
PR's Tumblrdome
Sade Olutola
Acquired Stardust

Discoholic 🪩
Peter Solarz

JBB: An Artblog!
occasionally subtle
Monterey Bay Aquarium
wallacepolsom
styofa doing anything

No title available
noise dept.
No title available
No title available

Love Begins
tumblr dot com
Jules of Nature
d e v o n

@theartofmadeline
$LAYYYTER

seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from China

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from China
seen from Sweden

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from Canada

seen from Singapore

seen from India
@analogirasaa
Fragmen tubuh, lelaki dan isi kepalanya.
aku pernah duduk terlalu lama di sebuah malam yang bahkan tidak berniat menyimpan siapa-siapa.
lampu kota terlihat redup dari kejauhan, gelas di meja tinggal setengah, dan seseorang di depanku sibuk pura-pura tenang seolah dunia tidak sedang perlahan menarik kami ke arah yang berbeda.
anehnya, aku tidak takut pada jarak. aku lebih takut pada cara manusia berubah menjadi asing setelah terlalu banyak mengetahui isi kepala satu sama lain.
mungkin itu sebabnya aku sempat mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih terdengar memalukan di kepalaku sendiri. pelan sekali. nyaris seperti bicara pada bayangan.
tentang jangan pergi terlalu cepat. tentang tetap tinggal walau hanya sebagai sesuatu yang tidak bisa disebut apa-apa.
setelahnya tidak ada yang benar-benar terjadi. malam tetap berjalan seperti biasa, lagu di sudut ruangan terus berputar, dan kami tetap duduk di sana seperti dua orang yang diam-diam tahu bahwa beberapa cerita memang tidak pernah dibuat untuk selesai dengan baik.
ada hal-hal yang tidak bisa dipertahankan dengan cinta. dan ada orang-orang yang tetap ingin tinggal meski sudah tahu pintunya tidak pernah benar-benar terbuka untuk mereka.
kadang aku masih memikirkan itu. bukan tentang seseorangnya, melainkan suasananya— tentang bagaimana sebuah kehilangan bisa dimulai jauh sebelum apa pun benar-benar hilang.
“jangan tinggalin aku ya” katanya pelan, seolah dunia memang tidak pernah berpihak pada dua orang yang saling menemukan di waktu yang salah.
lalu setelahnya hening jadi panjang. tidak ada janji tentang masa depan, tidak ada rencana untuk saling memiliki. hanya ada setangkai hati yang ingin ditemani sedikit lebih lama dari biasanya meski tahu akhirnya tetap harus kehilangan.
anehnya, beberapa orang memang tidak datang untuk menetap. mereka hanya hadir untuk membuat hati merasa pulang sebentar, sebelum kenyataan memintanya pergi lagi.
Di dalam satu ruang petak itu, semua pernah terjadi.
Dindingnya mungkin biasa saja, catnya pernah mengelupas di sudut-sudut, tapi setiap kali melihatnya rasanya seperti menyentuh lapisan waktu. Di sanalah tawa pertama yang terasa tulus menggema, bercampur dengan tangis yang diam-diam ditahan. Semua emosi pernah hidup di ruangan itu, tanpa pernah benar-benar pergi.
There was a version of me who learned how to be happy there. And another version who learned how to survive.
Kadang, kalau diingat lagi, ruangan itu seperti punya suara sendiri. Suara langkah kaki yang dulu terburu-buru, suara napas yang berat di malam hari, suara percakapan yang tak selesai. Bahkan sunyinya pun terasa penuh dengan hal-hal yang tidak sempat diucapkan.
Di satu sudut, ada kenangan yang hangat—tentang harapan yang masih utuh, tentang mimpi yang belum tahu rasanya gagal. Tapi di sudut lain, ada versi diri yang duduk diam, mencoba mengerti kenapa sesuatu harus berakhir, kenapa rasa bisa berubah, kenapa tidak semua yang dimulai bisa dipertahankan.
Aneh ya, satu tempat bisa jadi saksi dari begitu banyak versi diri kita. Yang dulu begitu polos, yang sempat hilang arah, yang belajar kuat meski tidak pernah benar-benar siap.
Di dalam ruang itu juga, pernah singgah banyak manusia.
Mereka datang dengan cerita masing-masing, ada yang hanya singgah sebentar, ada yang memilih menetap lebih lama. Ada yang melangkah dengan ragu, ada yang datang dengan keyakinan penuh, seolah tahu persis bahwa tempat itu akan jadi bagian dari hidupnya.
