Kalapa dan Keinginan Tuhan
Tidak ada orang paling kaya di Nagara. Bukan karena semua miskin. Bukan pula karena semua orang kaya. Tidak. Di Nagara ada tiga orang paling kaya, Janus, Marcus, dan Julius. Tidak ada yang lebih kaya di antara mereka bertiga. Mereka berkongsi sebagai pemilik usaha dagang paling hebat di Nagara, Tiga Serangkai.
Tiga Serangkai menjalankan usaha di bidang tekstil. Semua hal yang berhubungan dengan kain dikuasai oleh Tiga Serangkai. Sebut saja peternakan ulat sutra, perkebunan kapas, tambang mineral untuk pewarna pakaian, bahkan semua penenun kain dan penjahit pakaian di Negara adalah pekerja di Tiga Serangkai. Pendek kata Tiga Serangkai adalah satu-satunya pihak yang bisa menentukan berapa Rupiah suatu celana atau baju hendak mereka jual. Bagaimana tidak, bahkan aspek biaya distribusi barang yang mungkin naik karena biaya sewa perahu atau kereta membengkak tidak juga berlaku. Mereka memiliki perahu dan kereta sendiri.
Menjadi orang paling kaya di Nagara pada mulanya membuat Janus, Marcus, dan Julius merasa bahagia. Bayangkan saja, kekayaan Tiga Serangkai setelah mereka hitung bahkan lebih banyak dibandingkan emas yang dimiliki oleh Nagara. Pekerja yang dimiliki Tiga Serangkai pun lebih banyak dibanding pegawai dan prajurit yang mengabdi pada Nagara. Singkatnya, Tiga Serangkai meski ada di dalam Nagara, Janus, Marcus, dan Julius masih merupakan rakyat Nagara, Tiga Serangkai sebenarnya lebih berkuasa ketimbang Nagara. Untuk mengamankan semua asetnya, Tiga Serangkai memiliki satuan pengaman yang lebih terlatih dibanding prajurit Nagara, punya alat tempur yang lebih mangkus ketimbang yang dimiliki Nagara.
Menjadi bahagia dan merasa puas tampaknya sama, tetapi sebenarnya berbeda. Rasa bahagia tak mudah dikalahkan waktu, rasa puas tidak begitu. Janus, Marcus, dan Julius hanya punya tiga bulan untuk merasa puas atas apa yang mereka telah capai. Setelah itu mereka kebingungan. Tiga Serangkai sudah pada titik harus membayar lebih banyak ketimbang penerimaan yang masuk. Orang-orang di Nagara hampir-hampir sudah tak memiliki uang untuk membeli pakaian dari Tiga Serangkai. Lagi pula untuk apa mereka membeli pakaian sering-sering, pakaian yang dihasilkan Tiga Serangkai begitu awet.
Janus membuka perbincangan sore itu, “inilah yang kutakutkan. Harusnya kita fokus pada pembuatan pakaian saja. Urusan bahan dasarnya kita serahkan ke orang lain.”
Marcus tak menerima, “kau sudah lupa Jan, dulu ketika urusan-urusan itu kita biarkan orang lain yang menguasai, mutu pakaian kita jadi turun naik. Mereka bahkan bisa memaksa kita untuk membeli kain mereka padahal serat-seratnya lebih ringkih dibanding sarang laba-laba hanya karena kita tak punya pilihan lain.”
Janus sebenarnya mau membantah, tetapi ditahan oleh Julius. “Aku bisa memahami apa yang kau utarakan Marcus,” ujar Julius, “tetapi kita perlu mencari cara agar semua yang telah kita bangun tak runtuh beberapa bulan lagi.”
“Kita perlu ke Panggama.” Marcus mantab. Janus dan Julius saling pandang, mereka tampaknya sudah bisa menerka-nerka jalan pikiran Marcus. Mereka bertiga bertukar senyum.
