[#Reset Indonesia - Gagasan Tentang Indonesia Baru] - Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, Bernaya Harobu
Wowww mindblowing~~~. Lagi membayangkan sebanyak apa riset dan informasi yang harus dikumpulkan penulisnya untuk menulis buku ini. Keren banget. Buku ini harus dibaca sih untuk seluruh warga Indonesia. Kenapa? Ya karena buku ini bicara tentang kita, tentang Indonesia.
Ringkasan isi dari buku ini bisa dilihat di belakang buku. Disitu buku ini menyoroti salah satu problematika yang dihadapi warga Indonesia yang berangkat dari pertanyaan yang sangat sederhana "Mengapa air keran di Indonesia tak bisa langsung diminum?". Kita mungkin nggak pernah iseng menanyakan pertanyaan itu karena kita lahir ketika air minum emang harus dibeli, itu hal yang lumrah buat kita. Tapi generasi sebelum kita pernah hidup di masa mau minum air tinggal ambil di sungai atau sumur. Tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang cuma untuk air bersih, kebutuhan paling dasar dalam hidup manusia. Di twitter ada yang bilang, selesai baca buku ini lihat air kemasan aja rasanya mau marah.
Air bersih itu cuma satu dari segunung masalah di Indonesia yang coba dijabarkan para penulis buku ini. Di awal, buku ini menceritakan panjang kali lebar berbagai masalah dan alasan yang membuat Reset Indonesia menjadi hal yang wajib dilakukan. Mulai dari rendahnya kualitas generasi muda Indonesia, investasi asing yang justru berdampak negatif pada kesejahteraan jangka panjang, utang negara yang kian bertumpuk, mundurnya sektor pertanian, eksploitasi tambang, problematiknya danantara, ketimpangan ekonomi, sampai republik drakula. Bagian pertama buku ini emang bikin pesimis dan bikin kita berpikir bahwa Indonesia sudah tidak tertolong lagi, saking banyak dan peliknya masalahnya.
Setelah membaca bagian pertama ini, banyak dari kebijakan pemerintah jadi terasa masuk akal (masuk akal menyimpangnya :V). Kerasa nggak sih kalau makin lama biaya kuliah ini makin nggak terjangkau? Itu adalah dampak nyata dari kebijakan utang pemerintah. Dari buku ini aku baru ngeh kalau pemerintah meminta banyak universitas membiayai dirinya sendiri (lewat PTN-BH), dan berakibat pada komersialisasi pendidikan dan biaya UKT yang naik gila-gilaan. Kenapa pemerintah lepas tangan dari mensubsidi kampus-kampus? Karena pos pengeluarannya dikorbankan buat bayar utang.
Terus, pemerintah juga kayak kebelet banget menawarkan investasi ke asing. Semuanya diobral murah ke luar, nikel, emas. Iya sih untuk mengejar pertumbuhan ekonomi. Tapi, buat apa pertumbuhan ekonomi kalau justru berdampak pada kerusakan alam dan penurunan kesejahteraan rakyat? Siapa yang menikmati pertumbuhan ekonomi itu? Padahal, kalau kita mau sedikit lebih sabar mungkin kita bisa belajar dari cara Iran mengelola sumber dayanya.
Lalu, mundurnya sektor pertanian. Dari makin tuanya umur petani, mahalnya pupuk, jatuhnya harga pas lagi panen, perubahan iklim, sampai terancamnya kedaulatan benih petani lokal. Terus, pemerintah nggak pernah duduk beneran memikirkan nasib petani, minimal misalnya gimana biar harga nggak jatuh banget pas lagi panen. Sektor pertanian yang merupakan kontributor nomor 3 pada PDB Indonesia ini malah tidak terurus. Pantes nggak banyak orang muda yang mau jadi petani.
Setelah diajak hopeless dan putus asa, buku ini masuk ke bagian kedua. Di bab kedua ini penulis memperkenalkan sisi lain dari dunia yang selama ini kita kenal. Bahwa ada alternatif lain yang bisa kita gunakan untuk melihat dunia.
Misalnya, sudut pandang baru dalam mengukur kesuksesan pembangunan yang bukan cuma dilihat dari pertumbuhan ekonomi atau majunya infrastruktur, tapi juga bagaimana pembangunan itu memengaruhi perilaku dan gaya hidup penduduknya.
