Surat Terbuka untuk Suamiku, Abdurrahman Amato
Assalaamu’alaykum suamiku. Hari ini tepat pukul 1:49 WIB tanggal 24 Juli 2021. Lubuk sikaping saat ini cuacanya cukup bersahabat, tidak hujan dan dinginnya malam tidak menusuk hingga ke tulang.
Honey, I wonder if you’re sleeping well now? Atau layaknya diriku kau masih terjaga dan jari jemarimu tengah menari mengetikkan kata-kata indah dari seorang calon penulis hebat?. Apapun itu, aku berharap dan selalu berdoa semoga Allah menjagamu dan mencukupkanmu di sana.
Suamiku, hari ini kurang dua hari sejak terakhir kita berjumpa, namun aku merasa layaknya telah kau tinggal cukup lama. Dan bukan hanya aku, aku yakin anak-anak juga merasakan hal yang sama.
Kau tahu, putera sulung kita, little Arsene, begitu mirip denganmu. Di balik keceriaannya, dia menyimpan rindu yang dalam padamu. Tak lama setelah kau turun dari rumah dia menanyakan keberadaanmu, “Bu, mana ayah?” Tanyanya. Bukan karena ia tak tahu kemana dan apa tujuanmu pergi, semata karena rasa hampa yang menimpanya karena kau tinggal pergi. Suamiku, hatiku hancur mengingat itu semua.
Suamiku, kepulanganmu kemarin menyadarkanku akan banyak hal. Maka melalui surat ini pertama izinkan aku mengucapkan terimakasih. Terimakasih karena telah memilih dan menginginkanku menjadi pendampingmu. Kepulanganmu kemarin benar-benar membuatku merasa dicintai dan diinginkan.
Sejujurnya selama ini aku kehilangan kepercayaan diri apakah kau benar-benar mencintai dan menginginkanku untuk tetap berada di sampingmu. Aku tahu kau jenuh, namun hingga beberapa waktu yang lalu pertanyaan itu masih menghantuiku, pertanyaan tentang apakah kau menyesal menikah denganku. Hehe, sorry.
Sebagaimana kau tahu fisikku sudah tak secantik dulu, dan lagi saat menikah denganmu bekalku untuk berumah tangga jauh dari kata cukup. Kau ingat, di hari-hari pertama pernikahan bahkan tak ada satupun tugas yang ku selesaikan dengan sempurna. Ku ingat kau marah saat itu, namun buruknya aku bahkan balik menyerangmu. Aku tahu aku istri yang buruk, itulah sebabnya aku selalu meragukan apakah aku sungguh layak menjadi istrimu.
Suamiku, mohon maafkan istrimu ini. Maafkan keegoisanku selama empat tahun ini. Maafkan aku karena telah membiarkan diriku terpuruk akibat pikiran negatif yang kupupuk setiap hari. Sama halnya denganmu aku juga terluka. Tapi suamiku, sungguh aku sudah sembuh dari luka masa laluku. Namun lukaku kali ini adalah luka yang tanpa kusadari ku bangun sendiri.
“Aku buruk”, “Aku tak berguna”, “Suamiku tidak menginginkanku” itulah beberapa di antara pikiran negatif yang menemaniku selama ini. Tanpa aku sadari akibatnya bahkan menjadikanku tak ubahnya patung yang tak berdaya.
Tahukah kau bahkan aku merasa tak mungkin bisa menjadi diriku yang membuatmu jatuh cinta pertama kali. Bayangkan, dalam banyak doaku aku meminta pada Tuhan agar bisa menjadi seperti diriku yang dulu. Anisah yang ceria, Anisah yang peduli pada banyak orang dan juga Anisah yang merasa cantik meski pada nyatanya biasa saja. Hehe.
Aku sadar betapa buruknya aku menyia-nyiakan waktu bersamamu. Aku tidak peduli padamu dan pada anak-anak kita, yang ku tahu hanya aku dan lukaku.
Sometimes aku berpikir bahwa aku salah dan muncul keinginan untuk berbuat yang aku bisa agar menjadi berguna. Namun suamiku, aku menjadi setan untuk diriku sendiri. Tanpa kau tahu, dalam hati ku berteriak “Buat apa! toh suamimu tidak membutuhkanmu lagi!” “Buat apa! Lihatlah dirimu lebih baik kau menghilang saja!” “ Hey! Pergilah! Maka kehidupan suami dan anak-anakmu lebih baik!” See? I’m even worst than you think.
Suamiku, aku berharap kau tidak menangis membaca ini, karena aku sendiri tak bisa menghentikan air mataku seiring dengan diketikkannya surat ini. Okay. Let me take a breath then. Hem!
“Aku sering rindu padamu tahu, hehe” begitu katamu dua hari yang lalu. Ku lihat sendu di mata teduhmu, ada harapan terpendam untukku di situ, aku luluh.
Juga pada anak-anak kita, kelak mungkin mereka juga membaca surat ini. Dari hatiku yang terdalam aku ingin meminta maaf karena sering mengecewakan mereka.
Kau tahu, mereka anak-anak yang luar biasa dan mereka layak mendapatkan ibu yang lebih baik dariku. Betapa seringpun aku memarahi the little Arsene, ia tetap mencintaiku. Dia tetap berlari, memeluk, mencium dan memanggilku “Ibu”. Juga putrimu, Khadijah atau Afifah kau senang memanggilnya seperti itu, dia selalu tersenyum padaku setiap aku menghampirinya. How can I be so lucky to have them along. Such a little angels they are.
So, Thank you for keeping up with me, and thank you for not ever losing hopes on me. I promise you that I’ll give my best to be better from now on. Tolong dikoreksi bahasa inggrisnya kalo salah, hehe. Ya I’ll keep practicing then, as you said you learned it from the little Arsene, so did I.
Tolong katakan pada mereka kelak, bahwa aku memang memiliki banyak kekurangan tapi aku akan berusaha yang terbaik aku bisa untuk membahagiakan mereka.
See you sayang, jangan lupa makan. By the way sekarang sudah pukul 12:42, hehe. Aku tertidur saat menyusui putrimu, dia terbangun beberapa saat ketika aku menulis surat ini. Dan aku melanjutkannya setelah anak-anak tidur siang. Sekarang sudah saatnya shalat dzuhur, sebut namaku lagi dalam doamu kali ini ya. See you later. Love you to the moon and beyonce sayang. I miss you so much! Bye!