Panggama adalah pimpinan paling tinggi Kertagama, agama yang dianut orang-orang Nagara. Sebagai orang-orang paling kaya di Nagara, tentu tak sulit bagi Janus, Marcus, dan Julius untuk bertemu Panggama. Ketika mereka berempat sudah bertemu muka, Marcus sebagai juru bicara memulai percakapan.
“Yang Mulia Panggama, kami merasa apa yang kami dapatkan dalam tahun-tahun terakhir ini tak membawa ketenangan dalam jiwa kami,” ujar Marcus dengan nada memelas.
Dengan tatapan syahdu Panggama memberikan tanggapan, “apa yang bisa kubantu Nak?”
“Begini Panggama. Kami melihat, Kartagama sudah waktunya disebarkan ke luar Nagara. Agama mulia ini seharusnya lebih banyak dikenal dan dijalankan oleh orang-orang di luar Nagara.”
Panggama takjub dengan usulan Marcus, “sungguh mahasuci Tuhan kita. Aku telah lama berpikir hal yang sama.”
Janus mulai bersuara, “lalu mengapa Panggama tak pernah melakukannya?”
Panggama tertunduk sedih, “aku dan murid-muridku tak punya biaya untuk melakukannya. Butuh kapal besar dan biaya yang banyak untuk menuju pulau-pulau lain. Salah perhitungan, niat hati hendak membawa Kartagama dikenal orang-orang di luar Nagara, yang terjadi ajaran ini akan tenggelam di samudera.”
Marcus masuk kembali, “tak usah khawatir Panggama. Biaya dan semua perlengkapan akan ditanggung oleh Tiga Serangkai. Panggama hanya perlu fokus mempersiapkan tenaga untuk bisa mengajak orang-orang di luar Nagara untuk memeluk Kartagama. Aku rasa inilah mungkin jalan agar kami bisa merasakan damai. Apalah arti menjadi kaya jika tak berbakti untuk Kartagama.”
Mendengar itu Panggama sumringah. Setelah kepulangan pemilik Tiga Serangkai, ia langsung mengumpulkan murid-muridnya. Mereka mempersiapkan perbekalan dan tentu saja lusinan salinan Kitab Suci untuk dibawa pergi.
Jauh di luar Nagara, jauh sebelum Tiga Serangkai dibangun, sepasang pria dan perempuan tampak menangis haru. Pekik camar membuat mereka tahu daratan akan segera mereka temui. Mereka adalah dua orang terakhir dari Kalapa. Pulau mereka diserang wabah penyakit yang dibawa oleh nyamuk. Setiap kali seseorang digigit nyamuk itu, tak menunggu sepekan, orang tersebut pasti akan mati. Gigitan nyamuk ini sulit dihindari karena mereka malah keluar saat siang. Sementara siang hari adalah waktunya orang-orang Kalapa bekerja. Tak menunggu lama, Laki mengajak Bini untuk segera pergi dari Kalapa.
Untuk mengenang kampung halaman mereka, pulau yang baru mereka darati dinamai dengan Kalapa pula. Laki dan Bini membangun kehidupan baru di Kalapa. Walau bukan orang paling pintar di kampungnya, Laki mencoba memeras menjadi ringkas ajaran leluhur yang telah ia pelajari sejak kecil. Kepada anak-anaknya ia ajarkan tiga hal. Laki menyebutnya sebagai Trisangga.
Pertama, semua hal yang jika tak engkau makan atau gunakan, tidak membuatmu mati, hal itu akan menjadi keinginan bukan kebutuhan. Keinginanmu mungkin bisa dipenuhi oleh orang lain, tetapi imbalan yang bisa engkau berikan belum tentu sesuai dengan keinginan orang itu..
Kedua, berpuaslah dengan apa yang disediakan Kalapa. Ketidakpuasanmu akan membuatmu bergantung dengan orang-orang di luar Kalapa.
Ketiga, Tuhan ada dan engkau perlu mempercayainya. Hanya saja apa yang Tuhan inginkan tak akan bisa engkau ketahui. Jadi, lanjutkan hidupmu tanpa perlu memikirkan hal itu.
