“Sudahi saja lah!, sudah tidak ada guna kau menunggunya.”
“Tidak!!. Saya menyayanginya, dan juga dia masih miliku.”
“Coba sadar lah sedikit, sudah berapa kali kau dicampakan??.
Kau telfon dia, panggilan kau dialihkan. Kau kunjungi dia, kehadiran kau membuatnya menghindar. Kau pesani dia pun, balasannya seakan kau tak berharga. Kau itu sudah tidak di anggap, kau itu hanya berupa status yang tak pernah ditahan.”
“Itu karena dia sibuk. saya cukup mengerti itu, meski akhir-akhir ini alasan kesebukannya membuat saya tidak mengerti.”
“Nah, itu kau tau. kau sudah mengerti kan?!!.
Hey!, mau sampai kapan kau seperti ini??. Mengharapkan keindahan semu dimasa lalu, saat kau dengannya sedekat nadi. Namun sayangnya hal itu tidak akan terjadi.”
“Saya tidak tau mau sampai kapan dia seperti ini. Meskipun saya lelah akan hal ini, tapi saya meyakini bahwa ia akan kembali, seperti dulu lagi.”
“Bukan tentang dia, tapi tentang kau. Kau ini bagaimana??. Kau ini terlalu cinta atau terlalu bodoh??!”
Coba kau ingat-ingat lagi, sempat kau tengok dia berjalan berdua dengan orang lain, kau pergoki dia, lalu kau marah padanya, kau pergi, dan beberapa waktu setelah itu hati kau luluh kembali saat mendengar tangis penjelasannya.
Dan satu lagi; beberapa waktu setelah itu, disaat kau berdua dan sedang beradu tatap dengannya menghabiskan waktu bersama, sempat kau lihat telfonnya berbunyi, dan ironisnya disitu tertulis dengan nama, “cintaku”!!!. Kau melihat, lalu kau diam, lalu kau pergi meninggalkannya sendiri ditempat kalian bersama. Tapi kau terlalu bodoh, kau luluh kembali hanya dengan penjelasan tololnya.“
"saat itu dia sudah berjanji bahwa tidak akan mengulangnya lagi. saya tau benar akan dia, jika sudah berjanji disertai air mata seperti itu pasti akan ditepati. tapi saat ini dia malah menghilang bersama janji-janjinya..”
“Sudah lah terserah kau, saya tidak mengerti apa mau kau. Kau sudah dibodohi oleh cinta. yang sudah jelas cinta yang kau tunggu itu tidak akan kembali. Sudah lelah saya dengan kau..”
“heeyy, jangan begitu lah. Saya tidak tau harus seperti apa, saya tidak mengerti harus bagaimana, bahkan saya tidak bisa menjelaskan perasaan saya sendiri..”
“hallah, teserah kau!! lebih baik kau potong saja burung kau itu!!”