d e v o n
NASA
No title available
dirt enthusiast
almost home
Peter Solarz

JVL
DEAR READER
art blog(derogatory)
hello vonnie

Love Begins
AnasAbdin
Sweet Seals For You, Always
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

❣ Chile in a Photography ❣
RMH
sheepfilms
No title available
Three Goblin Art
Jules of Nature

seen from Spain
seen from United States

seen from Germany

seen from Uruguay
seen from Spain

seen from Germany

seen from Morocco

seen from Spain
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Morocco

seen from United States

seen from United States
seen from Chile
seen from Morocco
seen from United States
seen from United States
@arkaisxyz
UNSUR GERAK TARI JAWA LAMA YANG TELAH SIRNA
Oleh : M. Dwi Cahyono
Ada yang telah menghilang dari tarian Jawa lama di masa kini, antara lain adalah angkatan kaki yang amat tinggi. Demikian tingginya, tekukan kaki pada lutut penari diangkat tinggi hingga diatas pinggang. Konon di Masa Hindu-Buddha, gerakan kaki yang demikian itu bukan hanya dilakukan oleh penari pria, namun tanpa terkecuali dipraktikkan pula oleh penari wanita Jawa masa lalu. Apakah terdapat tinggalan artefaktual, relief candi misalnya, yang memvisualkan gerak tari yang berupa angkatan kaki tinggi?
Gambaran visual tentang gerak tari yang demikian itu kedapatan hadir pada relief di sejumlah candi. Pada percandian di Jawa kedapatan dalam sejumlah panel di Candi Borobudur dan Prambanan dari abad IX Masehi. Serupa itu kedapatan pada beberapa panel relief asal candi Biaro Bahal di Padang Lawas Utara Sumatera Utara dari abad XI Masehi. Suatu gerak tari klasik Nusantara lama yang memperlihatkan adanya pengaruh kuat tari India, yang berpengaruh baik di Jawa ataupun di Sumatra.
Tarian dengan angkatan kaki tinggi tampak dinamis dengan unsur gerak tari besar. Tari ini tak termasuk jenis tarian lembut, yang dirakit dari unsur gerak tari kecil. Dalam beberapa hal, meskipun angkatan kaki penari wanita tak sampai setinggi itu, namun masih dijumpai pada tarian Bali. Sedangkan di Jawa masa sekarang nyaris tak ditemukan lagi. Bilamana unsur gerak tari itu mulai menghilang pada khasanah seni tari tradisional Jawa?
Sayang sekali tidak diketahui dengan pasti, pada relief-relief candi di era Jawa Timuran hingga pasca abad X Masehi gambaran tentang gerak tari yang demikian belum dijumpai, baik di dalam seni arca maupun pada relief candi. Terlebih lagi pada masa Kasultanan Islam di Jawa, unsur gerak tari itu sengaja ditiadakan, mengingat angkatan kaki yang terlampau tinggi menjadikan penari perempuan yang nota bene mengenakan kain bawahan panjang menjadi terlihat auratnya.
Demikian sedikit gambaran tentang dinamika tari di Jawa yang dahulu pernah ada, namun pada masa sesudahnya lantaran adanya perubahan budaya beserta persepsi-persepsinya, maka ada unsur- unsur tari tertentu yang sengaja ditiadakan dengan suatu alasan. Nuwun.
Griyajar CITRALEKHA, 30 Agt 2024
**Jejak Kesenian Topeng Kalipare: Dari Kejayaan hingga Nyaris Punah**
Di dusun Kopral, Sukowilangun, Kalipare, Kabupaten Malang, sebuah warisan budaya bersejarah nyaris terkikis oleh zaman. Topeng Kalipare, kesenian Wayang Topeng yang telah berdiri sejak tahun 1917, kini hanya tersisa dalam kenangan. Abu Yamin, dikenal sebagai Mbah Wiji, merupakan tokoh kunci dalam kelahiran kesenian ini, belajar seni wayang topeng dari Ki Tjondro Suwono di Polowijen, sebelum mendirikan Grup Topeng Kalipare.
