Tak bertegur sapa denganmu, aku tak apa.
Selama masih ada namaku disana, terselip dalam bait-bait doa yang kamu obrolkan dengan Yang Kuasa. Walau kadang ada sesak terasa, tapi aku yakin semua akan baik-baik saja.
Melewatkan hari tanpa berbicang denganmu, aku tak apa.
Berteman dengan kosong yang tercipta. Menjaga tutur kata agar tidak tumbuh asa yang tidak pada tempatnya. Bersusah payah menata rasa agar semua tetap berada di jalanNya.
Tak bertatap muka denganmu, aku tak apa.
Karena pada waktu-waktu yang terlewat tanpa sua, aku yakin kamu disana sedang berusaha. Mengupayakan apa-apa yang kamu bisa untuk menyempurnakan separuh agama. Berusaha menjaga hingga sampai pada waktunya.
Tak menjadi yang nomor satu, aku tak apa.
Tetaplah taat pada Pemilik Semesta. Muliakanlah pemilik rahim tempatmu berlindung sembilan bulan lamanya, selamanya surgamu terletak pada kaki-kakinya. Sempurnakanlah niat hingga tak lagi mengharap apa-apa selain rahmat dan ridho keduanya.
Karena pada akhirnya, tak dibersamakanmu pun aku tak apa.
Kuyakin berbait-bait doa yang pernah kita panjatkan, juga semua jalan ahsan yang kamu dan aku upayakan, insyaAllah menjadi pembuka jalan terbaik, yang lebih baik dari yang kita rencanakan.
Karena pada akhirnya, tak dibersamakanmu pun aku tak apa.
Menunggu kamu dalam diamku adalah yang terindah yang pernah kutahu.
Dalam tungguku untukmu, aku merasa selangkah lebih dekat dengan Rabb-ku.
Walau masih menyisakan ribuan langkah lagi untuk menjadi taat sepenuhnya, ada damai yang samar terasa....
....karena pada ribuan langkah yang tersisa itu, bila pada suatu persimpangan takdir kita bertemu, kamu bersedia memimpinku.
....karena satu-satunya janji yang kamu berikan untukku hanyalah sabar yang tak akan pernah habis untuk membimbingku.