Sesabar-sabarnya guru ABK, tetep ada yang (harus) lebih sabar, yaitu orangtua dan keluarga yang memiliki ABK

#extradirty
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Janaina Medeiros

JBB: An Artblog!
he wasn't even looking at me and he found me
styofa doing anything
taylor price

Origami Around
Cosimo Galluzzi
Three Goblin Art
Alisa U Zemlji Chuda

祝日 / Permanent Vacation
One Nice Bug Per Day
$LAYYYTER
🪼
Not today Justin
todays bird
will byers stan first human second

No title available
Sade Olutola
seen from Venezuela
seen from Mexico

seen from Venezuela
seen from Mexico
seen from Mexico
seen from Mexico

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from Australia

seen from Cambodia
seen from Cambodia
seen from Cambodia
@anakanakdandelion
Sesabar-sabarnya guru ABK, tetep ada yang (harus) lebih sabar, yaitu orangtua dan keluarga yang memiliki ABK
Tentang Ketunanetraan
Siapa tunanetra itu?
Sebelum menjadi mahasiswa pendidikan khusus saya memiliki pemikiran bahwa tunanetra adalah orang yang sama sekali tidak bisa melihat. Namun sekarang setelah menjadi mahasiswa jurusan pendidikan khusus dan memilih spesialisasi tunanetra saya menjadi tahu bahwa tunanetra itu bukan hanya mereka yang sama sekali tidak bisa melihat (disebut blind), tapi mencakup mereka yang memiliki sisa penglihatan namun lantang pandangnya (luas area penglihatan) kurang dari 20° setelah mendapat penanganan terbaik (disebut low vision).
Orang yang memiliki kelainan penglihatan kemudian mendapat penanganan terbaik dan akhirnya memiliki penglihatan yang normal tidak termasuk tunanetra. Memang tidak semua dari kita yang memiliki masalah atau kelainan pada mata dapat menjalani pengobatan terbaik. Oleh karena itu, ada orang yang memiliki kelainan mata tetapi tidak mampu menjalani pengobatan menjadi diklasifikasikan sebagai tunanetra.
Karakteristik tunanetra sangat beragam, ada yang tidak bisa membedakan terang dan gelap (tidak memiliki persepsi cahaya), hanya bisa membedakan terang dan gelap, ada yang dapat melihat dengan jelas tapi luas area yang dilihatnya terbatas (misalnya hanya bagian tengahnya saja atau hanya bagian tepi saja).
Istilah apa saja yang digunakan untuk menyebut tunanetra?
Buta (blind), penyandang cacat netra, penderita tunanetra, sudanetra, tunanetra, gangguan penglihatan, kelainan penglihatan, hambatan penglihatan, visual impairment.
Istilah tersebut disertai dengan perubahan paradigma tentang tunanetra itu sendiri. Sebelum muncul istilah tunanetra masyarakat menyebut mereka sebagai buta, bahkan Panti Sosial Bina Netra Wyata Guna (salah satu tempat pelayanan bagi tunanetra di Bandung) dulunya bernama rumah buta.
Sebenarnya saat ini istilah tunanetra sudah mulai ditinggalkan seiring bergantinya paradigma pendidikan khusus dari special education ke special educational needs. Jika dalam paradigma sebelumnya kita memberikan layanan pendidikan sesuai dengan label yang dimiliki anak (tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dll), sekarang kita memberikan layanan sesuai dengan kebutuhan anak. Paradigma terbaru tentang layanan bagi ABK tidak lagi bersifat pelabelan dan lebih melihat anak sebagai individu yang memiliki kebutuhan masing-masing. Oleh karena itu istilah anak tunanetra kini telah berganti menjadi anak dengan hambatan penglihatan.
Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan seseorang menjadi tunanetra?
Membahas tentang faktor yang menyebabkan tunanetra mungkin lebih cocok dibahas oleh dokter atau ahli medis lainnya. Tapi sejauh yang saya ketahui ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi tunanetra, diantaranya: penyakit glukoma, kekurangan vitamin A, genetik (keturunan), dan Gonorrhea (salah satu penyakit menular seksual).
Jadi, terdapat beragam faktor yang menyebabkan seseorang menjadi tunanetra. Pada intinya ketunanetraan dapat terjadi kapan saja, bisa sebelum kelahiran, saat kelahiran, maupun pascakelahiran.
