Huize van Wely's Chocolate Bouchee and Truffles 🙌👌😘
DEAR READER
No title available
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Discoholic 🪩
🪼
NASA
Sade Olutola
Misplaced Lens Cap
Stranger Things
Three Goblin Art

❣ Chile in a Photography ❣

Product Placement
I'd rather be in outer space 🛸
YOU ARE THE REASON
No title available
Claire Keane
occasionally subtle
h

Janaina Medeiros
we're not kids anymore.
seen from Sweden
seen from Italy

seen from Italy

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Hong Kong SAR China

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Brazil

seen from Malaysia
@ayudewie
Huize van Wely's Chocolate Bouchee and Truffles 🙌👌😘
(Warning: This is a quite long review Post) This is Pilmenis from @Spasibo_Russian_Food (SRF). For IDR 25.000, the Pilmenis package consist of 7 Pilmenis, 1 portion of Olivier Salad, 2 pc Russian Pancake, and mayonnaise. This is a Halal version of Pilmenis. In Russia, most of Pilmenis was traditionally made using pork. At least, that was what i've heard from my Russian goodfriend. So, i am grateful that Spasibo Russian Food cook their food with halal version. Back to Pilmenis, the shape was surprisingly not that usual classic round Pilmenis shape (like little UFO hehe) Well, I found so many "little UFO" Pilmenis recipe photos from Russian cooking group that i followed on my Vkontakte/VK. But, i understand Pilmenis shape can comes in many various shape. Later, i am sure i will order it to SRF, but i will request the Chef to make the Pilmenis with that "little UFO" shape 😄 Anyway, Pilmenis package from SRF comes in a bento-like packaging, so its great and convenient. But, yesterday i did transferred the food in to a plate. Simply, because i want to take photos 😁📷 #foodsnapshots Funny things, when i did that simple photo shoot using my Android, My Mom just can't wait to start savoring Mantis and Pilmenis from the other box. And yes, no need to wait to long to hear her voice saying, "This is delicious!" Well, My Mother is a home cook and baker, she understands flavor and rather picky for food. So, after quick snapsnapsnap, i quickly grab one Pilmenis and, yes... it was delicious! Very tasty, indeed. The filling for Pilmenis using blend of chicken (and herbs i guess in decent good amount). These Pilmenis probably still "a family" of Dim Sum only the outside dough is different with thinly Dim Sum dough wrapper, The Pilmenis outside dough wrapper is more thick but still good to chew on. I can see-imo-this Pilmenis definitely have roots from Chinese food. Well, never forget that Russia is an Eastern Europe country. Anyway, i guess for Indonesian people, this Pilmenis will be easy enough to accept. Market demand for this kind of food in Indonesia can growing positively, what the market need is definitely the dedicated sellers, so keep up your good work, SRF! 😊
It was on last February 2015 when--at first time ever in my life, i become curious about Russian food. Searching throughout google but give me 0 result for the active(still open for business) Russian restaurants in Jakarta. From Google, i found out there were -once upon a time- a cute small Russian restaurant in Kemang South Jakarta. But sadly, the business already shutdown maybe around 2013-2014 (not sure for the exact time). Also for that Red Square in Senayan area (close their door in end of 2014). However, the curiousity still on my mind. Luckily, 3 weeks ago i found @SpasiboRussianFood in Instagram. Starting with these Mantis, Pilmenis, Olivier Salad, and Russian Pancake, i am so excited for my another experiences in savoring another Russian food from Spasibo Russian Food. Spasibo! (Read my reviews on separate next posts)
#Repost @ayudewi382 with @repostapp ・・・ Tentang Sweet Karma 💚 @gagasmedia @gagasAddictInd #sweetkarma Salah satu my Chef-buddy, Ched Emril yang sudah menyempatkan membaca debut novel saya, Sweet Karma, belum lama (sekitar 10 hari lalu) whatssap saya dan ujug2 bilang kalau cerita Sweet Karma agak mirip dengan film Burnt yang belum lama rilis. Well, saya menulis Sweet Karma sejak tahun 2012 lalu submit ke kompetisi GagasMedia di pertengahan 2013. My friend also knew that fact. Hmm, cerita Burnt sendiri menurut saya cukup berbeda dengan Sweet Karma, hanya di point tokoh utama- seorang Chef yg arrogant, yang terkesan sama. Tapi, Chef Emril sempat dengan kekeuh bilang : Wi, di film Burnt, karakter utamanya juga akhirnya terlibat relationships-jatuh cinta dengan Sous Chef-nya 😄 Ok, ok... di Sweet Karma juga seperti itu, tapi kalau di Sweet Karma, Sous Chef-nya kan dari Indonesia (yay!) Anyway, yg belum beli dan baca, beli dan baca segeraa yaa😄😄😉 #promo-promo-promo
Winter in south Russia. Got some pretty winter photos from one of my Russian friend. Spasibo🙋 #winterInRussia #winter #Russia #whitedreamy #snow #spasibo
@marijncoertjens Hopes for Sweet Success at World Chocolate Masters
For more photos of Marijn’s chocolates, follow @marijncoertjens on Instagram.
