Kepada Bumi
Bumi, aku tahu bahwa aku tak selalu tampak di pelupuk matamu. Saat terlihatpun, rupaku tak selalu sama. Kadang bersinar sempurna sebagai purnama, kadang hanya hadir sebagian berwujud sabit. Pun seringkali pancaran sinarku padam dan tenggelam, lalu dari kejauhan aku hanya bisa memandangmu secara diam-diam.
Bumi, apakah kepalamu juga seringkali dipenuhi dengan banyak tanya? Tentang kita yang seiya tapi tak sejalan. Tentang kita yang saling membisu dan merajut sendu. Tentang kita yang ingkar pada sesuatu yang sesungguhnya benar. Ah, mungkin perihal itu semua hanya lalu lalang pikiranku sendiri saja.
Bumi, pada awalnya aku ingin kita tak hanya beriringan. Tapi yang sebatas keinginan belum tentu benar-benar diperlukan sekarang, kan? Maka biarlah seperti ini saja, kita berotasi pada poros kebaikan masing-masing. Menjalankan peran dengan sebaik-baiknya dalam menebar makna bagi sekeliling kita. Dan tak lupa untuk senantiasa mengingat Dia yang mencipta kita dan alam semesta.
Bumi, jagalah dirimu dengan penuh. Semoga hatimu selalu teguh dan jauh dari rapuh. Selamat bertumbuh dengan utuh.
-------------------------------
Dari; yang menjadi satelitmu pada tata surya.
