Di era penjajahan, Mbah Wiji tidak hanya berperan sebagai dalang, tapi juga sebagai pejuang, menggunakan seni sebagai bentuk perlawanan. Ironisnya, dia pernah mengajari tari kepada serdadu Belanda, menunjukkan seni sebagai jembatan antarbudaya.
Puncak kejayaan Grup Topeng Kalipare terjadi pada tahun 1940 hingga 1950-an, sering diundang tampil di Jawa Timur, termasuk Pendopo Kabupaten. Namun, keemasan ini pudar pasca-kemerdekaan, dengan tahun 1960-an menjadi awal kesulitan, dan pada 1970-an, kesenian ini hanya sesekali tampil, hingga akhirnya hilang. ( Nasai )
Topeng Prabu Ami Luhur
Dari banyak alur cerita Wayang Topeng Malang menyebutkan bahwa Pabu Amiluhur merupakan raja dari Kerajaan Jenggala Manik. Kerajaan ini wilayahnya berada di kaki gunung Penanggungan (sekarang termasuk wilayah Sidoarjo ).
Prabu amiluhur adalah raja yang bijaksana, dan mempunyai putra mahkota yang bernama Panji Asmoro Bangun dan Dewi Ragil Kuning. Kedua putra mahkota ini dalam wayang Topeng merupakan Tokoh sentral dalam pertunjukan dan selalu menghiasi jalannya alur cerita pedalangan Topeng.
Topeng Sekartaji
Dewi Sekartaji adalah putri yang cantik jelita, putri dari Raja Panji Lembu Amijaya seorang Raja Kediri, Karena kecantikannya dirinya di beri gelar “ Galuh Condro Kirono” yang mempunyai arti Bulan yang bersinar Keemasan.
Dewi Sekartaji tak lain adalah permaisuri dari Raden Panji. Hampir semua alur cerita pewayangan Topeng Malang, Dewi Sekartaji menjadi wanita yang diperebutkan oleh banyak kesatria, tak terkecuali oleh Raja Kelono.
Dan ada beberapa nama samaran dari Sekartaji, seperti dalam lakon Panji Laras yang mana Sekartaji mempunyai nama Mbok Rondo Dadapan. Sedangkan dalam lakon Gajah Aboh, dirinya menyamar menjadi seoarang perias pengantin yang mempunyai sebutan Kudanarawangsa atau Undakan Jayeng Resmi.
Topeng Panji
Dalam alur cerita epos Panji yang selalu digunakan saat pagelaran (Gebyak) Wayang Topeng Malang, tokoh Panji mempunyai banyak sebutan atau gelar. Sebutan atau gelar ini berdasarkan alur yang dimainkan saat pertujukan itu. Contoh cerita dengan Lakon Panji Asmoro Bangun adalah Panji yang sedang dirundung asmara dan cinta. Panji Udan, disini Panji mejadi seorang petani yang mengajarkan bagaimana mengolah alam, bagaimana cara bercocok tanam, sedangkan Panji Laras dalam epos panji diceritakan adalah seoarang anak manusia yang berkelana dalam mencari dan menemukan garis keturunan dirinya.
Panji Laras adalah seorang seniman, seorang yang pandai memadukan Gamelan dan mampu menyelaraskan nada, mumpuni dalam merangkai kata-kata dalam bait puisi ataupun musik. Panji Laras adalah seorang seniman yang bisa dibilang serba bisa dan multi talenta. Namun, sebutan Panji Laras dalam keseharian sekarang hanya dinisbahkan kepada seorang penyelaraskan alat music (Larasan) Gamelan saja.
Selain mahir dalam ilmu pelarasan, seorang Panji Laras juga mumpuni dalam ilmu kedigdayaan, dikisahkan di cerita pewayangan, Topeng Panji Laras bisa “merobohkan setan yang menghadang”. Panji Laras mendobrak tatanan kehidupan saat dalam pengembaraan dirinya mencari orang tuanya. Dalam pengembaraan ini Panji Laras ditemani Ayam Jago yang selalu menang tiap diadu, tak terkecuali dapat mengalahkan ayam seorang Raja Kediri, yang setelahnya diketahui adalah Ayah dari Panji Laras sendiri.