World Chocolate Masters, currently underway in Paris, is the Olympics of chocolate competitions, and chef Marijn Coertjens (@marijncoertjens) intends to earn the equivalent of the gold medal. “I have competed in a lot of competitions, and this world championship will be my last,” he says. “So I have to win.” Born in Belgium, Marijn studied baking and pastry in school, and planned on working in a regular bakery shop in his hometown. But one day he came across a magazine that featured chocolate show pieces, and he immediately changed his course. “I wanted to be a part of the elite chefs of chocolate. And then I wanted to do competitions,” he says.
Check, check. Marijn is now master chocolatier for The Peninsula, a hotel in Hong Kong, and is among the finalists this week competing for the title “world chocolate master.” “Of course being the best in the world is great. If you’re best in the world in chocolate, you’re probably the best in the universe, because you can’t find chocolate on any other planet,” he says. “When I was a kid, I used to admire sport champions. They master a practice until they become the best. So now that I am quite good in chocolate I want to be the best.”
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca debut novel saya 😀 Terharu bacanya dan semoga selalu sehat ya. #SweetKarma #GagasMedia #7DeadlySins #Forgiven #ChefHugo #novel #novelculinaire #Repost @wulanjanisb with @repostapp ・・・ Kembali jadi Novel Addict lagi. Aku bahagia akhirnya bisa kembali menemukan duniaku yang sempat aku tinggalkan. Mulai hari ini, aku mau rajin-rajin berkunjung ke Gramedia buat hunting buku. Recharge semangat. Now baru saja menyelesaikan "Sweet Karma: Ketika Memaafkan Memberimu Harapan" karya @ayudewi382 dilorong rumah sakit, diatas kursi roda. Kebayang gimana seksinya Hugo disetiap lembaran-lembaran cerita yang digambarkan sang penulis di cerita ini. Dan aku jatuh cinta, Chef Hugo Pierre Alexander 💝
Milaya Moya
"Ini kisah yang panjang, Letnan Lev."
Aku menatap lelaki yang duduk di hadapanku, yang menatapku dengan tatapan tajam yang menusuk. Entah kenapa, seolah terasa seperti tatapan Kir dulu.
"Aku punya banyak waktu." Jawaban yang keluar dari bibir tipisnya itu, justru menjadi beban untukku. Kembali mengusik masa lalu yang sudah cukup dalam terkubur, jelas bukan perkara mudah. Aku menghela napas, perlahan. Berharap rasa berat di dada bisa sedikit menguap.
"Apa kau perlu minum dulu? Atau mau sepotong donat? Mengunyah makanan mungkin bisa membuatmu sedikit rileks." Ucapannya kali ini membuatku tertawa pelan, membayangkan manisnya gula tabur yang menyelimuti donat yang lembut. Membayangkannya menyantap di kafe kopi kesukaanku, bukan di ruangan seperti ini.
"Terima kasih, Letnan, untuk tawarannya. Aku tidak apa-apa, meskipun harus aku akui jika berada di ruangan introgasi tidaklah terasa nyaman."
Letnan Lev mengangguk. Kali ini, raut wajahnya terlihat lebih ramah.
