Sedikitkan bicaramu, nanti akan berkurang kesalahanmu dan akan meninggikan derajatmu. Banyak bicara itu seringkali menjadikan seseorang bisa terpeleset dan berbohong.
Ingat, tidak semua harus dibicarakan dan disampaikan, seperlunya saja.
@jndmmsyhd
ojovivo

JVL

Janaina Medeiros
h
TVSTRANGERTHINGS
Game of Thrones Daily

titsay
art blog(derogatory)

izzy's playlists!

Origami Around
Fai_Ryy
noise dept.
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Cosimo Galluzzi
Jules of Nature
🪼
Noah Kahan

@theartofmadeline

No title available
RMH
seen from Türkiye

seen from United Kingdom

seen from Iraq

seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from Bangladesh
seen from Türkiye
seen from China
seen from United States
seen from Venezuela

seen from Algeria
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States
seen from Germany
@bahanajiwa
Sedikitkan bicaramu, nanti akan berkurang kesalahanmu dan akan meninggikan derajatmu. Banyak bicara itu seringkali menjadikan seseorang bisa terpeleset dan berbohong.
Ingat, tidak semua harus dibicarakan dan disampaikan, seperlunya saja.
@jndmmsyhd
Memulai lagi hal yang kusukai di usia ini rasanya, ragu.
Apa sekadar rindu kenangannya, atau ingin balas dendam atas waktu dan kesempatan yang dulu tidak kuambil(?)
Aku takut niatku salah, khawatir jika di tengah jalan aku melarikan diri lagi.
Tapi selalu, kuluruskan niatku. Keputusan mengambil jalan ini satu, aku ingin mengalahkan diriku, aku tahu aku bisa, dan lewat hal ini mau kubuktikan, bukan untuk siapa-siapa selain diriku sendiri.
Semoga juga turun rahmat dan ridho-Nya 🙂
Masih Penasaran
Kemarin, Rabu (01/06) aku baru selesai baca sebuah buku. Buku terjemahan yang judulnya Secrets of Divine Love. Awalnya aku tertarik baca buku ini karena liat beberapa review bagus tentang buku ini. Kebetulan aku juga lagi minat baca seputar filsafat dan tasawuf gitu. Akhirnya buku ini jadi salah satu yang aku pilih. Ada 388 halaman, dengan 12 bab di dalamnya. Aku suka sama diksi yang puitis dan banyak perumpaan atau analogi supaya memahamkan pembaca. Walaupun memang di beberapa bagian aku masih gak paham makna kalimatnya. Entah bahasa aslinya yaitu bahasa Ingris emang sepuitis itu, atau terjemahannya yang kurang pas. Intinya aku berusaha nyelesaiin buku ini meski pelan-pelan. Aku pikir aku harus baca buku ini di waktu yang akunya lagi mood dan bisa fokus. Karena ini tentang spiritual, kebatinan, yang gak bisa meresap ke jiwa kalo bacanya sambil lalu.
Setelah mungkin hampir tiga minggu, bukunya selesai kubaca. Aku kepikiran mau bikin review-nya, karena menurutku ada sedikit banyak hal baik yang bisa diambil dan dipraktekkin dari buku ini. Cuma, karena aku masih awam tentang penulisan resensi buku, jadinya aku browsing lagi komentar orang-orang tentang buku ini, baik berbahasa inggris maupun indonesia. Dan, aku kaget karena ternya banyak yang kasih bintan 1 untuk buku ini.
Aku belum paham alasan detailnya kenapa, tapi yang aku tangkap adalah adanya ketidakseusaian prinsip beragama yang disampaikan penulis dengan apa yang diyakini pembaca.
