Bagaimana mungkin kamu merasa kalah padahal kamu tidak berjuang?
Kurniawan Gunadi (via kurniawangunadi)
Jleb!

Origami Around
No title available

No title available
Doug Jones

ellievsbear
macklin celebrini has autism
taylor price
Cookie Run:Kingdom Official!

roma★

tannertan36
One Nice Bug Per Day
EXPECTATIONS
RMH
Misplaced Lens Cap
Xuebing Du
ojovivo

shark vs the universe
𓃗

Kiana Khansmith
The Bowery Presents
seen from Singapore

seen from United States

seen from Germany
seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Sweden
seen from Bangladesh
seen from Bangladesh
seen from Bangladesh

seen from Italy

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@anistuing
Bagaimana mungkin kamu merasa kalah padahal kamu tidak berjuang?
Kurniawan Gunadi (via kurniawangunadi)
Jleb!
no more sad, with Qur’an.
{kisah} Pt.2: refusal to keeping love
Aku ingin cinta kita seperti manusia sebagai hambaNya.
Berhari-hari Rama merenung, membaca berbagai referensi, terpaku di depan layar komputer; demi untuk mendapatkan makna dari perkataan Ana. Tapi ia tidak mendapatkannya. Sama sekali tidak memahami.
Bukankan cintaku kepada Ana sudah benar? Aku mencintai begitu, karena dia Ana, bukan yang lain. Pun aku mencintaiya sebagai manusia, menaruh cinta untuk memanusiakan diri kita sebagai manusia. Apakah itu masih kurang bagi Ana? Pikiran Rama berkecamuk.
Ada hasrat ingin menyerah di benak Rama, tapi ia urung. Saat ini ia adalah pendaki dan Ana adalah gunung. Jika ia ingin meilhat matahari terbit dengan sempurna, dia harus menaklukkan gunung itu. Jika dia ingin menemukan cahaya kehidupan, ia harus menaklukkan Ana. Bagaimanapun.
Dan di suatu kesempatan, ia dapat berdiskusi tentang hal tersebut dengan keluarga terdekat Ana, sang adik yaitu Bram. Bram tersenym simpul.
Bram: kak Ana memang bukan perempuan biasa
Rama: aku tahu, tapi aku tak paham cara pandangnya tentang cinta. Apakah ia tak bisa merasakan cintaku?
Bram: Justru ia tahu bahwa seberapa besar cinta kak Rama, ia ingin menjaga itu
Rama: apakah dengan menolak, baginya itu menjaga rasaku?
Bram: dia tidak menolak. Dia begitu, karena dia juga mencintai kak Rama.
Rama: Maksudnya?
Bram: kak Ana tahu seberapa besar cinta kak Rama. Namun kak Ana tak ingin kak Rama sembarang menempatkan cinta. Karena salah menempatkan, seindah apapun kisah berawal, jalannya nanti akan terasa beban dan penuh luka. Ia ingin menjaga keagungan cinta, dan menjaga diri diri kalian berdua sebagai hakikat manusia sesungguhnya.
Rama terdiam.
Apa maksudnya? Ia masih duduk di kursi, menunggu penjelasan selanjutnya yang keluar dari lisan Bram.
(To Be Continued)
Pernahkah kita di titik; ketika kita terlalu malu untuk memohon ampun karena terlalu banyak dosa yang dilakukan, terlalu banyak dosa terulang, dan diperparah dengan kesombongan atas hal tersebut?
ya Allah, maafkan kami. Hamba-hamba yang sering menyombongkan diri, dan sering lupa untuk bersyukur.
{kisah} Pt.1: Bagaimana cinta
Dialog ini terjadi, antara seorang laki-laki yang hendak menjadikan seorang perempuan sebagai teman hidup selamanya.
Laki-laki: rasa cinta, kamu tak percaya?
Perempuan: aku seperti ini karena aku begitu sangat mempercayai cinta
Laki-laki: apakah kamu tidak merasakan indahnya cinta?
