Sudah tidak lagi penuh rasanya

roma★
Lint Roller? I Barely Know Her
will byers stan first human second
Mike Driver
No title available
$LAYYYTER
Keni
h
trying on a metaphor

★
Xuebing Du
I'd rather be in outer space 🛸
EXPECTATIONS
The Stonewall Inn
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
TVSTRANGERTHINGS

tannertan36
wallacepolsom
One Nice Bug Per Day
ojovivo
seen from Finland
seen from Georgia
seen from Netherlands

seen from Australia
seen from United States
seen from Croatia
seen from Lithuania

seen from Türkiye

seen from New Zealand
seen from Finland
seen from Lithuania
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from Vietnam

seen from Malaysia
@aozorazen
Sudah tidak lagi penuh rasanya
Semua seperti nangkadak. Capek sendiri kan. Udahlah.
Bahagia itu kita yang ciptain. Apapun itu bersandarnya sama Allah, ceritakan dan kembalikan padaNya. Bahagia dan bersyukurlah :")
Dari Nol
Pernah nggak dalam hidup, Allah menempatkanmu dari awal lagi. Dari titik nol. Takdir-Nya mengantarkanmu pada keadaan, dimana kamu harus memulai segala sesuatunya lagi dari awal. Dan itu, terjadi saat usiamu tak lagi semuda dulu, mungkin sudah menjelang tiga puluh, bahkan mungkin sudah tiga puluhan atau empat puluhan? Kita ditempatkan di sebuah keadaan yang membuat kita bertanya-tanya. Bahkan, mungkin menyangsikan kemampuan diri sendiri. Padahal, justru dititik itulah kita diajarkan dengan keras untuk tidak terlalu mengandalkan diri sendiri.
Mudah bagi Allah untuk berkehendak, mudah bagiNya untuk membuat kita ada dalam keadaan tertentu. Tapi, di keadaan itulah kita semakin menyadari kalau rencana kita takkan berarti apa-apa tanpa keridhaanNya.
Mungkin, diantara kita ada yang harus memulai karir dari awal lagi. Mungkin, diantara kita ada yang harus memulai hubungan (untuk mencari pasangan hidup) dari awal lagi. Mungkin, diantara kita ada yang harus mengubah keputusannya, dari awal lagi. Dan banyak hal lain yang mungkin terjadi di hidup kita masing-masing.
Untuk bisa melewati keadaan ini, tenangkanlah hati. Tenangkanlah diri. Karena hidup ini tidak serta merta gagal hanya karena tidak sesuai dengan rencana kita. Yang gagal hanya rencana kita, bukan hidup kita.
Saat ini, kita sedang berjalan di atas rencana terbaik, ialah rencanaNya. KG
Ini tempat singgah. Gak perlu hidup memenuhi ekspektasi kebanyakan. Gak perlu, oke. Gak boleh ditelen semua. Gak boleh, oke. Sayang diri, sayang, suami, sayang keluarga, sayang mental. Oke. Harus sehat, harus bahagia, harus bersyukur, harus berusaha, harus semangat, harus jalan terus, istirahat seperlunya lalu jalan lagi.
Gelap, hujan, jatuh, deras, lengang
Gak suka sama sekali dengan rokok. Beneran.
Simple but 🤍
Hidup
Selain mati, ternyata ada lagi yang paling pasti bakal dihadapi, dia konsekuensi. Dia ada sebab hasil dari pilihan hidup. Hal yang kita pilih dalam hidup, dari banyak hal-hal yang kita hadapi. Basic deh. Rumah kamu lantainya kerasa berdebu, kotor, mulai gak nyaman buat jalan di atasnya. Tapi kamu pilih nanti aja deh nyapunya. Makin lama ditunda, makin kotor lantainya, makin gak nyaman dilihat, apalagi dipijak. Mungkin kayak gitu konsekuensi. Kamu males nyapu, kamu ngerasain kotor.
Baru hal-hal basic dalam hidup. Apalagi pilihan untuk persoalan besar. Yang ada tanggung jawab kita di dalamnya. Konsekuensinya bakal ngelibatin lebih banyak sudut pandang. Selagi kita jadi manusia yang masih punya logika dan rasa, konsekuensi yang hasilnya negatif bakal jadi penyakit kalo gak diterima, dikelola dan diselesaikan.
