Gue kayaknya udah sering banget ngomongin attachment (dan betapa parnonya gue sama benda ini). Hari ini gue kembali belajar satu hal penting tentang attachment, dan gue pengen menuliskannya untuk diri sendiri, sehingga jika kelak ini terjadi pada gue, gue bisa membaca ulang apa yang gue pernah tulis untuk menampar diri sendiri pada masanya nanti.
Tersebutlah salah seorang kenalan gue di sebuah tempat yang baru banget gue temui hari sabtu lalu. Sejak perjumpaan pertama, dia sudah sebegitunya bercerita banyak tentang hidupnya ke gue, padahal gue bahkan belum tau namanya siapa, dan dia juga belum tau nama gue siapa.
She’s a widow. Her husband has just passed away months ago due to chronic illness. She’s widely known as a desperate and stressfull wife, even rumours said that she has been going crazy. She talked to me like a demotivated human being. Gloomy all the time. It’s like she’s surrounded by dementors. She acted like so, due to her loss. But she kept talking about her husband, their memories, how he was gone, etc. She stopped talking about it just when I brought a topic about… lipstick.
Asli. Kalo lagi gini, gue bersyukur banget bokap selalu ngajarin buat mengembangkan wawasan dalam bidang apapun demi membangun komunikasi yang baik dengan banyak orang. Because if you know me long enough, kalian akan tau betapa benci sekaligus butanya gue terhadap dunia lipstik. But I can casually talk about it like I know everything. I successfully distracted her anyway.
Highlite dari segenap cerita beliau tentang kehilangannya adalah, betapa hancur leburnya dia secara fisik dan mental begitu suaminya meninggal. Her husband was that kind of mr. Mcdreamy. Semua keinginan dipenuhi, dimanjakan bak princess, semua kebutuhan diurusi, sampe rasanya tuh the only thing you need to do by your own is only breathing. Karena yang lainnya akan sedia simsalabim by the service of your husband. Segitu cintanya, segitu sayangnya, segitu overprotective-nya, segitunya, pokoknya.
Dia lupa kalo dia adalah individu merdeka, yang seharusnya mengurus dan mempertanggungjawabkan hidupnya sendiri. Dia kebiasaan diurusin. Dilayanin. Sehingga hampir sepenuh hidupnya bergantung. Nempel. Attach. Ke suaminya. Mungkin ini terdengar wajar, karena bisa aja ada yang berpendapat bahwa seperti itulah rumah tangga bekerja. Memang itulah tugas suami. TAPI, setelah suami mulai sakit-sakitan dan akhirnya meninggal, ada satu nyawa lagi yang terancam, yaitu nyawa istrinya, yang kadung lupa caranya mengurus dan mempertanggungjawabkan hidupnya sendiri.
Persetan dengan segala teori pujangga yang bilang kau separuh aku, separuh napasku, belahan jiwaku, kau darahku, jantungku, hidupku. NO. Karena begitu lo menganggap hidup lo bergantung kepada hidup orang lain, maka lo akan mati tidak lama setelah orang itu mati.
Ya kalo lo merasa itu worth it sih silakan. Ngga masalah.
Dia kemudian mengajarkan kepada gue bahwa, tidak ada salahnya bagi perempuan untuk mandiri. Untuk belajar hal-hal dasar bertahan hidup, lalu menggunakannya, bahkan ketika ada orang yang berjanji atas nama agama, untuk menjamin hidup lo. Dia mengingatkan gue untuk tidak pernah menyerahkan seluruh hidup. Karena seluruh itu terlalu banyak.
Sebenernya nyokap gue sendiri adalah living proof dari nasihat itu. Tanpa ketemu widow ini pun, nyokap gue sudah menanamkan nilai-nilai itu di gue. Guenya aja yang kadang masih suka manja (atau oportunis memanfaatkan akal modus lelaki demi keuntungan pribadi HAHA).
I used to close with somebody, yang lebih concern mengajarkan gue rute angkot untuk menuju tempat tertentu, dibanding mengantarkan gue kemana-mana. Dia sadar bahwa dia ngga akan selamanya ada di sisi gue, dan dia ngga mau ketika dia ngga ada, gue ngga bisa apa-apa. Sayang yang pengen dia tunjukkan, adalah dengan menjamin gue tetap bahagia dan baik-baik saja, sekalipun dia tidak ada. Karena dia paham betul, selalu dan selamanya itu mitos belaka. Kurang lebih contohnya begini.
