bertumbuh lalu berpisah, terpisah
tiga empat tahun yang lalu, saya dan teman-teman sepermainan saya baru sama-sama lulus kuliah. saat itu, kami juga sama-sama excited dengan kehidupan pascakampus. satu per satu mulai meniti karier impian, kampus impian, juga ada yang menikah.
setiap ada yang menikah, kami semua heboh. menyiapkan seragam, saling membantu memilih vendor, menyumbang ide konsep pernikahan, mengadakan bridal shower, urunan untuk membuat kado–bahkan piala. begitulah, kami tak ubahnya geng geng persahabatan lain.
tahun berganti dan ritual-ritual itu juga berganti. yang berkeluarga sudah mulai punya anak. yang bekerja sudah semakin sibuk, ada yang jadi tinggal di luar pulau. entah apa yang terjadi, tetapi untuk bertemu rasanya susah sekali. begitu pun untuk saling betukar kabar.
mungkin kita sama-sama mengalami ini. kita punya teman yang sangat kita rindukan, tetapi alih-alih tanya apa kabar, kita lebih memilih untuk melihat feed instagramnya saat kita kangen.
kita punya teman yang masih menjadi teman di media sosial, tetapi saat tak sengaja bertemu di jalan tidak kita sapa karena kita pun khawatir dia sudah lupa kepada kita.
kita punya teman yang dulu bisa dengan mudahnya kita rusuhi, temui, hujani dengan curhatan dan pesan-pesan, tetapi kini hanya berkabar dengan kita setahun sekali, yaitu saat lebaran.
mungin, kita juga punya teman yang diam-diam kita merasa malu, minder, berteman dengannya karena dia telah melejit jauh lebih tinggi daripada kita.
atau, kita juga punya teman yang diam-diam kita “diamkan” di media sosial karena pandangannya terhadap hidup sangat berseberangan dengan diri kita. lalu, kita risih dengan itu.
barangkali, kita juga punya teman-teman yang diam-diam kita anggap bukan siapa-siapa, karena kita merasa bahwa dirinya “hanya” menjadi sesuatu: hanya menjadi ibu rumah tangga, hanya menjadi wanita karir, hanya menjadi pegawai negeri, atau hanya-hanya lainnya.
saat-saat ini mungkin kamu sedang kebingungan bagaimana menentukan sikap terhadap teman-temanmu. percayalah, mereka juga begitu.
mungkin, yang bisa kita lakukan adalah memelihara lingkaran pertemanan kita meskipun itu semakin mengecil. sesekali bertukar kabar, mengucapkan selamat ulang tahun, mengirimi kado untuk momen-momen spesialnya.
mungkin, yang bisa kita lakukan adalah memperluas silaturahmi. mendapatkan teman-teman baru–siapa tahu menjadi sahabat baru.
dan tidak perlu bersedih atas teman-teman yang jalan bertumbuhnya menjadikannya terpisah dengan kita. kita semua bintang yang punya orbit sendiri-sendiri. sekarang, coba ingat-ingat siapa saja mereka. mari doakan mereka.