When we first met, I wanted to know you for the rest of my life. I wanted to turn back time just to see if there was a way I could meet you sooner.
Connotativewords | jl | Jumper (via connotativewords)

Origami Around

tannertan36
$LAYYYTER

No title available
Peter Solarz
tumblr dot com

roma★
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

titsay
Stranger Things
noise dept.
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Not today Justin
Monterey Bay Aquarium
DEAR READER

Kaledo Art

#extradirty
One Nice Bug Per Day
i don't do bad sauce passes
Lint Roller? I Barely Know Her
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Estonia
seen from Brazil
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
@anotherworldofme
When we first met, I wanted to know you for the rest of my life. I wanted to turn back time just to see if there was a way I could meet you sooner.
Connotativewords | jl | Jumper (via connotativewords)
So let things flow. God knows the best anyway. #quote #quoteoftheday
o.o…O.O [video]
― Confessions (2010) Shuya: Everyone disappears. I’ll disappear, too.
Sometimes it feels good to take the long way home.
Carol Rifka Brunt, Tell the Wolves I’m Home (via wordsnquotes)
Awww... So cute.
The logo for “Fantastic Beasts and Where to Find Them” has been revealed! http://pottermo.re/NuPt3Q
Don’t forget to check the official Tumblr page for “Fantastic Beasts and Where to Find Them”
Tingkat Akhir: Sebuah Cobaan
Yaa, kalo masalah tiap hari harus belajar atau ngerjain tugas sih itu udah kewajiban. Tapi, gue merasakan hal lain ketika gue mulai menapaki takdir gue di semester akhir: semester 8.
Kalo dibuat klasifikasi, maka gue termasuk ke dalam kelompok mahasiswa yang lulusnya agak lambat. Harusnya gue bisa dapet Surat Keterangan Lulus (SKL) yang amat berharga dan keramat itu sekitar akhir Agustus atau awal September. Tapi nyatanya, akhir Agustus gue baru seminar hasil, dan akhir September baru bisa ujian skripsi dan dapet SKL.
Tapi bagaimanapun, gue tetep bersyukur karena akhirnya gue lulus. Karena, emang bener deh, jadi mahasiswa tingkat akhir itu sama sekali ga menyenangkan. Tulisan gue kali ini diilhami dari kisah nyata, berdasarkan pengalaman gue sendiri (dan mungkin sebagian besar temen gue juga mengalami hal yang sama).
Baru beberapa hari masuk ke tingkat akhir, udah ada orang yang nanya ke gue 'Udah dapet proyek penelitian? Mau penelitian dimana? Tentang apa?'. Gue menjawab sejujurnya bahwa gue masih nyari proyek. Kemudian, waktu berlalu begitu cepat. Penelitian gue udah berjalan (walaupun dengan disertai banyak hambatan), tapi ada lagi orang lain yang nanya 'Lo kapan kolokium?'. Maksud kolokium disini adalah seminar proposal penelitian. Gue jawab sambil senyum (yang dipaksa) 'Ga tau. Draft gue belum jadi'. Gue menjawab kayak gitu karena emang gue belum siap kolokium, draft gue belum jadi, dan gue emang belum bener-bener menguasai materi penelitian gue yang njelimet-nya selangit itu. Tapi, dengan usaha, kerja keras, dan doa yang ga sedikit, kolokium pun terlewati. Beberapa waktu kemudian, penelitian gue hampir selesai, tinggal ngolah data dan merampungkan draft calon skripsi. Eh, ada lagi orang lain yang nanya 'Penelitian lo udah beres? Kapan seminar hasil?'. Buset dah... Gue jawab pertanyaan itu sambil nahan-nahan emosi 'Belum tau nih. Gue masih ngolah data.' Dengan susah payah, akhirnya gue berhasil maju mempresentasikan hasil penelitian gue dalam seminar hasil. Beres seminar, perjuangan gue masih harus berlanjut ke tahap kelayakan, dan kalo draft gue udah dibilang layak, baru deh gue bisa sidang akhir. You know what? Orang-orang kayaknya ga punya pertanyaan lain selain nanyain pertanyaan semacam 'Kapan lo sidang? Buruan lulus dong, biar kita bisa wisuda bareng.' atau 'Kok lo lama banget sih tinggal sidang juga?'
Hell!
Dia pikir selama ini gue berleha-leha aja kali yah? Atau mungkin dia pikir selama ini gue jalan-jalan mulu? Gue berusaha, coy. Gue juga pengen cepet lulus, keles... pikir gue waktu itu.
Yaa gue sih berpikir positif aja, mungkin dia nanya-nanya mulu kayak gitu sebagai bentuk perhatian dia kepada seorang teman. Mungkin maksud dia baik, mau ngasih support, motivasi, dan semangat, biar gue bisa segera lulus.
