Subuh-subuh tadi gue dapet pasien anak yang datang dengan keluhan demam dan muntah-muntah. Dia datang diantar dua perempuan, satu agak muda, satu lebih tua dan kayaknya seumuran nyokap gue. Saat menjelaskan hasil lab dan kesimpulan diagnosis gue ke mereka berdua, gue baru tau ternyata tidak satupun dari mereka adalah ibu kandung si pasien. Yang nampak lebih muda adalah tantenya, yang nampak seperti nyokap gue adalah neneknya. Menurut si tante, ibu si pasien sudah meninggal sejak si pasien masih bayi. Ayahnya di luar kota.
Saat akan berpamitan pulang, si tante cerita sedikit kalau dia harus sampai rumah sebelum jam 6, karena ada 3 anak lagi yang harus dia siapkan untuk berangkat sekolah; 1 orang kakaknya si pasien, dan 2 lagi anaknya sendiri. Katanya, yang mengurus mereka berempat ya hanya dirinya dan si nenek. Saat dia dan nenek ke rs, ketiga anak tadi dititipkan ke tetangga.
Gue menatap kepergian mereka keluar dari pintu UGD dengan mixed feeling. Ingatan gue terlempar pada perempuan-perempuan dengan bermacam tanggungjawab dan memutuskan mandiri--yang pernah gue temukan dalam hidup gue.
Menjadi perempuan itu mungkin sama saja dengan menjadi manusia pada umumnya. Tapi (maafkan untuk opini-opini sexist setelah ini), entah kenapa rasanya menjadi perempuan makin hari makin banyak term and condition-nya, dan makin banyak yang...how to say it, take them for granted?
Well, mungkin karena gue juga perempuan, jadi gue lebih melihat bagaimana dunia sekitar gue memperlakukan perempuan. Gue tau pasti menjadi laki-laki juga ada saja problematikanya. Sayangnya, gue belum pernah menjadi laki-laki, jadi sulit untuk membayangkan rasanya menjadi laki-laki.
Gue melihat bagaimana teman-teman gue yang memberanikan diri menggugat cerai suaminya yang toxic, lalu setelah dia merdeka sebagai janda, lingkungan sekitar tidak berhenti menyalahkannya, dibilang egois dan tidak memikirkan nasib anaknya. Gue bahkan pernah menyaksikan salah satu dari mereka dijadikan olok-olok dengan guyonan mesum di sebuah pertemuan formal, hanya karena caranya memegang mikrofon ketika sedang menjadi pembicara. Ntar giliran mereka dress up properly, merawat diri dengan passionate, dibilang janda gatel potensi jadi pelakor.
Gue melihat bagaimana perempuan sekitar gue melawan stigma atau terjebak stigma harus begini dan begitu, tidak boleh begini tidak boleh begitu. Gue tau masih banyak kerabat gue yang tidak peduli dengan gelar dokter gue selama gue masih belum menikah, dan gue akan selamanya jadi perbandingan dengan sepupu entah berantah gue yang anaknya sudah tiga padahal dulu kami bermain di selokan depan rumah kakek bersama-sama. Gue bahkan pernah mendengar adik gue yang perempuan dikasihani karena lensa kacamatanya makin tebal, sedangkan adik laki-laki gue yang silinder-nya lebih parah malah dibilang tampan.
Gue menyaksikan sendiri bagaimana nyokap sering dibahas rakyat sekitar karena bekerja dan sekolah lagi, padahal punya anak yang masih kecil-kecil. Sedangkan senior gue yang jadi spesialis bedah dan belum menikah dighibahin perawat dibilang perawan tua, ngga akan ada lakik yang mau sama perempuan yang sekolahnya ketinggian. Sama halnya kayak tante gue yang mau ambil S3. Sudah nikah mau sekolah lebih tinggi, salah. Belum nikah mau sekolah tinggi, salah juga.
Gue pernah sekolah di tempat yang jauh dari kota besar. Sebagian besar teman-teman gue saat itu, tidak melanjutkan sekolah sampai kuliah. SMA saja sudah mewah. Ada yang akhirnya hanya di rumah, menikah sebelum usia dua puluh, dan beranakpinak. Katanya, perempuan ya mau bagaimana juga hakikatnya adalah dapur-sumur-kasur. Sudah begitupun masih ada saja mulut bangsat yang terus berkomentar, kapan menambah anak, kenapa belum ada anak laki-laki, kenapa tidak ASI, kenapa tidak lahiran normal, kenapa bayinya tidak dibedong, kenapa ari-arinya ngga langsung dikubur, dll dsb dst.
Oh belum lagi kalau mau membahas bagaimana dunia mengatur cara perempuan berpenampilan. Sudah pakai jilbab, disuruh pakai cadar. Tidak pakai jilbab, dibilang dosa jariyah. Pakai bikini di pantai, dihujat tidak sudah-sudah. Pakai make up sedikit, dibilang menor dan tidak alami. Tidak pakai make up, dibilang tidak merawat diri.
Padahal katanya perempuan selalu benar. Tapi seringnya malah perempuan serba salah.
Pedihnya lagi, yang menyalahkan ya perempuan-perempuan juga.
