Tentang Cita, Asa, dan Realita (2)
Hi, hello. Aku sudah membaik, sudah tidak seemosional postingan pertama. Beberapa waktu lalu akhirnya bisa curhat ke Mas dan agak lega hihihi.
So, akan aku lanjutkan pergumulan batinku yang kemarin. Tentang aku yang melihat mimpi besarku sejak dahulu runtuh, bahkan pada saat pintu ke sana baru pertama kali terbuka.
Pada akhirnya, aku memang tidak lagi memedulikan pendaftaran program tenaga kesehatan yang aku idam-idamkan itu. Ada beberapa alasan pasti yang aku tau dengan baik bahwa itu adalah alasan yang sangat kuat. 1. Aku sudah bekerja. Walaupun kontrak kerja sangat fleksibel, tapi pekerjaanku di sini cukup baik dan cukup nyaman. I cant ask for more. 2. Adalah takdir yang membawaku di sini, bisa serumah dengan orang tuaku lagi. Merantau selama 9 tahun, pulang adalah hal yang selalu aku idam-idamkan. Nah, kini aku mendapat kesempatan tinggal di rumah bersama orang tua setiap hari. Bukankah itu mimpi yang menjadi nyata? 3. Jarak tidak pernah menjadi masalah. Jarak rumah ke tempat kerjaku sekitae 28km, searah dengan rumah nenekku, dan sekaligus searah dengan rumah Mas. Segalanya dalam jangkauan, hanya butuh fisik yang kuat dan tidak gampang masuk angin saja.
Selain alasan-alasan konkrit itu, aku menemukan beberapa alasan mendalam yang secara tidak langsung memiliki koneksi dengan mimpiku sejak dulu.
4. Kakakku sudah berumah tangga di ibukota, kedua orang tuaku pasti semakin menua. Aku tahu bahwa tempatku memanglah di sini, dekat dengan kedua orang tuaku. Dalam hati kecilku, aku sudah tidak ingin pergi jauh. Sejauh-jauhnya aku tinggal nanti, aku tetap ingin akses yang mudah untuk pulang, untuk menengok kedua orang tuaku. Semakin tua, manusia semakin seperti anak-anak. Kembali tinggal bersama orang tua menjadikanku tahu sifat dan seluk beluk kehidupan mereka. Aku merasa memiliki peran sebagai penengah. Pun sebagai andalan di berbagai hal: pembuat keputusan, pemberi masukan, atau panitia wira-wiri. Entah diminta antar-jemput, atau beli-beli sesuatu, aku merasa berguna di sini, dan aku suka itu. Aku tidak ingin orang tuaku repot. Bukan berarti kakakku jauh di sana lantas merepotkan dan tidak membantu apa-apa. But sometimes, you just have to be there for them. Dan lagi, umur manusia tidak ada yang tahu. Berita-berita duka dari orang tua teman seumuran selalu membuatku merinding dan tercekat. Bila saatnya tiba bahwa aku harus merasakan kehilangan, aku tidak ingin jauh. Sesederhana itu. Lagi pula, kupikir, kalau aku jauh-jauh di entah berantah, apa sih yang kucari? 5. Aku tidak akan pernah melupakan keinginanku untuk bekerja di pedalaman atau perbatasan, dengan masyarakat desa. Dan voila, bisa dibilang, aku memang bekerja di pedesaan. Nyatanya aku menikmati ngobrol dengan lansia, membujuk anak-anak, menyelipkan edukasi tentang gigi, berbasa-basi tentang issue terkini, bahkan menikmati obrolan masyarakat tentang ajaibnya self-medication mereka. Ya, aku sudah bekerja di pedesaan. Aku sudah melakukan apa yang menjadi mimpiku tanpa harus jauh-jauh ke pulau seberang, atau ke tengah belantara. Di sini, I cant ask for more, all over again.
Kukira, yang membuatku sempat terguncang dan terlarut bersedih adalah karena aku tidak bisa mewujudkan mimpiku. Kukira, aku menangis karena cita-cita dan segala harapanku tidak sesuai dengan realita. Nyatanya, tangisanku ternyata adalah bentuk protes kepada diriku sendiri. Allah sudah memberikan apa yang kuinginkan, hanya dengan cara dan bentuk berbeda. Kenapa pula aku masih tidak bisa menerima? Aku menangisi ketidak mampuanku untuk menerima segala ketentuan Allah yang sudah digariskan kepadaku. Aku menyesali hatiku yang keras dan tidak bisa memasrahkan segalanya kepada Pencipta.
Sungguh, bersyukur adalah hal yang sederhana namun terkadang berat dilakukan. Padahal, pemberian-Nya adalah yang sebaik-baik bagi umat manusia.
-Purworejo, pada hari-hari yang cepat berlalu di Bulan Juni-