(Tapi rasanya gue pengen banget bilang di depan muka dia bahwa semangat dan motivasi aja ga akan pernah cukup buat seseorang supaya bisa cepet lulus. Camkan itu!)
By the way, setelah gue sidang akhir dan dinyatakan lulus, setelah skripsi gue dicap dan ditandatangani, setelah gue daftar wisuda, akhirnya gue bisa tertawa puas sambil sedikit memaki-maki mereka yang sering 'memotivasi' dan 'menyemangati' gue, 'Nih! Lihat nih! Gue udah lulus! Gue udah dapet nomor urut pendaftaran wisuda! Hah, mau apa lo sekarang?!' Tentu aja gue bilang kayak gitu cuma di dalem hati. Gue jadi agak congkak dan kadang-kadang jadi ikutan nanya hal yang sama ke orang lain sebagai suatu bentuk balas dendam gue.
Tapi ternyata kebahagiaan gue itu ga berlangsung lama, karena sekarang bermunculan lagi orang-orang yang setiap berpapasan sama gue, dia selalu aja menyempatkan diri untuk 'memotivasi' dan 'menyemangati' gue dengan bertanya 'Lo udah dapet kerjaan belum? Kerja apa? Dimana?'
Ya Tuhan, ijinkan gue nendang bokong dia.
Kepada Para Pengamen
Kata 'pengamen' berasal dari kata 'amen', yang berarti berkeliling (menyanyi, main musik, dll) untuk mencari uang. Jadi, pengamen berarti 'penari, penyanyi, atau pemain musik yg tidak tetap tempat pertunjukannya, biasanya mengadakan pertunjukan di tempat umum dengan berpindah-pindah'. Definisi ini gue dapet (nyontek) dari KBBI Online.
Biasanya, pengamen punya gaya dan penampilan yang khas: pakaian sederhana, dengan alat musik (gitar atau musik pukul, atau yang lainnya). Lagu yang mereka bawakan juga biasanya lagu-lagu populer yang dikenal banyak orang.
Kemarin, gue abis dari Karawang sama seorang teman untuk suatu keperluan. Tadinya gue mau pulang naik bis yang ke Bogor sekalian, biar ga repot-repot. Tapi ternyata bis yang diidam-idamkan (?) tak kunjung tiba. Jadilah gue bersepakat sama temen gue itu untuk naik bis yang ke Kampung Rambutan dulu, baru lanjut ke Bogor. Sekitar jam 4 sore, gue udah diangkut sama bis ke Kp Rambutan. Ternyata di dalam bis lagi ada pertunjukan dari seorang pengamen. Dia bocah laki-laki berbadan bongsor, mungkin seusia anak SMP.
Awalnya gue sendiri ga yakin, apakah dia bisa dikatakan pengamen atau bukan, soalnya dia ga bawa alat musik. Yang bikin gue kagum (dan terharu) adalah dia ga nyanyi lagu-lagu khas pengamen, tapi dia ngaji. Subhanallah banget kan? Dia ngaji bak seorang qari. Tapi emang menurut gue suaranya keren. Jadi kalo lo dengerin dia sambil merem, lo bakalan mengira lagi dengerin tilawah dari kaset. Setelah dia beres dengan ngajinya yang sayangnya cuma beberapa ayat, dia mulai berkeliling sambil membawa kantong plastik.
Singkat cerita, gue nyampe di Kp Rambutan, dan berhasil mendapatkan bis ke arah Bogor. Sebelum bis mulai melaju, naiklah seorang ibu berjilbab hitam ke dalam bis sambil menenteng sebuah gitar kecil. Dia memulai show-nya dengan intro semacam 'selamat sore bapak supir dan para penumpang bla bla bla...'. Kemudian dia mulai 'menggonjrengkan' gitar kecilnya. Suara gitar yang ga terlalu nyaring itu mengiri lagu pertama yang dia nyanyiin, sebuah lagu terkenal dari Ebiet G. Ade, tapi gue lupa judulnya. Tapi gue tau lagunya. Hehehe... Ternyata suara ibu itu bagus (apalagi kalo dilatih secara serius), teknik menyanyinya lumayan, vibranya juga keren. Entah kenapa, lagu yang dinyanyikan ibu itu meresap ke hati gue. Padahal gue udah berkali-kali denger lagu itu. Selesai lagu pertama, dia lanjut ke lagu-lagu lainnya sementara bis yang gue tumpangi mulai melaju. Ibu itu masih menyanyi, gitarnya masih dia mainkan, tapi kali ini ditingkahi deru mesin bis. Langit sore di atas terminal Kp Rambutan yang tadinya jingga, semakin muram dengan mendung yang bergelayut. Ibu berjilbab itu mengakhiri nyanyiannya di lagu yang kelima *applause*. Sama kayak si bocah yang ngaji tadi, ibu berjilbab ini juga mengedarkan kantong plastik seusai pertunjukannya sambil mengucapkan terima kasih dan alhamdulillah setiap ada penumpang yang ngasih dia uang.
