi, mencari-cari.
Dimana kamu?
Mungkin rumahmu kebanjiran, sini biar kutebar benih ikan koi, supaya indah dan kamu tidak sedih lagi.
Kenapa aku tidak bisa menemukanmu?
Mungkin kamu demam, sini biar kuyakinkan agar kamu tetap bersabar dan dosa-dosamu bisa dihapuskan karenanya..
Kamu tidak ada dimana-mana…
Mungkin kamu sedang bulan madu ke luar negeri, biar kudoakan meski hatiku remuk redam, agar kamu bahagia bersamanya..
mungkin kita berjalan lurus saja berdampingan, termyata kita butuh pertolongan, untuk menuliskan titik pertemuan
Antara
koma ada ketika kita di titik yang sama dunia tercipta ketika punggung kita saling berbicara kenyataannya halimun ada ketika kita bertemu mata selalu ada antara di tengah kita hingga kesempatan tak lagi ditawarkan semesta
Prelude to The Rain
Matanya nanar, seolah menatap setiap bulir hujan yang jatuh. Menikmatinya seiring dengan lagu yang mengalun ditelinganya. Di dunianya. Ialah wanita yang kutemui di setiap sore dipinggir pertokoan yang terabaikan.
Apa yang ada di duniamu?
Rambut hitam panjangnya terurai berantakkan membingkai wajah pucatnya.
Ada apa?
Siapa namamu?
Apa yang kau lakukan setiap sore disana?
Menetes setiap bulir hujan dari jas hujannya dengan perlahan. Seolah ia memang dapat membuatnya jatuh seperti itu, seakan ia dapat membuat dunia disekitarnya melambat.
Apa yang kau dengar? Nada apa yang mengiringimu?
Sendumu meradang. Sepimu merasuk.
Kini ia menatapku, begitu kaku dan dingin.
Ia berpaling, memercikkan butiran-butiran air hujan ke arahku dan berlari sekuat tenaga menembus hujan deras.
Aku tak tertarik pada bibir pucatmu, tubuh kurusmu, rambut panjangmu. Aku hanya ingin kau membagi alunan nada yang kau putar bagi butiran hujan yang turun. Seperti kau membagi sendumu pada dunia sekitarmu.
Aku menyebutmu, perempuan hujan*.
*nama Perempuan Hujan diambil dari kumpulan cerita Fira Basuki
Saat-Saat Murung
muka yang tertekuk. emosi berlekuk-lekuk. kepala penat seperti tertubruk.
murung!
dikatakan harus ceria, hanya sejam dua jam bisa bertahan.
sisanya pikiran melayang.
saat-saat murung,
yang kubayangkan adalah saat Trivium menggeber panggung Jakarta pada 11 february 2010.
saat-saat murung,
tetiba tertawa sendiri mengingat candaan gila teman-teman seperjuangan
ya, dikala murung,Â
kekecewaan pada diri sendiri serupa candu..
Perjalanan
Bandung masih seperti itu, angin dinginnya tak mengalahkan keramaian hiruk pikuk penghuninya di malam hari. Temaram lampu jalan menerangi wanita-wanita berbedak tebal. Menyinari gemerlap kehidupannya. Bandung masih seperti itu, darah kadang berceceran di tepi jalan diiringi bunyi knalpot yang memekkakkan telinga. Bisingnya musik kelam masih mengiringi asap rokok dan botol-botol yang berkelontangan. Perempuan itu masih seperti itu. Perjalanannya seakan tidak pernah ia akhiri. Bawaannya begitu berat. Kadang dipikulnya. Kadang pula diseret-seret. Ia pergi dari sudut ke sudut mencari sesuatu, meninggalkan jejak darah di belakangnya. Perempuan itu kembali ke tempat yang sama, masih seperti itu, bawaannya begitu berat hingga dipeluknya. Perjalanannya begitu panjang hingga sisa-sisa masa lalunya terbawa bahkan sampai ke masa mendatang. Kadaluarsanya tak pernah dicantumkan bagi perjalanannya. Perempuan itu masih disana, tidak bisa menjawab apa yang dicarinya. Di sekolah, di kafe perempatan jalan, jawabannya tiada pernah ia temukan. Di kolong jembatan, di antara hingar bingar alunan nada kematian, di tempat sampah, di mini market, di sangkar burung, di bawah pohon mangga, tidak ada apa-apa yang menjadi jawabannya. Mungkin di bulir-bulir hujan yang jatuh? Mungkin di pecahan laut yang terseret ke jalan berlubang di sudut kota? Mungkin di dalam tubuhnya? Apa yang kau cari, oh perempuan malang yang kini berdiri di bawah lampu jalan, menangisi barang bawaannya yang begitu menyiksa pundaknya. Air matanya jatuh mengalir hingga ke jalan yang menanjak, membanjiri setiap sudut kota Bandung. Ya, Bandung masih seperti itu, dipadati keluarga kaya dari luar kota yang merayap menjilat-jilat di atas aspal. Perempuan itu masih seperti itu, merintih sedih mencari apa-apa yang terserak. Perempuan itu masih disana, terseok-seok dalam perjalanannya membawa hati yang luka.