“Bulan Januari tahun 2010," kataku akhirnya, memulai awal cerita yang pernah ada. Untaian kejadian yang aku tahu selalu saja membuatku menyesap luka yang terasa sama. Perih. "Saat itu, aku berada di Moskow. Menjadi mahasiswi salah satu universitas ternama di sana. Aku memilih jurusan Psikologi. Aku yakin, kau sudah tahu. Pasti kau sudah memegang semua informasi tentangku.”
"Meskipun aku sudah tahu, semua itu hanya informasi dalam kertas yang tidak cukup menjawab semua kejadian ini."
Aku mengangguk.
"Lanjutkan," kata Letnan Lev kemudian.
Aku terdiam sesaat, dua tiga detik, sebelum akhirnya ingatan semua masa lalu itu mendekatiku dengan segera. "Aku tengah melewati sebuah taman di dekat Universitas, ketika aku melihatnya sedang berada di tengah proses foto iklan sebuah produk. Aku berhenti untuk melihatnya. Entah apa yang membuatnya melihat ke arahku. Mungkin, karena aku begitu lekat menatapnya. Ya, kami saling menatap untuk beberapa saat yang singkat, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk mengalihkan pandanganku dan beranjak pergi dari sana. Aku pikir, hanya sebatas itu. Aku pikir, kami tidak akan bertemu lagi. Tapi, takdir memberi kenyataan yang berbeda."
"Apa yang terjadi?"
"Salah satu Professor yang menjadi dosen pembimbing untuk tugas akhirku, Professor Stanislav ternyata pamannya. Kami bertemu lagi, dua hari kemudian, di ruangan Professor Stanislav. Professor mengenalkanku padanya dan memintaku menemaninya selama di Moskow."
"Kamu menyetujuinya?"
"Ya. Tentu saja. Aku tidak merasa ada yang buruk dengan menyetujui permintaan Professor Stanislav."
"Berapa lama saat itu dia tinggal di Moskow?"
"Seingatku, sekitar dua pekan. Selain mengikuti 5 hari seminar tentang graphic design dari perusahaan tempatnya bekerja di Astrakhan, dia juga mengambil pekerjaan sampingan sebagai model iklan itu. Well, awalnya, aku pikir hanya itu."
"Jadi? Ada alasan lainnya?"
"Ya."
"Alasan apa?"
"Dia menemui Professor Stanislav untuk berobat." "
“Kapan kau mengetahui hal itu?”
"Setelah dia kembali ke Astrakhan. Professor Stanislav memberitahuku. Tapi, aku pikir, semua orang berhak mendapat kesempatan."
"Karena itu, kau tetap menjalin persahabatan dengannya?"
Aku mengangguk. "Saat aku bertemu dengannya, dia berada dalam posisi yang labil. Perpisahan itu, cukup membuatnya semakin terpukul."
"Aku perlu detail, apapun mengenainya, aku perlu detail."
Aku tertawa pelan. "Letnan Lev, jujur, ini tidak mudah. Perlu lima tahun aku sampai di titik di mana aku bisa tidur dengan nyenyak lagi. Selalu perlu keberanian yang teramat besar ketika aku harus membuka semua ini."
Letnan Lev menghela napas dan mengangguk. "Maafkan aku. Aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman. Tapi, penyelidikan ini bisa membantu kami mengenalinya dengan lebih baik. Mustahil kami bisa menangkapnya jika kami buta dengan sifat dan sikapnya dalam bertindak selama ini. Semua suvenir yang ditinggalkannya, tertera namamu. Aku tahu, ini tidak mudah. Semakin cepat kami dapat menangkapnya, akan semakin baik. Kau bisa pulang dan kembali tidur dengan nyenyak. Begitupun dengan diriku."
Aku terdiam mendengar ucapan Letnan Lev: sangat serius, namun sekaligus menenangkan. "Aku akan memberikan semua detail itu, Letnan Lev. Bersiaplah untuk tidak merasa bosan. Karena, seperti aku bilang...ini kisah yang cukup panjang."
Lelaki itu diam sejenak. Meskipun begitu, dia tetap menatapku dengan tajam. “Aku di sini, Nona Milana. Aku tidak akan kemana-kemana sebelum aku dapatkan semua detail tentangnya. Jadi, jangan khawatir. Kau mendapat perhatianku sekarang. Try me.”