Perempuan: justru aku tahu bahwa cinta sangat indah
Laki-laki: aku akan melakukan dan mengorbankan apapun demi kamu
Perempuan: totalitas dari caramu membuat kamu seperti budak dan aku majikan
Laki-laki: aku akan memberikan apapun yang kamu mau
Perempuan: kalau begitu, cinta cuma senilai kekayaan, uang dan kemewahan
Laki-laki: aku tidak bisa berpisah darimu, aku tidak bisa tanpamu
Perempuan: aku bukan Tuhan sehingga kamu bisa seperti itu
Laki-Laki: Lalu, kamu ingin seperti apa?
Perempuan: aku ingin kita memaknai cinta tidak sebatas alasan karena diriku atau dirimu, tapi manusia sebagai hambaNya.
Percakapan itu terhenti begitu saja. Perempuan itu, Ana, beranjak meninggalkan sang laki-laki, Rama. Rama masih belum bisa memahami apa yang diinginkan perempuan yang begitu ia cintai saat ini, Ana. Mau tak mau, ia harus mencari jawaban dari pernyataan Ana agar ia tahu bagaimana Ana ingin dicintai dan agar Ana dapat menjadi teman hidupnya.
(To Be Continued)
keep and control our words
Beberapa waktu lalu ramai tentang penikaman kepada seorang salah satu ulama di sekitar Sumatra. Si penikam tiba-tiba menerobos ke atas panggung, dan menikam tangan ulama tersebut. Sangat mendadak, sangat cepat; dan membuat semua hadirin kaget. Tragedi yang miris dan menyayat hati. Kita doakan semoga sang ulama segera diberikan kesembuhan sebenar-benarnya oleh Allah, dan sang pelaku diberikan ketentuan yang terbaik dan sesuai,
Hal yang kemudian pertama kali saya resahkan adalah respon netizen-netizen yang budiman; baik netizen online di sosial media atau netizen offline yang berkomentar langsung dengan lisan. Yang begitu membuat sakit hati dan miris adalah bagaimana netizen (termasuk kita sendiri) tidak berhati-hati dalam berkomentar. Kata kasar, kata-kata penghakiman yang berlebihan, makian, dan sinisme begitu mudah terlontar.
Kriminalitas memang sangat menyakitkan; tapi yang lebih menyakitkan adalah ketika akhirnya kita begitu mudah menghakimi pelaku dengan makian, kata-kata kasar, penghakiman, atau dugaan-dugaan yang kadang tidak berdasar.
Komentar lebih menyakitkan lagi adalah komentar yang ditujukan pada ulama dan tim-tim dakwah Islam lainnya. Sudah menjadi korban ditusuk oleh pisau, masih saja mendapat komentar sinisme berlebihan, sebuah settingan, dan hal-hal lain; seolah ulama merupakan bagian dari ‘sisi buruk’ dari kejadian itu.
Semakin menyakitkan hati, ketika sekian banyak yang berkomentar jelek itu adalah muslim. Ya, MUSLIM. Saudara seiman, saudara seagama, saudara sejalan hidup.
Bukan kita tidak boleh memberikan penilaian. Tapi kita harus mengingat kembali bagaimana agama kita mengingatkan kita untuk selalu menjaga lisan. Menjaga kata, menjaga komentar yang keluar dari diri kita.
Perkataan bahkan merupakan bagian dari ukuran iman seseorang. :Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik, atau diamlah!
Sangat jelas, gamblang. Pilihannya hanya dua: berkata yang baik atau diam. Tidak ada pilihan untuk memberikan perkataan atau komentar-komentar jelek, makian, atau bahkan hingga membuat yang dikomentari sakit hati atau antipati dengan Islam. Hati harus meyakini bahwa hal tersebut adalah hal yang sangat memprihatinkan dalam Islam, tapi lisan dan kata tetap harus dijaga. Jangan hanya karena berdalih perbuatan tersebut adalah kriminalitas, kita mudah berkomentar dengan kata-kata yang buruk, penghakiman, dan hal-hal yang menyakitkan hati.
Words are sword. Kata-kata adalah pedang. Semakin indah, semakin ia menyemangati. Semakin menyakitkan, semakin melukai hati yang dikomentari. Dan you know, jangan kira efek komentar itu sederhana. Komentar baik dan buruk dapat menentukan apakah kehidupan kita begitu damai, atau begitu jauh terpuruknya. Bagi kita sebagai muslim, komentar menjadi perwujudan kita dalam membangun hubungan kita kepada manusia dan perwujudan keimanan kepada Allah.