Karena di Kalapa ia tak lagi menemukan kain untuk dijadikan bahan pakaian, Laki mulai mencoba hidup tanpa menggunakan pakaian. Ia tak perlu merasa malu, toh di Kalapa ia hanya hidup bersama Bini dan anak-anaknya. Setelah beberapa lama mereka juga mulai terbiasa menjadikan buah kalapa, satu-satunya pohon di Kalapa untuk dijadikan makanan pokok. Hidup yang dilakoni Laki dan Bini diteruskan oleh anak cucu mereka, bergenerasi-generasi setelah Laki dan Bini mati.
Syahdan, berlabuhlah kapal Panggama di Kalapa. Orang-orang Kalapa tak punya pengalaman bertemu orang-orang dari luar Kalapa. Mereka cukup dengan apa yang disediakan Kalapa. Mereka tak punya keinginan lebih dari itu. Ketika Sanggama dan murid-muridnya keluar dari kapal, orang-orang Kalapa hanya bisa takjub. Meski jarak antara Nagara dan Kalapa terhitung jauh, mereka berbagi bahasa yang sama.
Melihat ketakjuban orang-orang Kalapa, Panggama berseru, “Perkenalkan aku adalah Panggama. Aku berasal dari Nagara. Untuk sampai ke sini aku butuh satu purnama.”
Lantip sebagai orang paling tua di Kalapa maju ke depan. Dengan senyum terlebar yang bisa ia berikan, ia bertanya, “Duhai Panggama, apa kiranya yang hendak tuan lakukan di Kalapa?”
Mendapat sambutan yang ramah, Panggama merasa diterima, “niat kami adalah melakukan perjalanan persaudaraan. Sudah lama lautan memisahkan Orang Serumpun. Meski kita hidup berbeda pulau, berbeda negeri, kita tetap berbagi bahasa yang sama yaitu bahasa Serumpun.”
Niat Panggama diterima. Ia pun diizinkan membuat pondok untuk tinggal beberapa lama di Kalapa.
Setiap malam, sepulang dari menyelesaikan pekerjaan masing-masing, orang-orang Kalapa berkumpul di pondokan Panggama. Mereka ingin mendengarkan kisah-kisah dari Panggama. Mereka tak pernah mendengar hal-hal yang dibicarakan Panggama selama ini.
Lantip membuka pertemuan malam itu dengan pertanyaan, “apakah orang-orang Kalapa dan Nagara memiliki harkat dan martabat yang sama?”’
“Saudara-saudaraku orang-orang Kalapa, semua sama di hadapan Tuhan. Kepatuhan padanya yang membuat kita berbeda.” Panggama memulai ceramahnya malam itu.
Lantip menanggapi, “Panggama, engkau tentu sudah mengetahui Trisangga yang kami yakini. Apa yang engkau baru saja katakan bertentangan dengan Sangga ketiga. Kita tak pernah bisa mengetahui apa yang Tuhan inginkan. Bagaimana kita bisa mematuhi sesuatu yang tak kita ketahui?”
Panggama merasa inilah saatnya. Ia masuk ke pondoknya. Tak lama ia keluar membawa sesuatu. “Saudara-saudaraku orang Kalapa. Kita memang tak mungkin mengetahui apa yang diinginkan Tuhan. Itu benar. Leluhur kalian benar. Akan tetapi Tuhan yang mahabaik telah menurunkan Kitab Suci yang membuat kita menjadi tahu apa yang Tuhan inginkan.”
Orang-orang Kalapa heboh. Mereka setuju semata dengan apa yang dikatakan Panggama.
Lantip kemudian memberikan permintaan, “Panggama, bergenerasi-generasi kami orang-orang Kalapa percaya bahwa keinginan Tuhan tak bisa kita ketahui. Lalu engkau berkata keinginan Tuhan bisa kita ketahui karena semua keinginannya ada di dalam Kitab Suci. Untuk itu Panggama, ajarilah kami, orang-orang Kalapa agar bisa membaca Kitab Suci. Sehingga kami bisa mengetahui apa keinginan Tuhan dengan mata kami sendiri.”
