Mungkin, orang-orang yang kenal aku, atau yang familiar sama tulisanku bakal tahu dan paham kalau aku rada—rada obsess sama hal-hal yang berhubungan sama fate, red string, takdir.. apapun sebutannya. Aku percaya kalau engga ada kebetulan di dunia ini, kalau semua yang terjadi di hidup kita memang udah digariskan terjadi begitu. Orang-orang yang kita temui, tempat yang kita datangi, mereka yang ninggalin kita dan beberapa hal semua memang udah tertulis dan harus terjadi begitu. Mungkin itu adalah satu alasan pertama aku suka drama korea yang judulnya Our Beloved Summer. Alasan keduanya, author webtoon favoritku gambar versi Prequelnya. Sampe rela tetep nonton meskipun episodenya muncul dua-dua di tiap minggu. Selasa minggu ini untungnya episodenya udah dirilis, udah aku tonton juga. Been a while, hyping drama sampe punya konversasi sama salah satu seniorku semasa kuliah. Anyway, aku kasih warning, tulisanku ini bakal plotless dan engga akan teratur. Rasanya kaya melantur dan lagi cerita ke seorang teman aja haha.
Oktober, pictorialnya Choi Wooshik sama Kim Dami muncul di timeline Instagramku. Waktu itu aku mikir, “Lah ini kan si Jayoon sama si Nobleman dari The Witch?!” Pas aku searching-searching ternyata dua aktor ini memutuskan buat reunian sebagai main lead di sebuah drama romance-comedy berjudul Our Beloved Summer. For the summary, Our Beloved Summer menceritakan mantan pasangan yang dipaksa bertemu dan bekerja sama lagi setelah sebuah dokumenter SMA mereka viral. 10 tahun lalu, semasa mereka SMA, sebuah stasiun televisi datang ke sekolah mereka buat merekam kegiatan si siswa peringkat satu—Guk Yeonsu, dan si peringkat terakhir—Choi Ung. Aku engga akan banyak menilai dan mereview Our Beloved Summer, aku cuma akan bahas bagian-bagian favoritku.
Meskipun genrenya romcom, awal series ini dibuka dengan engga manis-manis amat. Tapi tiap episodenya berhasil bikin aku selalu menanti apa yang akan dibawa di episode selanjutnya. Babak awal aku bertanya-tanya apa alasan mereka putus, kenapa Choi Ung pasif agresif banget sama Yeon-Su, apa Yeonsu bener-bener engga terpengaruh sama perpisahan mereka meskipun mereka menghabiskan waktu lima tahun sama-sama. Setiap episode dibuka dengan sudut pandang karakter tertentu, maka jangan bingung kalau ada beberapa adegan yang diputar berulang kali. Dengan adegan yang sama tapi dari sudut pandang karakter lain, kita jadi makin paham kenapa karakter ambil keputusan itu. Dari ketiga sudut pandang—Choi Ung, Yeonsu, dan Kim Jiung, aku bener-bener fond of sudut pandang Kim Jiung, my sad boy. Aku suka bangetttt sama cara dia ceritain sudut pandangnya. Salah satu yang aku ingat waktu dia ceritain betapa bedanya nasib dia dengan Choi Woong meskipun nama mereka hampir sama.
“It was like The Prince and The Pauper, where The Prince and The Pauper has similar names.”
Dan gimana dia cerita soal pertemuan pertamanya sama Yeonsu yang langsung bikin dia jatuh cinta.
“But there’s always a third character in stories like these. It’s obvious. It’s so obvious but.. She was unbeliveably beautiful.”
Terus aku si budak karakter dengan intelejensi verbal was like, “AAAAAAAAKH, KIM JIUNG NOOOOO! YOU DESERVE MORE THAN A ONE-SIDED LOVE!” Dan sejak episode itu aku sangaaat rooting pada karakter Jiung, bukan yang berharap dia memenangkan hati Yeonsu, tapi berharap kalau dia akhirnya menemukan kebahagiaannya sendiri. Lagi pula, dalam Our Beloved Summer ini, menurutku semua yang nonton bakal memutuskan menyayangi semua karakter utamanya. Mereka semua adalah kita. Luka-luka yang ada pada mereka juga ada di aku. Awalnya, aku pikir karakter Choi Ung terlalu sempurna—dia dari keluarga berada, orangtuanya engga menuntut dia untuk pintar, dia cuma tertarik sama buku dan ilustrasi dan itu engga apa-apa, cita-citanya hidup tenang, dia juga pacar yang manis, sampe di Twitter pada bikin ‘Choi Ung is the standard’ haha. Tapi aku engga bisa cinta pada pandangan pertama sama karakternya, karena dia punya kekurangan yang aku benci. Karakter Choi Ung cenderung suka ngomong yang nyelekit kalau dia lagi jengkel, mungkin itu defend mechanismnya. Begitu juga karakter lain, semua punya kekurangan sendiri-sendiri.