Apa saja dampak ketunanetraan itu?
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ketunanetraan dapat terjadi kapan saja, oleh karena itu dampak ketunanetraan pada diri seseorang akan tergantung pada kapan ia mulai mengalami ketunanetraan.
Banyak hal di dunia ini yang kita pelajari melalui meniru secara visual, seperti mandi, menggosok gigi, memasak, berjabat tangan, cara duduk, berjalan, dsb. Keterbatasan dalam proses meniru secara visual (pada tunanetra sejak lahir) inilah yang mengakibatkan mereka mungkin mengalami perkembangan berjalan yang terlambat dibandingkan anak seusianya, terlambat untuk bisa melakukan aktivitas bina diri secara mandiri (seperti mandi dan makan).
Selain dampak bagi penyandangnya, kondisi disabilitas pun mempengaruhi kondisi keluarga terutama orang tua. Menerima kehadiran anak berkebutuhan khusus di tengah-tengah keluarga mungkin memang bukan perkara mudah, tetapi penerimaan orang tua/keluarga merupakan hal yang paling penting bagi anak. Pak Irham Hosni (salah seorang dosen di jurusan PKh) pernah mengatakan kepada kami bahwa jika kalian menangani orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus maka penanganan awal yang harus dilakukan adalah terhadap orang tua, buat orang tua menerima kehadiran anaknya terlebih dahulu karena itu akan berpengaruh terhadap perkembangan anak. Saat kita sedang memperpendek fase penolakan orang tua bukan berarti kita tidak menangani si anak, kita tetap memberikan penanganan kepada anak hanya saja fokus utama kita adalah membuat orang tua menerima kehadiran anaknya agar orang tua terpacu untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya sehingga perkembangan anak akan semakin baik.
Prinsip-prinsip apa saja yang harus diperhatikan ketika bekerja dengan tunanetra?
Prinsip pertama ketika bekerja dengan tunanetra adalah prinsip learning by doing (belajar sambil melakukan). Misalnya ketika akan mengajari anak berjalan orang tua mengatakan kepada anaknya “ayo berdiri!” (dengan mengangkat anak untuk berdiri). Setelah anak terlihat memahami makna “berdiri” kemudian orang tua memegang tangan anak dan mengajak anak untuk berjalan ke arah rangsangan suara (bisa berasal dari suara orang yang dikenal anak atau mainan).
Prinsip kedua adalah libatkan anak dalam semua aktivitas. Misalkan ketika ibu akan menyiapkan makanan maka ajaklah anak ke dapur dan biarkan tangan anak menyentuh semua bahan masakan dan peralatan yang digunakan untuk memasak agar ia mendapat pengalaman serupa dengan anak awas tentang bagaimana proses mengolah makanan hingga bisa tersaji di meja makan.
Prinsip ketiga adalah mengajari anak teknik alternatif. Menurut Pak Didi Tarsidi (salah satu dosen PKh) teknik alternatif adalah cara khusus (baik dengan ataupun tanpa alat bantu khusus) yang memanfaatkan indera-indera nonvisual atau sisa indera penglihatan untuk melakukan suatu kegiatan yang normalnya dilakukan dengan indera penglihatan. Contoh: mengajari bagaimana penggunaan tongkat agar dapat berjalan tanpa bantuan orang lain, mengajari cara penggunaan screen reader agar tunanetra dapat menggunakan PC/laptop secara mandiri.
Referensi
Nawawi, Ahmad. 2007. Handout Perkuliahan. (online). Diakses dari: http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195412071981121-AHMAD_NAWAWI/HANDOUT_PENDK_TUNET_1.pdf
Rahardja, Djadja. Tanpa Tahun. Ketunanetraan.
Sunanto, Juang. Tanpa Tahun. Asesmen dan Pembelajaran bagi Tunanetra.
Tarsidi, Didi. 2011. Definisi Tunanetra. (online). Diakses dari: http://d-tarsidi.blogspot.com/2011/10/definisi-tunanetra.html
Menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK): antara optimis, realistis, dan pesimis
Para motivator selalu mengajarkan kepada para pesertanya untuk senantiasa optimis dalam menjalani hidup. Sudah banyak bukti yang menyatakan bahwa sikap optimis akan membawa kesuksesan. Sikap optimis itu pula yang harus dimiliki oleh orang yang menangani ABK. Sikap optimis di sini bukan berarti yakin bahwa anak bisa “sembuh” dari kondisinya dan atau yakin bahwa anak bisa 100% seperti anak pada umumnya. Sikap positif yang kami miliki adalah keyakinan bahwa seberat apapun kondisi anak selalu ada potensi yang bisa dikembangkan. Kami yakin semua anak dapat mandiri sesuai kapasitasnya masing-masing.