(Originally created by Ayudewi. A part of my Milaya Moya-Psychology&dark romance novel)
Hari ini GagasMedia berulang tahun ke 12 :)
Happy birthday, Gagas! Terus bergegas :)
Sweet Karma di Toko Buku Gramedia Pondok Indah Mall 1 Jakarta Selatan
Sweet Karma, debut novel saya akhirnya terbit juga :)
8.212 km of Friendship
Ini sama sekali bukan kisah cinta.
Entahlah bagaimana menjabarkan perasaan di antara kami berdua. Tapi, benar, ini bukan kisah cinta.
Aku mengenalnya tidak sengaja. Melalui dunia maya. Terlalu mainstream untuk ukuran zaman sekarang? Perhaps.
Januari 2015, di minggu terakhir, sekitar tanggal 22 adalah hari di mana aku “menemukannya”. Ada share link menarik di news feed Facebook-ku. Link yang menuju salah satu media berita online lokal dengan isi berita yang cukup membuat dahi mengernyit dengan segera.
Lelaki dari salah satu negara Asia memutuskan terjun dari lantai yang cukup tinggi di sebuah mall di sana karena kecewa bertemu dengan “kekasih” online-nya yang tidak secantik di foto.
Entah harus tertawa, sedih, atau miris saat membaca berita tersebut. Terus scrolling sampai ke bagian komentar, satu komentar justru menarik perhatian saya.
Komentar itu ditulis dari akun Facebook seseorang yang jelas-jelas bukan berasal dari Indonesia. Melihat namanya langsung mengingatkan akan negara terbesar di dunia. Ya, Rusia.
Saya tergelitik dengan komentarnya yang cukup menarik. Menurut dia, lelaki yang bunuh diri itu bodoh karena wanita tersebut jauh lebih cantik di foto asli daripada foto akun sosialnya.
Well, saya setuju.
Foto wanita itu di akun sosialnya memang terlihat terlalu over make up dengan style Barbie-barbie an gitu lol Sedangkan foto aslinya terlihat natural seperti layaknya wanita pada umumnya yang memiliki inner beauty dari dalam diri.
Karena merasa sepaham, saya pun memberi balasan komentar di situs berita online tersebut, menanggapi komentar lelaki asal Rusia tersebut.
Malamnya, saat pulang kerja dan sudah bersiap-siap di atas tempat tidur untuk istirahat, saya masih sempat buka akun Facebook dan ternyata ada notifikasi di mana lelaki Rusia itu meng-add aku facebook saya.
Okelah, saya merasa tidak ada masalah, jadi saya terima saja.
Lalu, saya sempat tinggalkan wall post untuk mengucapkan terima kasih dan saya mengingatnya dari situs berita online tersebut. Dia me-reply-nya lalu tidak lama kemudian dia mengirimkan pesan di inbox. As simply as that, persahabatan kami pun dimulai.
Bertukar skype, saling meng-add di akun viber, dan mulai berkomunikasi secara intensif.
Kami murni bersahabat.
Itu yang bisa saya katakan. Dan, hingga saat ini, lebih dari 4000 pesan sudah terkirim di pesan Facebook kami.
Saya memanggilnya Kir dan dia memanggil saya dengan nama depan saya. Dia bahkan bisa melafalkannya dengan baik sekali. Mungkin, mengingat alphabet yang digunakan di Indonesia hampir mirip dengan cyrillic-abjad Rusia, yang mana pelafalan seperti huruf i atau e dibaca sama, tidak seperti dalam bahasa Inggris yang akan berubah bunyi-nya.
Kir ini menarik. Ini yang bisa saya bilang. Dia cerdas, sangat menguasai 3D Design dan mudah mempelajari bahasa. Dia aktif ikut swimming, yoga, dan kelas bahasa Jepang, yang suatu saat baru saya mengerti alasan mengapa dia memutuskan aktif di kegiatan yang sebelumnya tidak menarik minatnya.
Hari-hari dilalui dengan bertukar cerita, entah pekerjaan ataupun sosial pribadi. Kir juga hampir selalu mengirimkan hasil pekerjaannya dan meminta pendapat saya hingga akhirnya kami banyak berdiskusi tentang 3D design dan animasi. Karya-karyanya sangat menarik. Saya melihat hasil karya awal yang masih sangat kasar lalu akhirnya bertransformasi menjadi karya yang lebih smooth. Juga dari desain still hingga animasi. Saya mengagumi kepintarannya, tentu saja. Dan, seringkali dia menyetujui pendapat saya tentang karyanya, meskipun saya selalu bilang bahwa pendapat ini murni dari mata orang awam, secara saya tidak berkecimpung di bidang yang sama dengannya.
