Kamu Jahat!, Jika Mendiamkanku
Baru saja baca artikel tentang kapan saja tahun-tahun yang dianggap bahaya bagi rumah tangga. Misalnya tahun pertama katanya paling bahagia, kemudian tahun yang paling bahaya adalah tahun ke lima. Karena di tahun ke lima, banyak sekali godaan yang datang entah itu dari internal (ego diri) atau eksternal (ekonomi).
Tapi yang aku alami tahun pertama saja bagiku sudah banyak sekali ujiannya, apalagi nanti rumah tanggaku kalau di usia ke lima tahun. Sebagai manusia bertuhan, aku hanya bisa husnudhon saja dan berdoa semoga aku dan suami kuat serta mampu menghadapi berbagai gelombang kehidupan.
Di tahun pertama mungkin bener juga masa paling bahagia, pengantin baru, bisa kencan dan pergi berduaan, menghabiskan waktu berdua dan lain-lain. Alhamdulillah Allah memberiku kesempatan untuk langsung hamil di tahun pertama pernikahan. Alhamdulillah tidak ada kesan-kesan kesehatan yang negatif, tidak ada mual, muntah, ngidam aneh-aneh, pingsan dan lain sebagainya seperti yang biasa ibu hamil muda alami. Orang Jawa bilang hamilku ini hamil "ngebo" kayak kerbau, makan minum semuanya doyan tanpa alergi.
Aku dan suami sebelum menikah sudah menjalin hubungan cukup lama. Jadi aku merasa sudah cukup banyak mengenal karakternya. Tetapi anggapanku ternyata salah besar, masih banyak karakter yang belum aku ketahui dan baru tahunya setelah menikah, benar-benar setelah setiap hari bersama, becanda, tidur bersama, makan bersama dan lain-lain.
Aku termasuk introvert dan paling nggak bisa nahan tangis alias mudah mewek dan berkecil hati, mudah banget yang namanya minder dan negative thingking sama diri sendiri. Jadi kalau ada masalah aku nggak bisa langsung ngomong secara langsung, to the point, pasti diawali mewek dulu, dirayu-rayu dulu, menyebalkan sih. Aku terkadang juga benci dengan sifatku yang kekanak-kanakan seperti ini. Membuatku susah berkembang dan berkomunikasi dengan baik sama suami. Lebih suka menahan emosi dan menyimpan semua masalah sendiri. Padahal aku tahu itu nggak sehat. Harusnya suami istri saling terbuka dan sering komunikasi. Mengetahui sifatku yang seperti itu, si doi kuharap ngerti dan bisa lebih dewasa serta mengayomi karakterku. Tapi ternyata doi malah ikutan agak tertutup. Padahal waktu sebelum menikah doi sendiri yang bilang kalau sudah menikah harus belajar terbuka, kuatkan hati jangan mudah mewek. Tapi dengan berjalannya waktu dan berbagai masalah yang kami hadapi, seolah doi membalas sifatku yang lebih memilih diam ketika marah atau ada masalah.
Aku sendiri memang lebih suka diam dan menangis kalau ada masalah, tapi bukan berarti aku juga suka didiamkan. Memang tak enak didiamkan, apalagi oleh pasangan kita. Aku juga masih dalam tahap belajar untuk terbuka kepada pasangan. Diammu itu sungguh menyakitkan bagiku. Di saat kondisi kehidupan kami belum "aman" (secara ekonomi), banyak sekali hal yang harus dimusyawarahkan. Aku nggak ingin karena masalah uang alias ekonomi hubungan kita jadi jelek dan tak terarah.
Semoga di antara kita mampu meredam emosi dan ego diri agar mewujudkan keluarga yang samawa.
Aku rindu menghabiskan waktu bersamamu, seperti waktu awal kita menikah. Tak ada beban dan tanggungan yang berat. Namun kehidupan kita belum cukup "aman" sekarang, jadi harus banyak berusaha dan berdoa. Apalagi sebentar lagi anak akan lahir, semoga semakin menguatkan hubungan keluarga kita.
Jangan diamkan aku lagi, aku merasa sendiri tanpa teman, apa gunanya suami bagi istri. Memang shift kerjamu yang tak tentu juga termasuk penyebab kurangnya komunikasi kita, tapi setidaknya maksimalkan waktu ketika di rumah untukku, bercanda denganku, berdiskusi denganku, q-time denganku dan lain-lain.
Meski setiap hari kau pulang, aku tetap merasa rindu kehadiranmu, suamiku. 💝











