-A Poem With Your Name
We met by chance, we fell by choice. God stole those words, and called it destiny

#extradirty

izzy's playlists!
he wasn't even looking at me and he found me
I'd rather be in outer space 🛸
Three Goblin Art
trying on a metaphor
Cosmic Funnies
Cosimo Galluzzi
DEAR READER
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

祝日 / Permanent Vacation
tumblr dot com
d e v o n

blake kathryn

Origami Around

No title available
Today's Document
YOU ARE THE REASON

JVL

JBB: An Artblog!

seen from Russia
seen from Japan
seen from Netherlands

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Argentina
@azasite
-A Poem With Your Name
We met by chance, we fell by choice. God stole those words, and called it destiny
“Beberapa orang tidak benar-benar pergi. Mereka hanya diam. Dan menunggu kita memilih untuk tetap tinggal, atau tidak.”
Jejak yang Tak Lagi Kucari
Aku pernah menahan payung di atas kepalamu,
meski hujan deras membasahi bahuku.
Aku pernah menggenggam erat tanganmu,
meski kakiku sendiri goyah menapaki waktu.
Aku pernah menjadi tembok yang kau sandari,
meski retak dalam diam, tak kau sadari.
Aku pernah menjadi cahaya di gelapmu,
meski akhirnya hanya bayangmu yang menuntunku.
Kini payung itu kulipat,
tangan itu kulepas,
tembok itu runtuh,
cahaya itu padam.
Bukan karena lelah, bukan karena menyerah.
Tapi karena aku tahu,
beberapa langkah memang tak ditakdirkan searah.
Aku memang tidak tahu bagaimana hebatnya luka yang pernah kamu rasakan, tapi percayalah, aku tahu rasa sakit itu seperti apa.
When you meet that someone special, you'll just know. Because, a real relationship it can't be forced, it should just come about effortlessly.
Setidaknya biarkan aku bertanggung jawab dengan perasaanku ini.
Seperi halnya dirimu yang kian menjauh
Pandanganku pun kian memudar
Aku berharap kau bahagia
Ingatlah. Dulu kita saling mencintai
Perihal kehidupan, ternyata ia memang jenaka apa adanya. Tujuh milyar manusia, katanya, namun ia gemar sekali mempertemukan sebelum akhirnya memisahkan—menjadikan yang awalnya asing menjadi tak asing, sebelum akhirnya kembali menjadikannya asing. Berpindah mengetuk dari satu hati ke hati yang lainnya, hanya untuk sekedarnya singgah sementara. Berpindah secara berkala sampai akhirnya kita lupa, sudah berapa banyak jiwa yang pernah singgah sebelum akhirnya kembali pergi sepenuhnya?
Mungkin terdengar antagonis, bagaimana terkadang hidup mendekatkan dua yang bersinggungan, hanya untuk pada akhirnya kembali dipisahkan melalui dua jalan yang tak akan pernah lagi bertemu di persimpangan. Namun kalau jatuhkan salah pada semesta, rasa-rasanya tak adil juga.
Mungkin memang sudah seharusnya hidup menjadi jenaka apa adanya. Mendekatkan untuk sekedarnya jadi pelajaran, alih-alih menjadi akhir yang bahagia seperti dongeng penghantar tidur yang dulu kerap dibacakan Bapak dan ibu. Mungkin memang bukan salah siapa-siapa, bagaimana dua yang bersinggungan kemudian harus berpisah di persimpangan jalan. Namun memang bagian yang paling menyakitkan dari sebuah pertemuan itu sendiri adalah asing yang menjadi tak asing, sebelum akhirnya kembali menjadi asing. Sebuah siklus kehidupan paling sialan yang pernah ada. Bagaimana tidak? Ia menjadikan seseorang yang awalnya tak pernah bersinggungan, menjadi bagian paling signifikan sebelum akhirnya ia kembali bertolak tak lagi jadi bagian. Lalu apa makna dari semua yang ada? Rutinitas tak lagi jadi bagian paling menyenangkan. Terbangun di pagi hari pun rasanya terkadang menyesakkan. Membayangkan sosok mereka yang dulunya begitu signifikan, kemudian jadi asing tak lagi punya bagian, rasanya seperti menaburi luka basah dengan garam, menjadikan hidup begitu suram.
Mereka yang dulunya selalu bersama, kemudian jadi asing untuk satu dan yang lainnya. Mereka yang pernah buat janji, kemudian harus mengingkari karena tak lagi mampu mengisi. Pun mereka yang telah tiada, sedikit banyak juga meninggalkan luka yang kini akan selalu ada.
Aku, kamu, dan kita semua; rasa-rasanya kita setuju bahwa kita pun pernah mengalaminya. Namun lagi-lagi, mungkin memang sudah seharusnya hidup menjadi jenaka apa adanya. Hingga pada akhirnya, tak akan ada lagi yang mampu kita lakukan selain mengatakan;
terima kasih untuk setiap kedatangan, untuk setiap pelajaran, untuk setiap kehadiran, untuk setiap singgah yang tak pernah menjadikannya rumah, untuk setiap tinggal yang telah tanggal, untuk setiap mimpi dan aspirasi yang pernah dibagi, untuk setiap doa dan cipta, untuk segalanya, hanya terima kasih yang mampu aku tawarkan. Kedua tangan ini mungkin tak mampu menghentikan kepergian kalian, namun percayalah ingatan akan selalu terpelihara baik adanya. Jangan lupa, apabila suatu saat lelah menjalani semua yang ada, ingatkan diri kalian bahwa pernah ada aku yang jadi bagian paling signifikan dalam kehidupan, sebelum akhirnya hilang tak berbekas, tak lagi punya bagian.
