Day 13 - Kaleido Star dan Mimpi-mimpi
Cerpen Pertama
Wow.. hari ke-13. Aku udah siapin secangkir milo panas karena di Solo dingin abis. Ternyata, laptopku sempat engga mau kerja sama. Setengah jam lebih aku harus sabar-sabaran karena kelemotan laptopku yang bersaing sama aku kalo disuruh bikin prakarya, keliatan banget malas-malasannya. Bahas soal cerpen pertamaku berarti aku harus jelasin soal anime favoritku dan hubungannya dengan karangan pertamaku.
Cerpen pertamaku ditulis pakai bolpen sekolah di buku binder, aku tulis dengan berapi-api sampai menghabiskan dua lembar kertas binder; 1 lembar bolak-balik dan satu sisi kertas lagi. Pemicu pertamaku menulis sesuatu dalam kepalaku, sesuatu yang aku karang adalah anime berjudul Kaleido Star. Anime yang bikin aku rela langsung pulang sehabis tarawih, mantengin tv, rela rebutan dan bertengkar dengan kakakku kalau aku engga berhasil nonton anime ini yang waktu itu ditayangin stasiun tv anak-anak. Di usia itu, aku lagi suka banget sama sesuatu yang engga nyata; novel, komik, anime. Siang pulang sekolah aku langsung mantengin stasiun tv yang sama, nonton Kamichama Karin sama Ultra Maniac, sorenya nontonin Hungry Hearts, malemnya ya ini.. Kaleido Star.
Kaleido Star ini berkisah soal Sora dan orang-orang sekitarnya di panggung Kaleido, panggung sirkus terkenal di Amerika. Pertama kali nonton Kaleido Star, aku sukses megap-megap karena kewalahan menghadapi sensasinya. Aku engga nonton dari episode awal, tapi meskipun begitu aku engga bisa lupa gimana rasanya. Kaya... ada sesuatu yang mengembang di perutku, tiba-tiba aja aku pengen jadi sesuatu, aku engga mau jadi biasa aja, seakan-akan semua mungkin dan pasti bisa. Aku kagum sama artnya, sama sifat Sora yang engga menyerah seberapa besarpun halang rintang di hadapannya. Di kepala anak SD yang belum tahu apa itu masalah orang dewasa, aku begitu ingin jadi dia.
Itulah kenapa aku langsung mengarang tentang perempuan yang jago berdansa, tapi harus merelakan mimpinya karena suatu kecelakaan (AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA PENGEN TERIAK KARENA CORNY ABIS). Aku lupa gimana persisnya plot dan jalan ceritanya, tapi aku yakin waktu itu aku juga menuliskan akhir bahagia. Aku engga suka yang sedih-sedih, seenggaknya aku akan kasih ending yang adil buat tokoh karanganku.
Waktu itu engga ada tuh aku kepikiran bagaimana penilaian orang lain terhadapku, terhadap tulisanku. Waktu itu aku cuma ingin mengarang, berimajinasi, menulis. Jujur kadang-kadang aku kangen Hilda yang itu. Kadang aku menemuinya dengan nonton anime-anime lawas, nonton ulang Kaleido Star (ini baru aku lakukan satu kali di tahun 2020), dengar soundtrack-soundtracknya, menulis bebas kaya anak SD lagi. Engga ada yang lebih membebaskan selain mengenali versi kita yang engga mudah menyerah, yang naif dan engga terlalu peduli dengan apa kata orang. Karena itu aku akan terus menulis. Menghidupkan yang ingin aku hidupkan di kepalaku, persis saat pertama kali aku memutuskan nama tokoh pertama yang aku karang.