Pertemuan #3
Debu-debu kecil beterbangan dari ventilasi di atas kamar sempit ini. entah sudah berapa lama aku tak mendengar tentang dunia luar. Aku tak pula diijinkan membaca surat kabar. Retakan-retakan di dinding seakan memanggil-manggilku untuk segera kabur, lubang ventilasi yang penuh karat itu seakan ingin segera dieksekusi. Namun aku masih disini, tak berani mengambil resiko barang setitik pun. Kekasihku, sudah lima tahun pula kita tak bertemu. Pemikiran-pemikiranku membuat kita sengsara rupanya. Apa yang sudah kuperbuat, aku masih meronta bertanya-tanya ada apa dengan pikiranku. Saat hakim mengetuk palu aku hanya bisa menangis. Apa yang salah dengan mengatakan bapak petinggi kita yang setinggi-tingginya itu mengiris kuping bawahannya yang kini entah dimana. Apa yang salah dengan menyanyikan lagu mengenai uang rakyat yang disantap lahap oleh petinggi kita? Apa yang salah dengan mengatakan mereka tak pantas disebut petinggi? Apa salahku, kekasihku? Aku tak mengatakan hal yang salah, aku jujur, itu semua benar! Aku bahkan tahu bagaimana temanku terbunuh di pesawat karena aku membajak kotak hitamnya. Aku tak pernah mengatakan kebohongan! Kini mereka mengiris kupingku dan menutup mulutku rapat-rapat, kekasihku. Pikiranku seperti menumpul karena yang kulakukan hanya bertukar surat cinta dengan perempuan di kamar seberang. Dia begitu manis, kekasihku. Mirip denganmu. Aku mungkin akan segera bertemu dengannya, bukan hanya dari seberang kamar. Untuk itu, datanglah, kekasihku sebelum aku bertemu dengan perempuan itu. Kini badanku diseret. Senyumku terkembang bukan karena aku bisa bertemu dengan perempuan itu, tapi karena aku akan segera menemukan kebenaran. Kekasihku, maaf bila kau sudah menempuh perjalanan terlalu panjang karena aku. Aku berdiri tegak, tertawa-tawa. Bukan hanya kupingku yang diiris. Bukan hanya mulutku yang ditutup rapat-rapat. Kini mataku juga dibutakannya. Mereka berteriak-teriak memakiku dan disusul dengan komando yang aku tahu benar setelah itu aku akan menemukan kebenaran. Aku mendengar senapan dikokang bersamaan. Aku mendengar sesuatu menembus tengkorakku. Aku mendengar… “Kapten, seorang wanita menunggu laki-laki ini didepan. Sudah lima tahun mereka merindu, begitu katanya”
Pertemuan #2
Ah, akhirnya aku tiba. Aku tiba tepat ketika bulan masih ada dengan kelincinya yang tak letih bersepeda. Selimut kabut begitu menyenangkan meski menusuk-nusuk rongga tulangku. Kita akan segera bertemu, kekasihku. Temaram lentera ini yang akan menuntunku padamu ketika matahari masih malu-malu. Aku bawa pula apa-apa yang menjadi kesukaanmu.
Akhirnya aku tiba di kotamu. Perjalananku masih sangat panjang dengan lentera yang sudah hampir redup. Untung ada warung kelontong yang mau membagi sumbu dan minyak tanahnya padaku dengan harga murah. Tunggulah kekasihku, kita akan segera bertemu. Rindu ini yang akan menuntunku ke tempatmu setelah lima tahun dipeluk sunyi. Kau tahu?Â
Matahari mulai menemani, mengusir tirai kabut yang kukagumi selama perjalanan. Tubuhku makin hangat ketika tujuanku kurasa sudah semakin dekat. Aku membawa serta surat-suratku yang kutulis ulang untukmu. Lima tahun kau tak membalasnya, aku rasa karena kau sangat sibuk disana. tak apa, toh kita akan segera bertemu.