Terima kasih karena telah bersinggungan. Semoga kembali bertemu di persimpangan, di lain kehidupan. Jaga baik-baik diri kalian
and he got lost in his own words
Life is an adventure in forgiveness.
Kau Merindukan Kehangatan Itu Bukan?
10 tahun terakhir kau menikmati kehidupan di dunia ini dengan cara yang berbeda, bersama dengan kenangan masa kecil yang buruk kau tumbuh entah umur ataupun kedewasaanmu, dengan membawa semua hal itu dalam kehidupanmu. 5 tahun terakhir kau berada dipuncak kebosananmu dengan dunia, kau tak tahu bagaimana caranya untuk lepas, kau tak punya pelarian selain dengan kesendirian. 3 tahun terakhir akhirnya kau benar-benar sendiri hanya ada kamu dan dirimu. Bukan lagi tentang rasa bosan, kau hidup dengan menikmati rasa sakitmu, kekecewaanmu, pedihnya pengkhianatan, dan manisnya keputusasaan.
Kau tetap hidup dalam pelukan penyesalan, dan kau tak punya tempat untuk istirahat dari itu semua. 1 tahun terakhir kau telah menyerah dengan semuanya, kau mulai tak peduli dengan bagaimana dunia bekerja, namun kau tetap ingin hidup rasanya. Kau menikmati setiap hisapan dari racun itu dan kau tahu hal itu menggerogoti tubuhmu, namun "mau bagaimana lagi?". iya aku tahu ada cerita yang lebih menyesakkan dari milikku, tapi apa salahnya untuk sesekali merasakan pelukan hangat?
Setia itu artinya selalu menerima semua akibat, meskipun itu menyakitinya, selalu tetap dalam pilihannya disaat ribuan pilihan lain sedang mengusiknya.
rn im in total darkness but ill definitely see the light
Membosankan? sejak kapan kebahagiaan membosankan
Mati itu sekali Hidup setiap hari, ingatlah itu
Suatu saat kau akan mengerti, bahwa pedihku adalah bahagia yang sebenarnya.
Ritual Malam
kamu duduk di balkon rumahmu, memandang gelapnya langit malam. Udara malam melingkupimu dengan dingin yang menyejukkan, tetapi kehadiranmu di sana membawa kesepian yang semakin menambah dinginnya malam. Setiap malam, di balkon rumah yang kau cintai itu, terdapat kerinduan yang tak pernah tersampaikan, terdapat kesepian yang dalam, yang hanya terasa semakin dalam setiap kali angin malam membelai rambutmu.
Saat kamu duduk di sana, dengan pikiranmu yang melayang jauh ke alam mimpi, kamu berharap dia menghampirimu, menyeka air matamu, dan menghapus kesedihan yang tersebunyi di balik senyummu yang rapuh. Langit tak pernah bosan menjadi saksi bisu dari cerita kehidupanmu yang penuh dengan rahasia dan harapan.
Dalam kesunyian malam yang hening, kamu terus duduk di sana, menunggu… menunggu apa pun yang mungkin datang menghampirimu di balik kegelapan yang mengintai.
Untuk kesekian kalinya, kamu mengangkat ponsel mu dan mencoba menghubunginya, kamu terus berharap, berharap untuk sekedar mendapat jawaban dari dirinya. Setiap malam, ritual yang sama berulang. Dengan ponsel di tanganmu, kamu menatap layar yang tetap sunyi. Pesan-pesan yang tak terbalas, panggilan yang tidak dijawab. Rasa cemas dan kekhawatiran mulai menggerogoti hatimu, meracuni pikiranmu dengan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban.
"Kenapa dia tidak menjawab?" gumammu sendiri, suaramu terhenti di tenggorokanmu, tak bisa menemukan jawaban yang memuaskan, tak ada panggilan yang menjawab, tak ada pesan yang memecahkan keheningan. Hanya derap angin malam yang menghembus lembut, mengingatkanmu akan kekosongan yang kian mendalam.
Waktu berlalu dengan lambat, namun kerinduanmu tak kunjung reda. Setiap malam, ketika kau duduk di balkon rumahmu, perasaan kesepian itu semakin menggelayuti hatimu. Dan setiap kali kau mencoba menghubunginya, harapan itu kembali membakar dalam dirimu, meskipun seiring waktu, api itu semakin redup.
Dalam kegelapan yang mengintai, kau merenungkan hubunganmu yang rumit. Rasa cinta yang masih terasa begitu kuat, tetapi disertai dengan kebingungan dan keraguan yang mendalam. Apakah kau harus terus berusaha, ataukah kau harus mengakhiri segalanya?
Dan dengan itu, malam-malam terus berlalu, meninggalkanmu dengan pertanyaan yang belum terjawab, dan kekosongan yang tak terucapkan. Dan di balkon rumahmu yang sepi, cahaya rembulan menerangi langit, menyaksikan setiap langkahmu dalam perjalanan yang tak pernah berakhir.
Dengan hati yang berat, kamu bangkit dari kursi balkonmu. Langkahmu ragu-ragu, namun hatimu sudah mengambil keputusan. Kau tahu bahwa malam ini, mungkin saat yang tepat untuk mengakhiri penantian yang sia-sia, untuk memulai langkah baru yang tak pasti.
Dengan langkah kecilmu, kamu melangkah menuju ke dalam rumah, meninggalkan keheningan malam yang masih memeluknya dengan erat. Di dalam, di dalam ruang yang hangat, mungkin ada jawaban yang kau cari. Atau, mungkin, di sana kau akan menemukan kedamaian yang lama kau rindukan.