Realistis mungkin merupakan kata yang paling tepat untuk menggambarkan sikap kami saat menangani ABK. Realistis bukan kata lain dari pesimis. Realitis adalah sikap optimis yang diletakan pada tempat yang tepat. Dari awal kuliah hingga sekarang semester 6, dosen selalu mengatakan baik seacara langsung maupun tidak langsung bahwa tugas kita (orang-orang yang menangani ABK) adalah memandirikan anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Kami meyakini tingkatan kemandirian anak berbeda satu sama lain. Jadi kami tidak menuntut semua anak untuk bisa membaca, menulis, dan berhitung karena tidak semua anak membutuhkan kemampuan tersebut agar mandiri dalam kehidupannya. Kami pun tidak menuntut semua anak untuk jago berbicara karena tidak semua anak dapat dengan mudah memperoleh kemampuan berbicara. Kami tidak menuntut semua anak untuk bisa berjalan karena kami tahu bahwa tidak semua anak dapat dengan mudah memperoleh kemampuan berjalan. Kami tidak menuntut semua anak untuk dapat duduk diam ketika proses pembelajaran karena kami tahu tidak semua anak tahan duduk diam dalam waktu yang lama.
Kami tidak akan bisa mengubah tunanetra untuk bisa melihat seperti orang awas. Yang bisa kami ubah adalah lingkungannya. Yang kami pikirkan adalah lingkungan seperti apa yang dapat memungkinkan tunanetra tetap mandiri meskipun memiliki hambatan dalam penglihatan. Yang kami berikan adalah keterampilan yang dibutuhkan tunanetra agar ia bisa mandiri sesuai kondisinya.
Kami tidak akan bisa mengubah tunarungu untuk bisa mendengar dan berbicara seperti orang pada umumnya. Yang kami pikirkan adalah lingkungan seperti apa yang dibutuhkan tunarungu agar ia bisa mandiri meskipun memiliki hambatan dalam pendengaran. Yang kami berikan adalah keterampilan apa yang dibutuhkan tunarungu agar ia bisa mandiri sesuai kondisinya.
Kami tidak akan bisa mengubah tunagrahita untuk bisa berpikir sesuai dengan usia kronologisnya. Yang kami pikirkan adalah keterampilan apa yang dibutuhkan tunagrahita agar ia bisa mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Kami tidak akan bisa mengubah tunadaksa untuk bisa berjalan seperti anak pada umumnya. Yang kami pikirkan adalah keterampilan apa yang mreka butuhkan agar mereka bisa mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Setiap orang yang menangani ABK harus mengerti bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa kita ubah. Begitu pula dengan kondisi anak yang mempunyai kebutuhan pendidikan khusus. Ada satu kutipan dari buku ustadz Fauzil Adhim yang cocok untuk diaplikasikan saat menangani ABK, yaitu “Terimalah yang sedikit dari anak, maka setiap anak akan menjadi istimewa di mata kita. Kelebihannya yang sedikit akan tampak berharga di mata kita, sehingga kita bersemangat untuk menyebut-nyebutnya, memupuknya dan mengembangkannya. Kita menghargai setiap kebaikan dan keunggulan anak, sekecil apa pun, sehingga yang kecil itu akan menjadi besar”. Yah penerimaan adalah hal pertama yang harus dimiliki setiap orang yang menangani ABK karena tanpa penerimaan kita tidak akan pernah melihat kelebihan anak dan hanya fokus pada kekurangannya.