Terus aku mikir, di awal buku ini, penulisnya udah jelasin latar belakang penulisan karyanya. Ya ini adalah hasil pencarian dan pengalaman batin yang dia jalani bertahun-tahun. Buku ini hasil pemikiran atau jawaban atas pertanyaan penulis selama ia mencari apa yang hilang dari jiwanya, dari caranya bergama, dari caranya memaknai hubungannya dengan Tuhan.
Penulis sendiri bilang, dia banyak terpengaruh dari tokoh spiritual atau mungkin tokoh sufi sejak di Turki, kemudian di Al Aqsa, Palestina. Menurut aku gak ada yang salah dengan itu, karena perjalanan batin seseorang akan berbeda-beda. Tergantung niat dan ikhtiarnya. Dan memang buku ini, walaupun di dalamnya membahas rukun Islam, tapi buku ini bukan mau ngajarin tentang fiqih atau syariat agama secara detail. Penulis emang mau membagikan pengalaman spiritual dia, yang pasti memang sulit dipahami kalau belum kira sendiri yang merasakan.
Well, aku juga masih banyak kurangnya, masih sangat sedikit ilmunya, jadi, mungkin abis ini aku masih mau cari lagi alasan mereka yang kurang suka sama isi buku ini.
Cheers!
Cinta dan Kasih Allah
Gue baru aja mengalami sesuatu yang menyentak hati dan kesadaran gue hari ini. Ada banyak kekurangan yang gue punya, salah satunya adalah mengutarakan pendapat dan isi pikiran. Jadi, karena kekurangan ini, seringkali membuat kesalahpahaman antara gue dan nyokap khususnya.
Setiap beliau meminta gue melakukan sesuatu, untuk kebaikan gue tentunya, tapi gue sering menunda, pada akhirnya memang gue laksanakan, tapi gue butuh waktu untuk berpikir tindakan apa yang tepat untuk gue melakukan ini. Dan penundaan itu di mata nyokap yang disiplin dan satsetsatset, adalah kesalahan dan ketidakpatuhan. Ditambah lagi gak ada penjelasan alasan gue menunda.
Sebetulnya, gue punya alasan gue sendiri, tapi jeleknya gue gak bisa mengutarakan itu. Justru muka dan intonasi yang jutek yang tertangkap sama nyokap. Itulah yang buat beliau murka, emosi, membentak, mengucapkan kalimat-kalimat yang pasti bukan begitu maksudnya tapi keburu emosi liat anak perempuannya ini kok gak nurut.
Gue selalu menyesal tiap kali kejadian seperti itu. Dan untuk hari ini, gue tambah nyesek karena kemarin, baru aja gue update status wa yang tulisannya adalah sebuah quote dari buku #SecretsofDivineLove “Rendah hati bukan berarti memandang rendah terhadap diri, tetapi mengurangi memikirkan diri sendiri.”
Hari ini, setelah insiden berantem itu, nyokap nasehatin, jadilah pribadi yang rendah hati, nurutlah sama orangtua, mumpung masih ada.
Seperti ada petir di dalam hati. Allah lagi mengajarkan gue sesuatu, Allah mau gue paham arti dan makna sebanarnya dari tulisan gue tempo hari. Ini loh artinya rendah hati. Jangan egois, jangan selalu mikirin maunya kamu, seenaknya dirimu. Padahal ada orang tua yang perlu dan wajib kamu hormati.
Begitu pula nanti kalo ada konflik dengan orang lain. Pahami dulu. Bukan kamu terus yang harus selalu dipahami dan ditorerir kesalahannya.
Gue bersyukur masih dikasih nikmat cinta dan kasih Allah hari ini. Gue yakin Allah sayang. Allah pasti punya rencana besar dan terbaik buat gue. Dan gue harus buktiin kalo gue udah layak untuk jadi penerima rencana itu. Aamiin.
Merobohkan Dinding Kekhawatiran