Topeng Kelono Sewandono
Raja Kelono adalah seorang Raja dari Sebrang (Kerajaan Rancang Kencono) atau ada juga pedalangan yang mengatakan Kelono bertahta di Kerajaan Bantar Angin, Kelono adalah gambaran sosok yang sakti mandra guna, yang banyak mengalahkan dan menjajah Negara-negara lain termasuk Negara Jawa (Kediri). Raja Kelono Sewandono seorang yang gagah perkasa dengan gelimang harta dan berambisi menyunting Putri Jawa yaitu Dewi Sekartaji, namun niatnya dapat dihalau oleh Panji.
Topeng Udopati Kartolo
Udopati Kartolo dalam wayang Purwo karakternya disamakan dengan tokoh dari Pandawa yaitu Bima putra Kunti. Sedangkan dalam wayang Topeng Malang, Udopati Kartolo biasa disebut Panji Kartolo merupakan seorang adipati dari kerajaan Kediri.
Berperawakan tegab, besar dan gagah, hal ini bisa dilihat dari gerak ragam tarian Udapati Kartolo, yang mana menggambarkan sosok adipati yang trengginas dan gagah berani.
Topeng Dewi Ragil Kuning
Dewi Ragil Kuning adalah adik kandung dari putra Raja Jenggala, yaitu Panji Asmoro Bangun. Dewi Ragil Kuning merupakan putri kerajaan yang rupawan, wajahnya cantik tiada banding sehingga banyak pangeran kerajaan lain yang ingin menyuntingnya. Dalam wayang topeng, Dewi Ragil Kuning juga digambarkan sebagai rembulan yang menjadi dambaan banyak kesatria Jawa dan Sebrang. Hanya Raden Gunung Sari saja yang bisa memikat hati putri nan cantik jelita ini, mereka berdua memadu kasih, menikah dan membina keluarga.
Raden Gunungsari dalam kisah panji merupakan seorang kesatria yang sakti mandra guna, dikdaya tiada tanding, meskipun berilmu tinggi akan tetapi pembawaannya selalu lemah lembut. Raden Gunung sari merupakan putera dari Raja Daha Kediri, mempunyai adik yang jelita yaitu Dewi Sekartaji. Gunung sari diibaratkan adalah orang yang sabar, tegas, rendah hati dan mulia yang sangat tinggi keilmuannya. Topeng dengan dasar warna putih ini mensimbolkan kesucian dan kemuliaan.
Topeng Raden Gunungsari
Gunung sari merupakan tokoh penyelesai konflik dalam lakon Wayang Topeng Malang, dalam setiap perkelahian atau peperangan Kelono Sabrang dan Panji selalu bisa di damaikan ketika Gunungsari datang. Maka tak heran ada istilah "Sari-ne sak gunung" yang menggambarkan ketinggian ahlak sang kesatria ini.
Gunung sari merupakan salah satu tokoh ksatria dari Jawa yang oleh masyarakat Jawa dianggap sebagai identitas yang patut untuk dijadikan panutan. Raden Gunung sari merupakan suami dari dewi Ragil Kuning, perkawinan mereka dalam Wayang Topeng Malang ada dalam lakon Rabi ne Panji dan Sayembara Sodo Lanang.
INFO TERSIRAT PADA TOPONIMI DESA KELAHIRAN "PLANDAAN" : Relief Landak pada Medalion Candi Induk Penataran
Oleh : M. Dwi Cahyono
Nama desa padamana saya dilahirkan, adalah desa "Plandaan" di Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung. Nama yang sama juga kedapatan sebagai nama desa dan kecamatan di Kabupaten Jombang. Toponimi "Plandaan" adalah kata jadian, dengan kata dasar "landak" yang mendapat awalan "pa" dan akhiran "an" (pa-landak-an)". Berkenaan itu, kata "landak" menunjuk kepada : hewan pengerat (Rodentia) yang memiliki rambut tebal dan berben- tuk duri tajam. Hewan ini ditemukan di Asia, Afrika, maupun Amerika. Cenderung menyebar di kawasan tropika. Landak merupakan hewan pengerat terbe- sar ketiga dari segi ukuran tubuh setelah kapibara dan biwara. Anatomi hewan ini agak "membulat" serta tidak terlalu lincah bila dibandingkan dengan tikus.