Makanya, jadi dewasa dituntut untuk gak boleh cengeng lagi. Gak dituntut juga sih, cuma sampai kapan kita harus pusing sama akibat lalainya kita. Stop deh. Pikir dan jalanin solusinya aja.
Butuh banyak tenaga untuk sesekali tidak mengalah. Butuh banyak tenaga untuk melawan ego dengan ego. Walaupun gak nyaman, tapi kadang butuh. Sesekali butuh.
Ada sebuah egois hidup bersama jiwa setiap makhluk berakal
Tidak berbentuk, tapi cukup menjengkelkan jika dia porsinya lebih besar
Kesulitannya, kita tidak bisa mengatasi jika itu hidup dalam jiwa orang lain. Walaupun kesal dalam penerimaan, kita punya hati juga kendali
Luka-luka yang pernah diabaikan ternyata gak berarti sembuh total. Bisa jadi lebih perih kalau dilukai di tempat yang sama. Lalu kamu memilih mengabaikan lagi, dan berharap pulih karena waktu
"Mendekat padaNya, ketika menujunya. Baiknya begitu kan."
Sebuah kalimat yang mengakhiri perdebatan kepala dan hati. Bintang di langit kamarnya mengiyakan, air di sudut matanya menguatkan.
Ia menarik diri dari sendiri, melihat kepada yang banyak. Akankah semua makhluk berakal punya pergolakan yang sama. Atau hanya dia menyiakan dini hari untuk berdebat seorang diri.
Rinai sisa hujan yang panjang menuju maghrib
Sangat lembut, tapi asing diantara pertanyaan-pertanyaan penuh harap
Ada syukur, ada bahagia, ada yang memasang wajah lega juga ada harapan
Harapan adalah kekhawatiran untuk kenyataan yang mungkin bagi mereka tidak sesuai
Setiap harap, baiknya selembut rinai sore ini
Tidak peduli betapa menakutkan hujan dan badai sebelumnya
Nasihat Hari Ini Ada satu nasihat yang benar-benar menjadi pengingat kita sebagai seorang muslim dalam menjalani kehidupan. Agar jangan sampai salah dan keliru dalam memiliki pandangan hidup. Allah telah menciptakan kebahagiaan hidup ada di dalam diri, bukan di luar diri. Sehingga ketika kita menyadarkan kebahagiaan, keberhargaan, ketenangan, keberdayaan hidup di sandarkan pada sesuatu yang ada di luar seperti uang, harta benda, jabatan, banyaknya jaringan, status sosial. Begitu hal-hal itu hilang atau kekurangan, maka hilang semua kebahagiaan, berkdayaan, ketenangan, dan keberdayaan tadi. Berantakan hidup kita. Betapa banyak narasi-narasi yang dibangun di atas trauma, di atas perspektif manusia bahwa agar kita tenang tentang masa depan, harus punya banyak uang. Agar berdaya, harus punya uang. Agar kita merasa bahagia, harus punya ini dan itu. Akhirnya kita menyandarkan semua itu kepada sesuatu selain Allah. Kita lupa bahwa Allah-lah Yang Maha Memberi Rezeki. Dan rezeki itu telah memiliki ketetapan dalam timbangan-Nya. Ketika ada hal-hal dalam hidup hanya dilihat dari mata rasionalitas manusia, logika-logika yang menjebak diri pada pemahaman yang terbatas. Hingga kita lupa bahwa cara hidup kita bukanlah tentang apa yang menurut kita benar dan baik, tapi apa yang menurut Allah benar dan baik. Memang sama sekali tidak mudah untuk bisa menerima semua sekejab mata, tapi mari kita berproses ke sana. Pelan-perlahan membuat hidup kita berjalan di atas landasan dan cara pandang yang tepat. Agar hidup ini lebih tenang, tenang di dunia sekaligus tenang di akhirat.
Memaknai Keputusanmu di Antara Pilihan