Gue bicara ini untuk semua orang, tapi mungkin lebih spesifik bagi kaum perempuan yang akan menjadi istri atau pasangan dari seseorang.
Please, tetaplah menjadi manusia merdeka yang punya basic skills untuk bertahan hidup, tanpa harus bergantung dengan siapapun. Si a pa pun. Belajar nyetir, masak, ngurusin administrasi, cari uang, nabung, nyalain api, nyari air bersih, ngangkat galon, benerin genteng bocor, benerin wc mampet, ngangkat belanjaan, mindahin barang berat, ganti ban, dll. Ngga harus sampe pro, minimal tau dasar-dasarnya. Atau minimal tau kontak tukang atau orang2 expert yang bisa dihubungi for paid service.
Lo bisa aja punya pasangan legal yang secara hukum sudah bersumpah akan mendampingi dan memenuhi kebutuhan lo. Tapi itu bukan excuse buat lo act like a prince or princess, santay kek di pantay, menunggu pasangan menyajikan semuanya in the name of love. No, man. Lo gatau masa depan. Lo gatau kapan pasangan lo akan bosen terus tiba-tiba ninggalin atau nyelingkuhin lo. Lo gatau kapan pasangan lo akan sakit keras terus tiba-tiba mati. Kalo udah gitu, lo yang udah keburu bergantung ini mau apa? Cari pasangan lagi? Gitu aja terus sampe via vallen cover lagu bohemian rhapsody versi dangdut koplo.
Attachment tuh serem sih, hal kedua yang gue takutin setelah laba-laba.
Attachment bisa bikin buta aja gitu. Menyerahkan segenap kemerdekaan diri tanpa sadar. Terus giliran detach, hancurnya kayak meteor nabrak bumi jaman dinosaurus punah. Pait banget kan, sekalinya lagi attach merasa sebagian masalah hidup terjawab, ada kebutuhan yang terpenuhi, tapi begitu ditinggal, grafiknya langsung curam gitu turun ke bawah. Berantakan luar biasa. Nyembuhinnya makan waktu menahun. Bahkan mungkin men-dekade.
Gue ngga setuju sih dengan teori ‘treat her like a princess’ or 'treat him like a prince’. Mendegradasi sih itu. Banyak banget, nyet, bukti cinta lain selain melayani sepenuh hati. Lo pasangan, apa budak?
Serius deh, tetaplah belajar hal-hal yang lo ngga bisa, sekalipun lo punya orang yang mau melakukannya dengan sukarela buat lo. Atau minimal, cari tau dan simpan kontak paid service yang bisa memenuhi kebutuhan lo. Jangan pernah ngebiarin diri lo terlayani sepenuhnya, sampe lo taunya cuma terima beres aja. Bahaya, njir. Itu kalo pelayan lo udah resign, lo bisa apa?
Nih si widow yang gue ceritain di awal, doi sampe ngga tau jenis-jenis SK PNS apa, karena yang ngurus selama ini adalah almarhum suaminya. Dan dia menyesal sekali membiarkan suaminya melakukan itu semua tanpa melibatkan dia, even if it for the sake of…love.
Ya gue tau sih, naturally, people love to be adored, and be treated like they were a fragile plate that needs to be handled with extra care. Tapi ngga sampe bikin dia lupa bahwa dialah yang bertanggungjawab atas dirinya sendiri juga, dong. Cinta ya cinta aja. Jangan ngerusak atau ngehambat orang buat menggunakan atau menghambat skill-nya juga. Kecuali lo edward cullen yang bisa hidup thousands years and thousand more, sehingga lo yakin nggabakal ninggalin duluan.
Sebagai pasangan yang dimanjakan setiap saat, sudah waktunya lo sadar bahwa ini melenakan dan menjerumuskan. Lo harus tetap ingat bahwa lo tetep bertanggungjawab atas diri lo sendiri. Bahwa lo tetep harus bertahan hidup ketika dia sudah tiada. Jangan mau didegradasi.
Lo ngga harus jadi wonder woman atau wonder man. Lo ngga perlu jadi super kuat yang bisa segalanya. Tapi minimal, ketika lo membutuhkan sesuatu, lo tau lo harus apa dan harus gimana, sekalipun si dia tidak ada.
Because at the end of the day, you’ll be alone anyway.