Jadi, berhati-hatilah memberikan komentar. Sungguh, berhati-hati. Kata-katamu menunjukkan kualitas dirimu; sebagai manusia dan sebagai hambaNya. please just keep and control.
Pernahkah di satu posisi, ketika hal yang dulu sengaja kita jauhi, kemudian datang kembali? menggoda apakah kita akan berteguh hati atau tergoyah diri.
malam ini
Begitulah sistem ujian Tuhan diberikan. Kita merasa begitu bahagia dan lega ketika kita bisa melepas hal-hal yang mendorong kita durhaka pada Nya. Tapi kita tidak boleh terlalu bahagia. Dalam suatu masa, ia akan didekatkan dan didatangkan begitu tiba-tiba; menguji apakah kita akan tergoyahkan atau tetap teguh pendirian.
Situasi dunia saat ini mengajarkan pada diri: Hiduplah seperti tiada hari esok. Bukan untuk dirimu sendiri, tapi untuk memberi yang terbaik kepada orang-orang di sekitarmu dan kepada Tuhan. Menunjukkan rasa cinta kepada orang-orang terdekat, mengembangkan sosial kepada orang di sekitar, dan mengabdikan sebagai hamba terbaik kepada Tuhan.
salah satu hikmah corona
Mimpi: Antara Ambisi atau Kontribusi
Terkenang zaman dulu saat sekolah. Kami sebagai murid diminta menuliskan berbagai mimpi yang ingin kami raih. Berbagai cita-cita yang kami harapkan ditulis kertas atau di buku, kemudian diletakkan di tempat yang sering dilihat. Mimpi-mimpi yang kami tulis tersebut sangat banyak, mungkin ada 100 lebih. Setiap hari, mata kami sangat berbinar dan otak kami begitu bahagia membayangkan jika suatu saat kami benar-benar bisa mencapai mimpi-mimpi itu.
Everyone has dreams. Absolutely.
Bertambahnya usia dan berkembangnya pengalaman, membuat saya berefleksi dan berkontemplasi. Termasuk tentang deretan mimpi-mimpi itu. Dan saya tiba di satu titik bahwa saya menyadari, mimpi kita bukan harga mati. Mimpi dapat berkembang, menjadi sebuah ambisi atau sarana berkontribusi.
Kehidupan yang terus berjalan menuntut diri kita untuk memperkaya pengetahuan dan mendalami berbagai pengalaman, kemudian dapat mengarahkan mimpi kita dalam dua pilihan: sebagai ambisi kehidupan, atau sebagai ladang kontribusi.
Mimpi menjadi ambisi, adalah harapan manusia mewujudkan eksistensi diri di kalangan manusia. Seseorang akan terus dan terlalu berusaha untuk mewujudkan diri sebagai sosok yang sangat dipandang dan bermartabat di kalangan manusia. Salah langkah, ia kehilangan kendali sehingga berbagai cara dapat dilakukan demi mendapat suatu hal yang dianggap agung oleh pandangan dzahir manusia. No matter what I do, I must be the one in that position, in that dreams, so everyone see me as the great person.
Mimpi sebagai ladang kontribusi. Berbeda dengan ambisi untuk eksistensi diri, maka dalam hal ini seseorang akan mengembangkan mimpinya demi memberikan kebermanfaatan pada sekitar. Ia tidak terlalu peduli bagaimana manusia memandang tentang posisinya, tentang stereotip-stereotip kaku di masyarakat. Yang ia pedulikan sejauh mana profesi itu dapat memberikan kebermanfaatan yang bermakna bagi orang lain. Bahkan, dalam satu titik, seseorang mungkin sudah tidak peduli lagi bagaimana derajat kedudukannya, asalkan ia masih dapat memberikan makna dan manfaat hidup yang luas pada lingkungan di sektarnya.
Ambisi menjadikan tujuan utama seseorang tidak jauh pada pusaran POSISI YANG POPULER, EKSISTENSI DIRI YANG DIANGGAP AGUNG, GAJI YANG TINGGI. Kontribusi menjadikan tujuan utama seseorang berada pada pusaran MANFAAT BAGI SEKITAR, MENYEBARKAN MAKNA PADA ORANG LAIN, MISI UNTUK GENERASI MASA DEPAN.
Lalu, bagaimana sejauh ini kita memandang mimpi kita sendiri? Untuk sukses diri sendiri atau bermanfaat pada orang lain?