Orang lain hanya akan melihat keputusan yang kamu ambil, mereka tidak akan pernah melihat pilihan-pilihan yang kamu miliki.
Sehingga, ketika kita hanya dinilai dari keputusan kita, jangan berkecil hati. Sejatinya mereka tidak pernah tahu struggling-nya kita terhadap pilihan-pilihan yang ada saat itu. Dan keputusan kita saat itu adalah keputusan terbaik dari semua pilihan yang kita miliki.
Mari kita lihat dengan hati yang lebih lapang pada setiap pilihan yang kita miliki. Sebab, dalam hidup ini kita tidak perlu menjelaskan kepada semua orang tentang pilihan yang kita ambil.
Meski dinilai tidak menguntungkan, memilih yang tak pasti, memilih yang sulit, memilih yang nggak ada uangnya, dsb.
Selama kamu yakin sama pilihanmu dan mau sama risikonya. Ambil dan jalanilah, kemudian tutup telinga.
Pada akhirnya, kita perlu percaya kepada Allah bahwa keputusan yang kita ambil lahir dari ilham yang diberikan-Nya. Ada hal-hal yang tidak kita tahu soal masa depan, rasanya mungkin khawatir dan menakutkan. Tapi percayalah, jarak antara kita dengan banyak kebaikan di depan, kadang hanya di masalah keberanian buat mengambil keputusan. (c)kurniawangunadi
Cara Pandang Baru Saat Dewasa
Menuju dewasa yang kemudian melihat kehidupan ini bergeser Point of View-nya " 1. Mulai memahami kalau nggak ada yang terlambat dalam hidup, selama kita masih hidup. Itu adalah takdir terbaik yang kita miliki, kalau kita baru memulainya sekarang karena memang sekarang saatnya, bukan karena kita terlambat. Namun, itulah perjalanan hidup kita. Jadi, jangan takut kalau orang lain udah sampai mana, kitanya baru mulai
2. Belajar untuk merasa cukup. Dunia ini nggak ada ujungnya kalau dikejar. Nasihat terbaik yang kudapatkan di umur 34 ini adalah kalau kita gagal satu dua hal terkait urusan dunia, kita masih bisa ngulang. Tetapi kalau gagal di akhirat, ngak akan bisa ngulang buat memperbaikinya.
Rezeki kita itu cukup, tapi nggak akan cukup buat ambisi dan ketakutan kita akan kemiskinan. Ya Allah, kita berdoa setiap hari biar dikasih hati yang benar-benar terus bisa merasa cukup. Biar nggak hasad sama orang, nggak iri sama rezeki orang lain, dan lebih bersyukur sama apa yang kita miliki sekarang.
3. Pondasi agama sangat penting. Sebagai generasi yang tumbuh di lingkungan yang biasa-biasa aja dalam beragama, dulu di sekolah negeri juga agama tidak menjadi materi yang prioritas. Di umur sekarang dan menjadi orang tua, baru ngerasa banget kalau pondasi agama sedari kecil itu penting sekali sebagai panduan hidup. Agar melihat dunia ini lebih bijak dan prioritas hidup lebih benar dan terarah.
Mungkin itu yang bikin sebagian besar orang tua di generasiku sekarang yang milih anaknya sekolah di sekolah berbasis agama. Sebab di fase dewasa ini, sadar jika pemahaman hidup atas landasan spiritual ini yang benar-benar menyelamatkan diri dari masalah-masalah anxiety (kecemasan), feeling lonely (kesepian), depresi, dan beragam isu kejiwaan lain. Itu yang kurasain.
4. Belajar jujur sama diri. Badan itu pasti punya sinyal tertentu sebagai respon terhadap situasi/hal yang lagi jadi beban pikiran. Jangan sampai dzalim sama diri sendiri karena hal-hal yang sebenarnya bisa diputus tapi tetap dipertahankan karena rasa nggak enakan. Dan berujung pada langganan IGD, obat antidepresan, dan segala macam.
Jangan lupa menolong diri sendiri dengan kejujuran. Dan jangan takut buat minta tolong ke orang lain, ke profesional, dsb. (c)kurniawangunadi