Panggama sumringah. Bahkan di Nagara, kecuali murid-muridnya, tak ada lagi yang sudi membaca Kitab Suci. Permintaan Lantip, tentu saja ia dan murid-muridnya akan berusaha keras mengajarkan orang-orang Kalapa membaca Kitab Suci.
Tak butuh lama hingga akhirnya orang-orang Kalapa bisa membaca sendiri Kitab Suci Kartagama. Tak butuh lama pula sampai mereka menyadari bahwa banyak cara hidup mereka selama ini yang tidak sesuai dengan keinginan Tuhan. Terutama soal pakaian.
Lagi-lagi Lantip bertanya, “apakah selama ini kami telah melanggar keinginan Tuhan karena tak berpakaian Panggama?”
Panggama tersenyum, “saudara-saudaraku orang-orang Kalapa. Kesalahan hanyalah untuk orang-orang yang tahu tetapi melanggar. Kalian selama ini tak mengetahui. Kalian berarti tak melanggar apa-apa.”
Lantip kembali bertanya, “lalu apa yang bisa kita lakukan? Kalapa bukanlah Nagara, di sini kami tak memiliki kain untuk menutup tubuh kami.”
“Tenang saudara-saudaraku orang-orang Kalapa. Aku bisa memberikan kalian pakaian. Satu orang satu pakaian. Kalian bisa menggunakannya mulai besok.”
Meski tak terbiasa, orang-orang Kalapa mulai berpakaian sejak pagi. Mereka bertahan memakai itu berhari-hari. Mereka tak mengerti bahwa pakaian harus diganti setelah dipakai. Jika tidak akan menimbulkan bau tak enak. Untuk menghilangkan bau tak enak itu, pakaian haruslah dicuci.
Malam itu, Lantip kembali bertanya pada Panggama, “ketika pakaian kami dicuci, apa yang bisa kami pakai Panggama? Jika tak dicuci, kami menderita. Jika dicuci, kami melanggar perintah.”
Panggama paham dilema orang-orang Kalapa. Ia merasa inilah waktu yang tepat untuk ke Nagara. Ia perlu bantuan Tiga Serangkai untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Kalapa. Saat pulang, orang-orang Kalapa mengantar Panggama dan murid-muridnya hingga ke kapal. Mereka memberi Panggama beberapa batang bambu yang telah diisi nira kalapa sebagai buah tangan untuk pemilik Tiga Serangkai yang telah berjasa membuat mereka mengetahui apa yang diinginkan Tuhan.
Panggama pulang dan langsung bertemu Janus, Marcus, Julius. Tak lupa ia mengantarkan nira kelapa hadiah dari orang-orang Kalapa untuk pemilik Tiga Serangkai. Panggama bercerita dengan antusias tentang orang-orang Kalapa yang mengetahui apa yang diinginkan Tuhan karena mereka tak mengetahui Kitab Suci. Panggama juga bercerita bahwa ia butuh bantuan Tiga Serangkai untuk menyediakan pakaian-pakaian yang bisa ia bawa ke Kalapa. Satu pasang pakaian tentu tak cukup untuk hidup. Mereka paling tidak butuh beberapa lagi.
Marcus bertanya, “apakah orang-orang Kalapa mengenal uang Panggama?”
“Mereka bahkan tak mengenal kain, apalagi uang,” Panggama mulai bisa mencium ketidakberesan pada pertanyaan Marcus.
“Sungguh sulit Panggama. Tiga Serangkai mempekerjakan banyak orang. Orang-orang itu perlu dibayar. Jika pakaian yang kita hasilkan tak dibayar, bagaimana kami membayar pegawai kami?”