Dalam kurun waktu enam bulan, ia mulai dihinggapi kegelisahan dan bayangan-bayangan buruk tentang masa depan. Bagi orang lain mungkin enam bulan terlalu lama untuk dalih ‘menyesuaikan diri’. Mereka memang benar, ia lebih banyak menghindar selama enam bulan sejak awal kepulangannya ke kampung halaman.
Perempuan usia seperempat abad ini masih terbelenggu akan sesuatu yang entah apa sebenarnya dirinya sendiri pun enggan mencari tahu. Karena kekosongan kegiatan dan waktu luang terlampau banyak, ia kembali terjerumus dalam siklus kebodohan.
Menjelang bulan suci Ramadhan, hati kecilnya mencoba berontak lebih keras. Bagaimanapun caranya, perempuan ini harus diselamatkan. Dari tekanan sosial, ekspektasi keluarga, sudut pandang kawan-kawan sebaya, dll. Ia butuh sebuah turning point. Maka, momen ibadah suci selama satu bulan ini sangat pas untuk mengejar momen itu. Hati kecil bersuara setiap hari, setiap waktu. Dan pada satu malam sebelum masuk puasa, suaranya terdengar oleh si perempuan.
Begitulah sebulan berlalu, meski satu dua kali terjungkal, hati kecil selalu sigap menyemangati perempuan ini. Pasca merayakan Hari Kemenangan, perempuan ini seperti mendapatkan kembali gairah hidup. Bertemu sapa dengan keluarga yang sudah bertahun lamanya berjarak, mengisi ruang-ruang kesepian yang ia simpan sendiri.
Tidak hanya karena keluarga, reuni bersama teman semasa remaja betul-betul meningkatkan semangatnya. Meski belum banyak berbincang, tapi senyum dan keceriaan yang ia dapat adalah amunisi ruang-ruang hampa dalam jiwanya. Oh, begini indahnya melepas rindu.
Dan, makin rajin ia berusaha menyusun rencana masa depannya, Allah meniupkan kabar gembira ke sekian. Sebuah kesempatan untuk mendapat pekerjaan. Bukan sebuah pekerjaan yang ia impikan, tapi setelah perenungan dalam-dalam, ini bisa jadi jembatan menuju mimpinya yang sesungguhnya.
Hati yang telah terisi kebahagiaan, mencari jalan kembali pada Tuhan. Selama ini ia menyadari, jarak yang ia buat antara dirinya dengan Allah. Ia tidak ingin seperti itu lagi, ia ingin mendekat, meski harus merangkak.
Kecuali kamu bergantung sepenuhnya pada Allah, niscaya kehancuran menantimu
One of my favorite song.
I hope one day i can meet someone who would comfort me when i'm having a bad day and say 'Everything will be okay, i will be on your side'
"JANGAN MAINKAN SEMUA PERAN"
Sebagai renungan atas kejadian bunuh diri kakak beradik di Bandung. Kedua korban menderita gangguan jiwa setelah ibunya meninggal dunia.
SUATU SAAT KITA AKAN MENINGGALKAN MEREKA JANGAN MAINKAN SEMUA PERAN
(Senior Psikolog dan Konsultan, UI)
Kita tidak pernah tahu, anak kita akan terlempar ke bagian bumi yang mana nanti, maka izinkanlah dia belajar menyelesaikan masalahnya sendiri .
Jangan memainkan semua peran,
ya jadi ibu,
ya jadi koki,
ya jadi tukang cuci.
ya jadi ayah,
ya jadi supir,
ya jadi tukang ledeng,
Anda bukan anggota tim SAR!
Anak anda tidak dalam keadaan bahaya.
Tidak ada sinyal S.O.S!
Jangan selalu memaksa untuk membantu dan memperbaiki semuanya.
#Anak mengeluh karena mainan puzzlenya tidak bisa nyambung menjadi satu, "Sini...Ayah bantu!".
#Tutup botol minum sedikit susah dibuka, "Sini...Mama saja".
#Tali sepatu sulit diikat, "Sini...Ayah ikatkan".
