For more posts like these, go to @mypsychology
YOU ARE THE REASON
Misplaced Lens Cap
Monterey Bay Aquarium
Sade Olutola

blake kathryn
ojovivo

izzy's playlists!
almost home
RMH

tannertan36

oozey mess

ellievsbear
NASA
No title available
wallacepolsom
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
No title available
Today's Document

#extradirty
$LAYYYTER

seen from United States
seen from United States

seen from Australia
seen from Netherlands
seen from United States
seen from Spain
seen from Italy

seen from United Kingdom

seen from China
seen from United States

seen from Spain
seen from United States
seen from United States

seen from Chile
seen from Netherlands
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Canada
seen from United States
@anisaharqom
For more posts like these, go to @mypsychology
Quran 12:86
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
He said: I only complain of my suffering and my sorrow to Allah. (Quran 12:86)
Originally found on: zekrayaat
Ramadhan #1 : Menjadi Doa Sepanjang Masa
Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.
Setiap orang tua selalu ingin memberi yang terbaik untuk anak-anaknya. Bahkan, orang tua menyematkan doa-doa terbaik untuk anak-anaknya. Salah satu doa terbaik yang dimiliki orang tua itu diabadikan, sebuah doa yang akan tersemat setiap hari sepanjang waktu, menjadi doa yang disebut oleh setiap orang yang mengenalkan, menjadi doa yang nantinya juga akan disebut oleh Allah SWT ketika di hari akhir. Bahkan saat berbuat baik, malaikat akan menyebut doa itu berkali-kali. Doa yang abadi tapi seringkali kita lupakan. Doa itu adalah nama kita.
Pernah tidak bertanya kepada orang tua kita tentang arti dari nama kita? Tentu saja dulu ketika orang tua memberi nama itu kepada kita, tidak sembarangan, tidak pula asal-asalan. Ada harapan besar yang tersemat, dari sekian milyar harapan, diabadikan salah satu harapan itu menjadi nama yang kita sandang sampai hari ini. Di waktu yang tepat ini, coba tanyakan kepada mereka.
“Ibu, Ayah, arti namaku apa sih? Apa harapan Ibu dan Ayah sampai memberiku nama itu?
Bisa jadi, kita terharu mendengar betapa baik dan tulusnya harapan dan doa-doa itu
Dari begitu banyak impian kita selama ini, pernahkah kita bermimpi untuk menjadi seperti nama kita? Dengan begitu, sebenarnya kita sedang berusaha untuk mewujudkan harapan orang tua kita.
Nama adalah doa, harapan, impian, yang abadi. Diabadikan oleh alam semestar. Bagaimana tidak? Ia menjadi tanda nama diseluruh dokumen resmi, ia pun menjadi tanda nama di kitab-kitab catatan amalan kita, kelak di hari akhir, nama itu pula yang akan disebut.
Pernahkah kita merenungkan makna dari nama kita sendiri? Mengapa orang tua kita memberi nama kita seperti itu? Atau ada yang mengeluh sebab memiliki nama yang tidak “modern”, terlihat kuno? Atau justru ada yang ingin memiliki nama yang lain? Atau ada yang sengaja mengganti nama kita dengan nama lain, terutama di media sosial? Sebegitu malukan kita untuk menjadi harapan orang tua kita?
Coba rasakan baik-baik. Sudah sejauh apa kita berjuang dan berusaha menjadi doa orang tua kita? Menjadi anak yang uswatun khasanah (suri teladan yang baik), menjadi mentari, menjadi nur (cahaya), menjadi kurnia (karunia), menjadi kartika (bintang-bintang), menjadi apapun.
Kalau sederhananya kita bisa mewujudkan diri menjadi nama kita sendiri dan siapapun melakukan hal yang sama. Niscaya kehidupan ini akan dipenuhi oleh orang-orang baik.
©kurniawangunadi
Menangislah, karena kita tidak tahu kemana nantinya kita akan dibawa.. ke syurga kah, atau ke neraka kah?