Contohlah Bhutan, negeri itu tidak menjadikan PDB sebagai tolak ukur suksesnya pembangunan seperti kebanyakan negara. Bhutan memperkenalkan GNH (Gross National Happiness) sebagai ukuran baru kemakmuran. Menurut Bhutan, tujuan utama pembangunan haruslah untuk membuat penduduknya bahagia. Buku ini akan menjabarkan bahwa PDB (ukuran kemakmuran yang selama ini kita pakai) punya kelemahan.
Ada juga tentang Universal Basic Income (UBI), semacam gaji cuma-cuma untuk rakyat. Kata buku ini, ide dasarnya UBI ini adalah kewajiban negara menggaji warganya sedemikian rupa biar warganya nggak jatuh miskin karena nggak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Terus, tentang reformasi agraria, bahwa harusnya ada batas maksimum dari luas tanah yang bisa dikuasai seseorang. Juga gagasan untuk mencapai demokrasi ekonomi lewat koperasi. Bukan kayak koperasi merah putih, tapi koperasi yang betulan berasaskan kekeluargaan, yang dibangun dari bawah, dari gotong royong dan kepedulian para anggotanya.
Contohnya, Koperasi Keling Kumang di Kalimantan Barat yang keren ini. Koperasi itu lahir atas keresahan bersama karena melihat kerusakan hutan Kalimantan akibat perluasan perkebunan sawit milik perusahaan. Mereka sadar tidak bisa begitu saja melarang warga membuka kebun sawit. Mereka lalu mengajak petani untuk berkoperasi, agar usaha sawit mereka lebih terkendali dan agar mereka tidak sekedar menjadi mitra perusahaan yang tanpa daya.
Solusi lain yang ditawarkan buku ini untuk menyelesaikan masalah-masalah Indonesia salah satunya adalah solusi non-pemerintah, lewat penguatan civil society. Waktu jaman covid dulu ramai juga kan gerakan warga jaga warga. Saking nggak bisa diandalkannya pemerintah Konoha, warganya cuma bisa bergantung pada satu sama lain. Nah, civil society yang dimaksud buku ini misalnya organisasi-organisasi filantropi. Di Wonosobo, Koperasi Syariah Tamzis Wonosobo menggagas kerja sama dengan Yayasan Dompet Dhuafa, Ponpes Gontor dan Koperasi Ekspedisi Indonesia Baru untuk menghutankan kembali 20 hektare bekas galian tambang. Salah satu inovasi pengelolaan wakaf adalah Green Waqf, atau hutan wakaf untuk pelestarian alam.
Secara lengkap buku ini terdiri dari enam bagian, dengan penjabaran sebagai berikut:
Pokoknya buku ini tuh nggak cuma ngomong tok. Banyak sudut pandang baru yang ditawarkan buku ini yang itu berdasarkan fakta, ada penelitiannya, ada best practice-nya. Jadi ini bukan solusi utopis yang nggak bisa dilakuin. Bisa, tapi mau apa nggak?
Di bagian paling terakhir, buku ini menjabarkan satu persatu, mulai dari mana Reset Indonesia ini perlu dilakukan. Yah, bagusnya emang dibaca di level pembuat kebijakan. Tapi sebagai warga negara Indonesia yang mengaku mencintai Indonesia, minimal kita jadi tahu kalau Indonesia enggak baik-baik aja dan kita enggak boleh diem aja.
Setelah baca buku ini emang ada perasaan bersalah dan geregetan. Terus jadi bertanya-tanya, setelah semua pengetahuan ini, ada nggak sih yang bisa kita lakukan sebagai rakyat biasa yang nggak punya power apapun ini? :)
Buatku, hal kecil yang bisa aku lakukan setelah dijejeli berlembar-lembar fakta dan pengetahuan baru dari buku ini adalah: belajar merasa cukup. Sebab, sesuatu bisa jadi merusak karena skalanya terlalu besar, dan terus menerus dieskalasi sampai batas kerusakannya tidak bisa ditanggung lagi.
Yah, kalaupun kita emang nggak bisa melakukan hal-hal besar yang berdampak, yaudah nggak papa. Paling enggak buku ini membuka lebar mata dan pikiran kita. Karena perubahan besar Indonesia bisa kita mulai dari pikiran.