Dinamai dengan "Plandaan" sangat mungkin dahulu pada kedua desa itu cukup banyak terdapat landak. Binatang ini membuat rumah dalam bentuk lubang di tepi sungai (tanah dekat sungai). Habitat demiki- an kedapatan di Desa Plandaan Tulungagung, yang pada sisi barat dan sisi utara desanya mengalir Kali Ngowo. Lantaran landak konon cukup banyak terda- dat di Desa Plandaan, maka sesuai dengan ekologi setempat desa ini diberi nama dengan mengguna- kan unsur sebutan "landak". Kini landak nyaris tidak terdapat di desa tempat kelahiran saya itu. Namun memori akan keberadaannya disini pada masa lalu masih tersimpan pada toponiminya "Plandaan".
Gambaran visual mengenai binatang landak dida- Pati jejaknya pada relief terpahat pada candi induk Penataran teras I (satu), tepatnya pada relief "medalion" yang berbingkai bundar. Dalam bingkai bundar itu terdapat pahatan berupa ragam binatang. Sebuah diantaranya adalah binatang landak. Indikator kuat yang berupa duri-duri besar, kuat serta tajam jelas tergambar pada pahatan ini. Dengan adanya relief landak terpahat di Candi Penataran yang dibangun pada era keemasan Majapahit (medio abad XIV M), terang bahwa landak telah terdapat amat lama di Jawa.
Sesuai dengan toponiminya, Desa Plandaan meng- ancangkan landak sebagai "ikon desa". Gambaran landak bakal dihadirkan dalam bentuk relief pada sayap dari gapura padhuraksa yang menjadi kom- ponen sisi belakang dari panggung pertunjukan di areal wisata desa di dalam kompleks Balai Desa Plandaan. Semoga kehadirannya menjadi faktor pengingat warga desa ini bahwa binatang landak konon cukup banyak terdapat disitu. Nuwun.
Griyajar CITRALEKHA, 19 Juni 2024
Ancient underwear...
Badhong penutup kelamin arkais.
.
#arkais #archais #archeology #statue #iconography #indonesia #java #tulungagung #mojopahit #arkeologi #antropologia #mooistudioxyz
.
arkais.xyz Yosoft Dwi Cahyono
KEYAKINAN KASIAT "KENDIT" DI PERUT BOCAH : Makna Fetisy Kendit pada Arca Era Majapahit
Oleh : M. Dwi Cahnyono
A. Kendit dalam Sistem Keyakinan Jawa
Dalam kosa kata Jawa ada sebutan "kendit", yang berarti : sabuk, yaitu kain, benang, tali, dsb. yang dililitkan di perut dalam fungsi sebagai pengaman dan pengencang. Stagen (centhing) sering pula di- sebut dengan "kendit". Pada zaman dahulu kendit /stagen biasa digunakani selain sebagai sabuk saat memakai kain jarik/batik, juga berfungsi untuk me- nahan perut agar tak besar atau njemblung. Istilah "kendit" diserap ke dalam bahasa Indonesia, yang secara harafiah berarti : ikat pinggang dr kain, be- nang, dsb. (KBBI, 2002). Dalam artian ini, kendit adalah sesuatu yang melingkar di perut. Sesuatu itu bisa juga garis lingkar warna beda di perut, seperti dalam sebutan "wedus kendit". Unsur sebutan "ken- dit" padanya dikarenakan kambing yang demikian berwarna dasar hitam namun dilengkapi warna putih berupa garis melingkar seperti cincin tanpa putus. Jenis kambing kendit sangat sulit didapat, sehingga terbilang langka. Dalam ritual Jawa, we- dus kendit acap dijadikan binatang korban, seperti tolak balak, sedekah bumi, dsb. Di Bali korban kambing kendit amat bermakna sebagai hewan kurban suci, disebut hewan kurban "caru-ban" untuk menetralasi Wahyabhya (wahyabahya = bahaya).
