Tetaplah waras walau semesta berkali-kali bikin gila.
- Sastrasa

seen from United Kingdom

seen from Italy
seen from France
seen from United States
seen from United States
seen from France

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Angola

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from France
seen from Netherlands
seen from China
Tetaplah waras walau semesta berkali-kali bikin gila.
- Sastrasa
Tiba-tiba.
Dari sekian banyak hari yang menyenangkan, hari-hari muram tetap saja menjadi yang paling diingat. Entah karena tidak pandai berpuas hati, atau kita ini memang senang sekali meng hiperbola kan kesakitan-kesakitan.
Dari sekian banyak kesakitan-kesakitan yang hadir dan tanpa bisa dipilih, hal yang selalu paling bisa menyerang ke ulu hati adalah sebuah “ketiba-tibaan”.
Tiba-tiba pergi,
Tiba-tiba menghilang,
Tiba-tiba tidak ada kabar,
Tiba-tiba tiada.
Ketiba-tibaan dan ketiadaan adalah sebuah keniscayaan. Menikam dan menghujam dengan ganda, dan seringkali menyisakan dada yang sesak seolah-olah oksigen mendadak sangat mahal untuk digapai.
Bukan hidup namanya kalau sesekali tidak bajingan. Berulang kali bertanya meski sudah jelas tidak ada jawabannya; apapun yang hilang, terlebih secara tiba-tiba, mendadak. Kita tidak pernah benar-benar siap.
Kau yang setengah gila, mencintai aku yang setengah waras.
Ada saat dimana kita perlu pura-pura budeg (a.ka.tidak mendengar) supaya tetap waras dan kuat.
Biarlah yang lain berspekulasi, karena sebaik-baik yang mengetahui adalah Yang Maha Tahu, dan sebaik-baik penyanyang dari semua penyayang adalah Yang Maha Penyayang.
Semoga keadaan ini segera berlalu dan kita menjadi lebih baik, lebih ceria, lebih sehat
MELIHAT TEPAT DARI ATAS DANAU
Kejam. Menunggunya yang sedang meratapi rumah yang tak lengang, hangat, dan nyaman. Kisahnya ditertawakan teman. Pendapatnya disangkal oleh mereka yang mengaku waras. Di penghujung malam, lelap tak kunjung menyelimuti. Ada balas yang ditunggu walau sekedar pernyataan baik-baik saja. Hilang semua yang sore itu penuh rangkul. Kesendirian adalah tanda tanya bagi rasa bersalahnya.
Sudahkah kau makan segenggam janji yang penuh kepalsuan? Sudikah kau memohon ampun pada kebodohan yang kau tata dan idam-idamkan? Maukah kau pergi dari tatap yang tajam dan menghujammu ke bumi? Sedang aku masih menikmatimu yang disakiti setiap inci pilihan tololmu. Enggankah kau untuk terus memanggilku si gila?
Di ufuk kemaslahatan yang terawang, kau bilang siap menjadi petani yang paling subur lahannya, paling baik hasil panennya, paling mahal harga jualnya. Yang kini kulihat adalah rangkul dengkulmu di lahan paling kering, pohonnya tak kunjung tumbuh, apalagi harga jualnya yang tak seorangpun sudi meludah ke arah sana.
Pesta pora berantai yang berangsur sepekan kurang adalah bukti bahwa inginmu semua orang merayu, namun yang terjadi adalah kau melayu.
Mata sembabmu itu kenapa? Kau dihabisi pingkal yang bahagia ya?
— Bandung, A.
SABDA
Siapapun yang tidak pernah menikmati sore dengan berjalan di bawah naungan senja, kalian tidak akan pernah mengerti betapa menyenangkannya jadi bayang daripada disayang.
Kalian bodoh, atau akulah yang tak waras.
— Bandung, A.
Menjaga Kewarasan
Kadang bingung juga sama manusia yang tidak masuk akal. Jadwal jaga mau dirombak malah ngide sekalian nggak usah ada yang ngisi di satu jadwal. Kan plenger tuh.
Satu saja yang harus dijaga, kewarasan. Yang penting jangan ikut plenger juga deh
Jalan jalan bukan berati ngga ada kerjaan tapi melepaskan rasa stress dari semua tekanan. Biar menjaga kewarasan