Sungguh tak ada yang lebih indah mencintai daripada Tuhan kepada hambaNya. Seandainya cinta Tuhan tak begitu indah, sungguh manusia sudah tersiksa, bahkan binasa karena terlalu sering berlaku menantang dosa.
merenung atas diri sendiri
Menertawakan Masa Lalu
Sudah lama sekali saya tidak menulis di blog, khususnya di Tumblr. Saya masih tetap menulis, hanya saja beberapa masa ini tulisan saya merupakan tugas yang harus dikumpulkan sesuai deadline dari dosen. Dengan kata lain, tugas kuliah. Haha.
Kembali aktif lagi, akhirnya mau tak mau membuka memori yang dulu pernah saya buat disini. Tulisan saya memang tidak sebanyak para penulis lainnya. Tapi membaca beberapa tulisan itu, cukup membuat perasaan saya campur aduk. Malu, lucu, dan mau tidak mau ada beberapa tulisan yang akhirnya dihapus karena khawatir membangkitkan luka lama. Dan akhirnya... tulisan-tulisan itu membuat saya menertawakan masa lalu.
Ya, menertawakan masa lalu diri saya yang luar biasa lucu. Tidak menyangka jika beberapa tahun yang lalu saya pernah segila dan segalau itu, pernah overdosis ramah dan amarah, dan terlalu sederhana memandang kehidupan. Masa lalu yang boleh dikatakan cukup memalukan untuk diri sendiri, sehingga hanya mampuk untuk ditertawakan. Jika waktu bisa berputar mungkin saya hendak memperbaiki kegilaan-kegilaan yang pernah saya lakukan.
Tak ada yang patut disesalkan. Masa lalu tetaplah kisah lucu yang cukup kita tertawakan bersama; betapa kita pernah segila itu. Saat ini, masa depan yang harus kita pikirkan, Bersyukur kepada Tuhan, karena dengan masa lalu saya belajar kembali untuk merefleksi, mengevaluasi, dan mengatur berbagai target kehidupan yang harus dicapai; baik kehidupan duniawi atau kehidupan ukhrawi.
Pun saya, terus akan berusaha untuk mencatat berbagai mutiara-mutiara kehidupan yang lebih bermakna dalam wadah media ini; agar tidak tercipta kenangan-kenangan masa lalu yang kadang terlalu memalukan dan hanya mampu untuk ditertawakan.
Kehadiran Kita
People come and go.
Orang lain akan selalu datang dan pergi dalam kehidupan kita, seperti halnya kita dalam kehidupan mereka. Menjadikan setiap kehidupan saling beririsan satu sama lain.
Dan setiap kedatangan mereka akan selalu membawa perannya masing-masing. Tidak akan pernah saling dipertemukan tanpa arti, tidak juga beririsan tanpa tujuan. Meski kita sendiri seringkali tidak peka, tidak terlalu mengerti peran apa yang ternyata sudah kita berikan ke dalam hidup orang lain. Karena yang kita rasakan saat itu, hanya seperti menjalani interaksi antar manusia seperti pada umumnya.
Ada orang lain yang datang menghadirkan kebahagiaan, ada orang lain yang tiba-tiba hadir menghadapkan kita pada kebimbangan, ada orang lain yang bahkan mengantarkan kita pada rasa sedih dan kecewa. Dan terkadang, kita yang menjadi orang lain itu.
Beberapa mungkin akan berperan sebagai jalan datangnya ujian, sebagian hadir dengan perannya sebagai pembawa pertolongan. Tidak harus dalam kurun waktu yang lama. Karena beberapa ia takdirkan beririsan dengan waktu yang singkat, namun begitu tepat.
Kita tidak bisa memilih menjadi apa dan menentukan ingin beririsan dengan kehidupan siapa. Tapi berperan sebagai apa, itu masih menjadi bagian yang bisa kita pilih dan upayakan.
Semoga kelak kita bisa menjalankan peran yang baik, di kehidupan siapapun yang kita ditakdirkan untuk ada didalamnya.