Di sana, pernah ada tawa yang begitu lepas sampai memenuhi setiap sudut ruangan. Tawa yang terasa cukup untuk membuat waktu berhenti sejenak. Tapi di tempat yang sama, tangis juga pernah pecah tanpa aba-aba, tanpa sempat disembunyikan.
Ada juga mereka yang berani menyimpan rasa terlalu lama. Menyembunyikan kata-kata yang seharusnya diucapkan, memeluk perasaan yang tidak pernah benar-benar punya tempat. Dan ketika akhirnya terucap, yang keluar bukan hanya harapan tapi juga penyesalan.
Kalimat itu pernah menggantung di udara. Berat, tapi nyata.
Ruangan itu dingin lantainya, dindingnya, udaranya. Tapi anehnya, tidak pernah dengan rasanya.
Dan mungkin itu yang membuatnya sulit dilupakan. Bukan karena ruangnya istimewa, tapi karena semua yang pernah terjadi di dalamnya terasa terlalu hidup untuk benar-benar dilepaskan.
Hidup ini, semakin dijalani, semakin terasa seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai dirapikan.
Selalu ada bagian yang terasa kurang. Selalu ada hal yang berjalan tidak sesuai dengan yang diam-diam kita harapkan. Seolah-olah, setiap kali satu hal membaik, ada hal lain yang pelan-pelan bergeser dari tempatnya.
Dulu, aku sering berpikir bahwa hidup akan sampai di satu titik yang terasa ideal—titik di mana semuanya terasa pas.
Perasaan tenang yang utuh, hubungan yang tidak melelahkan, pekerjaan yang tidak menguras energi, dan hari-hari yang berjalan tanpa banyak keraguan. Aku pikir, mungkin kalau aku cukup berusaha, cukup sabar, cukup kuat, aku akan sampai di sana.
Tapi ternyata, hidup tidak bekerja seperti itu.
Ia lebih mirip seperti langit yang tidak pernah benar-benar bersih. Selalu ada awan yang tersisa, sekecil apa pun itu. Dan anehnya, justru awan itulah yang membuat langit terlihat hidup.
Aku mulai menyadari, bahwa tidak pernah ada versi hidup yang benar-benar sempurna. Yang ada hanya potongan-potongan yang kita kumpulkan, beberapa terasa utuh, beberapa terasa retak, dan semuanya tetap kita bawa bersama.
Tentang aku, mungkin aku juga tidak pernah benar-benar menjadi versi yang dulu aku bayangkan. Ada banyak hal yang tidak sesuai rencana. Ada banyak perasaan yang tidak sempat aku siapkan sebelumnya.
Aku pernah ada di titik di mana aku ingin semuanya jelas, ingin semuanya terasa adil, ingin semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
Tapi semakin aku memaksa hidup untuk menjadi ideal, semakin aku merasa lelah. Karena ternyata, hidup tidak pernah menjanjikan keutuhan yang sempurna.
Ia hanya menawarkan cukup—cukup bahagia untuk bertahan, cukup kuat untuk melanjutkan, dan cukup luka untuk membuat kita mengerti.
Sekarang, aku tidak lagi terlalu sibuk mencari versi hidup yang ideal. Bukan karena aku sudah berhenti berharap, tapi karena aku mulai mengerti bahwa “ideal” itu sendiri tidak pernah benar-benar ada.
Yang ada hanya hari-hari yang kadang terasa ringan, dan kadang terasa berat tanpa alasan yang jelas. Yang ada hanya aku, yang terus belajar menyesuaikan diri, menata ulang ekspektasi, dan berdamai dengan hal-hal yang tidak bisa aku kendalikan.
Mungkin, hidup memang bukan tentang mencapai titik sempurna. Tapi tentang bagaimana kita tetap bisa merasa utuh, meskipun banyak hal yang tidak pernah jadi seperti yang kita mau.
Dan mungkin juga, tidak apa-apa kalau semuanya tidak ideal. Selama aku masih bisa berjalan, masih bisa merasakan, dan masih punya ruang di dalam diri untuk menerima—itu sudah lebih dari cukup.
Bolehkan aku mengabadikanmu dalam tenang?
Bukan dalam riuh yang penuh sorak, bukan pula dalam ramai yang cepat berlalu. Tapi dalam diam yang hangat, dalam jeda-jeda kecil yang sering tak disadari orang lain—tempat di mana aku benar-benar merasa hidup setiap detiknya bersamamu.
Karena entah bagaimana, bersamamu waktu tidak terasa seperti sesuatu yang harus dikejar. Ia mengalir pelan, lembut, seakan sengaja memberi ruang agar setiap tawa, setiap tatap, dan setiap cerita bisa tinggal lebih lama di ingatan.
