Hari itu, adalah hari paling kelabu. Mentari di pagi itu tertutup awan, mendung. Tiap dada sahabat terasa sesak menahan tangis kesedihan. Tiada orang yang tidak bersedih hari itu. Bertahun mereka hidup bersaudara, beragam musibah, cobaan, kekalahan dalam peperangan, perjalanan-perjalanan jauh sudah mereka rasakan bersama, aral rintangan, ombak perlawanan dari tiap penentang silih berganti mereka hadapi, kematian keluarga dalam peperangan, kehilangan sahabat dalam kesyahidan, sudah sering mereka jalani. Tetapi rasanya, tiada kesedihan yang lebih mendalam di banding kesedihan yang mereka rasakan di hari itu. Hati mereka bergetar dahsyat ditinggal oleh Sang Kekasih. Ya, setelah sebelas tahun mereka berhijrah, pada hari senin hari kedua belas di bulan Rabi’ul Awal, menjadi hari di mana Rasulullah saw berpulang ke maharibaan-Nya. Beliau wafat di usianya yang ke-enam puluh tiga. Hari itu tercatat menjadi peristiwa paling bersejarah bagi para sahabat menjadi hari yang paling menyedihkan, sekian peristiwa besar dan berat yang penuh tantangan sudah mereka jalani bersama, tetapi tidak ada duka yang lebih besar dari pada duka ditinggal oleh panutan mereka. Jika pada hari-hari sebelumnya, mereka selalu menemukan sandaran tempat kembali ketika berkeluh kesah, maka setelah hari ini, tiada lagi manusia selembut beliau yang bisa menyelesaikan satu-satu permasalahan yang membuat mereka bersedih. Mereka kehilangan sosok yang paling mereka cintai lebih dari ayah mereka, ibu mereka, istri mereka, saudara mereka, bahkan lebih dari diri mereka sendiri. Mereka berduka, karena Rasulullah saw adalah kekasih sejati mereka. Hingga Anas bin Malik ra, melukis kesedihannya; ‘’Tiada hari yang lebih kelam dan gelap, daripada hari dimana Rasulullah saw wafat.” Bahkan kemudian Umar bin Khottob ra, berteriak lantang sambil mengacungkan pedang di tengah gemparnya kaum muslimin karena berita wafatnya Sang Kekasih, “Sesungguhnya ada orang-orang dari kelompok munafik yang menyangka bahwa Rasulullah saw, telah wafat. Sungguh Rasulullah saw, belumlah wafat, akan tetapi ia pergi menemui Tuhannya sebagaimana Musa bin Imron pergi menemui Tuhannya kemudian kembali setelah 40 hari padahal disangka sudah mati, maka Demi Allah! Rasulullah saw akan kembali kepada kita, dan orang-orang yang mengatakan bahwa Ia telah wafat, akan dipotong tangan dan kaki mereka!” Umar menambah keresahan kaum muslimin dengan ancamannya, sungguh ia bertindak seperti itu lantaran besarnya cinta dirinya pada Rasulullah saw, namun kesedihan mengotori hati dan fikirannya hingga ia melontarkan ucapan yang bukannya menenangkan hati kaum beriman, malah membuatnya makin gelisah dengan kebenaran akan kematian Sang Kekasih. Situasi makin runyam, hingga akhirnya datang Abu Bakar Ash Shiddiq ra, menunggangi kuda dari rumahnya kemudian berhenti di depan masjid, memasukinya dan melewati para sahabat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dan akhirnya sampai ke kamar Rasulullah saw. Dilihatnya kekasih tercintanya itu sudah terbujur kaku di pangkuan Aisyah ra. Dibukanya kain yang menutupi wajahnya, ditatapnya dengan penuh cinta, diciumnya keningnya, dan air matanya pun mengalir, Abu Bakar ra, bersedih dengan caranya. Ia tidak berlama-lama dengan kesedihannya. Ia tahu di luar sana orang-orang resah menunggu kebenaran berita tersebut. Ia tahu bahwa harus ada seseorang yang menenangkan situsasi. Ditinggalnya jasad Rasulullah saw. kemudian ia keluar menemui Umar yang terus berbicara di depan khalayak meyakinkan