Namun perjalananku ternyata tak mudah. Warna oranye hampir menghiasi langit di atasku ketika aku masih berputar-putar menuruti kata hatiku. Bukan berputar-putar mencari jalan. Aku berputar-putar di depan kediamanmu, grogi tak tertahankan. Lima tahun, sayang, akhirnya kita akan bernostalgia.
“aku harus bertemu dengan kekasihku, kau harus tau aku tak bertemu dengannya selama lima tahun…” aku memandang petugas didepanku dengan mata berbinar.
“saat ini anda tidak dapat mengunjungi sesiapapun yang kau cari!!”
“mengapa?mengapa?kau biarkan kami merindu begitu lama, mana bisa kau menambahnya!” Petugas itu hanya menatapku dingin, kekasihku. Aku begitu ingin membakarnya dengan api lenteraku supaya es di sekelilingnya meleleh!
“hanya lima belas menit, bersabarlah!” ujarnya, masih dengan bunga es di matanya dan gemerincing kunci di pinggang kanannya yang sudah mulai berkarat disana-sini.
Seketika hening, hanya derap langkah dan teriakkan beberapa petugas dari halaman belakang gedung. Aku sedang memandang mata petugas yang dingin itu ketika kudengar bunyi senapan dikokang bersamaan.
Ah, kekasihku…kau membiarkan rindumu terbunuh dan mengabadikan rinduku yang sudah mulai usang…rupanya, kau mengirimkan surat-suratmu ke alamat yang salah. Rupa-rupanya, kau tak membiarkan sesiapapun mengadakan pertemuan denganmu. Dan rupa-rupanya pula, petugas itu begitu keji menambah rindu kita hingga selamanya.
2 November 2012
tetaplah hidup, berkarya, tetaplah berjiwa muda, menulis dan bermusik...karena melalui tulisan, gaya bahasa, musik dan petualanganmulah aku hidup untuk terus menulis dari setiap inspirasi yang kutelusuri terlalu dalam.
surat terbuka untuk yang tertutup, Feby
Pertemuan
kata-katanya begitu manis ia tulis diatas lembaran kertas lusuh yang sudah menguning dengan beberapa tinta yang luntur disana-sini. semburat merah di pipinya seketika menyeruak dibalik kulit mulusnya yang dipenuhi debu. kini ia sibuk mencari selembar kertas dan pulpen yang ia minta paksa dari petugas. disimpannya kertas itu dengan hati-hati agar tidak basah di bawah bantalnya.
satu demi satu kalimat ia tulis dengan penuh perasaan diatas sobekan kertas kecil. beberapa petugas memandangnya dengan bosan sementara teman-temannya cekikikan tak jelas.Â
"hanya tinggal beberapa hari lagi kita akan bertemu sayang, jangan khawatir" begitu ia menulis kalimat terakhirnya dengan segenap senyuman di wajahnya.Â
dengan sedikit kesal, petugas yang sedari tadi berjaga mengantarkan kertas itu ke kamar seberang. ia lalu memperhatikan kekasihnya membaca surat itu lekat-lekat di balik jeruji.Â
namun, kekasihnya hanya berbalik dan berbaring di ranjang. menyisakan tanya dan surat yang tak terbalas.Â
esoknya, ia menerima surat darinya. hanya satu kalimat "aku ingin segera bertemu denganmu. besok adalah hari paling terindah bagi kita"
ketika senja turun, laki-laki di balik jeruji itu diseret keluar tanpa perlawanan. senyumnya terkembang menatap kekasihnya di kamar seberang.Â
kini ia menunggu dengan hati riang, "hari ini, ternyata mereka mempercepat pertemuan kita" ujarnya dalam hati.
namun, petugas tak juga menjemputnya. sudah lima belas menit berlalu. dua puluh menit. tiga puluh menit. ia lalu bertanya pada petugas di depan kamarnya "aku tidak kau bawa serta?" dan petugas itu hanya menatapnya dingin.
beberapa penghuni kamar lain sudah diseret keluar. seketika hening, hanya suara derap kaki petugas yang disusul suara senapan yang dikokang bersamaan.
"sudah lima tahun, kau bilang kita akan segera bertemu...kenapa mereka tak kunjung menyeretku?"