Panggama tak mau berlama-lama di ruangan itu. Ia bisa menakar ujung dari cerita ini. Ia pulang ke kediamannya dengan perasaan patah. Marah dan lebih-lebih merasa bersalah.
Julius menimbang-nimbang batang bambu berisi nira kelapa itu. Ia tuangkan sedikit ke gelas. Ia terperangah. Tak pernah ia mencium aroma semanis ini. Ia cicipi sedikit cairan berwarna putih tersebut. Ada rasa pahit yang kuat dengan sedikit kecut dan manis berkejar-kejaran di lidahnya. Penasaran ia hirup habis meniman itu. Julius tersenyum. Ia tertawa. Gelas yang kosong ia isi kembali. Ia tawarkan ke Marcus. Marcus langsung meminum habis. Marcus ikut tertawa. Marcus mengisi gelas yang kosong itu lagi. Gelas ia berikan ke Janus. Janus penasaran. Ia teguk habis isi gelas. Ia ikut tertawa.
Satu purnama kemudian, Panggama kembali ke Kalapa dengan dua kapal. Satu kapal penuh pakaian. Satu kapal yang lain berisi potongan-potongan bambu. Kali ini Panggama tak hanya membawa murid-muridnya. Ia membawa serta juga orang-orang Tiga Serangkai.
Orang-orang Kalapa bersuka cita dengan pakaian-pakaian yang akan diberikan kepada mereka. Hanya saja ketika orang-orang Tiga Serangkai mengatakan bahwa mereka boleh mengambil semua pakaian itu jika mereka menukarnya dengan nira yang mereka punyai, Lantip mewakili orang-orang Kalapa buka suara.
“Tuan-tuan, kami hanya mengambil nira dari kalapa yang sudah tak lagi berbuah. Mengambil nira dari kalapa yang masih berbuah akan membuat kami kelaparan. Kalapa adalah satu-satunya makanan kami.”
Perwakilan Tiga Serangkai tersenyum, “tenang saudara. Kalian tak akan kelaparan. Kalian bisa menukar nira kalian tak hanya dengan pakaian. Di pertukaran selanjutnya kalian juga bisa menukarnya dengan apa pun yang kalian butuhkan. Termasuk makanan. Sehingga kalian tak lagi hanya memakan buah kalapa. Meski kalian tak tinggal di Nagara, dengan menukar nira, kalian bisa makan, minum, dan berpakaian seperti orang-orang di Nagara.”
Lantip melirik Panggama. Panggama mengangguk. Melihat anggukan Panggama, Lantip menerima tawaran dari Tiga Serangkai. Dalam pikirannya, semakin mirip perilaku orang-orang Kalapa dengan orang-orang Nagara, tentu semakin dekat pula apa yang mereka lakukan dengan apa yang Tuhan inginkan.
Tahun-tahun berlalu, sedikit demi sedikit kalapa di Kalapa beralih kepemilikan ke Tiga Serangkai. Seiring berjalannya waktu, apa yang mereka butuhkan agar hidup seperti orang-orang Nagara tak bisa lagi dibiayai oleh nira mereka. Tiga Serangkai selalu menaikkan harga setiap kedatangan mereka. Alhasil orang-orang Kalapa pelan-pelan menjual kalapa-kalapa mereka ke Tiga Serangkai. Kini semua orang-orang Kalapa telah menjadi pegawai Tiga Serangkai. Hidup mereka hampir tak berubah seperti sebelum Panggama datang. Hanya saja kini ketika mereka lapar, mereka tak bisa lagi mengambil buah kalapa, karena pohon-pohon itu bukan lagi milik mereka.
Sementara itu Tiga Serangkai tak lagi berjualan pakaian, mereka juga telah menghentikan pembiayaan untuk Panggama dan misi persaudaraannya. Tiga Serangkai kini fokus memperkenalkan dan menjual nira dari Kalapa ke mana-mana. Janus, Marcus, dan Julius paham, orang mabuk tak butuh pakaian, apalagi Tuhan.