Sebagai kelengkapan pada tubuh, konon anak-anak kecil pria atau wanita di Jawa diberinya lilitan kendit di perutnya. Biasanya berupa benang Lawe, yakni benang pintal yang tersusun dari serat-serat pendek (Staple), yang dibentuk dengan cara menarik serat- serat tersebut sedikit demi sedikit. Selanjutnya di- beri antihan sehingga menjadi suatu antihan yang berkesinambungan. Sering kedapatan benang lawe memiliki tiga warna, yaitu merah, putih dan hitam. Tiga warna itu diistilahi dengan "tridatu (tri = tiga, datu = elemen, warna)", sebagai lambang Kesucian Tuhan dalam manifestasinya sebagai Tri Murti, yai- tu : 1. Dewa Brahma (Dewa Pencipta), warnanya Merah, 2. Dewa Wisnu (Dewa Pemelihara), warna hitam, serta 3. Dewa Iswara/Siwa (Dewa Pelebur, pralina), warna putih. Disamping itu.benang Tri Datu sebagai lambang Tri Kona, yaitu : lahir, hidup, dan mati, Lawe pada bahasa Jawa berarti : mayat, bang- kai, wangke ada sebutan "tali wangke". Sebutan yang berkenaan dengan lawe diantaranya adalah tali lawe, benang lawe, lawean dsb. Benang lawe diyakini sebagai "jimat keramat (fetisy)", yang mem- punyai khasiat gaib. Bentuknya yang melingkar itu dimaknai sebagai "simpul", yakni penyatuan antara kedua ujung. Ada perputaran energi, baik positif maupun negatif dalam lingkarannya. Sebagai suatu benang suci, lawe juga digunakan dalam konteks ikatan perkawinan, ada pula sebagai penolak bala, seperti terhindar dari penyakit.
Pada masa lalu, benang lawe digunakan sebagai ta- li ikat melingkar perut, yang di dalam bahasa Jawa di istilahi "kendit". Umumnya yang berkendit adalah anak. Benda ini diposisikan sebagai "fetisy (jimat)", yang diyakni memiliki kekuatan gaib untuk menang- kal bala. Terkadang kendit benang lawe dilengkapi dengan rajah, yaitu sekumpulan huruf atau kalimat (yang terpenggal) yang membentuk gambar terten- tu yang dipercayai sebagai kesaktian penyembuh, keselamatan atau pengasihan. Bentuk dan jenis hu- rufnya bermacam-macam, sebagian dapat dibaca dan ada yang hanya berupa huruf saja. Ada yang terkumpul seperti bulatan, kotak, segitiga atau yang semacamnya. Rajah ada yang dimasukkan di dom- pet, dikalungkan, ditaruh bawah bantal atau kasur. Pada kendit, rajah ditempatkan kantong kain kecil dan dikaitkan dengan tali lawe.
B. Jejak Kendit pada Ikonografi Era Majapahit
Bilamana kendit telah dikenal pada masyarakat di Jawa? Tidak mudah untuk menyebut tarikh mutlak (absolud dating)-nya. Sebagai istilah, kata "kendit" telah kedapatan dalam bahasa Jawa Kuna dan Te- ngahan, yang berarti :ikat pinggang (Zoetmulder, 1995 : 489) Kata jadian "akendit" berarti : memakai ikat pinggang, "kebenditan (memberi ikat pinggang pada). Pada wanita, selain kendit terdapat "inding", yakni kain haid. Sayang sekali dari sumber data su- sastra lama tak ada informasi bagaimana tali kendit dikenakan pada anak-anak. Yang kita dapati aluh-aluh adalah pengenaan tali kendit pada perut anak-anak beberapa dasawarsa yang lalu.
