Fenomena Work-Life Balance
Work-Life Balance menjadi topik yang paling hangat dalam ranah Industri, terutama Psikologi Industri. Hal ini dikarenakan fenomena yang terjadi, diperkotaan dengan kepadatan serta roda bisnis yang berjalan cepat, menuntut manusia berlari mengimbanginya. Perlahan tapi pasti, manusia larut dengan pekerjaannya, hingga sampai pada akhirnya melupakan aspek kehidupannya yang lain. Hal ini mengakibatkan kejenuhan, atau hal yang paling parah adalah burnout. Dampaknya, Proses bisnis perusahaan terhambat, minim perusahaan berjalan di tempat, paling parah, mengalami ketertinggalan dalam kompetisi bisnis.
Sisi lain, rutinitas pekerjaan juga pada akhirnya menyebabkan ketidakbermaknaan pada manusia. Rutinitas bagai air yang melarutkan manusia akan kegiatan-kegiatan lain yang menumbuhkan dirinya. Manusia tenggelam dalam tugas-tugas pekerjaannya di kantor, dan mulai melupakan sisi kehidupannya yang lain. Inilah yang disebut Karl Marx sebagai fenomena alienasi. Manusia bekerja bukan untuk berkarya untuk dirinya sendiri, tetapi berpusat semata-mata hanya pada materi.
Jika kita mengamati fenomena yang terjadi sekarang ini sangatlah unik. Kemajuan teknologi dan perkembangan bisnis yang cepat menjadi sentral perubahan gaya hidup, termasuk terkikisnya sekat antara ruang kerja (maknanya bukan ruang kantor dimana kita bekerja, tetapi maknanya lebih kepada work space, dimana manusia berkecimpung dengan urusan pekerjaannya), dengan ruang kehidupan yang lain, seperti keluarga, atau diri sendiri.
Dulu kita bisa melihat, seorang karyawan memiliki waktu kerja nya sendiri, 8 jam kerja berada di kantor atau pabrik, fokus melakukan pekerjaannya hingga selesai satu persatu. Lalu, mereka pulang ke rumah, melakukan aktivitas bersama keluarganya atau fokus memanjakan dirinya sendiri. Contoh yang saya ingat adalah tentang ayah saya. Beliau berangkat kerja, dan seharian bekerja di pabrik, untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ketika waktu sudah menunjukkan sore, Ayah pulang ke rumah. Dan dirumah, Ayah tak pernah sedikitpun membawa “PR” dari kantor. Beliau hanya khusus menikmati waktu santainya, menonton televisi bersama keluarga, atau sekedar membaca buku. Sekat antara ruang kerja, dengan ruang kehidupan yang lain begitu kentara sekali.
Coba kita bandingkan dengan keadaan saat ini. Perkembangan teknologi internet, komunikasi dan komputerisasi mendukung percepatan roda bisnis untuk berputar begitu cepat. Kita bisa lihat, saat seorang karyawan berangkat bekerja, bergelut dengan pekerjaannya selama jam kerja, hingga dia pulang ke rumah dan masih bergelut dengan pekerjaannya. Perlahan tapi pasti, sekat antara ruang kerja dengan kehidupan yang lain semakin terkikis, dan membaur satu sama lain.
Berkaca pada perusahaan start-up & khusunya google, fenomena yang terjadi adalah para pekerja dapat bekerja dimanapun tanpa harus pergi ke kantor. Mereka bisa bekerja ditempat yang nyaman, dan bahkan masih bisa beraktivitas dengan keluarganya, misalnya dirumah. Cara pandang urusan pekerjaan tempatnya di kantor dan di rumah tidak boleh bergelut dengan pekerjaan kantor runtuh. Hal ini diperkuat dengan pertumbuhan generasi sekarang ini yang memiliki kemampuan technological savy yang mumpuni. mereka berusaha menemukan best practice dengan kemampuannya tersebut untuk bekerja lebih cepat, tanpa harus susah payah. Mereka bekerja di coffee shop dengan enjoy, menikmati secangkir kopi, tanpa harus dibayang-bayangi didatangi bos di bilik kerja mereka. Seperti halnya seorang penulis, dia bisa bekerja dimanapun, tanpa harus terusik, karna dirinyalah yang berusaha mendorong agar pekerjaannya selesai.
Saya pikir doktrin work life balance, jika kita mendefinisikannya adalah sebagai keseimbangan antara kehidupan kerja dengan kehidupan pribadi karyawan, agaknya semakin rancu. Fenomena terkikisnya sekat antara ruang kehidupan kerja dengan ruang kehidupan manusia menjadi sebab, bahwa saat ini yang dibutuhkan manusia bukanlah sebuah sistem yang baku lagi kaku dalam bekerja.
Nyatanya, yang dibutuhkan saat ini adalah fleksibilitas sistem dalam bekerja. Seorang pekerja bukan dinilai dengan kehadirannya di kantor, tetapi dengan pekerjaan yang telah dia selesaikan dengan tenggat waktu yang terukur, sesuai target. Pemahaman tentang kedisiplinan dunia kerja adalah bukan check log yang tepat waktu, tetapi sejauh apa kita terus melakukan pekerjaan dan menyelesaikannya dengan baik dan tepat waktu, disertai pertumbuhan ide atau inovasi sebagai tindaklanjut improvement pekerjaan kita. Dan disaat flesibilitas itu muncul, work-life balance tidak lagi jadi tanggungjawab perusahaan, melainkan itu menjadi tanggungjawab karyawan untuk mengatur hidupnya sendiri.