Mu'adz radhiallahu ‘anhu pernah menangis tersedu-sedu. Kemudian ditanyakan kepadanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab: “Karena Allah hanya mencabut 2 jenis nyawa, yang satu akan masuk syurga, yang satu akan masuk neraka. Sedangkan aku tidak tahu akan termasuk golongan manakah aku antara dua itu.”
Menangislah, karena kita tidak tahu apakah hidup kita kelak akan tetap dalam keimanan atau menjadi termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
Menangislah, bayangkan, andaikan ketika malaikat maut berkata, “Inilah perpisahan antara kamu dengan ragamu.” dan tidak ada lagi kebaikan.
Menangislah, biarpun kita tidak tahu apa yang diketahui Rasulullah, yang jika kita tahu kita pasti akan banyak menangis dan sedikit tertawa.
Rasulullah bersabda, “Demi (Allah) Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika kalian mengetahui apa yang aku lihat niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
Sahabat bertanya, “Apa yang engkau lihat wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Aku melihat syurga dan neraka.” (HR. Muslim)
Menangislah, kita tidak tahu seberapa banyak himpitan yang akan kita terima di alam kubur, dan semurka apa Allah jika kita terus dzalim.
Menangislah, kurangi tertawa, kurangi menikmati dunia, kurangi bicara, kurangi bersenang-senang, agar berkurang kedurhakaan/siksa di akhirat.
Has an Al-Bashri menceritakan ada 2 bersaudara yang sedang mengobrol: A: bukankah ada ayat yang mengabarkan bahas kita akan mampir ke neraka? B: benar. A: lalu adakah ayat yang mengabarkan bahwa kamu akan dikeluarkan dari neraka? B: tidak ada. A: lalu mengapa kita banyak tertawa?
Setelah itu, tidak pernah terlihat beliau tertawa sampai beliau wafat. (Tafsir Ibu Katsir, 5/252)
Para sahabat Rasul dan hamba-hamba Allah yang sholeh begitu sangat takut dan khawatir akan akhirat mereka. Namun kita? Yang tidak ada apa-apanya dibanding mereka, kita masih sama menikmati dunia tanpa memikirkan bagaimana akhirat kita kelak.
Mari berjuang untuk mendapatkan surga Allah💞
Elegi Aleppo
Kakak, mereka datang lagi. Kali ini dengan mobil-mobil besi yang banyak sekali. Kakak, aku takut. Hari-hari sebelumnya mereka menembaki teman-temanku, memukuli orang-orang, menginjak kepala sesiapa saja yang mereka temui. Kakak, aku takut. Malam tadi aku lihat ada pertunjukan kembang api, tapi kembang api itu jatuh ke atap-atap rumah kami lalu meledak hebat menghancurkan apa saja di sekitarnya. Kutemukan ayah dan ibuku berdarah dengan sebagian tubuh tertimbun reruntuh rumah. Lalu aku berlari ke sudut rumah dan menangis keras-keras. Kakak, mereka datang lagi. Apa aku harus di tak bersuara agar mereka tak menemukanku? Tapi aku takut mereka menembakku seperti mereka menembak teman sebangkuku. Apa aku harus bersembunyi di kolong meja? Tapi aku takut mereka menginjak kepalaku jika menemukanku. Atau aku harus melempari mereka dengan batu jika mereka datang padaku? Kakak, aku masih menangis sendiri di sini, di sudut Aleppo. Tolong aku, Kak. Tolong.
_________________________
Adik, maaf Aleppo itu di mana ya? Maaf kami belum tahu. Tivi kami hanya menayangkan berita yang menjual dan mendukung kepentingan golongan politik. Dan sepertinya Aleppo tidak memenuhi persyaratan itu. Tivi kami hanya menayangkan acara musik dengan lawakan kampungan di pagi hari. Drama India genre romansa yang sedikit bertele-tele di siang harinya. Disusul FTV pilihan hasil japlakan di sore harinya. Maaf Adik, kami juga sedang tidak sempat mencari tahu. Hari-hari kami begitu sibuk. Kami harus bekerja keras menyelesaikan tugas-tugas kuliah kami. Pun dengan tugas-tugas organisasi. Belum lagi bulan ini kami harus menentukan apakah AADC 2 atau Civil War yang harus kami pilih untuk hiburan akhir pekan ini. Sungguh, kami begitu sibuk. Lagi pula kasus Aleppo tidak begitu hits. Tidak ada tagar-tagar jejaring sosial yang ramai memberitakannya. Tidak seperti kasus teror di Paris kemarin yang bahkan jejaring sosial raksasa Facebook membuatkan momentum khusus untuk pura-pura ikut berduka. Untuk itu sebagai pemuda yang kekinian kami sedikit enggan untuk berkomentar. Jadi maaf Adik, kami sedang sibuk. Mungkin kami akan bantu lain kali kalau urusan kami sudah selesai.