Setiap detik yang kulewati denganmu bukan hanya menyenangkan—ia menenangkan. Seperti menemukan rumah di tempat yang tidak pernah kuduga sebelumnya.
Jadi, bolehkah aku mengabadikanmu dalam tenang? Dalam cara paling sederhana: mengingatmu tanpa menyimpanmu. seperti laut, tanpa gaduh, tanpa takut surut, karena ia tahu yang benar-benar miliknya tak akan hilang oleh waktu.
Aku selalu punya kebiasaan kecil yang mungkin tak semua orang sadari: menyimpan. Bukan benda, tapi rasa. Dalam kopi yang kuminum menjelang siang, ada jeda yang kuabadikan pelan-pelan—hangatnya, pahitnya, dan sunyi yang menyertainya. Dalam satu paragraf yang lahir spontan dari jemari, ada serpihan hari yang tak ingin hilang. Dalam nada suara saat bernyanyi, ada versi diriku yang ingin kuingat lebih lama, seolah setiap lirik bisa menjadi kapsul waktu.
Aku juga senang menyimpan kenangan dalam lagu yang masuk ke telinga dengan sopan—yang tidak memaksa, hanya perlahan menetap dan tiba-tiba menjadi latar dari sebuah masa. Ada pula sepotong perjalanan di sore hari, ketika matahari menguning dan langit terasa lebih lembut dari biasanya. Cahaya itu kutangkap dengan mata telanjang, tanpa kamera, tanpa saksi, hanya aku dan detik yang berjalan pelan. Dan entah kenapa, aku selalu senang menyimpannya dengan waktu yang lama.
Aku mengumpulkan semuanya diam-diam: tawa yang tak sengaja pecah, kalimat yang terucap tanpa rencana, langkah kaki di jalan yang sama namun terasa berbeda. Mungkin karena aku tahu, waktu selalu bergerak maju, dan tak semua hal bisa diulang. Maka yang bisa kulakukan adalah merawatnya dalam ingatan—membiarkannya tinggal lebih lama, mengendap menjadi cerita, menjadi pengingat bahwa aku pernah benar-benar hadir di setiap momen itu.
Bagiku, hidup bukan hanya tentang apa yang terjadi, tapi tentang bagaimana aku memilih untuk merasakannya. Dan selama aku masih bisa mengingat dengan utuh, berarti sebagian dari hari-hari itu belum benar-benar pergi.
Kau tahu apa yang lebih menenangkan dari malam? Nada suaramu saat bercerita, seolah waktu ikut berhenti mendengarkannya.
Bercerita denganmu menjelang waktu tidur rasanya seperti pulang, meski rumahnya tak pernah benar-benar ada, selain di antara kalimat yang kita tukar, dan jeda yang sama-sama kita jaga.
Lucu, ya? Dari sekian banyak cara untuk tenang, aku justru menemukannya pada seseorang yang tak bisa selalu kupeluk, tapi selalu bisa kupanggil sebelum aku terlelap.
Di dunia yang hanya singgah sekali ini, aku menyimpan satu kehidupan yang tak pernah benar-benar terjadi, namun tinggalnya paling lama di tubuh dan ingatan. Aku mengenalmu tanpa suara—dari aroma yang menempel di udara, dari napas yang jatuh bangun saat malam, dari cara waktu melunak ketika kita berdekatan.
Aku pernah duduk di sisi lelapmu, menjaga sunyi sampai matamu terbuka kembali, Kita pernah berbagi sepiring hari, makan berdua tanpa janji masa depan dan tanpa rencana panjang, Aku menghafal bentuk tenangmu seolah esok tak perlu datang. Seolah dunia boleh berhenti di sela detik itu.
Jika hidup adalah rumah, maka aku pernah singgah lama di satu ruang yang tak bernama, menyusunnya dari hal-hal sederhana: hadirmu, dan caraku memilih tinggal tanpa meminta apa-apa.
Pergi bukan keputusan. Ia hanya terjadi, seperti napas yang lupa kembali ke dada. Tak ada yang aku bawa, tak ada yang kamu tinggalkan—hanya hangat yang sempat ada lalu kehilangan bentuknya sendiri. Yang tertinggal tak punya wajah. Tak bisa dipanggil, tak bisa dicari. Kamu bukan luka, bukan pula kehilangan, hanya jejak dari suatu masa yang pernah lewat tanpa berniat menetap.
Waktu tidak menyimpannya sebagai cerita. Ia melarutkannya ke dalam jeda-jeda kecil: sunyi di antara dua detik, hening yang lewat tanpa perlu ditanyakan asalnya.
Anggaplah di dunia ini kamu pernah mengisi kosong kepala ku, yang ternyata tak memerlukan nama. Semuanya terjadi karena memang sempat terjadi saja.
Dan bila semua akhirnya memudar, dalam keyakinanku yang panjang kamu tidak pergi tapi hanya berhenti dipanggil. Tinggal sebagai sesuatu yang pernah bernapas di sela hidupku, lalu memilih menjadi diam atau hanya di jeda.