“Terimalah anak apa adanya, pahami anak, dalami dunia mereka sehingga Anda akan tahu apa yang sesungguhnya mereka butuhkan bukan yang Anda inginkan, buat harapan yang realistis tentang kondisi anak, kembangkan potensi anak agar bisa mencapai seperti harapan realistis Anda dengan meminta bantuan para ahli”
One of the goals of inclusive education is that everyone receives what she or he needs and everyone give what she or he can. (Salah satu tujuan pendidikan inklusif adalah setiap orang menerima apa yang mereka butuhkan dan setiap orang memberikan apa yang mereka bisa)
Miriam D. Skjerten
Cerita Pada Peringatan Hari Disabilitas Internasional
Tahun 2014 merupakan tahun ketiga saya ikut serta dalam peringatan HDI (Hari Disabilitas Internasional) atau HIPenDis (Hari Internasional Penyandang Disabilitas). Sebagai mahasiswa jurusan pendidikan khusus/pendidikan luar biasa kami menjadikan HIPenDis sebagai salah satu program kerja himpunan. Peringatan ini dilakukan setiap tanggal 3 Desember. Pada peringatan HIPenDis biasanya kami mengelilingi kampus dan membagikan selembaran kepada warga kampus tentang apa itu HIPenDis dan sikap apa yang seharusnya kita lakukan terhadap para penyandang disabilitas. Intinya kami berharap warga kampus menjadi lebih peduli terhadap penyandang disabilitas.
Tahun 2014 saya berkesempatan menjadi salah satu pendamping dalam acara peringatan HDI yang dilaksanakan oleh PSBN (Panti Sosial Bina Netra) Wyata Guna Bandung. Dalam acara tersebut diadakan lomba rally tongkat, semacam gerak jalan tapi pesertanya menggunakan tongkat sebagai alat bantu mobilitas. Pesertanya adalah tunanetra yang berasal dari seluruh Indonesia dan tidak ada batasan usia untuk mengikuti lomba ini.
Tugas para pendamping adalah mengarahkan jalan agar peserta tidak salah memilih jalan. Saat itu saya bertugas untuk menjaga jalan yang memiliki 2 belokan. Tugas saya adalah memberi tahu peserta belokan mana yang harus mereka lalui apabila mereka kebingungan atau salah berbelok.
Saya ditempatkan di jalan yang merupakan pemukiman warga. Ada beberapa warga yang bertanya “Ada acara apa neng?”. Saya pun menjawab “lomba gerak jalan bagi tunanetra sebagai peringatan hari disabilitas internasional bu/pak”. Warga di sana memberikan saya kursi agar saya tidak pegal karena harus berdiri menunggu peserta lomba datang. Mudah-mudahan Allah membalas kebaikan tersebut dengan yang lebih baik. Aamiin. J
Pengalaman yang paling berharga menjadi pendamping dalam acara ini adalah saat anak SD (kebetulan rute rally tongkatnya melewati salah satu SD) keluar dari kelas karena jam istirahat telah tiba. Mereka nampak tertarik dengan peserta lomba yang mungkin bagi mereka bukan pemandangan biasa. Anak-anak bergerombol ingin melihat para peserta lomba sampai-sampai hampir menutup jalan. Saya pun meminta mereka untuk tidak menutup jalan dan hanya melihat para peserta lomba dari pinggir. Ada beragam komentar dari anak-anak tersebut, diantaranya: “teh itu apa?”, “itu matanya kenapa?”, “itu matanya bohongan ya?”. Beberapa dari mereka bahkan tidak mau berada dalam jarak dekat dengan peserta karena takut. Saya mengatakan kepada anak-anak itu bahwa orang yang tadi mereka lihat (peserta lomba) adalah manusia biasa seperti kita jadi kita tidak perlu takut, mereka hanya tidak bisa melihat seperti kita melihat, orang-orang tersebut disebut tunanetra.
Saat mendengar komentar jujur dari anak-anak tersebut saya menjadi berpikir sejak kapan saya tahu dan mengerti istilah tunanetra?, sejak kapan saya peduli terhadap penyandang disabilitas?, sejak kapan saya menganggap perbedaan sebagai bagian dari kehidupan?. Saya rasa mungkin itu tumbuh karena saya adalah mahasiswa yang selalu berkutat dengan penyandang disabilitas. Saat saya SD atau bahkan SMA mungkin saya masih memiliki pemikiran seperti anak-anak SD yang saya temui pada acara HDI tadi.
Disadari atau tidak sekolah maupun masyarakat cenderung menganggap segala sesuatu yang berbeda dari masyarakat sebagai bagian yang terpisah dari masyarakat.