-
Asih Handayani Jogja, 3 Mei 2016 00.51 WIB
Bismillah!
Semoga terwujud cita-cita membuat stiker line bahasa isyarat abjad bisindo. Aamiin. Mohon doanya tumblr!
Bikin kamus bhs isyarat dong na berbasis Android, jd bs di donlot gratis gitu 😁
If you like these posts, check out @psych2go.
People around the Kaaba
Kapanpun itu aku selalu merindukan waktu dmn aku bs bersujud di depan ka'bah 😢
Dunia maya itu selain membuat yang dekat jadi jauh, juga meningkatkan rasa sensitif di diri pembacanya; merasa tulisan itu dibuat untuknya.
(via hujansamudra)
👧👦😀
Memilih
Kalau kamu mau memperbaiki mesin, akankah mesinmu kamu percayakan pada orang yang sukanya merusak mesin?
Kalau kamu mau belajar sepak bola, akankah kamu mempercayakan latihanmu pada orang yang tidak mengerti bagaimana memperlakukan bola?
Kalau kamu mau membangun rumah, akankah kamu mempercayakan pembangunannya pada orang yang sama sekali tidak tahu bagaimana membangun rumah dan hanya bisa mengotorinya?
Barangkali itulah analogi ketika kita memilih suami. Untuk mencari tempat les bagi anak-anak saja kita begitu teliti. Memilih lembaga-lembaga berkualitas, dengan tentor terpercaya. Mau membayar mahal dan sabar menunggu mereka belajar.
Masa untuk memilih lelaki yang nantinya akan kita percaya untuk mendidik diri kita dan anak-anak kita, kita sembarangan? Masa kita memberi anak kita seorang ayah yang belajar membaik pun tidak mau?
Perempuan, menjadi pemilih (untuk urusan jodoh), itu harus. Yang tidak boleh adalah menetapkan kriteria duniawi yang berlebihan. Menikah bukan sekedar persoalan perasaan, menikah adalah persoalan menyiapkan generasi sebuah peradaban.
Menjadi pemilih juga bukan berarti memilih orang yang sudah sempurna baiknya. Tapi memilih orang yang memang bisa berjalan beriringan, dan terus mau memperbaiki diri serta menyempurnakan kebaikan.
Seperti kata iklan, ‘buat anak kok coba-coba’.
Seperti katanya, “laki-laki boleh berjuang, tapi perempuan lah yang memilih”
Menjadi anak kos itu membuat kita menjadi lebih bersyukur, seperti tidak menyia-nyiakan makanan 😂 Makanan yg di rumah jarang tersentuh akan habis dlm sekejap jika berada di tanah rantau 😂
[2016.04.30] My first post in this studyblr community yay!
Ini bukan tentang seberapa jauh kita sudah melangkah Bukan tentang seberapa banyak tempat yang sudah dikunjungi Bukan juga perihal jejak seperti apa yang sudah diukir
Ini tentang seberapa banyak langkah yang sudah dijejak untuk kebaikan Ini tentang seberapa banyak langkah yang sudah dilakukan bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain
Tak perlu menyebrangi lautan untuk bisa melangkah lebih jauh Tak perlu terbang untuk menjangkau tempat-tempat yang belum pernah kau singgahi Tak perlu mendaki bila memang belum sanggup Cukuplah dengan melihat ke sekitar Dan lalu menjatuhkan langkah pada tempat-tempat yang memang perlu untuk didatangi
Karena, berbuat kebaikan hanya perlu diawali dengan melangkah, bukan? 📷 : @eleftheriawords
Pelukan sering kali punya kemampuan untuk menyatukan serpihan-serpihan menjadi utuh kembali
Jika yang jatuh itu cinta, pungutlah ia dengan iman dan letakkan pada ketaatan.
(via bagus-adikarya)