Dia juga mengenalkan saya pada beberapa lagu Rusia, juga dari Ukraine. Mengirimkan file mp3 dan selalu bertanya bagaimana lagu tersebut menurut saya. In the end, kami membahasnya untuk sejenak.
Dalam interaksi kami, kami pun membahas banyak hal, mulai dari politik, sejarah, hingga ketertarikannnya pada topik konspirasi, yang mana juga menjadi salah satu topik favorit saya. Juga membahas paham komunis yang mana memiliki sejarah kelam di Indonesia. Dia pun menjelaskan bagaimana saat ini paham komunis sudah tidak diadaptasi oleh kebanyakan young people di Rusia. Kir selalu berkata bahwa dia tahu betapa dibencinya Rusia di banyak negara. Dia bilang, kami bahkan tidak tahu siapa negara yang benar-benar teman dan siapa negara yang bertindak sebagai “musuh dalam selimut” Well, cukup kompleks, pembahasan tersebut. Pada awalnya, saya merasa Kir menyimpam rasa khawatir apakah saya akan berbalik tidak respek terhadapnya karena isu komunis tersebut. Tapi, toh saya bilang hal itu tidak mempengaruhi saya karena saya melihat dia pribadi tidak menganut paham komunis.
Mendengarkan Kir membahas sejarah Rusia saat kami bertemu lewat cam selalu membuat saya tertarik. Saya bisa diam mendengarkan dia sampai ada jeda baru saya bertanya apa yang menarik perhatian saya dan dia akan memberi jawaban yang cukup jelas. Meskipun saat membahas sejarah dan politik, Kir bisa terlihat sangat serius, tapi ketika selesai dia akan kembali pada sifat aslinya yang periang dan senang bercanda. Saya merasa cukup lelah tertawa kadangkala hingga tanpa sadar kami bisa menghabiskan 4-5 jam bahkan pernah hampir 7 jam kami habiskan waktu bicara lewat skype. Ngalor ngidul bersama Kir seolah tengah bermain di Planet Mars; melupakan sejenak semua masalah kehidupan di belakang kami.
Kami pun berbagi kisah love life kami. Dan, saya membiarkan dirinya membahas mantan kekasih 6 tahunnya yang dia akui masih menjadi wanita terbaik yang pernah dia miliki. Hanya saja, Kir memutuskan bahwa satu bagian hatinya sudah pernah mencintai mantan kekasihnya itu dan menurutnya yang akan dia lakukan adalah menumbuhkan satu bagian hati-nya yang lain untuk kekasih masa depannya nanti.
Terkadang, apa yang dia share sangat indah untuk saya. Sebagai penulis pemula fiksi romance, saya selalu merasa mudah jatuh cinta pada kisah cinta orang lain yang meskipun berakhir dengan luka, tetapi pernah ada dengan sangat cantiknya.
Saya bisa merasakan kenyamanan Kir saat berbagi kisah tentang mantan kekasihnya selama 2 bulan terakhir. Dia pun tahu betapa saya menyukai kisah cinta mereka berdua dan saya pun merasa ikut patah hati dengan kenyataan kisah cinta mereka yang sudah berakhir.
Untuknya, mantan kekasihnya yang 3 tahun lebih tua darinya itu adalah tempat pertama setelah Ibunya, di mana dia merasakan cinta. How beautiful is that? “I growth up in her hand, Dewi.” Itu kata Kir pada saya, suatu ketika di tengah perbincangan skype kami. Karena, itulah untuk Kir, meskipun dia tahu saat ini dia sudah berhenti mencintai mantan kekasihnya, tetapi rasa respek tetap ada untuknya. Ini yang saya suka dari pribadinya sebagai lelaki. Dia tidak lantas bicara buruk tentang mantan kekasihnya. Dia belajar untuk mengenali perasaannya dengan lebih bijaksana. Dan, saya mengaguminya untuk hal tersebut.