bahwa Rasulullah sw. tidaklah wafat. “Duduklah wahai Umar!” kata Abu Bakar. Namun Umar menolak untuk duduk. Maka ia bersyahadat dengan lantang di hadapan manusia hingga mereka berpaling dari Umar dan menghadap dirinya. Kemudian ia berseru, “Amma Ba’du, barang siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Dan barang siapa di antara kalian yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup, Ia tidak mati!. Sungguh Allah swt telah berfirman; وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡۚ وَمَن يَنقَلِبۡ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيۡٔٗاۗ وَسَيَجۡزِي ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ ١٤٤ “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (Ali Imron: 144) Demi mendengar seruan Abu Bakar yang begitu menggelegar di hati, Umar langsung duduk tersungkur. Ia terisak menangis setelah sadar akan kebodohannya mengira bahwa Sang Kekasih tidak mati. Ya, ia kini sadar, kekasih terdekatnya sudah meninggalkan dirinya untuk menemui Allah swt. Demi mendengar ayat tersebut dibacakan oleh Abu Bakar begitu mendalam di hati para sahabat, hingga Ibnu ‘Abbas berkomentar; “Demi Allah! Seakan seluruh manusia saat itu tidak tahu bahwa ayat itu telah Allah swt turunkan kepada mereka sampai Abu Bakar membacanya!. Maka mereka menerima ayat tersebut dan menyadari kebenaran wafatnya Rasulullah saw.” Perlahan, situasi kembali tenang, tetapi para sahabat tetap sesenggukan menangis. Mereka menangis bukan hanya atas nama cinta kepada Rasulullah saw. tetapi jauh lebih dari itu, mereka menangis atas nama cinta kepada Allah swt. Lewat lisan Abu Bakar, mereka disadarkan hakikat kepada siapa mereka seharusnya mencinta. Cinta mereka memang tulus kepada Rasulullah saw, tetapi ketulusan cinta tidak akan sempurna tanpa menyandarkan cinta mereka kepada Dzat Yang Maha Penyayang. Mereka teringat bahwa Rasulullah saw. bukanlah Tuhan mereka, walau ia makhluk yang paling sempurna. Mereka tersadar bahwa cinta yang sejati haruslah pada Sang Khaliq, bukan pada makhluk. Karena cinta sejati akan melahirkan penghormatan, dan penghormatan akan melahirkan penyembahan. Dan tiada penyembahan kecuali hanya pada Allah swt. bukan kepada siapapun, bahkan kepada manusia yang paling mereka kasihi sekalipun, yaitu Rasulullah saw. Karena Rasulullah saw. manusia seperti mereka, dihidupkan dan dimatikan. Tidak halnya dengan Allah swt. Dzat yang menghidupkan dan mematikan. Yang berarti pula Rasulullah saw. fana, dan Allah swt. abadi. Maka hari ini, di saat fitnah semakin menyerbu hati kaum mukminin, mereka harus makin waspada ketika meluapkan cinta. Cinta mereka tidak boleh terjebak pada ke-fanaan dunia beserta isinya; ayah, ibu, istri, suami, saudara, materi, harta, rupa dan semua dzat maupun sifat yang dekat kita yang semuanya adalah ciptaan Allah swt. Orang beriman harus menyandarkan kecintaan terhadap orang-orang terkasih hanya kepada Allah swt. semata. Karena sungguh, kecintaan berlebihan terhadap sesuatu yang fana tidak akan melahirkan apapun kecuali kecintaan buta, yang di penghujungnya tidak menghasilkan apapun kecuali kekecewaan dan kesedihan pula. Sebaliknya, mentauhid-kan cinta kepada sesuatu yang abadi, tidak akan melahirkan apapun kecuali kekalnya cinta dan kebahagiaan. Karena yang dicintai adalah Allah swt. Dzat Yang Maha Kekal. Cinta kepada Allah swt. akan menghasilkan kata kerja; mencintai keabadian. “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”(Al Qashash: 88) Wallahu Yatawallas Shaalihiin. - basyirun