wow whatsup tumblr

ellievsbear

blake kathryn
$LAYYYTER

Origami Around

@theartofmadeline
untitled

★
he wasn't even looking at me and he found me
TVSTRANGERTHINGS
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
One Nice Bug Per Day

Andulka
official daine visual archive

tannertan36
𓃗
Game of Thrones Daily
🪼

No title available
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
NASA
seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from Australia
seen from Sweden

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from France

seen from Germany

seen from T1

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Vietnam

seen from Germany

seen from United States

seen from Spain

seen from Germany
seen from United States
seen from Netherlands

seen from United States
@apostro-phe
wow whatsup tumblr
The problem with the idea of 8 hours of work, 8 hours of sleep and 8 hours of recreation as a structure for a day is that it simply can’t work that way. If I’m expected to be at work at 9, then my work day must begin at 7. Allowing myself a rushed experience to wake up and get to work. And I live close to work. So either my recreation or my sleep needs to take a hit, but for some people it could be more. 8 hours a day, 5 days a week as a basis for full time work is honestly unreasonable at that point. Because it isn’t actually 40 hours a week, it’s 50 hours a week lost to a job, of which 10 is unpaid.
Terlahir menjadi seorang perempuan adalah musibah besar, kamu harus siap menghadapi apapun, termasuk kodrat perempuan yang selalu salah dalam hal apa saja, kamu berjalan sendirian pada malam hari, kamu salah. Kamu memakai pakaian terbuka, kamu salah. Kamu memakai pakaian tertutup, kamu salah. Kamu diperkosa dan dilecehkan, tetap kamu yang salah. Kamu mempercantik dirimu, kamu salah. Kamu merokok, kamu salah. Kamu memilih untuk sendiri dan tidak menikah, kamu salah. Kamu punya tubuh indah, kamu salah. Kamu punya tubuh kurus dan gemuk, kamu salah. Kamu pendek, kamu salah. Kamu berambut keriting, kamu salah.
Sudah jelas kan? Menjadi perempuan adalah sebuah kesalahan yang mutlak.
Aku siapkan 100 pisau untuk membunuhku. Tapi kau pilih menyapa sebagai senjatamu
Sengaja ku cepat hapus setiap story yang aku telah unggah. Sebab aku tak begitu peduli pada jumlah pasang mata yang melihat unggahanku, aku tak begitu peduli pada nama-nama yang senantiasa ada untuk melihat apa yang aku unggah. Asal ada namamu, asal telah dilihat oleh kamu.
Aku merasa cukup.
— Arief Aumar Purwanto
middle schoolers complaining about how stressful school is
“Bagaimana kau bisa kuat dan sesabar itu? - Aku membangun pagiku dengan sakit dan menyelesaikan petangku dengan kecewa, hal-hal itu tak pernah terungkapkan”
—
Marry someone who wakes you up at 2am with sex.
“I know you aren’t going to break my heart but I’ll end up heartbroken anyway most guys have only wanted me for a night and I can’t understand why maybe they wanted to fuck the girl who could fuck with their head or maybe they just wanted to be called the first one or maybe they just needed another body but you, you don’t want any of that but hell you don’t even want me you’d rather i disappear from the face of this planet and even then we are friends trust me i want nothing more than that but just for once i want to live in the illusion that i am important, not just my body or my head but my being”
— just give me that for a moment and i’d go away happily // justscribbledwords (via justscribbledwords)
foresthiiisdrive
“Dan saya tekankan satu hal di kepala kalian, wahai komentator yang terkadang berlagak jadi Tuhan: pulang kerja larut malam bukan berarti jual diri. Nggak berkerudung belum tentu akan masuk neraka. Memilih Agamanya sendiri belum tentu kafir. Bertanya “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana” bukan berarti kami bodoh. Kami belajar. Kami bekerja. Tanpa embel-embel perempuan atau laki-laki.”