Beruntung bahwa diperoleh foto dokumenter yang menggambarkan sebuah arca dari batu tuff (batu putih, batuan piroklastik mengandung debu vulka- nik bergambarkan pria kecil yang telanjang. Pada perutnya terlilit dua tali, yaitu tali melingkar perut sekitar hulu hati dan sebuah lagi melingkar perut dibawah pusar. Tali bawah itu mengingatkan kita pada "tali kendit'. Uniknya, di bagian depan talinya bergantung tiga buah klinthingan (bell), dengan ke- linthingan tengah lebih besar daripada kelinthingan sisi kanan dan kiri. Patung yang beri judul "boy with bell" ini menggambarkan tentang seorang anak de- ngan postur tubuh yang kegendutan dari keluarga menengah, sebagaiman terlihat dari aksesoris yang dikenakan, yang berupa anting-anting (kunda- la) sumping, kalung (haa), gelang tangan (kankana) dan kelat bahu (keyura) serta binggel. Rambut sisi depan dibelah di tengah, serta disisir rapi ke arah belakang dengan bagian pentujung rambut ikal. Ar- ca ini diprakirakan berasal dari Jawa Timur era Majapahit (tahun 1300- 1500 M.). Foto aca kecil (T : 26, T, L : 10,8 dan D : 10,2 Cm) koleksi daru Dr. dan Mrs. David Buchanan No. 1991.199.
Dengan adanya arca ini, tergambar bahwa paling tidak tradisi kendit telah dikenal semenjak masa Majapahit. Tradisinya berlanjut hingga memasuki masa-masa berikutnya, sampai beberapa dasa- warsa lalu. Yang khas dari kendit Jawa Tengahan itu adalah adanya serangkaian kelinthingan bergan- tung pada tali kendit. Hal itu mengingatkan kepada arca Bhairawa era Singhasari, yang diperlengkapi dengan tali hulu hati lengkap dengan rangkaian ke- linthingan. Belum jelas apa fungsi klinthingan pada tali kendit anak tersebut. Apakah sebagai sumber bunyi agar gerak anak bisa dimonitor, ataukan ada fungsi magis untuk penolak gaib.
C. Tradisi Kendit yang Kian Raib
Kini tidak banyak dijumpai anak-anak yang menge- nakan tali kendit. Kalaupun sekarang masih ada yang mengikatkan benang lawe pada organ tubuh, kebanyakan dikenakan pada pergelangan tangan. Nampaknya fungsi magis dari tali kendit telah tak banyak yang mengikutinya. Fungsi kendit dengan media tolak bala kadang tergantikan oleh tali ka- lung, yang bagian tengahnya juga digantungi rajah yang dibungkus dalam kantong kain kecil seperti konon dijumpai pada tali kendit. Fungsi rajah pada tali kendit maupun tali kalung itu bisa jadi serupa dengan fungsi klinthingan yang bergantung di tali kendit.
Konsepsi tentang tali melingkar perut (kendit) dite- rapkan pula kepada binatang korban, yaitu pada wedus kendit, yang dikorbankan antara lain untuk fungsi protektorik. Suatu fungsi religio-magis yang serupa dengan fungsi kendit. Kendit pada masa sekarang telah menjadi fenomena langka, bahkan tinggal menjadi cerita masa lampau. Perjalanan panjangnya semenjak masa Hindu-Buddha nyaris berakhir. Arca batu dari era Majapahit yang ditelaah pada tulisan ini menjadi pembukti bahwa kendit telah hadir di Masa Hindu-Buddha, dalam arti sta- gen, ikat pinggang ataupun tali lingkar perut.
Demikianlah tulisan ringkas mengenai tali kendit masa lalu. Semogga telaah yang bersahaja ini bisa menambah pengetahuan budaya lokal kepada para pembaca budiman.
Salam budaya. Nuwun.
Catatan :
Terima kasih postingan foto pada FB Riyan Dhamma yang ditelaah pada tulisan ini..
Sangkaling, 14 Nopember 2022
Griyajar CITRALEKHA