Dalam persahabatan kami, tentu ada ups and down. Beberapa kali, saya sempat ingin berhenti dari persahabatan kami. Salah paham dan sebagainya kerap menghampiri online friendship antara kami. Tapi, selalu... Kir tidak menyerah. Kami pernah bertengkar lewat kata-kata, tetapi kemudian baik saya maupun dia menyerah dengan melepas ego kami masing-masing. Kami berdiskusi, melihat apa yang salah dan mencari solusi yang sama-sama membuat kami nyaman. Sejauh ini, dia tidak pernah menghilang, tetapi justru maju untuk membahas masalah yang saat itu kami hadapi.
Kami bersahabat, tentu saja ini bukan kisah cinta.
Saya tahu dari kejujurannya bagaimana karena kekecewaannya yang besar yang dia rasa dari perpisahannya dengan mantan kekasihnya, Kir menjadi lelaki tanpa komitmen. Dia aktif berkencan dengan wanita-wanita di sana. Dia tidak melabuhkan hatinya di salah satu dari mereka. Memang, masih terlalu dini untuknya mulai dating lagi. Saat ini, masuk ke bulan ke-7 dia putus dari mantan kekasihnya.
Sehingga, dia selalu bilang dengan tegas bahwa wanita-wanita itu bukanlah kekasihny, tetapi hanya wanita semalam dua malam yang mencari kepuasan darinya. Saya merasa lucu karena biasanya selalu ada dalam posisi terbalik. Kir pernah mengakui pada saya bahwa dia menyadari dirinya yang seperti manusia yang menjijikkan. Saya hanya mampu menjawab bahwa dia bukan manusia menjijikkan, tetapi hanya lelaki yang tengah kehilangan. As simple as that.
Dan, saya selalu bilang padanya, bagaimana saya berharap melihat dirinya kelak setia pada 1 wanita saja. Dia menjawab, tentu saja, itupun yang dia inginkan di masa depannya. Karena, untukknya, dia lebih senang menghabiskan waktu bersama kekasihnya, menikmati makanan yang dimasak kekasihnya daripada pergi clubbing. Ya, jauh di dalam harinya, lelaki ini sangat tradisional. Kir bahkan tidak mengerti dengan wanita yang over feminis sehingga melupakan kodratnya sebagai wanita. Di sisi ini, saya jadi tahu bahwa ada kesamaan kultur yang diadaptasi Rusia dan beberapa negara Asia, seperti di sini. Ya, wajar saja, mengingat Rusia adalah negara yang masuk pada Eastern Europe yang mana dipengaruhi oleh 2 kultur budaya; Asia dan Eropa.
Sejauh ini, saya sudah pernah bertemu lewat skype dengan orang tua dan adik semata wayangnya yang berusia 10 tahun dan sempat berbincang sejenak satu arah dengan ayahnya karena ayahnya bicara dalam bahasa Perancis hahah Beliau nggak bisa bicara dalam bahasa Inggris, tetapi sangat fasih bicara bahasa Perancis. Beliau bicara untuk menyampaikan rasa terima kasih beliau karena saya mengirimkan hadiah berupa baju batik untuk Kir, dress batik untuk ibunya, scarf batik untuk adiknya, dan kain songket untuk beliau.
Ya, Kir memang masih tinggal dengan orang tuanya, lagi-lagi kultur yang dipandang umum di Rusia, seperti halnya di Indonesia. Meskipun dia masih tinggal dengan orang tuanya, tetapi niatnya untuk hidup di atas kakinya kelak, sangat tinggi. Itu yang membuatnya memutuskan akan merantau ke Jepang, tahun depan. Karena itulah dia belajar bahasa Jepang.