#Kecipratan sedikit minyak
"Sudah sini, Mama aja yang masak".
Kapan anaknya bisa?
Kalau bala bantuan muncul tanpa adanya bencana,
Apa yang terjadi ketika bencana benar2 datang?
Berikan anak2 kesempatan untuk menemukan solusi mereka sendiri.
Kemampuan menangani stress,
Menyelesaikan masalah,
dan mencari solusi,
merupakan keterampilan/skill yang wajib dimiliki.
Dan skill ini harus dilatih untuk bisa terampil,
Skill ini tidak akan muncul begitu saja hanya dengan simsalabim!
Kemampuan menyelesaikan masalah dan bertahan dalam kesulitan tanpa menyerah bisa berdampak sampai puluhan tahun ke depan.
Bukan saja bisa membuat seseorang lulus sekolah tinggi,
tapi juga lulus melewati ujian badai pernikahan dan kehidupannya kelak.
Tampaknya sepele sekarang...
Secara apalah salahnya kita bantu anak?
Tapi jika anda segera bergegas menyelamatkannya dari segala kesulitan, dia akan menjadi ringkih dan mudah layu.
Sakit sedikit, mengeluh.
Berantem sedikit, minta cerai.
Masalah sedikit, jadi gila.
,
Jika anda menghabiskan banyak waktu, perhatian, dan uang untuk IQ nya, maka habiskan pula hal yang sama untuk AQ nya.
AQ?
Apa itu?
ADVERSITY QUOTIENT
Menurut Paul G. Stoltz,
AQ adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.
Bukankah kecerdasan ini lebih penting daripada IQ, untuk menghadapi masalah sehari-hari?
Perasaan mampu melewati ujian itu luar biasa nikmatnya.
Bisa menyelesaikan masalah, mulai dari hal yang sederhana sampai yang sulit, membuat diri semakin percaya bahwa meminta tolong hanya dilakukan ketika kita benar2 tidak sanggup lagi.
So, izinkanlah anak anda melewati kesulitan hidup...
Tidak masalah anak mengalami sedikit luka,
sedikit menangis,
sedikit kecewa,
sedikit telat,
dan sedikit kehujanan.
Tahan lidah, tangan dan hati dari memberikan bantuan.
Ajari mereka menangani frustrasi.
Kalau anda selalu jadi ibu peri atau guardian angel,
Apa yang terjadi jika anda tidak bernafas lagi esok hari?
Bisa2 anak anda ikut mati.
Sulit memang untuk tidak mengintervensi,
Ketika melihat anak sendiri susah, sakit dan sedih.
Apalagi menjadi orangtua, insting pertama adalah melindungi,
Jadi melatih AQ ini adalah ujian kita sendiri juga sebagai orangtua.
Tapi sadarilah,
hidup tidaklah mudah,
masalah akan selalu ada.
Dan mereka harus bisa bertahan.
Melewati hujan, badai, dan kesulitan,
yang kadang tidak bisa dihindari.
_Selamat berjuang untuk mencetak pribadi yg kokoh dan mandiri_
Kukadoi Kamu Pelangi
Belakangan aku sering memikirkan satu soalan yang entah siapa tahu jawabnya.
Sebab aku mau bawa pulang pelangi sebagai kado istimewa untuknya yang sangat jatuh cinta pada fenomena alam itu.
Di mana bisa kupesan pelangi, bahkan kemarin gerimis tak mau sedikit saja membagi sepotong pelangi buatku.
Matahari pun begitu, padahal ia tahu caranya membiaskan cahaya jadi pecahan warna.
Terlalu serius kupikirkan sampai kedua mataku hampir miri[ seekor panda. Untungnya seorang kawan baik lagi pandai berkenan membisikiku.
Kau, katanya, bungkuslah setiap pelangi yang kau lihat di satu dan banyak perjalanan yang kau tempuh.
Jalur darat kukira beberapa tempat bisa kau kunjungi jika ingin pelangi yang indahnya sederhana.
