“Jika kita pernah tidak menyukai seseorang hanya karena sikapnya aneh dan tidak cocok dengan kita, berpikirlah kembali bahwa tidak ada orang yang menyukai kita tanpa mengorbankan perasaannya dan memahami keberbedaan kita.”
— Dedi Supendra

blake kathryn
One Nice Bug Per Day
YOU ARE THE REASON
wallacepolsom
he wasn't even looking at me and he found me
we're not kids anymore.
Three Goblin Art
occasionally subtle
Sade Olutola
Monterey Bay Aquarium

Andulka
Xuebing Du
i don't do bad sauce passes

tannertan36
No title available
AnasAbdin

@theartofmadeline

Love Begins

Janaina Medeiros
Mike Driver

seen from Colombia
seen from Switzerland

seen from Germany
seen from United States

seen from Spain
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from United States
@sunyiberdialog
“Jika kita pernah tidak menyukai seseorang hanya karena sikapnya aneh dan tidak cocok dengan kita, berpikirlah kembali bahwa tidak ada orang yang menyukai kita tanpa mengorbankan perasaannya dan memahami keberbedaan kita.”
— Dedi Supendra
Lelah bung, mari istirahat bersama. Kita tak harus naik kereta yang sama, kan?
Kita tak harus pula terus berlari, kan?
Bung, apa ada yang lebih menenangkan dari menerima keadaan?
Jangan menggantungkan sumber kebahagiaanmu semata-matanya pada sosok tertentu, benda dan tempat tertentu. Pada apapun yang gampang berubah dan sirna.
Seperti rasa sakit, terkadang untuk menghilangkannya kamu harus menjadikannya kebiasaan.
Ketika aku bosan dengan diri sendiri berkata-kata dalam hati pun enggan. Aku tidak hanya diam di mulut, aku diam dari dalam hati. Aku juga enggan berpikir soal bagaimana untuk mengubah situasi ini. Aku hanya diam karena sudah terlalu jemu dengan diriku sendiri. Aku begitu muak dengan apapun yang tidak bisa aku upayakan. Aku begitu putus asa dan lelah dengan diriku sendiri.
Aku jengah.
“Jika kita pernah tidak menyukai seseorang hanya karena sikapnya aneh dan tidak cocok dengan kita, berpikirlah kembali bahwa tidak ada orang yang menyukai kita tanpa mengorbankan perasaannya dan memahami keberbedaan kita.”
— Dedi Supendra
“Kita tak perlu cemas bila dikalahkan orang lain. Hal yang perlu ditakutkan adalah jika kita dikalahkan oleh diri sendiri. Karena sejatinya hidup adalah memenangkan pertandingan melawan diri kita yang lain.”
— Dedi Supendra
“Tak perlu bangga menjadi serupa pohon besar bila diterjang badai akan roboh jua. Tapi tiru ilalang, semalaman diterpa banjir, esoknya ia akan bangkit lagi.”
— Dedi Supendra
“Orang-orang mungkin akan merendahkan kita, meremehkan mimpi-mimpi kita, meragukan semangat kita. Tapi, hanya kita yang tahu siapa kita dan apa yang kita inginkan. Teruslah berjalan, dan tunjukkan, suatu saat kita akan sampai pada tujuan meski harus dengan merangkak sekalipun.”
— Dedi Supendra
Hal yang paling melelahkan daripada segalanya ialah disalahpahami.
Aku tidak akan mau berhubungan dengan orang lain, semisal itu hubungan kerja atau pertemanan hanya karena alasan kasihan. Karena sebagian besar orang-orang yang punya latar belakang keluarga yang unik, juga punya trauma dan keragu-raguan pada kebaikan orang lain. Mereka bisa menjadi sangat picik dan tidak mencerna rasa tulus dari orang lain. Dan pada saat mereka mulai bisa menemukan sendiri pijakan baru, mereka akan meninggalkanmu begitu saja setelah segala kebaikan mereka terima sepenuhnya.
Ibu bilang, orang-orang punya masalah lebih berat daripada kamu. Masalah kamu cuma soal kelakuan costumer doang.
Ya, saya adalah saya bu. Yang saya hadapi bukan masalah orang-orang yang kata ibu punya masalah lebih berat dari saya. Saya menghadapi diri saya sendiri untuk berhadapan dengan berbagai pola tingkah laku costumer. Saya merasakan kekesalannya. Saya merasakan kecewa dan marah. Emosi saya valid. Saya hanya ingin diakui kerja keras saya untuk tetap berperilaku baik menghadapi orang-orang yang kayak tai. Bukan malah membanding-bandingkan masalah saya dengan masalah orang lain yang entah siapa.