Ada hal rahasia tentangnya yang membuat dia aktif mengikuti yoga. ALasannya cukup pribadi, sehingga saya enggan membaginya di sini. Saat saya tahu apa yang dia hadapi, jujur itu melukai saya. Saya mencari tahu lewat goggle selain dari apa yang dia ceritakan. Yang menarik, Kir mengingat pesan-pesan saya. Dai itu pecinta makanan manis seperti saya. Dia juga suka menyantap Nutella dengan sendok langsung dari botolnya, sama seperti saya. Dia suka permen dan cokelat susu. Tapi, belakangan ketika saya tahu apa yang telah dan tengah dia hadapi, saya titip pesan padanya untuk mengurangi makanan manis. Dan, di pertemuan skype kami, dia sempat bilang... ada Nutella di kulkas. Saya bilang, okay kalau kamu mau, tapi jangan banyak-banyak ya apalagi ini sudah malam. Lalu, dia tertawa dan menggeleng dan menjawab : “No, i will try to resist.” Saya tersenyum dan jujur aja, jadi merasa bangga padanya hahaha Dan, dia benar-benar tidak mengambil Nutella, seperti biasanya. Hanya fokus pada teh-nya; minuman favoritnya yang selalu menemani perbincangan kami di skype.
Semalam, kami kembali bertemu di skype. Setelah sebelumnya ada salah paham kembali di antara kami. Satu hal lagi yang membuat saya mengagumi lelaki dengan iris mata abu-abu kehijauan ini, yaitu kalau dia salah dia tidak akan segan-segan minta maaf. Tapi, kalau memang dia tidak salah, dia akan jujur bilang dia tidak salah. Dia bukan lelaki yang akan mengalah hanya untuk ego seorang perempuan. Ini yang saya kagumi juga dari dirinya.
Dalam perbincangan kami, semalam adalah yang pertama kami melakukan virtual hug hahah, sama-sama memeluk layar monitor kami. Meskipun terlihat bodoh, tetapi entah mengapa ada emosi di dalamnya. Kami membahas tentang satu wanita yang dia kencani saat ini. Dia tidak menganggapnya sebagai kekasih dan wanita itu pun menganggapnya hanya sebagai kesenangan belaka. Lalu, saya bilang padanya... “Are you not tired with all that fake feeling and relationship? I know, deep down inside... you are tired, Kir.”
Dia terdiam, tidak lama. Lalu, dia mengangguk dan menjawab, “Yes, Dewi. I am tired.”
Ada rasa haru menyergap hati saya dengan segera. Lalu, saya bilang, “come here, lets hug again.”
Dan, dia pun mendekat. Saya jadi bisa melihat kedua matanya dengan lebih jelas lagi.
Lalu, saya bilang -seolah dia benar-benar ada di depan saya- “I know you tired. But, don’t give up. Never give up. You will meet your future girl friend that will take care of your heart nicely. You will be happy again, so don’t give up.”
Dia mengangguk dengan raut wajah yang tidak bisa saya jabarkan dalam kata-kata.
Kami sempat terdiam untuk sejenak hanya saling menatap dan tersenyum. Seolah, sunyi tidak menjadi musuh, tetapi jadi teman yang mengerti.
Bukan, ini bukan kisah cinta.
Di banyak sisi, kami terlalu berbeda dan kami tahu juga menyadarinya.
Tapi, emosi ini seperti romantisme persahabatan yang mungkin akan terdengar bodoh bagi sebagian orang.
Ada kalanya, saya berpikir tentang persahabatan yang kadangkala terlihat tidak nyata dan tidak mungkin ini. Berapa banyak persahabatn online yang dapat bertahan? Belum lagi menanggapi isu bahwa tidak pernah ada persahabatan yang murni antara lelaki dan wanita. Semakin membuat runyam saja.
Apa yang saya miliki dengannya mungkin hanya akan bertahan sementara saja. Itu sangatlah masuk akal, sementara seperti hidup manusia yang juga sementara.
Apapun itu, saya hanya berharap kebahagiaan sederhana yang selama ini dia cari, kelak menyelimuti sahabat 8.212 kilometer saya ini :)
The cure for my deadline's hungover lol 😍 #Ello #ForeverAmazed #ElloZamanDulu #Perfect #Zestello (at Kodam Bintaro, Pesanggrahan)
Wrote your address in cyrillic fonts was hillarious moment for me. It took almost 15 minutes to write the address lol. The most difficult font definitely the letter "D" that become: Д 😂 But, really... I really like cyrillic. Not because, it is refer also as 'your name' lol but yes, cyrillic is a beautiful and intriguing fonts.
Is it? If the answer is yes, i will buy the bottle everyday LOL #OfCourseNot #Happiness is not inside the #Bottle . Happiness is inside #YourSelf
Thanks to comma. #AttentionToDetail #Editing #Writing #Comma