Aku ingin bercerita tentang sebuah matahari. Matahari yang senantiasa ada, tak pernah terganti, tak pernah bosan memberi. Dia, ada di bumi. Senantiasa berada di sisi. Perihal matahari, sering kali kita menghakimi. Panasnya yang menyengat, kerap kali hadirkan caci. Meski tak berbunyi, tapi berteriak di dalam hati. Sesekali, begitulah yang terjadi. Ketika langit gelap, mendung. Matahari ditutupi awan, saat itu ada kebahagiaan bahwa matahari telah pergi. Kenyataannya, dia masih di sini. Memperhatikan dan menunggu waktunya beraksi. Diubahnya awan yang menggelapkan bumi menjadi tetesan air yang menyembunyikan air mata. Tapi, kita lupa atau bahkan tak peduli bahwa matahari yang menghadirkan segala ini. Ada banyak waktu lainnya matahari itu terabaikan. Tapi, dialah matahari yang terus menyinari. Kehadirannya senantiasa memberikan ketenangan dalam hidup ini. Dialah yang kusebut ibu. Seseorang yang tanpa kusadari, sering kali mengambil jatah kesalahanku untuk diakui oleh dirinya sendiri. Sayangnya aku tak peduli. Walau pada saat itu dia meyakinkan diri ini bahwa semua terkendali, dia akhirnya mengambil jalan sendiri. Meminta maaf untuk kesalahanku, agar jalan yang kutapaki tak lagi jadi benalu pada diri. Sampai pada bagian ini, masihkah tersisa di kepalamu rasa kemanusiaan? Membiarkan seorang perempuan akhirnya menanggung penderitaan dan kesalahan yang tak pernah dia lakukan? Meski bibir ini sering kali berkata tidak, namun kenyataannya sikapku lebih banyak menjawab iya. Maka, maafkanlah untuk semua. #pengenceritaaja #masihpengenceritaaja #ibu #sajakliar #kumpulanpuisi #perempuan https://www.instagram.com/p/BmkY5PiBu4_/?igshid=1hnad8y7sylt3











