Unsure
...
Is it a crime to be unsure? In time, we'll find if it's sustainable You're pure, you're kind, mature, divine You might be too good for me, unattainable
....
Sedang asyik-asyiknya scroll Tiktok dan sebuah VT lewat di Fyp-ku menggunakan lagu beserta lirik di atas. Pertama membaca liriknya, saya langsung teringat kepada seseorang yang beberapa waktu ini yah bisa dibilang cukup dekat. Menurut saya cukup dekat hingga setiap weekend, Sabtu atau Minggu atau Sabtu dan Minggu bisa bertemu. Namun, dekat sebagai apa? Nah, itu pertanyaan yang tidak bisa kujawab juga hingga hari ini. Unsure.
Bermula dari berkenalan di dating apps. Kita sebut saja namanya Ardi. Sebenarnya, saya juga sudah lupa alasan saya swipe right waktu profilnya muncul di akunku. Mungkin karena foto-fotonya yang terpajang di profilnya terlihat cute. So, I just randomly swiped right hehe. Pertanyaan yang muncul di benakku sekarang ketika menulis ini adalah "Mengapa dia melakukan hal yang sama? Why did he swipe right my profile? What did he think about me after saw my profile?" Namun, setelah saya pikir-pikir lagi, maybe Ardi just did the same thing like me. He just swipe right randomly. Tapi, masa sih random aja swipe right-nya? Dia pasti membaca dengan saksama keterangan-keterangan yang ada di profilku, selain melihat foto-fotoku di sana. Sudahlah, yah. Baiknya nanti akan saya tanyakan langsung perihal ini.
Kalau dilihat-dilihat tanggal match atau cocok itu sudah sejak tanggal 14 September, sedangkan saya chat dia pertama kali tanggal 21 September. Lalu, dibalas Ardi pada tanggal 22 September. Artinya apa? Yah, kami berdua sepertinya main dating apps ini jika ada waktu luang saja alias gabut. Namun, kayaknya yang jauh lebih gabut dan terlihat lebih hopeless adalah saya karena saya yang melakukan first move atau chat pertama kali. Jujur agak malu, tetapi dibawa chill saja. Syukurnya dibalas jadi tidak hopeless bangetlah ceritanya hahahaha. Chat itu berlanjut menanyakan kesibukan saat ini, seperti kerjanya apa dan di mana. Setelah itu, janjian bertemu di waktu weekend karena katanya Ardi setiap weekend ke Makassar. Percakapan di ruang obrolan dating apps itu diakhiri dengan saling bertukar akun instagram untuk saling mengabari tentang rencana bertemu saat weekend.
Chapter 1 (First Date)
Sabtu, 27 September 2025.
Akhirnya, obrolan di dating apps itu berpindah ke dm instagram. Dimulai dengan saya (lagi) yang menyapa duluan. Syukurlah responsnya bagus dan kita sudah membuat janji untuk bertemu di salah satu kafe yang sudah diperkirakan letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku dan rumahnya Ardi. Sebelum menceritakan pertemuan di hari ini, saya akan menceritakan peristiwa sebelum menuju lokasi pertemuan.
Pada hari Sabtu itu kegiatan saya seperti biasa mengajar di tempat bimbel. Setelah selesai mengajar, saya segera mandi karena mau terlihat segar dan wangi di first date ini, kan. Satu hal yang tidak kusadari di hari itu, saya memakai baju yang biasa-biasa saja dan memakai sandal. Rasanya tidak proper banget untuk first date kali ini. Sebelum berangkat ke tempat bimbel, saya buru-buru dan memakai pakaian yang mudah dijangkau dan tidak ribet. Mudah dijangkau dan tidak ribet maksudnya tidak perlu disetrika karena akan memakan waktu lagi, sedangkan saya takut terlambat. Masalah baju sudah kupasrahkan, eh ternyata saya lupa membawa lipstik. Dalam hati mengutuk diri sendiri. Tahu begini tadi saya tidak perlu mandi supaya lipstiknya tidak hilang. Apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur. Bibir pun sudah jadi pucat. Belum bertemu, perasaan sudah tidak enak. Kepercayaan diri menurun 20%.
Dengan sisa-sisa kepercayaan diriku yang ada, saya tetap mengusahakan untuk menemui Ardi. Sambil dalam hati berdoa mudah-mudahan saya tidak dikira sakit karena bibir yang pucat. Ternyata ia lebih dulu tiba. Bagaimana tidak, saya kan lama karena ribet memikirkan lipstik. Mau singgah beli lipstik, tapi waktu sudah mepet. Lagian juga pekan ini tanggal tua. Dalam hati saya berkata, "Aduh, sisa saldo yang ada ini lebih baik disayang-sayang. Kamu juga harus prepare Ayu, kan belum tahu Ardi ini tipe yang bakal mentraktir makan atau bakal split bill."
Tiba di depan kafe, saya lalu mencoba menge-chat Ardhi di dm untuk menanyakan posisi tempat duduknya. Belum sempat dibalas, saya sudah bisa langsung mengenalinya ketika membuka pintu kafe. Dia duduk tidak jauh dari pintu. Saya masih agak ingat di hari itu dia mengenakan sweater berwarna broken white atau krem muda. Ia duduk sambil mengetik di ipad-nya. Saya lalu mendekatinya dan mengambil posisi duduk yang berhadapan supaya nanti ngobrolnya bisa nyaman. Yang tadinya saya bilang kurang percaya diri karena tidak pakai lipstik, kepecayaan diri itu muncul begitu saja dan saya langsung memperkenalkan diri. Saling menyebutkan nama masing-masing dan mencoba ngobrol apa saja untuk menghindari suasana awkward pastinya karena ini pertemuan pertama.
Saya memutuskan untuk memesan makanan. Ardi juga sempat meminta maaf karena ngobrol sambil menyelesaikan pekerjaan di ipad-nya. Saya santai saja dan tidak mempermasalahkan hal tersebut karena sekarang saya lebih fokus ke rasa lapar. Ternyata malam itu saya lapar karena merasa lelah dan jarak dengan makan siang terlalu jauh. Singkat cerita, saya dan Ardi banyak mengobrol dengan topik beragam. Selama percakapan itu terjalin, saya sambil menyimak. Kesimpulannya, dia cukup menarik dengan segala hal yang dia miliki dan ceritakan di malam itu.
Setelah ngobrol sekitar dua jam, saya memutuskan harus pulang cepat. Ardi terlihat sebagai pribadi yang inisiatif karena dia minta izin mau ke kasir untuk membayar makanan dan minuman kami berdua malam itu. Dalam hati tentu saya berkata, "Alhamdulillah hehe." Sebelum dia pulang, ia menemaniku menunggu goride untuk pulang ke rumah. Sebenarnya Ardi menawari untuk mengantar pulang, tetapi keamaan dan keselamatan tetap menjadi nomor satu. Hal itu sulit terjadi di malam ini karena tidak ada helm untuk saya. Hal berkesan di malam ini selain Ardi menemani sampai driver goride-ku datang, Ardi memegang tanganku sebelum berpisah. Kami menutup malam itu dengan berjanji akan bertemu lagi weekend pekan depan.
To be continued....