Gak ada satupun penderitaan yang layak diperlombakan.
Saya cuma ingin dipuji dan dibelai kepalanya karena sudah mampu bertahan dan menahan segala emosi di depan orang-orang.
Segalanya kelihatan tidak menarik. Termasuk diriku sendiri. Marah, dan salah. Marah dan salah. Marah dan salah. Tidak ada yang dirindukan selain, suara gemuruh di tengah hutan dan rintik-rintik air yang jatuh dari pepohonan. Keriap suara kaki-kaki kecil kepik di atas daun. Desir angin yang menerbangkan residu gerimis. Dan...
Aku merindukan diriku yang dulu, ternyata. Walau hanya pecundang yang pengecut tetapi aku yang dulu tahu bagaimana cara meromantisasikan hal-hal yang tidak ada nilai. Melihat keindahan jalanan kotor, menemukan kemewahan di dalam pasar yang semraut. Menyimpan potret-potret yang bagi orang-orang kelihatan sepele namun di mata adalah sebuah seni. Aku merindukan aku yang duduk di sudut belakang mini bus menuju bukittinggi, dengan wajah dingin tertampar angin pagi dan embun kota padang panjang. Sambil memeluk tas buluk dan menikmati lagu indie dari earphone. Dan berharap perjalanan itu tidak pernah berhenti. Dan...
Aku punya urusan lain selain urusan keluarga. Aku punya masalah lain selain masalah keluarga. Seringkali aku cuma bisa diam karena sudah terlalu menyerah dan lelah dengan segala urusan. Tapi aku punya masalah lain selain masalah itu. Tidak ada yang peduli aku sedang sedih. Tidak ada yang peduli aku sedang marah. Tapi aku ingin menulis sebagian yang ingin aku katakan karena terlalu banyak kata-kata berkecamuk dalam kepalaku...
Jika sudah di titik semua salah, aku biarkan segalanya berlalu begitu saja. Kubiarkan hal-hal yang biasanya tidak kusukai, lewat begitu saja. Aku bebaskan mereka datang suka hati dan pergi tanpa berterima kasih begitu saja.
Aku lelah selalu yang akhirnya jadi si paling salah.
Iya aku salah. Segala kesalahan adalah tentang aku. Aku pusat kesalahan. Mereka berhak menyalahkanku atas segala keburukan itu.
Terkadang kita tidak sadar telah mendramatisir masalah dan diri sendiri. Terkadang kita bermain-main dalam situasi yang tidak nyaman itu sebab ternyata kita lebih takut keluar dari ketidaknyamanan itu sendiri.
Paling tidak masuk akal ada orang segampang itu ngomong, ya udah lupakan aja ngapain hal-hal negatif di masa lalu itu terus diingat-ingat.
Kamu memang bisa segampang itu ngomong 'lupakan' seakan-akan memori manusia bisa dipilih mana yang harus dibuang mana yang harus dipertahankan hanya dengan ketik hapus atau enter.
Kita menjadi diri saat ini itu berkat hal-hal buruk, kejadian-kejadian traumatis yang berlapis-lapis yang telah berhasil kita lalui. Seenaknya minta lupakan seluruh kerja keras dan air mata serta luka luka yang sudah kita rasakan. Mereka hanya tidak pernah mengalami apa yang kita alami. Padahal untuk bisa ADA di masa kini karena kesabaran kita dan tekad untuk tidak gampang menyerah sehingga kita bisa mengerti arti bersyukur dan ikhlas berkat kejadian-kejadian di masa lalu. Begitulah bagaimana karakter seseorang terbentuk.
Akhir-akhir ini selalu muncul pertanyaan 'mengapa kamu hidup seperti ini?' di dalam hati. Kemudian setelah itu jadi banyak dan sering menangis tanpa sebab.
Kadang-kadang timbul perasaan ingin dipuji seseorang. Dalam saat bersamaan juga merasa harus meminta maaf kepada beberapa orang teman dan saudara yang sekarang sepertinya sudah tidak ingin saling bertegur sapa lagi di media sosial. Seandainya kita tidak dipisahkan jarak, aku akan segera menemui mereka dan meminta maaf karena aku sekarang menjadi orang yang sangat membosankan.
Aku bahkan tidak punya topik yang harus dibicarakan lagi dengan seseorang yang kukira dulu kami akan menjadi sahabat dekat yang saling mendukung.
Yah, sudahlah. Mau tak mau perjalanan tetap terus harus dilalui. Mau bahagia atau bersedih terus, bukankah itu soal pilihan?