Ketika sebuah keluarga dikarunia anak berkebutuhan khusus atau anak penyandang disabilitas banyak ketakutan yang muncul dalam diri keluarga yang disebabkan pandangan negatif masyarakat tentang penyandang disabilitas seperti larangan bagi anaknya untuk bermain bersama anak penyandang disabilitas karena takut tertular. Padahal disabilitas adalah kondisi dan bukan penyakit.
Memahamkan masyarakat tentang bagaimana bersikap terhadap penyandang disabilitas memang membutuhkan waktu dan saya tahu anak-anak SD tadi mungkin tidak langsung memahami apa yang saya ucapkan. Tapi kelak ketika mereka semakin dewasa mudah-mudahan pengalaman ini menjadikan mereka sadar bahwa penyadang disabilitas adalah bagian dari masyarakat yang tidak boleh didiskriminasikan.
Saya menjadi berpikir mungkin kejadian ini tidak akan terjadi ketika di sekolah atau di rumah anak-anak mendapatkan pendidikan keberagaman. Pendidikan keberagaman yang saya maksud adalah pemahaman tentang kondisi masyarakat kita yang beragam, bukan hanya dari segi suku, bahasa, dan budaya, tapi juga dari segi yang lain, misalnya dari segi fisik (tunanetra, tunarungu, tunadaksa). Intinya anak-anak harus memiliki pemahaman bahwa di dunia ini terdapat orang-orang yang berbeda dengan mereka, dan perbedaan itu harus mereka hormati bukan untuk dijadikan bahan olok-olok.
Selain pendidikan keberagaman, mungkin hal ini pula tidak akan terjadi ketika anak-anak sering bertemu dan berinteraksi dengan penyandang disabilitas. Maka mungkin disinilah manfaat pendidikan inklusif (pendidikan yang bisa mengakomodasi semua anak termasuk penyandang disabilitas).
Jika di lingkungan sekolah ada beberapa anak penyandang disabilitas, mungkin seiring berjalannya waktu anak-anak dan juga orang-orang yang ada di lingkungan sekolah akan mengerti kalau penyandang disabilitas adalah bagian dari masyarakat yang tidak perlu ditakuti atau didiskriminasikan. Meski awalnya mungkin anak-anak belum bisa memperlakukan teman mereka yang memiliki kebutuhan khusus dengan baik, tapi dengan semakin seringnya anak-anak berinteraksi dengan teman mereka yang memiliki kebutuhan khusus mungkin anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang dapat memperlakukan penyandang disabilitas dengan baik. Seperti halnya saya yang ketika awal masuk jurusan PKh/PLB sama sekali belum pernah berkunjung ke SLB dan sempat ragu menjadi bagian dari PKh/PLB tapi dengan semakin seringnya berkunjung ke SLB dan berinteraksi dengan penyandang disabilitas akhirnya saya mencintai dunia PKh/PLB dan bangga menjadi bagian dari PKh/PLB.
Semoga dengan diimplementasikannya pendidikan inklusif di Indonesia akan lahir generasi yang toleran dan anti diskriminasi.
(Afifah Azzahro)
Saat orang lain mengatakan kamu tak bisa apa-apa aku harus tetap yakin ada hal yang bisa kamu lakukan
orang tua dan guru anak berkebutuhan khusus
Bukan anaknya yang salah tapi lingkungannya. Bukan anaknya yang tidak bisa masuk sekolah tapi sekolahnya yang belum bisa dimasuki oleh anak
Pak Juang Sunanto
Kebahagiaan Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus
“Bahagia itu sederhana. Cukup dengan melihat orang lain menerima kehadiran anakku. Cukup dengan melihat orang lain peduli dengan anakku. Cukup dengan melihat anakku dihargai oleh orang lain.”
Hari itu saya mengunjungi SLB untuk mendapatkan data tentang anak yang menjadi subjek tugas saya. Kebetulan salah seorang siswa di sana akan merayakan ulang tahun. Saya pun diminta bergabung dalam perayaan tersebut. Kepala sekolah dan guru nampak antusias mengondisikan siswa untuk merasakan atmosfir perayaan ulang tahun temannya. Meski tak semua siswa mengerti apa itu ulang tahun, termasuk siswa yang merayakannya, tetapi saya merasakan ada kehangatan di acara tersebut. Saya merasakan kepala sekolah, guru, dan orang tua siswa sama-sama mengajak anak untuk ikut berbahagia di hari ulang tahun temannya. Orang tua siswa sibuk membeli kado agar anaknya bisa memberikan hadiah kepada temannya yang sedang berulang tahun (kebetulan acaranya dadakan). Kepala sekolah dan guru-guru mengajak anak untuk bernyanyi selamat ulang tahun bagi temannya, meski yang lebih banyak nyanyi adalah gurunya (hehe). Setiap anak diminta untuk menyalami teman yang sedang berulang tahun sambil mengucapkan selamat serta memberikan kado yang mereka bawa. Lucunya siswa yang ulang tahun malah menyalami temannya, padahal yang seharusnya memberi salam adalah temannya (hehe).
