You can’t teach empathy, consideration, and emotional maturity.
i don't do bad sauce passes
One Nice Bug Per Day
Monterey Bay Aquarium
hello vonnie
🪼

⁂
sheepfilms

祝日 / Permanent Vacation

blake kathryn

if i look back, i am lost
Today's Document
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Game of Thrones Daily
d e v o n

No title available
Peter Solarz
Xuebing Du

izzy's playlists!
occasionally subtle

★
seen from Poland
seen from Indonesia
seen from T1

seen from Pakistan
seen from United Kingdom

seen from Italy

seen from Germany
seen from Netherlands

seen from United Kingdom

seen from Spain
seen from United Kingdom

seen from Türkiye

seen from T1

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Morocco
seen from United States
seen from United States

seen from Brazil
@antasmira
You can’t teach empathy, consideration, and emotional maturity.
Ternyata ikhlas dari berbuat baik tak selalu semudah yang selama ini terucap. Bukan hanya tentang tak harap kembali, tapi juga untuk tidak menagihnya pada takdir atau waktu sekalipun. Dan ikhlas itu akan benar-benar dapat diketahui kebenarannya, ketika hal baik yang kamu lakukan justru berhadapan dengan hal kurang menyenangkan yang orang lain lakukan.
Hari itu aku berhenti mengucapkan ikhlas melalui mulut. Tidak terhadap diriku dan perbuatanku, tidak terhadap orang lain dan perbuatan mereka.
©antasmira
Belakangan aku mendengar tentang orang tua bukanlah makhluk yang sempurna—ungkapan yang tak pernah aku dengar di masa kecilku. Pernyataan itu digunakan dengan cara terbaik hingga yang terburuk.
Yang terbaik bagi orang tua yang meminta maaf pada anaknya dan belajar agar situasi serupa tak terulang. Yang terburuk bagi mereka yang meminta kesalahannya dimaklumi dan terus melakukannya seolah tengah melatih hati anaknya menjadi baja.
©antasmira
Lantas, apa cinta yang sederhana itu dapat menemukanku yang sudah terlanjur hidup dalam kerumitan?
Sejak awal, aku terkait dan terikat pada apa yang terasa rumit. Bahkan untuk sesederhana dicintai sebagaimana diriku oleh mereka yang mengadakanku di bumi, aku harus menempuh jalan yang rumit untuk anak seusiaku saat itu.
Rumit itu mulai memiliki jeda ketika aku yang dapat menjadi diriku sendiri di hadapan mereka yang darahnya tak bertaut dengan darahku, lalu menjadi manusia yang seratus delapan puluh derajat dari itu ketika pulang ke tempat yang disebut rumah. Saat itu pertama kalinya aku mengerti tentang cinta yang sederhana sambil tetap berkutat pada rumit.
Lalu ketika aku dewasa, aku memiliki kesempatan untuk berkutat dengan segala yang rumit dan sederhana. Sayangnya, aku belum sempat menemukan titik tengahnya, aku harus kembali menerima bahwa pada dasarnya, rumit itu bukan hanya ada di depan mataku, rumit itu mengelilingiku bahkan mengalir di darahku.
Seperti menjadi waras di antara kehidupan yang gila. Mereka waras, akulah yang gila.
Jika sejak awal, rumit ini bukanlah pilihanku, apa boleh beri aku kesempatan untuk mencari pola sederhana milikku terlebih dulu? Jika saat ini aku belum memiliki ruang untuk menjadi waras, bisakah aku mohon untuk menungguku untuk sedikit lebih waras? Untuk sedikit lebih kembali menjadi diriku. ©antasmira
Orang yang hidup untuk memikirkan dan merencanakan banyak hal untuk orang lain hingga terlalu lelah untuk memikirkan dirinya sendiri memang ada di dunia ini.
