Di Balik Melodi 'Takkan Kemana' dan Sepotong Janji Langit
Di antara detak jam yang memburu dan kepala yang bising oleh ribuan tanya, lagu itu mengalun tenang: ia takkan kemana.
Lalu aku teringat pada sebuah janji yang jauh lebih megah. Janji dari Pemilik Semesta yang tertulis rapi di Lauhulmahfuz. Bahwa apa-apa yang telah digariskan untuk menjadi milikmu, tidak akan pernah tertukar, tidak akan pernah salah alamat, dan tidak akan pernah terlewat.
Kita seringkali terlalu lelah berlari, mengejar dunia yang seolah menuntut kita untuk selalu cepat. Kita cemas pada esok hari, takut tertinggal, dan kerap membandingkan langkah kaki kita dengan lari cepat orang lain. Namun, bukankah bumi ini berputar atas perintah-Nya? Bukankah daun yang gugur pun jatuh atas izin-Nya?
Maka, untuk setiap doa yang masih menggantung di langit, untuk setiap peluh yang belum menemui buahnya, dan untuk hati yang mulai dirayapi ragu... berhentilah sejenak. Tarik napas dalam-dalam.
“Apa yang melewatkanku tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi milikku, dan apa yang ditakdirkan menjadi milikku tidak akan pernah melewatkanku.”
Biar semesta bekerja dengan cara-Nya. Biar Allah menuntun langkahmu dengan skenario terbaik-Nya. Tugasmu hari ini hanyalah melangkah dengan baik, menjaga niat, lalu menitipkan sisanya pada sebaris doa di sepertiga malam.
Tenanglah. Rezekimu, jodohmu, bahagiamu... mereka sedang berjalan menujumu. Mereka tidak tersesat. Mereka hanya sedang menunggumu siap, di waktu yang paling tepat. Karena yang benar-benar milikmu, sungguh, takkan kemana.
Awal baru, 12726.2213.