Jalur udara sepertinya akan sedikit sulit, karena nanti pramugari bisa memarahimu, terlalu lama mengamati pelangi dari jendela sementara sabuk pengaman saja lupa kau pasang.
Jalur laut paling sering kau lalui, kan? Nah, mungkin jika nanti terlihat pelangi di batas kaki langit sana segeralah, parkir kapalmu sejenak lalu abadikan ia.
Itu masalahnya, kawan.
Bagaimana membungkusnya
Mengabadikannya...
Ah kau terlalu merumitkan diri.
Toh dia hanya minta pelangi, tak lebih dari itu.
Bahkan anakku yang baru masuk sekolah saja bisa membawakan banyak pelangi jika kau mau.
Betapa polosnya aku ini. Baiklah, besok biar kupesan saja kue pelangi yang tempo hari kulihat di toko dekat rumah, semoga dia suka.
HUJAN
Satu jam berlalu sejak rintik pertama air langit membasahi Kairo. Dan selama itu pula seorang pemuda tidak beranjak dari balik selimut yang menghangatkan tubuhnya. Dia tersenyum geli melihat status kawan-kawannya yang seolah sedang merasakan hal yang sama. Hujan memang selalu dirindukan. Apalagi jika hanya turun beberapa kali dalam setahun. Sungguh berbeda dengan tempat tinggal aslinya yang hampir setiap hari diguyur hujan lebat hingga banjir. . Hafez pun bangkit dan melangkah menuju pintu kamar. Terdengar suara temannya menegur, "Mau kemana kamu, Fez?"
"Ke sutuh (lantai paling atas) sebentar, Man," sahutnya pelan.
"Ngapain? Di luar hujan, nanti kamu kedinginan," balas temannya sedikit khawatir, sebab Hafez memang sedang tidak enak badan sejak kemarin. Hafez tidak menghiraukan temannya yang masih bicara dan langsung menutup pintu. .
Kairo hanya gerimis, mana pernah hujan deras, gerutu Hafez dalam hati. Teringat lagi macam-macam foto dan video yang diunggah teman-temannya, dengan kalimat yang berbeda-beda. Doa saat hujan, galau teringat mantan, sampai rindu main hujan-hujanan bersama kawan sepermainan. Ia tengadahkan wajah ke arah langit dan memejamkan mata agar rintik hujan jatuh di atasnya.
"Hafez, ayo turun. Aku gak mau kamu makin sakit." Salman, sahabat terbaik Hafez sejak tiba di negeri seribu menara ini menyusulnya. Ia berdiri di samping Hafez. Menyandarkan tubuhnya yang dibalut jaket tebal ke dinding pembatas setinggi pinggang. Salman memperhatikan Hafez yang masih memejamkan mata. Ia pun ikut-ikutan menatap langit. Membiarkan wajahnya terpercik rintik hujan. "Kamu yang paling tahu, Man kebiasaanku ini. Aku selalu teringat hari itu," jawab Hafez sedikit tercekat. Salman merangkul bahu sahabatnya, mempersiapkan kalimat terbaik untuk menghibur Hafez. "Iya, Fez, aku tahu. Kamu tidak perlu melupakannya, tapi juga tidak perlu menyesalkannya. Kita doakan saja agar Ibu bahagia di sana." . Malam itu, di antara sayup-sayup azan dan gerimis, air mata Hafez kembali mengalir. Tuhan merindukan ibunya saat hujan merindukan bumi.
Day 1: Hal-hal yang Membuatku Bahagia
Apa yang bisa membuatku senang ketika aku melihatnya?
Apa yang membuatku tertawa ketika aku mendengarnya?
Apa yang akan membuatku tersenyum waktu aku berada di dekatnya?
Dan apa yang kiranya jadi bahagiaku setiap aku mengingatnya?
Aku punya banyak hal untuk disebutkan. Karena aku orang cukup mudah tersenyum dan merasa senang dengan hal-hal sederhana. Meski dulu aku tidak begitu. Aku baru belajar mencintai hal-hal sederhana ketika aku beranjak dewasa dan masalah kian banyak menghadang.