Tapi aku tak percaya harus melaluinya dalam dua periode hidupku—sebelum dan sesudah aku menata diriku.
Ternyata benar, ini bukan soal berjalan maju, sesekali rasanya seperti berputar-putar di tepat atau bahkan memulai dari minus.
©antasmira
Tuhan, ampunilah aku bila makna baik yang aku jalani dalam hidupku belum selapang yang Engkau ajarkan.
Ampunilah bila kebaikan yang aku lakukan tidak dengan mengiyakan permintaan, tuntutan dan harapan orang lain kepadaku. Sebab saat itu, aku tengah berbuat baik pada diriku sendiri.
Ampunilah ketika aku memilih, mana kebaikan yang ingin aku lakukan, mana yang enggan aku lakukan. Sebab aku memilih untuk melakukan kebaikan yang tidak aku tagih dalam bentuk apapun kepada siapapun di kemudian hari.
Ampunilah ketika baik yang aku maksud justu menimbulkan kemarahan, kekecewaan dan luka di hati beberapa orang. Sebab hatiku belum sehebat itu untuk membahagiakan semua orang.
Ampunilah aku ketika baik yang melekat di hatiku adalah ketika berbicara semua kesulitan yang sudah jengah aku pendam sendiri. Sebab aku merasa tengah berada di batas kewarasanku.
Tuhan, ampunilah aku.
Aku adalah manusia jahat itu.
Yang akhirnya bertanya pada Sang Maha Kuasa, bisakah orang itu merasakan persis seperti bagaimana ia membuatku merasa?
Payah. Mudah diperdaya. Tidak berharga.
—termasuk sisa rasa yang timbul setelahnya.
Rasa tak cukup atas diriku sendiri dan mempertanyakan kelayakan diriku.
Lalu kamu akan mengerti, mengapa beberapa kesalahan atau luka tak dapat sembuh melalui maaf. Kamu akan mengerti juga mengapa maaf yang sudah terucap dan diterima, tak lantas membuat relasi atau situasi kembali seperti sebelum kesalahan terjadi atau luka tercipta.
Bukan tentang maaf yang tidak tulus atau lawan bicaramu yang bukan pemaaf, karena setiap orang memproses luka mereka dengan cara dan kecepatan yang berbeda. Beberapa orang membutuhkan jeda yang begitu panjang, ketika beberapa yang lain dapat melupakannya dalam sekejap. Dan tidak pernah ada nilai benar atau salah—hanya manusia yang sedang menjadi manusia.
Karena yang ada dalam kendalimu adalah meminta maaf ketika melakukan kesalahan atau melukai orang lain, namun seberapa banyak maaf itu dapat membayar luka, itu menjadi kendali orang lain.
Maaf itu tetap harus tulus, bukan sekedar memenuhi ekspektasi sosial. Maaf semacam itu yang akan membuatmu jauh lebih berserah atas seberapa jauh sebuah relasi akan kembali merekat. Bahkan ketika maaf itu tak merekatkan apapun, atau tak bisa membuat relasi itu persis seperti dulu, tulus dari maaf itu akan membuatmu legawa—sangat legawa.
Suatu hari, jatuh cinta menjadi perasaan paling menakutkan ketika aku menemukan diriku sebagai seseorang yang benar-benar meletakkan seisi hatiku pada apapun yang aku cintai.
Apakah cepat dan lambat memiliki nilai yang sama dengan baik dan buruk atau benar dan salah?
Manusia sepertiku, yang lebih percaya pada gaduh dan rumit. Sepertiku, yang tatapannya tajam dan tenang, namun seisi kepalanya riuh dan gelisah. Sepertiku, yang tetap menganggap hidup ini indah dan baik, padahal pagi diawali dengan menghadapi manusia yang tak paham isi kepalanya sendiri, siang menghadapi dunia yang aku butuh untuk melanjutkan hidup, sedangkan malam, hati dan pikiranku yang terus berjaga—bahkan ketika tubuhku telah menyerah.
