Kapan Lagi Kalau Bukan Sekarang?
Ketika kamu tinggal di daerah wisata, bukan berarti kamu jadi selalu berwisata. Bisa jadi kamu malah enggan karena tiap hari juga kamu melewati tempat-tempat wisata itu, ngesot dikit juga sampai. Tempat-tempat itu hanya jadi bagian reguler dari hidupmu, tidak bikin penasaran, tidak pula bikin kamu terpesona. Biasa aja.
Berbeda dengan wisatawan yang datang dari tempat jauh. Baginya, momen tersebut jarang-jarang terjadi. Di matanya, itu mungkin jadi sebuah pengalaman sekali seumur hidup. Oleh karenanya, ia benar-benar menikmati setiap detik wisatanya, mengunjungi setiap sudut, menghampiri setiap pojok untuk berfoto dan merekam, serta membeli oleh-oleh untuk dikenang. Sebab, mungkin semua itu takkan terulang lagi, kan? Kapan lagi kalau bukan sekarang?
Sama seperti kita dalam menghayati semua pemberian, takdir, dan kejadian atas hidup kita.
Si Penduduk-yang-Enggan-Berwisata adalah aku beberapa tahun yang lalu: Tak menganggap apa yang kumiliki dan kujalani sebagai sesuatu yang istimewa. Toh, itu adalah bagian dari keseharianku yang rutin. Toh, aku tidak perlu berusaha keras untuk mencapainya. Mudah dan dekat sehingga bisa diraih kapan saja.
Misalnya, waktu bersama orangtua. Dulu sekali, aku memiliki waktu setiap hari untuk mendengar ayahku membangunkanku untuk salat Subuh. Aku memiliki waktu setiap hari untuk mendengar ibuku bersenandung sembari memasak. Bahkan, jujur saja, terkadang saking seringnya, muncul rasa enggan untuk mendengarkan kedua rutinitas itu.
Sampai suatu hari, rutinitas tersebut hilang. Aku beranjak dewasa, meninggalkan rumah, dan memulai "petualanganku" sendiri.
Keseharianku berubah. Rutinitasku berganti. Semua yang pernah kuanggap biasa saja kini menjadi istimewa. Semua yang kupikir hanya bagian reguler yang terjadi setiap hari kini jadi sesuatu yang langka. Dan, aku pun mulai menginginkan semua itu terulang lagi.
Menyadari betapa sebuah momen bisa berlari seperti angin: cepat dan tak disadari, aku pun mengubah cara pandangku. Semua yang kudapatkan, kumiliki, dan kujalani di detik ini barangkali adalah pengalaman sekali seumur hidup untukku. Mindful, hadir secara utuh. Sebab, mungkin semua itu takkan terulang lagi, kan? Kapan lagi kalau bukan sekarang?
"Hiduplah di dunia ini seakan-akan kamu adalah pengembara," kata Nabi.
Barangkali karena dengan menjadi pengembara, kita akan menjalani hidup dengan hadir penuh. Kita sadar bahwa tempat yang kita injak hari ini bisa kita tinggalkan kapan saja. Kita sadar bahwa benda yang kita genggam hari ini bisa hilang kapan saja. Dan, momen yang kita lalui saat ini bisa beranjak kapan saja, tak dapat terulang lagi. Karenanya kita pun lebih mudah untuk merasakan syukur atas semua itu. Tidak cemas pada yang belum ada, tak sedih dengan yang sudah tiada.
Jadilah seperti wisatawan. Anggaplah momen yang ada di hadapan kita kini adalah sebuah tiket perjalanan istimewa yang mungkin hanya bisa kita dapatkan satu kali seumur hidup.
Seperti wisatawan, kita benar-benar menikmati setiap detik hidup (dengan takdir baik dan buruk), menghampiri setiap pojok untuk mencari pengalaman (entah kegagalan atau keberhasilan), serta "membeli" oleh-oleh untuk dikenang (semoga berupa amal kebaikan). Sebab, mungkin semua itu takkan terulang lagi, kan? Kapan lagi kalau bukan sekarang?