Saat ini, aku akan senang ketika melihat orang-orang tersayangku sehat dan sejahtera. Aku yang terpisah jarak hanya mampu menatap mata kedua orangtuaku lewat layar kaca. Dan kupikir, itu harus lebih dari cukup jadi alasan senang dan tenangku, dengan melihat mereka sehat tak kekurangan suatu apa.
Aku suka mendengar cerita lucu. Dan akan dengan mudah tertawa dibuatnya. Salah satunya ketika seseorang yang berharga buatku bertingkah aneh atau menceritakan hal lucu.
Pernah gak kamu punya sesuatu atau seseorang yang gak bisa kamu jauh-jauh darinya untuk waktu lama? Aku punya, dan sangat istimewa. Dia adalah orang kesekian setelah orangtuaku yang selalu aku rindukan hadirnya. Seperti boneka kesayanganku yang selalu menemani hari-hariku, ia juga berperan penting menjagaku dari hal-hal sedih.
Tapi aku harap, setiap waktu bisa mengingat-Nya. Hanya Dia Yang Utama dan harus diutamakan. Bisa berzikir dan bershalawat sebagaimana dilakoni para pencinta.
Aku masih belajar, jauh dari kata sempurna. Tapi aku ingin, sumber bahagiaku hanya dari-Nya, dan cintaku pada Rasul-Nya.
Ada aja masalahnya. Makin dewasa masalah bukannya makin selesai malah makin banyak aja yang datang.
Emang sabar tuh udah paling bener. Kita bisa apa lagi, ya kan? Mau ditolak, udah kadung terjadi. Mau teriak, diratapi sampe nangis darah, juga gak akan mengubah apa-apa.
Tapi Allah emang maha baik sih. Mana ada raja di dunia yang bener-bener care sama manajemen hati rakyatnya. Paling mentok ya pada ngaku turut prihatin dan sibuk aja terus sama urusan politiknya.
Tapi Allah,
Allah bilang, janganlah lemah (hilang harapan) dan jangan pula kamu bersedih hati.
Allah bilang lagi, mintalah pertolongan dengan sabar dan salat.
Kemudian Allah bilang lagi, sesungguhnya Aku bersama orang-orang yang sabar.
Gimana gak melting hati ini, raja dari segala raja, yang Maha Merajai, bisa bilang sehalus ini.
Itulah Allah.
Dia yang punya segalanya tapi dia gak pelit sama hamba-Nya.
Dia yang merajai alam semesta tapi sepeduli itu sama urusan kita.
Dia ngasih kita ujian supaya kita sabar lalu Dia membersamai kita dalam kesabaran itu sampai akhirnya kita bisa 'naik tingkat' di kalangan orang-orang beriman.
Dia ngajarin kita tawakal supaya hati ini tenteram dan gak terluka cuma gara-gara dunia yang fana.
Dia nurunin Al-Qur'an yang jadi panduan untuk kita memahami bahwa dunia ini is not a big deal. Kata Allah, dunia gak lebih berat dari sehelai sayap nyamuk. Sedangkan akhirat jauuuuh lebih kekal.
Sekarang bayangin deh, gimana keadaan orang yang mati di tahun 0001 Masehi? Ya, sampai detik ini dia masih berada di alam kubur dan menunggu hari kebangkitan selama 2020 tahun. Sedangkan jatah hidup kita di dunia berkisah sekitar 60-80 tahun. Sampai sini, udah kebayang perbedaan dunia dengan alam-alam setelahnya?
Maka, seberat apapun ujiannya, ingatlah Allah. Ingatlah bahwa dunia ini bukan apa-apa. Ingatlah bahwa kesabaran akan membawamu semakin dekat dengan-Nya. Lantas apa yang lebih menenangkan selain mengetahui bahwa Allah gak pernah meninggalkan kita apapun keadaannya?
© Taufik Aulia 2020