Manusia sepertiku yang kadang berpikir, sebenarnya terbuat dari apa diri ini?
Sebelum hati dan kepalaku sekeras ini, aku pernah menjadi lembut dan tenang. Aku harap dapat lekas kembali pada diriku yang itu, meski sayangnya tidak dalam waktu dekat.
Banyak.
Misal, kamu yang menjalani masa kecilmu untuk keliru dan tumbuh menjadi dirimu. Sementara aku dituntut untuk selalu sempurna dan tidak boleh keliru.
Misal, kamu memiliki keyakinan bahwa ayah ibu mu adalah ruang paling aman bagimu menjadi dirimu. Sedangkan aku menyembunyikan banyak bagian diriku yang tak ayah ibu ku harapkan.
Atau dalam percakapan ini, mungkin kamu meyakini bahwa cinta semestinya membuat kita yakin kita pada pernikahan. Tapi bagiku, cinta dan pernikahan adalah dua hal yang berbeda. Karena realitanya, banyak pernikahan yang di dasarkan cinta justru berakhir menyakiti satu sama lain.
Perbedaannya banyak. Makanya setelah aku tahu kamu mengetahui perasaanku terhadapmu, ketika kamu memintaku menemuimu, aku tak sedikitpun berjalan ke arahmu. Aku justru mencari jalan yang tak perlu berpapasan denganmu.
Mungkin itu kenapa, aku masih tinggal dalam perasaan terhadapmu. Sementara kamu nampak baik-baik saja.
©antasmira
"Apa kamu benar-benar paham apa yang terjadi setelah pernikahan? Kamu akan hidup dengan orang itu selamanya. Selama sisa usia yang kamu punya. Dan selamanya, tidak selalu tentang rasa cinta yang manis, melainkan juga perbedaan dan perdebatan." percakapan aku dan sahabatku mulai menyelam.
"Aku selalu yakin keputusan itu—pernikahan—tidak dapat dibuat dalam satu malam. Karena selamanya adalah waktu yang sangat panjang pada kehidupan yang singkat ini." tambahku setelah kalimat panjang sebelumnya.
"Itu mengapa, yang kita butuhkan adalah laki-laki yang membuat selamanya dapat menjadi nyata. Bukan yang mengalah pada setiap perbedaan dan perdebatan, tapi yang dapat menemukan titik tengah paling realistis yang dapat kita sepakati." kali ini sahabatku angkat bicara—bersamaan dengan itu kami tersenyum menemukan isi pikiran kami yang bersahutan.
"Juga pada hari dimana kita bahkan tidak mengenal diri kita sendiri. Ketika tidak ada satupun upaya yang berakhir baik. Kita butuh laki-laki yang tidak menilai kita sebagaimana orang lain dan dunia melihat kita. Melainkan yang tetap menjaga dan ada di sisi kita. Karena itu juga yang akan aku lakukan ketika dunianya tak baik-baik saja."
"Itu baru sebagian kecil dari selamanya." sahutku diantara banyak kalimat yang sulit kurangkum.
"Mungkin itu mengapa kita tidak terlalu tergesa-gesa." tawa menggema diantara kami, setuju pada apa yang ia katakan.
©antasmira
Bahkan lahirnya pagi yang tenang bermula dari banyak kegaduhan yang akhirnya menciptakan titik temu.
©antasmira
Aku pikir, seiring waktu berlalu, hidup akan berjalan semakin mudah. Tapi,
Mulanya yang paling rumit adalah soal tumbuh gigi, belajar merangkak dan berjalan. Lalu semakin rumit ketika berhadapan dengan belajar membaca, menulis dan berhitung. Tambah rumit ketika berhadapan dengan fisika, kimia dan sosiologi. Lalu entah apa yang terjadi tiba-tiba aku harus berdiri di atas kakiku sendiri, tanpa memiliki bahu untuk bersandar selain bahu sendiri.
...nyatanya semua menjadi semakin rumit dan jauh lebih rumit.
©antasmira