Diantara sekian banyak peristiwa yang terjadi saat perayaan itu, yang paling berkesan bagi saya adalah ekspresi bahagia yang ditampakan orang tua saat melihat orang lain ikut merayakan ulang tahun anaknya. Melihat anaknya bernyanyi lagu ambilkan bulan mata ibu tersebut terlihat berkaca-kaca, meskipun lirik yang dinyanyikan anaknya itu-itu lagi dan tidak selesai sampai akhir.
Dari kejadian tersebut, saya berkesimpulan bahwa definisi bahagia bagi orang tua anak berkebutuhan khusus itu sederhana. Cukup dengan melihat orang lain menerima kehadiran anak mereka. Cukup dengan melihat orang lain peduli dengan anak mereka. Cukup dengan melihat anak mereka dihargai oleh orang lain.
Poin penting dari cerita di atas bukan pada keharusan orang tua merayakan ulang tahun anaknya, tapi pada makna kebahagiaan yang sederhana bagi orang tua anak berkebutuhan khusus yang dapat ditiru oleh orang tua lainnya.
Para orang tua biasanya mendefinisikan bahagia dengan sangat rumit. Mungkin bagi kebanyakan orang tua bahagia itu hanya akan terjadi saat anak menang dalam suatu lomba atau saat anak memperoleh nilai yang tinggi dalam mata pelajaran. Padahal tidak semua anak memiliki kemampuan dan bakat yang sama, jadi tidak adil jika kita menuntut anak untuk memiliki kemampuan dan bakat yang sama dengan ayahnya, ibunya, kakaknya, adiknya, atau temannya.
Orangtua harus meyakini bahwa setiap anak memiliki kecerdasan yang mungkin berbeda satu sama lain. Bukan maksud saya meminta para orangtua untuk menerima begitu saja kondisi anaknya yang minim prestasi atau mengajarkan anak untuk menjadi pemalas dan tidak mau belajar, tapi saya mengajak para orang tua untuk memahami potensi yang dimiliki anaknya sehingga orang tua tidak akan menuntut hal di luar kapasitas anak.
Jika anak selalu mendapat nilai yang jelek dalam suatu mata pelajaran maka coba cari tahu apa yang menyebabkan hal itu terjadi, bukan memarahi anak dan mengatakan “bodoh” atau “pemalas”. Bisa saja penyebabnya bukan berasal dari si anak, tapi berasal dari kondisi orangtua yang sering bertengkar saat anak di rumah atau penjelasan guru yang tidak mudah dimengerti anak. Jika penyebabnya ada pada diri anak, maka cari tahu apakah anak berpotensi untuk bisa mendapatkan nilai yang lebih baik atau memang nilai tersebut sudah sesuai dengan potensi anak. Jika menurut Anda ia masih berpotensi untuk mendapatkan nilai yang lebih baik maka bantu anda untuk bisa mengoptimalkan potensinya. Tapi jika menurut Anda nilai tersebut sudah sesuai dengan potensi anak, maka terimalah dan percaya bahwa mungkin bakat dan kemampuan anak ada dalam bidang yang lain.
Akhir kata, pesan saya untuk semua orangtua adalah carilah hal positif apa yang ada pada diri anak dan kembangkan hal positif tersebut. Jangan berfokus pada hal yang tidak bisa anak lakukan, karena dengan begitu Anda hanya akan memandang anak sebagai individu yang tidak berguna. Padahal dalam setiap kekurangan Allah selalu menciptakan kelebihan. Bukankah Anda pun diciptakan oleh Allah dengan kelebihan dan kekurangan?. Begitu pula dengan anak, Allah selalu memberikan kelebihan dan kekurangan kepada setiap makhluk.