DANNY DZUL FIKRI Bondowoso, 3 Desember 2017
Kata pak Emha dalam buku favorit saya, Slilit sang Kiai:
“Manusia dengan kecerdasan berhasil menaklukkan alam, menggenggamnya, mengeksplorasinya, mengeksploitasinya, menyulapnya menjadi surge impian, memakannya, menghabiskannya, menguras, dan mengenyamnya, demi kelayakan-kelayakan irrasional dan mubazir, bagai direncanakan untuk menyegerakan berbagai kehancuran yang ditutup-tutupi”
Hh.
Itulah tabiat manusia yang sejak zaman Orba sampai sekarang tidak pernah habis dimakan zaman. Bahkan bukannya berkurang , tapi malah semakin bertambah. Itulah jadinya kalau manusia sudah tidak peka dengan dosa. Sudah tidak peka dengan dosa, akhirnya tidak merasa kalau yang dilakukan adalah dosa yang menyiksa orang lain, akhirnya dia tidak merasa butuh bertaubat dan meminta maaf, dan akhirnya terus mengulangi kegiatan itu karena berpendapat bahwa pekerjaan itu bukan bagian dari kesalahan.
Bagi beberapa manusia, tabiat itu bahkan menjadi penyakit yang kemudian menjadi watak dalam dirinya. Membuat jutaan kenikmatan untuk dirinya sendiri, tanpa memedulikan dampak yang terjadi pada orang lain; bahkan lingkungan sekitarnya. Kemelaratan? Masa bodoh, asal bukan dirinya yang kena. Berbagai bencana? Terserah, yang penting daerahnya aman dari hal itu. Kemiskinan? Bukan urusanku, orang-orang saja yang tidak becus kerjanya.
Virus itu semakin hari semakin merebak. Bumi kehilangan permatanya, masyarakat kehilangan hartanya yang paling berharga, dan oknum-oknum semakin menikmati kenikmatan yang tidak kekal. Virus tanpa dosa ini dengan mudah menjadi penyakit ketidak pedulian pada sekitarnya. Semakin sakit saja orang-orang zaman ini.
Obatnya? Cuma satu: Cukup merasa kalau dia sedang berdosa.
Mau Jadi Apa?
Mau jadi apa?
Ya, mau jadi apa? Pertanyaan yang jawabannya selalu berkembang.
Waktu kita kecil, jawabannya berkisar tentang profesi: mau jadi guru, mau jadi dokter, atau mau jadi polisi. Pokoknya profesi yang terlihat keren, itulah jawabannya.
Saat usia remaja dan menginjak pubertas, pertanyaan itu mulai tidak bisa sembarang dijawab. Butuh pemikiran dan pertimbangan. Bukan hanya sekedar yang diinginkan, tapi juga yang memiliki peluang kerja besar.
Mulai usia dewasa, usia orang sudah mencicipi kuliah, jawaban mau jadi apa mulai berbau nilai idealis, ataupun yang terlalu realistis: mau jadi orang yang bermanfaat untuk orang lain, mau jadi pejuang suara rakyat, atau jadi apa aja yang penting gajinya oke.
Mau jadi apa. Siapa yang bisa mematenkan jawabannya? Tidak ada. Bahkan manusia yang berhak menjawab pun tidak bisa mematenkan jawabannya sendiri. Saat kecil kita bilang mau jadi guru, dua hari kemudian bisa jadi kita bilang mau jadi dokter. Waktu usia kecil kita berharap menjadi dokter spesialis bedah, toh tidak menutup kemungkinan saat sudah kenal dunia kuliah ia hanya ingin menjadi karyawan perusahaan.
Mengapa jawaban tidak bisa paten? Oh, itu banyak alasan. Semakin besar manusia semakin mengenal dunia sekitarnya. Manusia semakin tahu mana yang bisa ia lakukan, mana yang tidak bisa. Mana yang dia sukai, mana yang tidak disukai. Mana yang berpeluang paling baik, atau mana yang berbahaya untuk dirinya.
Terlepas dari apapun faktor dunia yang mengikat, mau jadi apa punya satu jawaban pasti. Jawaban pasti. Jawaban yang sejak lahir kita bawa. Ya, jawaban yang menjadi titah Tuhan kepada para hambaNya, para khalifahNya. Mau jadi apa yang sesungguhnya adalah cita-cita menjadi kekasihNya yang sebenarNya. Buat apa kita dilahirkan ke dunia, jika kemudian Tuhan tidak mencintai kita dan kemudian membiarkan kita ke neraka, buat apa kita hidup di dunia ini?