Udah pernah nonton Kim Ji-Young, Born 1982? Salah satu film tentang perempuan yang sangat membuat gue patah hati. Se-patahpatahnya. Bahkan abis nonton itu, gue menangis sepanjang credit, sampe lampu bioskop menyala. Terlalu relate, terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
(bentar, spoiler alert dulu)
Ceritanya tentang ibu muda anak satu yang akhirnya mengidap mental issue serius karena stress dengan tekanan sekitar sejak dia menjadi ibu. Bagaimana dia harus berkutat dengan rutinitas mengurus anak, mengorbankan karir cemerlang, siang malam menghabiskan waktu demi suami, anak dan rumah. Sudah begitu, all the credits still go to the husband.
Ini bagian paling perihnya. Menjadi perempuan, kadangkala, adalah menjadi bayang-bayang. Ketika berhasil mencapai sesuatu, jika sudah menikah, yang disebut adalah suaminya. Jika belum menikah, yang disebut orang tuanya. Perempuan seperti tidak boleh dipuji sebagai dirinya sendiri, dihargai sebagai dirinya sendiri tanpa imbuhan orang-orang lain. Seolah-olah perempuan tidak mungkin berdiri sebagai entitas sendiri.
Sebagain besar perempuan di sekitar gue yang sudah menikah, panggilannya bukan lagi namanya, tapi nama suaminya dengan tambahan kata Bu. Misal, Bu Bambang, Bu Broto. Atau kalau sudah punya anak, yang disebut nama anaknya. Misal, Mamanya Aisyah, Bundanya Keanu. Padahal si Bambang sama Broto ngga bakal bisa punya Aisyah atau Keanu kalo ngga ada si perempuan ini sebagai entitas nyata. Aisyah sama Keanu juga ngga bakal ada di dunia kalo ngga ada rahimnya si perempuan ini sebagai sosok spotlight.
Dulu, nenek gue pernah nasihatin gue pas gue abis sumpah dokter. Katanya, gue harus ngerasain dulu jadi perempuan mandiri yang tau harus apa dengan diri sendiri, mencapai apa yang mau gue capai selagi gue belum menikah. Karena ketika sudah menikah, kehidupan gue sebagai diri gue sendiri, akan berakhir.
Gue akan jadi Bu-(nama laki gue), atau Mamanya- (nama anak gue). Gue akan menjadi imbuhan, bukan lagi kata dasar. Segala apapun yang gue capai, credit-nya akan diberikan kepada mereka, bukan kepada gue. Bahkan ketika anak gue melakukan sesuatu yang membanggakan pun, yang akan disebut pertama kali adalah bapaknya.
Gue dulu mungkin ngga paham dengan itu, sampe akhirnya gue makin tua dan teman-teman sekitar gue satu persatu menikah. Nasihat nenek gue mulai masuk akal.
Mungkin maksud nenek gue bukan mendiskreditkan peranan istri dan ibu. Nenek gue hanya memberikan bitter pill yang sebaiknya gue ketahui sebelum menjalaninya. Karena toh dalam hal apapun akan ada menyenangkan dan tidak menyenangkan-nya.
Pada akhirnya, gue cuma mau bilang ke sesama perempuan dulu aja deh. Muluk-muluk banget kalo gue berharap semua orang paham.
Tolonglah, perempuan, kita tuh sama-sama perempuan. Sedikit banyak, kita lebih mudah memahami sesama, dibanding yang beda. Jadi, apa susahnya berhenti saling mengintervensi keputusan dan pilihan hidup satu sama lain, apalagi dengan kata-kata pedih menyayat hati, hanya atas nama "peduli"? Ngga ada peduli yang melukai, sayang.
Tolong biarkan perempuan mau menikah atau tidak, mau punya anak atau tidak, mau melahirkan caesar atau normal, mau asi langsung atau asip, mau beli baju anak di mothercare atau itc, mau bekerja atau tidak, mau sekolah sampai phd atau sampai smp, mau pakai skincare drugstore atau high end, mau rambut dicat atau dibotak cepak, mau pakai backless atau gamis, mau jadi escort atau biarawati, mau bela Kale atau bela Awan, mau mpasi instan atau masak sendiri, mau pulang malam atau pulang pagi, mau suka Hindia atau BTS, mau jadi janda atau perawan sepanjang usia, mau tinggal sama mertua atau tinggal di kontrakan sempit, mau jadi gojek atau dokter perusahaan tambang lepas pantai, mau pakai balenciaga atau produk miniso, mau gaya make up tasya farasya atau bare face kemana-mana, dll.
Mari saling peluk, saling tepuk pundak, saling rangkul, saling genggam--atas apapun keputusan dan pilihan hidup masing-masing. Mari menjadi lingkungan yang nyaman untuk sama-sama ditinggali. Mari saling menjadi kekuatan disaat dunia sedang jahat-jahatnya.
Mari berhenti sok tau, sok paling benar. Hidup nelangsa lo ngga akan lebih baik dengan opini-opini "sekedar mengingatkan" lo ke sesama perempuan, dan hidup bahagia lo juga ngga akan berkurang nilainya dengan menerapkan standar bahagia lo ke sesama perempuan lainnya.
Mari sibukkan diri dengan berbagi kabar baik, memuji dengan bahasa baik, berbagi info diskon skincare di online shop, saling mengingatkan jika ada flash sale popok atau tempat thrift shop atau spa yang enak atau makanan yang murah meriah kenyang, bertukar kabar kalau ada shade lipstik terbaru atau warna cat rambut atau merk catokan yang reccomended.
Mari menjadikan perempuan sebagai dirinya sendiri, sebagai kata dasar, bukan imbuhan.