Ada jeda aneh di napasmu, seperti kalimat yang selesai kau ucapkan di tubuh lain sebelum kau susun ulang di hadapanku.
Kau datang seperti tamu yang lupa melepas sepatu, meninggalkan jejak lumpur di lantai yang kausapa suci.
Bibirmu menawarkan manis yang terlalu rapi untuk dipercaya. Aku menciumnya seperti mencicip anggur yang botolnya pernah dibuka di meja lain.
Kau bilang lelah, katanya dunia terlalu gaduh. Padahal dadamu masih menyimpan gema tawa yang bukan milikku.
Peluh di pelipismu belum selesai menjadi kenangan, namun kau rebahkan kepalaku dan berlagak kehausan. Seolah rindu bisa dipalsukan cukup dengan suara rendah dan napas tertahan.
Aku pangku kepulanganmu yang setengah jadi. Kau menyebutku tenang, padahal aku hanya diam karena tahu ke mana kau akan kembali setelah pagi.
Hatiku kau buka seperti buku doa di kamar penginapan—dibaca sebentar, ditinggal terbuka, tak pernah benar-benar diimani.
Sementara bajumu masih menyimpan aroma lain, kau bersumpah aku adalah tempat istirahat. Lucu, karena bahkan kebohonganmu datang lebih dulu darimu.
Dan aku, dengan sadar penuh, membiarkan diriku menjadi satir paling kejam: tempat kau singgah, untuk merasa bersih padahal isinya hanya setumpuk kebohongan, dan menjilat dosa dari lidahmu yang belum sempat kau bersihkan.
di antara tahun yang hampir usai ✨
Di antara tahun yang hampir usai, aku belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan lurus seperti peta. Kadang ia bergerak melingkar, menyisakan jejak-jejak kecil yang kita kira sudah hilang, tapi diam-diam masih mengikuti langkah kita dengan cara yang lembut dan agak menyakitkan.
Ada hari-hari yang terasa seperti kabut menghalangi pandanganku, membuat segalanya tampak samar dan jauh. Ada juga hari-hari yang justru terlalu terang, hingga aku menutup mata karena cahaya yang datang terlalu cepat, terlalu jujur.
Di tengah semua itu, aku menyadari bahwa tidak semua kehilangan datang untuk mengosongkan hidup kita. Beberapa hadir sebagai ruang baru, tempat hal-hal lain tumbuh perlahan meski awalnya tidak kita kehendaki. Kadang kehilangan itu sendiri adalah cara dunia menunjukkan bahwa kita telah berjalan terlalu lama membawa sesuatu yang bukan milik kita lagi.
Dan lucunya, di antara segala hal yang pergi, ada juga hal-hal yang tetap tinggal— entah sebagai rasa, entah sebagai ingatan kecil yang hangat, entah sebagai sesuatu yang tak bisa kulukiskan, tapi tetap menemani melewati malam-malam panjang yang sunyi.
Aku tidak menyebutnya takdir. Mungkin hanya kebetulan yang terlalu lembut untuk disebut kebetulan, atau pertemuan yang terlalu tenang untuk disebut kebahagiaan. Sesuatu yang berdiri di antara “pernah” dan “ingin lagi,” tanpa tergesa menuntut jawaban.
Tahun ini mengajariku banyak hal dengan cara yang tidak selalu manis. Ada patah yang datang tiba-tiba, ada luka yang menuntut perhatian, ada kelelahan yang membuatku duduk tanpa tahu apa yang sebenarnya kucari. Tapi dari semua itu, aku belajar bahwa bertahan kadang adalah bentuk keberanian yang paling sederhana. Bahwa hati yang lembut juga bisa kuat dengan caranya sendiri.
Dan ketika tahun berganti, aku ingin membawa satu hal saja: keyakinan bahwa tidak apa-apa jika aku belum tahu semua jawabannya. Tidak apa-apa jika beberapa hal tetap samar, tetap menggantung, tetap menunggu waktu yang lebih baik untuk didefinisikan.
Yang penting, aku terus berjalan— meski pelan, meski dengan hati yang sesekali goyah. Karena dunia ini, di balik segala tragedi kecilnya, masih menyimpan banyak hal baik yang sedang menunggu untuk kutemukan.
Dan mungkin, hanya mungkin; tahun berikutnya akan menjadi ruang di mana semuanya akhirnya terasa lebih masuk akal. Lebih lembut. Lebih jujur. Lebih seperti rumah.
i like your name, tathev simonyan
Dua manusia ini, seperti dua planet yang saling mengorbit, selalu tertarik satu sama lain, kadang menjauh untuk menjaga jarak, tapi gravitasi selalu membuat kedua-nya kembali bertemu.
Nikolay Punin, from a diary entry featured in The Diaries of Nikolay Punin: 1904 - 1953