Alasan ke sekian aku terpesona sama drama ini adalah soundtracknya. Buset.. setiap scene yang dibarengi soundtrack bikin kita otomatis ingat apa yang terjadi di drama kalau lagi dengar soundtracknya. Sekarang, waktu nulis ini, aku lagi putar playlist Our Beloved Summer dari Most Contents dan kebetulan yang lagi terputar Squabble dari Ha Sungwoon. Di belakang kepalaku udah kebayang scene di mana Choi Ung engga sengaja ketemu Yeonsu di supermarket, ketawa karena kantong belanja Yeonsu jebol, beberapa detik kemudian kantong belanja dia sendiri jebol. Segitunya loh soulmatification di antara dua tokoh utama ini. Awalnya aku udah tegang, takut sad ending, tapi kelingking mereka berdua betulan udah diikat dengan benang merah. Kalau lagi dengar The Giving Tree dari Lee Seung Yoon (favoritku) pasti otomatis kebayang kedatangan ‘The Great Choi Ung’ haha.
Ah, lagiiii yang aku suka. Drama ini beberapa kali akan menunjukkan karakter-karakternya waktu usia 19 tahun, semasa mereka SMA, 10 tahun yang lalu. Nonton drama ini rasanya kaya ngintip diary Choi Ung, Yeonsu, dan Kim Jiung. Aku berasa ikut bertumbuh. Scene-scene yang ditampilkan juga tercermin. Gimana ya jelasinnya. Kaya apa yang terjadi sewaktu mereka usia 19 tahun, terjadi lagi saat mereka usia 29 tahun, tapi kebalik. Semasa SMA Yeonsu sama Choi Ung pernah kabur dari shoot dokumenter—Choi Ung bolos, sedangkan Yeonsu ijin pulang lebih awal. Alasan mereka kabur adalah karena sehari sebelumnya mereka saling mengkonfrontasi dan Choi Ung bilang hal-hal yang menyakitkan ke Yeonsu. Scene barusan engga ada di drama, tapi di webtoon diceritain. Pas kabur ternyata mereka tetep ketemu di perpus, dan Yeonsu ngajak baikan dengan caranya sendiri. 10 tahun kemudian, mereka kabur lagi dari syuting dokumenter, ketemu di perpus lagi, tapi yang ngajak baikan Choi Ung. Akan banyak scene-scene semacam ini kalau nontonnya teliti. Bisa disimpulkan kalau Our Beloved Summer adalah drama korea yang worth banget ditonton berulang kali karena banyak hal kecil yang bisa diperhatikan.
Ada satu scene yang juga kayanya bakal lama aku lupain, scene di episode 8. Episode favoritku!! Scene hujan yang.. HAAAAH cantik bangeeeeeet. Aku engga tahu banyak soal sinematografi, tapi nonton Our Beloved Summer manjain mata bangeeeet. Salah satunya yang di Episode 8, scene hujan. Tiba-tiba Choi Ung datang dari jauh. Dialognya sama Yeonsu memorable banget.
Yeonsu: “What are you doing there?”
Choi Ung: “About why I’ve come to you once again. I must be cursed. You shouldn’t have said that then.”
Yeonsu: “Is it me again? Is it my fault again?”
Choi Ung: “Yeah. It’s you again. I’m sick of it but it is you again.”
Waktu itu aku mikir, “Hah? Gara-gara omongan Yeonsu yang mana?” Jawabannya ada di scene awal episode 8………… writernya jenius.
Kemudian, tidak ketinggalan, yang bikin aku engga bisa lepas dari drama ini meski kadang pegel sendiri lihat dinamika hubungan Choi Ung-Yeonsu-Jiung adalah.. CHEMISTRY AKTORNYA!!!! Kim Dami sama Choi Wooshik aku udah engga ragu lagi karena di The Witch mereka bunuh-bunuhan aja ada chemistry apa lagi harus jadi pasangan. Aktor-aktornya bikin Choi Ung, Yeonsu, dan Jiung beneran hidup.
Terakhir, kenapa drama ini judul aslinya That Year We, ternyata memang semua dijawab di akhir. Waktu dialog ini muncul, dan aku rewatch, I got a little chill.
“Everyone has unforgettable memories from a certain year of their life. They cherish those memories so much that it lasts a lifetime. And our year hasn’t ended yet.”