— Selamat Hari Perempuan! Mari tetap saling menghargai. (via penyeduh)
semestinya ada yang lebih perlu dirayakan daripada memperingati hari jadi saya dan kekasih saya, tapi hari ini saya memilih sedikit norak untuk menuliskan ini sebagai sebuah perayaan. Tepat setahun yang lalu, menjelang enam petang di parkiran kampus, dengan gugupnya saya mengutarakan perasaan saya kepada kurnia, jangan tanya bagaimana skenarionya, duduk di bawah pohon talok, dengan hati berdebar-debar saya menyodorkan hp saya kepadanya agar dia melihat notes yang berisi tulisan yang sudah saya tulis sebelumnya, saya berani taruhan mungkin hanya laki-laki macam saya yang mengungkapkan perasaannya dengan cara yang sangat tidak berkelas seperti itu.
Seminggu setelahnya, saya tidak bisa tidur, bak setya novanto yang setiap detiknya harus waspada jikalau sewaktu-waktu dia kena “sliding tekel” KPK. Ini serius, saya tidak percaya akhirnya bisa punya kekasih, kuota internet saya selain untuk ngoceh di line dan di tumblr guna menyebarkan kesedihan, akhirnya bisa juga untuk yang-yangan, sambat kalau diare karena makan geprek, janjian sarapan bubur ayam syarifah dan masih banyak hal lain, tentu saja dengan kekasih saya.
Sebetulnya saya ingin meminta maaf kepadanya, atas ketidakromantisan saya dalam menghadapi waktu-waktu seperti ini, tidak ada makan-makan, datang ke rumah membawakan roti dan seabrek kado, upload foto tentang euforia perayaan dan semacamnya. Bukannya tidak suka, alasan lain setelah karena duit saya yang pas-pas an ini, saya lebih percaya bahwa merayakan berdua dengan hal-hal kecil dan berdoa bersama kepada Tuhan tanpa orang lain tahu bagi saya melebihi level romantis. Tapi sekali lagi, saya memilih untuk sedikit norak kali ini dengan menuliskan ini.
Bahkan di ulangtahunnya lalu, ulangtahun pertama yang dilewatinya bersama saya, dilewatkan begitu ala kadarnya, duduk bersama, berdoa satu sama lain, ngobrol ngalor ngidul perihal apa yang dia inginkan, dan tak ada dokumentasi, kami mengakhiri percakapan hangat dengan senyum dan mengusap air mata harunya, tepat pukul dua siang di kursi pojokan lagani, sebuah warung kopi kesayangan saya dulu.
Celakanya, bagi penulis serabutan macam saya ini adalah orang yang percaya jika mengungkapkan tulisan ketika bahagia adalah sebuah kemustahilan. Merepotkan sekali, saya tidak bisa memilih diksi yang bagus layaknya mereka yang menulis saat patah hati, namun saya tetap bahagia dengan segala kerepotan manusia jatuh cinta.
Saya ingin berterimakasih kepadanya karena telah menerima saya menjadi kekasihnya, sebab pada akhirnya saya mempunyai teman berkeluh kesah yang kadang juga begitu menyebalkan. Saya ingin berterimakasih kepadanya sebab telah memaklumi saya ketika pasangan-pasangan kekasih lainnya tengah membicarakan rencana mereka perihal kebingungan tempat mana yang akan mereka kunjungi esok hari, saya memilih berdebat dengannya perihal bagus mana antara puisi Lang Leav dengan Pablo Neruda, atau lebih memilih mana antara Michael Faudet dengan Octavio Paz. Sebuah obrolan panjang yang mungkin begitu membosankan bagi sebagian orang. Tapi itu membuat saya bahagia.
Saya memilih menuliskan ini untuk merayakan kami sendiri, sebab bagi saya puncak dari jatuh cinta adalah sebuah kata-kata dan barisan kalimat. Dan mereka adalah sesuatu yang tak pernah bisa didefinisikan oleh pelukan hangat usai hari-hari yang begitu melelahkan.
Terimakasih @ , atas hari-hari yang menyebalkan dan juga membahagiakan.
Aku mencintaimu.
“I like how sleeping next to someone means more than sex sometimes, the body’s way of saying ‘I trust you to be by my side at my most vulnerable time,’ you have no defenses when you are asleep, you tell no lies”
— Eric Shaw (via perrfectly)