Bintang itu Kuberi Nama Birru
Apa yang tidak ditunggu dari sebuah kelahiran?, apalagi ini yang pertama. Begitu juga denganku, rasanya tidak sabar untuk bertemu bintang kecilku. Dalam lamunan yang sering berputar dalam kepalaku, terbesit tentang ujian apakah yang akan membentukku, menempaku, atau bahkan bisa membuatku terpuruk. Waktu itu, aku bilang pada-Nya apa saja asal jangan Birruku. Setiap waktu aku mengulang doa-ku, agar Birruku terlahir sempurna. Selama rentang waktu 9 bulan, bintangku sehat-ketiga dokter bilang demikian. Selama itu aku berusaha makan dengan baik, bintangku tumbuh dengan kuat, aku bahkan bisa berangkat kerja dengan beberapa kali berganti transportasi, melewati hujan, dinginnya malam bahkan waktu-waktu yang harus dihabiskan sendirian.
16 Januari 2023, bintang itu lahir dengan mudah, dengan tangis yang menggema, lalu aku memberi ia nama Birru. Aku seperti yang lainnya, bahagia melihat matanya, tangan kecil dan semua detailnya. Setelah 24 jam, euforia kebahagiaan itu berubah jadi kekhawatiran. Bintang Birruku tidak seperti yang lainnya, Ia berkemih namun belum mengeluarkan mekoniumnya. Saat itu aku belum tau kalau itu tidak normal, 24 hingga 48 jam tetap sama. Ia terlihat kemerahan saat kami kira akan mengeluarkannya, tapi itu tidak terjadi.
Saat bertemu Dokter, aku tidak pernah menangis, mendengar setiap diagnosis yang bahkan aku saja tidak tau itu apa, terlalu banyak bahasa medis yang belum aku mengerti tapi aku tahu bahwa Birruku tidak baik-baik saja. Aku pulang tanpa menggendong Birruku, rasa hampa seorang ibu yang pulang tanpa membawa bintang kecilnya yg selama ini ia jaga. Rasanya saat itu sudah tidak sempat menangis, aku banyak membaca jurnal sampai satu Prof yang kami datangi bilang "Ibu dokter juga ya". Karena aku sudah hafal bahasa medis rumit itu, penanganannya dan semua kemungkinan yang akan terjadi pada Bintang Birruku.
Semua dokter bilang bahwa ini adalah Hirschsprung Disease. Saat itu aku hanya ingin Birruku sembuh, tetap hidup dan bersinar. Satu bulan penuh kami berusaha mengeluarkan kotoran di ususnya, dengan alat-alat medis steril yang baru kami pelajari, bukan alat-alat kimia yang lebih aku kenal. Aku tidak pernah menyangka bahwa ini akan terjadi, aku bahkan tidak pernah siap akan kemungkinan terburuk. Aku hanya berusaha agar Birruku nanti bisa melakukannya dengan spontan seperti yang lainnya.
Di usianya yang baru 1 bulan 1/2, bintang Birruku menjalani operasi satu tahap, aku masih ingat penjelasan Dokter Bedah yang H-1 merubah metode dalam tindakannya. Akan ada pembedahan besar di perut kecilnya, yang akan meninggalkan jejak perjuangan. Aku meng-iyakan semua tindakan terbaik yang dokter akan lakukan. Saat itu aku berbisik dalam hati, semoga bintangku bisa melewati ini. Sampai saat ini, aku bahkan bisa mengingat dengan jelas aroma ruang transit itu, aku ingat langkahku yang melambat saat mengantar bintang kecil ini masuk ke ruang operasi, aku ingat banyak dokter spesialis, dokter intern dan perawat khusus operasi. Tidak ada tangis yang pecah, aku yakin bahwa ini akan berhasil, bintangku bisa kembali ke pelukannku.
Setelah operasi Bintang Birruku diawasi 24 jam di ruang PICU. Hanya orang tuanya yg bisa menjenguk. Aku lihat banyak selang yg terpasang, di hidung, mulut pada tubuh kecil yang ringkih itu. Hampir 2 minggu aku menginap di rumah sakit itu. Belajar banyak hal, bertanya banyak hal, dan khawatir akan bayak hal juga. Semua seperti belajar dari awal, terseok dan tertatih. Tapi aku selalu semangat mengejar ketertinggalan itu.
Ternyata jadi Bintang yg Besar itu sulit, tidak ada salah dan benar untuk menjadi Ibu. Semua berjalan sesuai dengan yg diperlukan dan dibutuhkan. Jadi ibu juga tidak ada manual booknya. Hanya.... naluri
Dengan therapy yang aku lakukan 12 bulan, Dokter yang selalu sedia 24 jam ketika aku butuh, banyaknya ruang radiologi yang kami datangi, dan kewarasanku juga tentunya. Aku berhasil melewatinya, Bintang Birruku memenangkannya. Kembali bersinar dan tumbuh dengan baik.
Orang-orang sering bilang kalau tidak ada manusia yang sempurna. Kali ini aku memaknainya dengan berbeda. Dan aku semakin paham debgan kalimat itu sekaligus menenangkanku. Bahwa setiap proses penciptaan manusia tidak ada yang sesempurna pencipta-Nya.