Gue jadi mikir, mungkin si bocah yang ngaji itu orang tuanya udah ga mampu lagi nyari uang buat dia makan atau membiayai dia sekolah. Atau mungkin, ibu berjilbab itu punya banyak anak yang harus dihidupi, sementara gaji suaminya ga cukup buat biaya hidup sehari-hari. Gue yang hari itu ngerasa capek banget, pengen cepet-cepet pulang terus tidur, tiba-tiba ngerasa ga ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka yang sesore itu masih berkeliaran di jalanan dan di bis-bis, nyari uang, berharap ada orang yang kasihan sama mereka. Gue ngerasa masalah dan cobaan yang terkadang gue hadapi ga lebih berat dari apa yang setiap hari mereka jalani.
Kemudian gue ngerasa jadi manusia yang kurang bersyukur.
Prinsip? Komitmen? Dewasa?
Manusia hidup itu harus punya prinsip. Kalo hidup ga berprinsip, mungkin seseorang bisa dicap sebagai orang yang ga berpendirian, ga bisa mengambil keputusan, atau bahkan ga berkepribadian. Prinsip yang kita anut akan menuntun kita untuk tetap berjalan pada jalur yang telah kita pilih sebelumnya bagaimanapun situasinya, dan menurut gue hal ini bisa dianggap sebagai suatu komitmen. Seseorang yang yang dalam hidupnya memiliki prinsip dan berkomitmen pada prinsipnya ga bakalan mudah tergoda, terombang-ambing, atau bingung menentukan keputusan.
... Gue Ga Mau Otak Gue Ga Jalan
Okey. So, sejauh ini gue baru membaca sebuah novel karya Dan Brown berjudul 'Deception Point' (walaupun sebenernya agak telat sih). Sebuah novel yang bercerita tentang polemik seputar pemilu presiden AS yang berkaitan dengan skandal, isu-isu politik, dan nasib lembaga antariksa NASA (kalo mau tau lebih lanjut, baca sendiri aja lah yaa..)
Menurut kaca mata gue sebagai orang awam sih novelnya bagus. Bagus banget malah. Dan Brown emang jenius banget, bisa menggabungkan drama perpolitikan sama sains. Ini yang bikin Deception Point ga membosankan. Justru malah alurnya menegangkan. Apa lagi ketika Rachel Sexton dan beberapa temannya berkali-kali menghadapi maut (yah... bahasanya -_-).
Tapi emang Dan Brown tuh pinter banget. Sebagai penulis, dia ga cuma mengandalkan imajinasi dan kemampuan berbahasanya, tapi dia juga banyak ngebahas tentang sains, politik, fakta-fakta menarik, dan segala macemnya. Kan ga gampang tuuh.. Dan ini ga cuma di Deception Point aja, tapi juga (gue rasa sih) di semua novel dia yang pernah gue baca (dan mungkin juga di novel-novel dia yang lainnya yang belum sempet gue baca). Intinya, Dan Brown ini masuk ke dalam list penulis keren versi gue.
Selain Dan Brown, ada beberapa penulis lain yang karya-karyanya ga kalah menarik bagi gue, dan bahkan bisa dibilang jenius. Semacam Andrea Hirata, Tere Liye. Tulisan-tulisan mereka, walaupun kebanyakan mengangkat tema yang sederhana dengan latar belakang yang sederhana juga, tapi bisa sampai ke pembaca dengan luar biasa. Gue sampe kehilangan kata-kata nih. Hahaha...
Coba aja lihat Laskar Pelangi. Cerita dan bahasanya sederhana, tapi dia bisa menyampaikan itu dengan baik sehingga pembaca bisa 'masuk' ke ceritanya. Hal yang sama juga terjadi pada karya-karyanya Tere Liye. Gue sempet baca Burlian & Pukat. Dan dua-duanya kece. Two thumbs up deh pokoknya.
Gue, yang dulu (dan sampe sekarang) bermimpi jadi penulis terkenal, jadi bertanya-tanya: sebenernya apa sih yang bikin penulis-penulis itu bisa menciptakan sebuah karya yang mengagumkan? Yang satu bikin cerita yang rumit dan bertebaran intrik di sana-sini, sedangkan yang satu lagi bikin cerita yang sederhana dan luwes. Tapi keduanya bisa 'menggugah' gue dan bikin gue ga berhenti baca tulisan mereka. Sampe sekarang gue belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaan gue itu.
Setelah menamatkan Deception Point, mungkin gue akan beralih dulu ke LOTR atau HP, sekalian mengasah kemampuan berbahasa Inggris gue. Soalnya belakangan ini gue jadi banyak nganggur, dan gue ga mau otak gue ga jalan. Hahaha...
At this point, I don’t just want someone who will let me in. I want someone who will rip the door from its hinges, letting me know it’ll never be closed again. I want someone who isn’t afraid to show me just how bad the sense of urgency is for me to be where they are.
Connotativewords | jl | Inviting (via connotativewords)