Udara, Lautan, Langit, Matahari, Pepohonan, dan Kita.
Udara yang mengalir sepanjang bumi ini, sepanjang jarak yang terus menerus bergerak. Adalah udara yang sama, yang kita hirup atas kebaikan Tuhan yang tak pernah meminta imbalan atas setiap hembusannya. Udara yang mengalir ini adalah udara yang sama, yang mengenalkan kita kepada dunia. Dunia yang kita lihat bagaimana hamparan permadani yang indah sekaligus kengerian yang membuat kita ingin sembunyi di dalam kamar. Udara yang mengalir di dalam tubuh kita adalah udara yang sama, yang sejak kita lahir dunia ini telah mengenalkan kita meski kita belum mengerti saat itu.
Lautan yang setiap waktu bergelombang adalah lautan yang sama. Yang riaknya seperti tangis kita yang pecah seketika kita keluar dari rahim yang nyaman dan melindungi. Lautan yang saat ini kita tatap dengan penuh syukur dan ketakjuban adalah lautan yang sama yang terhubung satu sama lain, yang airnya adalah air yang sama yang bergerak melintasi ruang. Meski kita berdiri di tepi pantai yang berbeda.
Langit yang menaungi kita adalah langit yang sama, langit yang bertahun-tahun sebelumnya telah menjadi saksi atas perjalanan hidup kita masing-masing. Perjalanan yang jauh, melintasi siang dan malam, bangun saat pagi menyingsing, dan bermimpi saat bintang-bintang bertaburan. Impian yang kemudian membuat perjalanan kita bertemu suatu hari nanti. Langit itu adalah langit yang sama, yang kita pandang setiap hari selepas dhuha.
Matahari itu pun tidak pernah berubah. Kalau kita tidak pernah saling mengenal bertahun-tahun sebelum ini, maka aku ingin mengatakan kepadamu bahwa kita mengenal sesuatu yang sama sejak kecil, namanya matahari.
Pepohonan yang terus tumbuh, terus menghidupi kita saat ini adalah pepohonan yang bisa jadi berganti. Tapi kita tahu, ia terus tumbuh demi kita melanjutkan hidup. Pepohonan yang mengorbankan dirinya demi memberi masa kepada kita untuk bertemu saat impian yang dulu pernah lahir di malam-malam, bertemu di perjalanan.
Dan kita adalah dua orang yang tidak pernah saling mengenal bertahun lamanya. Dipertemukan dalam keadaan yang asing. Tidak ada celah pengetahuan yang memadai untuk kita bisa ketahui, tapi kita telah mengenal Tuhan yang sama. Tuhan yang menciptakan udara, lautan, langit, matahari, pepohonan, juga kita.
Dan kita paham jalan hidup kita ternyata bertemu, saat mimpi kita beradu, saat kekhawatiran kita menguap, dan saat pertanyaan-pertanyaan itu menemukan jawab. Dan waktu tidak bersedia berhenti sejenak, sebab itu kita segera bersepakat.