Kemudian saya belajar bahwa jawaban asli dari mau jadi apa: mau jadi kekasih Tuhan.
Kalau kamu, mau jadi apa?
SYUKUR
Kalimat itu. Siapa yang asing? Berkali-kali didengungkan, diceramahkan, bahwa setiap manusia punya kewajiban untuk itu. Bersyukur pada Yang Menciptakan Alam dan Memberikan Karunia.
Hal itu sudah aku tahu, dan semakin terasa pagi ini. Ketika Tuhan memberikan karunianya yaitu kesempatan untuk mengikuti lomba. Awalnya kukira iru juga menjadi bagian dari beban dan tanggung jawab.
Ternyata tidak. Ini adalah nikmat yang luar biasa.
Ketika ternyata ada seseorang yang mengharapkan untuk mendapatkan apa yang aku dapat. Untuk bisa mengikuti apa yang aku ikuti.
Bagaimana saya tidak terharu?
Ternyata Tuhan begitu sayang pada saya/
Lalu, nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?
Dan syukur adalah sebuah keniscayaan...
#Hikmah MTQ MN XV 2017
#MHQ
Bismillah. Wahai Tuhan yang Maha Pembolak Balik Hati. Tetapkan hati dalam niat untuk-Mu. Tetapkan jiwa dalam ikhtiar syi'ar agama-Mu
anonymous
Sama - Sama Kuat
beberapa saat sebelum landing
“Biasanya anak itu seperti burung, ketika sudah terbang sekali merantau biasanya selanjutnya takdirnya akan terus merantau bahkan lebih jauh lagi dan bukan malah semakin dekat kembali pulang.”
Kalimat tersebut terlintas begitu saja dari seorang Pakde saya yang diutarakan ke orang tua saya ketika setahun lalu kami kumpul keluarga. Mungkin hanya kebetulan pada saat itu aku pun seperti berpikir “oh iya ya?”. Saya yang menginjak usia 17 tahun dan langsung merantau ke Surabaya untuk kuliah, 4 tahun lamanya. Dan sejak tahun pertama saya hanya pulang 1 tahun 2 kali, yap ketika libur semester. Semakin kegiatan padat dan puncaknya adalah ketika tahun terakhir di S1 saya tidak bisa pulang ke rumah dalam tahun itu dan tidak bertemu keluarga selama setahun. Namun Alhamdulillahnya adalah ketika saya wisuda orang tua saya hadir lengkap dengan adik adik saya. 3 hari melepas rindu selama setahun, saya langsung berankat melanjutkan studi saya di Prancis. Sampai pada akhirnya saya memutuskan selesai mendapat master untuk kembali ke Indonesia dan pulang ke rumah. Itu pun saya kaget, karena ternyata rumah saya sudah pindah walaupun masih dalam komplek yang sama. Aneh saya merasa asing dengan rumah sendiri.
Sedih ketika menyadari banyak hal dan momen yang saya lewatkan. Dalam jangka waktu 6 bulan saja tidak pulang dan ketika pulang ke rumah, saya merasa saya begitu banyak kehilangan momen dengan orang tua dan keluarga. Tiap kali pulang saya semakin sadar betapa uban di rambut Abi saya semakin banyak, raut wajah Ummi saya yang mulai berkerut, adik bungsu saya yang makin hari semakin bertambah besar. Belum lagi jika menerima kabar sakitnya keluarga dan duka sementara apa yang bisa dilakukan hanyalah berdoa dan menyampaikan salam lewat perantara pesawat telepon. Tapi buat saya ini adalah proses pendewasan dan hidup, bahkan ketika waktu diputar dan diberi pilihan untuk tinggal jauh dari rumah atau menetap di kampung halaman, maka saya akan memilih mendewasakan diri di perantauan dan pulang ketika mencukupkan nilai nilai hidup pengalaman yang didapat. Pun begitu aku mendidik adik laki lakiku, “merantaulah, kamu laki laki! Banyak pelajaran hidup, cara survive dan akselerasi hidup yang bisa didapat.”
menanti dan berkontemplasi
Dan pagi ini di bandara saya kembali mengingat beberapa kejadian dahulu, sambil membuka laptop dan mengecek email. Sepertinya saya mulai seperti burung, pergi jauh dan kembali sementara tidak terlalu lama sepertinya saya tinggal dirumah dengan orang tua setelah kembali, kurang lebih 6 bulan sebelum pada akhirnya memutuskan untuk “nge-kos” dan tinggal sendiri. Bukan, bukan karena saya tidak suka tinggal dengan orang tua saya atau ingin melarikan diri dari tanggung jawab. Namun langkah itu pun diambil dengan dukungan dan restu orang tua saya, supaya saya bisa lebih dekat ke kantor. Saya agak ngeri juga memang membayangkan harus pulang pergi Jakarta - Bekasi setiap harinya dan menghabiskan 4-5 jam umur saya di Jalanan setiap harinya. Mungkin ini pilihan tepat juga karena selain kos saya di belakang kantor dan bisa langusng jalan kaki ke kantor, tapi ini seperti adaptasi saya kembali dan persiapan menuju fase hidup selanjutnya. Menikah dan membangun rumah tangga.
Perjalanan kali ini perjalanan dinas ketiga saya dalam 6 bulan terakhir, sebenarnya saya ingin memilih destinasi dinas lain, waktu itu Ambon dan Lombok ada dalam whitelist saya. Biar sambil kerja bisa sambil travelling, tapi ternyata pekerjaan saya 2 minggu terakhir sangat banyak jadi saya harus mengubah jadwal dan jadwal yang pas adalah saya mengambil tujuan destinasi dinas saya ke Malang.
detik detik penantian
Di detik itu pun kembali saya berpikir, apa iya saya akan masih sesemangat ini ketika ada urusan kantor yang menuntut diri ini pergi keluar kota atau keluar negeri ketika saya sudah memiliki istri dan anak? Untuk saat ini saya tidak begitu ambil pusing ketika ada tugas untuk keluar kota, tidak ada beban yang saya pikirkan, pokoknya tinggal berangkat, sampai tujuan, kerja dan lanjut jalan jalan. That’s All! . Adapun hati saya mengatakan bahwa pastilah tentu sulit meninggalkan rumah ketika menjadi kepala keluarga, baik dengan keadaan lapang dan sempit, ketika lapang pasti semua orang ingin membagi kelapangan waktu dan kebahagian yang dimiliki dengan orang orang tersayang. Dan ketika keadaan sempit, maka pastilah orang lebih memilih menjaga baik baik orang – orang yang mereka saying, berada disisinya dan memastikan bahwa mereka baik baik saja.
“Gimana udah ketemu?” Tanya Ummiku sambil menggoda.
“Apanya, Mi?” Jawabku datar
“Kamu nih pura pura gatau, coba deh emang tipe mu yang gimana?” Beliau menanyakan kembali
“yang kuat, Mi. Pertama, karena kesuksesan laki laki itu ditentukan dari siapakah Ibunya dan siapakah Istrinya. Kemudian, karena dari awal aku sadar, aku ini tipikal yang aktif dan pengen terus terlibat dengan banyak orang diluar sana untuk memberi manfaat. Menjadi sebaik baik manusia. Di tambah aku ini insinyur Mi. Yang nature pekerjaannya akan sering pergi – pergi…” Saya mulai menjawab karena mengerti arah pertanyaannya kemana
“ …ditambah itu aku punya mimpi mimpi dalam hidup ini. Kesemuanya itu kalo tidak orang yang kuat, aku takut cuma akan menyakitinya. Dia harus kuat dan tahu apa yang harus dilakukan ketika aku tidak ada di rumah dan anak kami nanti demam, ketika listrik di rumah korslet dan tidak menyala, dia harus kuat dan memahami ketika ingin bermanja namun suaminya pergi karena urusan orang banyak. Tentulah harus seorang yang kuat dan hebat, karena semanjak akad maka cita citanya menjadi cita citaku dan tidak ada lagi kata dia dan aku, kesemuanya tentang kami.” Kataku mengakhiri sambil tersenyum.
Dan dalam hati aku berkata pada diri sendiri, “Dan yang paling penting dari itu semua adalah, dia harus kuat, karena aku tidak akan mengajarinya untuk menjadi lemah dan payah. Sehingga ketika aku benar benar harus pergi dari sisinya dia akan tetap menjadi kuat dan hebat, melanjutkan hidupnya, merawat anak anak dan mimpi mimpi kami.”
Malang, 18 Juni 2017